
Keadaan Sid berangsur membaik, hanya saja bicaranya masih sangat pelan. Dokter bilang ada gangguan dengan pita suaranya sehingga membuatnya mengalami gangguan berbicara.
Setiap kali menginginkan sesuatu Sid jadi tidak leluasa, karena ia hanya mampu berbisik saja.
Kiran merasa bingung harus bagaimana, apakah ia harus membawa Sid ke dokter bagian khusus organ dalam? Atau membiarkan Sid sembuh sendiri?
"Dokter, apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan suaranya agara secepatnya kembali?" Kiran mencoba berkonsultasi dengan dokter.
Dokter itu menggeleng. "Tidak, tapi cobalah kau atasi dengan cara sehari-hari. Contohnya ketika seseorang dalam bahaya dia akan berteriak, dan suaranya..."
"Akan keluar! Aku mengerti, terima kasih banyak dokter." Seru Kiran. Sid yang memperhatikan dan mendengar percakapan keduanya hanya diam.
Namun, dalam hatinya sudah merancanakan sesuatu bersama dengan Kal anaknya.
Maaf, semua agar kau melihat sendiri ada yang berusaha membuat kita terpisah.
Akan tetapi, sebelum rencana berhasil dilanjutkan rupanya Kiran terlah mengetahui sesuatu dibalik semua itu.
"Jangan melakukan sesuatu, termasuk merencanakan sesuatu dibelakangku. Aku tahu kau sudah normal, bicaramu bahkan sudah normal!" Ketus Kiran.
Sid menganga, rencananya gagal bahkan sebelum dilakukan.
"Maaf," ucap Sid sambil menyengir kuda.
"Tiada maaf bagimu!" Ketus Kiran.
Keduanya sontak tertawa bersamaan, tak ada lagi kesedihan yang akan menimpa mereka, kecuali jika Tuhan yang mengatakan bahwa di hari berikutnya takdir mereka akan bersedih.
"Ayo pulang?!" Sid mengangguk, kemudian berjalan pelan menuju keluar karena kakinya yang masih terasa sakit akibat selama dirawat hanya berbaring diatas ranjang.
...****************...
Pulihnya keadaan Sid hingga bisa beraktivitas normal seperti biasanya kembali mengundang sebuah masalah dikantor yang selama dirawatnya Sid hanya dipegang oleh ayah Deva.
"Apa ini, ayah?" Ucap Sid sambil menunjukan sebuah berkas pada ayah Deva.
Ayah Deva meraih berkas itu dan terkejut dengan apa yang tertulis didalam berkas.
"Apa? Penjualan salah satu saham perusahaan kita? Perusahaan ini, bukannya milik..."
"Rian! Dasar manusia tidak tahu diri!" Ucap Sid dengan tangan mengepal, kemudian berjalan keluar dengan wajah penuh amarah.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan Rian, Sid melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Tak peduli lagi bahwa seperti sebelumnya ia akan mengalami kecelakaan lagi.
Ayah Deva yang berusaha melarang Sid terus mengejar dengan mobilnya dari belakang.
"Siddharth, hentikan!" Teriaknya dari belakang.
Tapi Sid tak menghiraukan teriakan itu, terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di kediaman Rian yang ternyata sedang melangsungkan pernikahan.
Sid kembali dikejutkan karena ternyata tiba-tiba melihat seluruh karyawan dekorasi berada disana.
"Apa yang kalian lakukan? Apa dia sudah membayar untuk dekorasi kita?" Tidak ada yang berani menjawab, akan tetapi Ikhsan menggeleng sambil menunduk.
__ADS_1
"Lalu mengapa kalian memasang dekorasi ini?"
"Pak, dia memaksa dan mengatakan bahwa sudah membayar pada bapak." Jawab Ikhsan berhati-hati, takut jika Sid akan menghabisinya.
"Apa yang kau katakan, hah?! Dia belum membayar sedikitpun!" Bentak Sid.
"Tapi pak, jika tidak padamu mungkin pada Bu Kiran. Karena pak Rian mengatakan akan membayar pada Bu Kiran atau anda."
Sid terdiam, lalu mencoba menghubungi Kiran. Beberapa kali tidak diangkat, hingga ayah Deva merasa bingung karena ponsel ibu Aisha juga tidak bisa dihubungi.
"Ada apa ini? Kenapa Bunda dan Kiran tidak bisa dihubungi?!" Gumam Sid dengan wajah cemas.
"Pak, tadi aku melihat nyonya Aisha ada disini." Ucap Niki tiba-tiba.
"Dengan siapa?"
"Sendirian, wajahnya terlihat cemas dan beberapa kali dia bertanya apa Bu Kiran sudah sampai atau belum." Jelas Niki.
"Apa?!" Ayah Deva dan Sid saling melirik, menyadari ada sesuatu yang aneh dengan hari ini.
"Telepon Kal atau kembar!" Sid mengangguk, kemudian menelepon Kal.
"Hallo ayah, tadi ada yang membawa ibu. Beberapa laki-laki dengan pakaian hitam putih, mereka bilang ayah yang menyuruh membawa ibu ketempat pernikahan paman yang waktu itu kerumah."
Mata Sid membelalak, lalu mulai mengerti bahwa Rian sedang memainkan mereka.
Sid memasuki aula pernikahan, semakin terkejut saja ketika Sid melihat Kiran sedang ditahan oleh empat orang pria bertubuh besar dengan pakaian pengantin berwarna pink.
Kiran menatap Sid dengan tatapan ketakutan, juga berusaha minta tolong pada Sid.
"Tuan Sid sudah datang, apa kabar? Apa kau siap menyaksikan pernikahan Kiran dengan Rian?" Tanya Rian sambil melangkah turun dari podium dan mendekati Sid.
"Jangan bodoh, jangan mencoba merebutnya dariku!" Hardik Sid dengan tangan yang sudah bersiap ingin membaku hantam pria dihadapannya kapan saja.
"Tapi semua akan terjadi!" Tegas Rian dengan senyuman licik.
"Tidak! Menantuku masih istri dari Siddharth anakku, seperti apapun pernikahannya tidak akan bisa kau nikahi dia!" Ayah Deva ikut bersuara.
Sid mengangguk sambil tersenyum licik.
"Maka dari itu, hari ini kau datang. Di depan jasadmu, aku akan menikahinya!" Kiran menggeleng, dan menatap Sid penuh harap.
"Jasadku? Jasadmu yang akan menyaksikan abadinya cinta kami!" Yakin Sid.
"Oow, benarkah? Cinta abadi kalian, dimana sering sekali terjadi pertengkaran dalam rumah tangga kalian?" Rian menyeringai lagi.
"Bawa dia pergi!" Perintah Rian secara tiba-tiba pada beberapa laki-laki yang menahan Kiran.
Mereka langsung membawa Kiran pergi, entah kemana.
"Berhenti! Atau kalian akan tewas disana sekarang juga!" Cegah ayah Deva. Sementara Sid masih berhadapan dengan Rian.
"Apa yang kau inginkan? Kiran? Aku tidak akan melepaskannya!" Sambil menarik kerah kemeja putih Rian.
__ADS_1
"Aku akan mengambilnya secara paksa, meskipun dia masih terikat denganmu!" Rian melepaskan tangan Sid, kemudian berlalu dari hadapan Sid.
Sid tidak akan diam begitu saja, ia menyusul Rian sedangkan Ayah Deva mencari kemana Kiran dibawa oleh anak buah Rian.
Kini, seluruh tamu ketakutan menyaksikan betapa gagahnya kedua laki-laki yang sedang berhadapan tersebut.
Karyawan dekorasi Sid memilih membantu mencari Kiran, karena mereka sangat mengkhawatirkan Kiran dan Ibu Aisha.
"Lihat saja, jika terjadi sesuatu pada Kiranku, bersiaplah melepaskan kepalamu dari lehermu! Atau aku yang akan melakukannya secara paksa!" Ancam Sid.
"Silahkan saja, tapi mungkin kepalamu yang akan menggelinding jauh dari badanmu!"
"Ah, ya, tentunya jika kau bisa selamat dari ledakan ruangan ini!" Sambil menunjuk sebuah pengeras suara yang tertempel bom disana.
"Semakin volumenya mengecil, maka waktu untuk meledaknya semakin cepat. Silahkan, berusahalah sekuat dirimu!" Ucap Rian seraya mendorong Sid hingga Sid terjungkal karena tidak menduga bahwa Rian akan mendorongnya.
Rian kemudian berlari, menutup pintu gedung dan menguncinya dari luar.
"Tidak, selamatkan kami!" Ucap beberapa tamu yang masih tersisa.
Sid merasa bingung, apayang harus ia lakukan. Tapi dia teringat bahwa Kiran sedang dalam pencarian oleh ayahnya.
"Tenang, aku akan berusaha membuka pintunya." Ujar Sid.
Volume musik semakin mengecil, Sid terus berusaha mendobrak pintu. Namun kuatnya pintu malah membuat tubuhnya terasa sakit.
"Untuk laki-laki, tolong bantu aku!" Teriak Sid yang langsung membuat para laki-laki membantunya mendobrak pintu.
Beberapa kali, belum berhasil juga. Hingga hitungan bom hanya tinggal tiga puluh detik lagi.
"Kalian ikut membantu!" Teriak Sid pada para tamu wanita.
Diluar Rian sudah berada jauh dari gedung, dengan sebuah remote kontrol bom.
Seringaian tak luput dari bibirnya hingga ia menghitung mundur.
"Sepuluh... Sembilan... Delapan... Tujuh... Enam... Lima..." Semakin menyeringai.
"Empat..."
"Tiga..."
"Dua..."
Rian memejamkan mata, kemudian menekan sebuah tombol di remote itu dan melemparnya kesembarang arah.
Duaaar...
Gedung meledak, membuat api ledakan melahapnya. Kini, nasib Sid tidak diketahui.
**Apakah Sid dan para tamu yang berada didalam gedung selamat? Jika kalian membaca Novel author yang berjudul SIRAN : THE MUSICIAN'S LOVE STORY pasti tau donk Sid selamat atau engga! ππmakanya, author nyuruh baca biar enggak ngomel duluan dan protes πππ
Bersambung**...
__ADS_1