
"Kak, semalam aku mendengar ada suara orang jatuh di dapur. Apa kalian juga mendengarnya?" Tanya Lakshmi yang baru masuk ke ruangan Kiran bersama ayah Deva.
"Ayah juga mendengarnya." Timpal ayah Deva.
Seketika, wajah Kiran memucat. Hatinya sudah benar-benar ketakutan, dia takut kejadian semalam yang menyebabkan dirinya pendarahan akan terbongkar.
"Tidak, ayah. Memangnya kapan?" Tanya Sid sambil memandang penasaran. Dia tak melihat wajah Kiran yang sudah ketakutan dan memucat.
"Semalam, pukul sebelas malam." Jawab Lakshmi. "Suaranya di dapur, bahkan kursi meja makan juga ada yang berubah posisinya." Sambung Lakshmi.
Sid memalingkan wajahnya, menatap Kiran yang sedari tadi sudah memucat. Tatapan tajam terus terarah pada Kiran.
"Katakan!" Ucap Sid dengan wajah datar.
"A... Apa?" Tanya Kiran dengan tergagap.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau pasti tahu maksudku!" Ucap Sid lagi dengan ekspresi datar.
"A... Apa? A..Aku tidak mengerti maksudmu!" Bohong Kiran, namun kebohongan itu tentunya sudah tercium oleh Sid sendiri. Bukan Siddharth namanya jika tidak bisa mengetahui kebohongan seseorang dengan sangat cepat.
"Kiran, jangan berbohong! Pasti semalam kau kan yang jatuh? Untuk apa kau ke dapur malam-malam? Hah?! Jika butuh sesuatu kenapa tidak membangunkan aku? Apa kau ingin membahayakan dirimu dan calon bayi kita?" Nada suara Sid mulai meninggi, sementara Kiran sudah mulai terisak-isak.
"Sid, cukup! Jangan terlalu berlebihan. Biarkan saja, semua sudah terjadi jangan sampai Kiran menjadi stres. Itu akan mempengaruhi bayi kalian!" Lerai Deva.
"Berlebihan? Kirana yang berlebihan!" Sid berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan Kiran yang sudah terisak.
"Sid!" Teriak Deva berusaha menghentikan Sid. Namun Sid terus saja melangkah tanpa memperdulikan panggilan ketiga orang yang berteriak memanggilnya.
"Maaf, kak. Terkadang dia keras dan egois, tapi percayalah! Dia sangat menyayangimu, dia tidak ingin kau dan calon bayi kalian kenapa-napa." Lakshmi mencoba menghentikan tangisan Kiran.
Kiran mengangguk. Dia paham betul dengan sifat Sid. Satu bulan lebih menikah, tak membuatnya lama mengerti sifat suaminya itu.
"Maaf Kirana, kau pasti mengerti bagaimana sifatnya." Kali ini ayah Deva yang mencoba menghentikan tangisan Kiran. Kiran mengangguk, lalu mencoha mengulas sedikit senyum di bibirnya.
Kiran tahu, bahwa Sid sangat menyayanginya dan bayinya. Semua memang salahnya, seharusnya dia tidak pergi sendiri untuk mengambil air minum di dapur. Tapi dia hanya tidak tega karena Sid baru tertidur.
...----------------...
Tiga hari beristirahat di rumah sakit, kini waktunya bagi Kiran untuk kembali ke rumah. Ralat, bukan kembali saja. Tentunya istirahat lagi di rumah.
__ADS_1
"Ingat, Kiran. Kau harus istirahat lagi di rumah! Usahakan jangan turun dari tempat tidur, walaupun kau dan bayimu baik-baik saja tapi itu bukan berarti kau sudah bebas mengerjakan apapun." Dokter Ema yang menggantikan dokter Niken memperingatkan Kiran.
"Ema, jika bisa tolong kirim dua orang perawat ke mansionku. Agar Kiran ada yang mengawasi, karena para pelayan di mansion pasti sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Selain itu, aku ingin mereka membuat makanan yang bergizi untuk perkembangan dan pertumbuhan cucuku." Ucap ayah Deva.
"Tidak, sepertinya itu tidak perlu ayah. Aku akan menjaga diriku sendiri, aku tidak akan ceroboh lagi."
"Itu perlu! Ayah benar, kita harus menyewa ahli gizi untuk Kiran." Tegas Sid yang langsung membuat Kiran terdiam seketika sambil menatap Sid dengan tatapan tajam.
Apa artinya aku akan seperti tawanan? Begitu, kan? Sifat galaknya sudah kembali! Aduh, Kiran! Kau membuat dirimu sendiri terjebak dalam keadaan ini! Kiran merutuki nasibnya sendiri di dalam hati.
Sid menatap Kiran tajam, ia sangat mencintai Kiran. Bukan maksudnya dia ingin membuat Kiran seperti tawanan yang selalu di awasi, tapi ini semua demi Kiran sendiri dan bayinya.
Lihat saja, gadis cerewet! Kau selalu membantahku, kali ini aku akan membuatmu tak ceroboh lagi! Begitu kan arti tatapan tajammu, suamiku? Kiran kembali membatin.
Sepulangnya dari rumah sakit, Sid langsung menyuruh Kiran istirahat di kamarnya. Tentunya dengan pengawasan perawat yang di sewanya. Sid menempatkan dua perawat itu di kamar yang berada di sebelah kamarnya.
"Kau harus banyak istirahat, jangan sampai hal seperti kemarin terjadi lagi padamu!" Tegas Sid yang langsung di angguki oleh Kiran.
Hmm.. Dia berubah jadi kera albino lagi.
"Kenapa kau diam? Merencanakan sesuatu?" Sid kembali menatap Kiran dengan tatapan tajam.
"Apa kau bilang? Pulang ke rumah ibu?!" Kiran mengangguk cepat.
"Sejak aku masuk rumah sakit kau terus saja memarahi aku! Kau membuatku tidak betah di rumah, bahkan kau menyewa perawat untuk mengawasiku! Itu keterlaluan, Sid!" Kiran berdiri, lalu berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan koper serta pakaian-pakaiannya.
"Kiran, apa maksudmu? Semua ini aku lakukan demi kebaikanmu dan juga calon bayi kita!" Sid mengikuti Kiran, dan menahan tangan Kiran yang sedang mengeluarkan pakaiannya. "Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengemasi pakaianmu lalu pergi, begitu?"
"Ya, lepaskan aku!" Ketus Kiran sambil menepis tangan Sid agar melepaskan tangannya, tapi sia-sia karena tangan Sid begitu kuat.
"Tidak, kau akan tetap disini! Kau tidak akan kemanapun!"
"Jika begitu maka berhentilah memarahiku dan usir dua perawat itu dari sini!" Kali ini Kiran meninggikan nada suaranya.
"Aku akan berhenti memarahimu, tapi aku tidak akan mengusir dua perawat itu!" Jawab Sid dengan nada suara yang tak kalah tinggi.
"Oh ya? Aku akan tetap pergi jika begitu!" Kiran mendorong tubuh Sid, namun Sid tidak bergeming sedikitpun.
"Pergilah, kau tidak akan bisa pergi kemanapun! Aku pastikan itu!"
__ADS_1
"Oh ya?" Sid mengangguk sambil tersenyum sinis.
"Kirana, kau keras kepala sekali ya? Membuatku semakin gemas saja padamu!" Mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dan kau menyebalkan, suami pemarah dan suami gila!" Balas Kiran dengan ejekan.
"Apa? Jadi kau berani mengejekku ya sekarang?!"
"Kapan aku tidak berani padamu?" Kiran menghentikan aktivitasnya, lalu mengepalkan kedua tangannya dan meninju dada Sid dengan sangat keras.
Haha, tenaganya lemah sekali, bukannya sakit malah membuatku geli!
Sid terkekeh, karena merasa geli dengan tinjuan Kiran.
"Kau tertawa? Lihat ini!" Kiran mengambil bantal dari tempat tidur, lalu memukul-mukulkannya pada tubuh Sid. Yang di pukul semakin tertawa geli.
Kenapa dia selalu saja bisa membuatku luluh? Menyebalkan, ini tidak adil sedikitpun! Rutuk Kiran dalam hatinya.
Pasalnya, Sid selalu saja bisa meluluhkan hatinya jika sedang marah. Akan tetapi, Kiran sangat susah meluluhkan hati suaminya itu jika sedang marah.
Cobalah Kiran, cobalah pergi sejauh yang kau bisa dariku! Tapi, takdir kita satu. Aku dan Kau jadi Kita! Sejauh apapun kau pergi aku akan selalu bisa menemukanmu.
"Aku lelah! Kau kuat sekali!" Napas Kiran terengah-engah. Sid yang melihat itu hanya tersenyum simpul, lalu memeluk Kiran.
"Lepaskan! Kau bau sekali!" Kiran mendorong Sid hingga terjatuh ke lantai.
"Kiran!" Pekik Sid sambil memegangi pinggangnya.
"Kau payah sekali!" Ejek Kiran.
"Kiran!" Sid menjulurkan tangannya meminta bantuan Kiran untuk berdiri, tapi Kiran mengacuhkannya.
"Berdirilah sendiri!" Ketus Kiran sambil merebahkan dirinya di tempat tidur.
Untuk sesaat, keduanya melupakan pertengkaran mereka.
Bersambung...
Kangen SiRan gak? Kalo kangen jangan lupa like, coment, dan vote ya!!!
__ADS_1