
"Ibu, aku mohon jangan bawa aku pergi dari sini. Ibu, ibu tahu kan bahwa aku sangat ingin sekolah disini?"
"Key, tidak bisa. Ibu terpaksa harus membawamu pergi dari sini, semua demi dirimu juga." Ami mengelus pipi mulus putri semata wayangnya tersebut dengan sangat lembut.
Ami sebenarnya ingin memberitahu Keyra mengenai penyakit yang dideritanya tersebut, akan tetapi Rafa melarangnya.
Maaf, Key. Ibu dan Ayah melakukan ini demi kesehatanmu juga.
"Bu, aku mohon." Keyra memelas pada Ami.
"Ayo kita berangkat!" Sahut Rafa tiba-tiba, membuat kedua wanita berbeda usia tersebut menoleh bersamaan.
Ami mengangguk, tapi tidak dengan Keyra yang murung.
"Aku akan ikut, tapi izinkan aku ke sekolah terlebih dahulu untuk menemui temanku dan memberikan sesuatu padanya." Pinta Keyra.
Ami melirik Rafa, kemudian Rafa mengangguk setuju.
"Ayo, ayah akan mengantarkanmu. Tapi jangan terlalu lama, karena penerbangan tinggal dua jam lagi."
Sesampainya di sekolah asrama, Ami langsung menemui Kal karena ayahnya sudah mengingatkannya agar jangan terlalu lama.
"Key, apa kabar?" Tanya Kal saat Keyra sudah duduk disampingnya.
"Kabarku baik, maaf aku tidak bisa lama. Aku kesini untuk berpamitan padamu." Kal membelalak, mendengar kata 'Berpamitan'.
"Aku akan pindah ke Singapura, ayahku akan membawaku dan ibu kesana juga." Keyra tersenyum, namun hatinya sakit karena akan meninggalkan sekolah ini beserta sahabat pertama dan satu-satunya di hidupnya.
Jangan tanya, kenapa tidak ada teman lain selain Kal dalam hidup Keyra. Karena hampir seluruh siswa asrama tersebut selalu mengolok-olok Keyra dan mengatainya miskin hanya karena ayahnya hanya memiliki perusahaan kecil saja, itupun dibawah naungan perusahaan ayahnya Kal.
Jangan tanya juga, mengapa Kal juga ikut diolok-olok dan jadi bahan keisengan Geng nya Farid, itu karena Kal dan ayahnya sepakat sebelum memasuki sekolah ini.
Sepakat agar latar belakang keluarga Kal yang sangat kaya dirahasiakan. Itu semua demi keamanan Kal sendiri, namun meski begitu tetap ada pengawal yang mengawasi Kal secara diam-diam.
(Author ini banyak bertele-tele, ya! Malah bahas kaya-kayaan. Wkwkwk!)
Kembali lagi ke topik utama.
"Kenapa?" Keyra menggeleng.
"Yang jelas, aku harus pergi. Siran, terima kasih sudah mau menjadi sahabatku dalam satu bulan ini. Meski kau tahu latar belakang keluargaku, tapi kau masih menerimaku sebagai sahabatmu." Kal tersenyum, lalu meraih tangan Keyra.
__ADS_1
"Key, berteman itu tidak harus memandang latar belakang kaya atau tidak. Aku tulus ingin menjadi sahabatmu." Ucap Kal dengan senyuman, membuat Keyra ikut tersenyum.
"Key, ayo cepat!" Teriak Rafa yang berdiri agak jauh dari Kal dan Keyra.
Keyra dan Kal menoleh.
"Iya, ayah sebentar!" Balas Keyra sedikit berteriak.
"Siran, aku pergi dulu! Semoga suatu saat nanti kita bisa berjumpa lagi." Keyra berbalik, namun Kal menahan tangannya.
"Tunggu." Ucap Kal. Keyra berbalik lagi, lalu menatap Kal penasaran.
"Ada apa? Cepat, ayah sudah menungguku."
Kal mengangguk, lalu melepas sebuah kalung dari lehernya dan memasangkannya pada Keyra.
"Terimalah, sebagai tanda persahabatan kita." Keyra mengangguk, lalu melambaikan tangan pada Kal kemudian berlari menuju ayahnya.
Keyra memasuki mobil, dari jendela mobil ia kembali melambaikan tangannya pada Kal.
Kal membalas lambaian tangan itu hingga mobil melaju dan keluar dari area sekolah asrama. Setelah itu Kal memasuki kelas, karena pelajaran akan segera dimulai.
Saat pelajaran dimulai, Kal merasa kesepian karena ketiadaan Keyra disampingnya. Biasanya jika ia kebingungan pasti Keyra yang akan membantunya.
"Iya, kasihan sekali teman sesama miskinnya sudah pergi." Timpal seorang siswa wanita.
"Hei, siapa namamu? Kallandra? Cih, nama orang miskin seharusnya bukan Kallandra!" Farid kembali mengejek Kal.
"Terserah, siapapun namaku apa itu menjadi masalah untukmu?" Kal mulai membuka suara, tak terima nama pemberian orang tuanya direndahkan.
"Wah, sekarang mulai berani ya?" Farid kemudian memberi isyarat pada teman-temannya. Mereka mendekati Kal, lalu memegang kedua tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan, hah?" Kal berusaha melepaskan diri.
Farid tertawa sinis, lalu mengeluarkan sebuah botol berisi tinta hitam. Lalu kemudian ia mengoleskan tinta tersebut ke wajah Kal, sehingga wajah Kal berubah menjadi hitam.
Kal yang tak terima mulai memberikan perlawanan saat teman-teman Farid melepaskan tangannya.
Kal mengepalkan tangannya, lalu memukul Farid dengan cukup keras hingga Farid terjatuh ke lantai.
"Hei, bantu aku kenapa kalian diam?!" Serunya pada teman-teman satu gengnya tersebut. Teman-teman Farid mulai mengeroyok Kal, namun Kal dengan hebatnya bisa melawan mereka.
__ADS_1
Tapi, pada saat lengah ia terkena tinjuan salah satu teman Farid hingga Kal terjungkal dan dadanya mengenai sudut meja belajar.
Kal memegangi dadanya yang sakit. Namun Farid beserta temannya tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut hingga mereka langsung mengeroyok Kal dan membuatnya tergeletak tak berdaya di lantai dengan hidung mengeluarkan darah dan wajah penuh lebam.
"Hei, apa yang kita lakukan? Ayo lari, atau kita akan berada dalam masalah!" Seru Farid sambil berlari keluar dari kelas diikuti teman-temannya.
Tapi, di tengah jalan mereka berpapasan dengan guru musik yang sebenarnya masih menjadi bagian pengawas Sid untuk Kal.
Guru tersebut sudah tahu apa yang terjadi.
Anak ini, pasti dia berbuat ulah pada anaknya tuan Sid.
Guru tersebut langsung bergegas menuju kelas, dan terkejut saat mendapati Kal tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya?" Tanyanya pada beberapa siswa yang masih berada di kelas.
"Pak, Farid yang melakukannya. Tapi ini bukan salah Farid, Kal sendiri yang lebih dulu memukul Farid." Sintia, teman Farid.
"Diam!" Ucap guru itu. Semua ketakutan, lalu guru tersebut membawa Kal ke rumah sakit. Dalam perjalanan ia tak lupa menelepon Sid.
...----------------...
Sid sedang berada di kantor, ketika ponselnya berdering. Tepat saat itu juga, ia sedang rapat bersama para karyawan kantornya.
"Sebentar." Ucap Sid sambil meraih ponselnya dan membawanya keluar untuk mengangkat telepon tersebut.
"Hallo, ada apa?" Ucap Sid tenang.
Si penelepon langsung menjelaskan segalanya, membuat mata Sid membelalak dan membulat sempurna.
"Apa?! Baik, aku akan segera kesana!" Sid mematikan telepon, lalu kembali memasuki ruangan rapat untuk memberitahu bahwa rapat akan ditunda.
"Kita tunda rapat hari ini, aku harus pergi!" Semua mengangguk tanpa bertanya. Kemudian Sid bergegas meninggalkan kantor menuju mansion untuk memberi tahu keluarganya.
Sesampainya dirumah, semua sangat shock ketika Sid memberitahukan apa yang ia dapat ditelepon tadi. Terutama Kiran, ia langsung menangis histeris.
"Sudah aku bilang, aku tidak mau Kal jauh dariku!"
"Cukup Kiran, jangan menangis! Lebih baik kita segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Kal!" Ibu Aisha membantu Kiran berjalan menuju mobil.
Selama perjalanan Kiran terus menangis
__ADS_1
Bagaimana tidak, putra kesayangannya sedang terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.
Segitu dulu yaaa...!!! Jangan lupa Like, komen, vote juga.