Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Perut Kiran Sakit


__ADS_3

Sebelum di mulai, author mau kasih visual dulu ah. Baru nemu yang cocok, kira-kira seperti inilah gambaran tokoh Kiran dan Siddharth, yang merasa gak cocok boleh bayangin visualnya sesuai selera sendiri, kalo author emang senengnya di artis bollywood or tellywood.


Shivin Narang As Siddharth Adeva Rafandi


Tejaswi Prakash Wayangankar As Kirana Putri Farella Adiwijaya



Lanjut yuk, ke cerita!


Setelah Sid pergi, Kiran memasuki kamarnya. Lakshmi yang memang masih harus kuliah, berpamitan pada ayah Deva untuk pergi ke kampus. Ayah Deva sendiri, pergi juga ke kantor sekedar untuk mengecek perkembangan kantor.


Walaupun tanggung jawab kantor sudah berada di tangan Sid, tapi ayah Deva selalu rutin mengecek perkembangan kantor. Sesekali ayah Deva juga ikut turun, membantu Sid menangani kantor agar tidak kewalahan jika banyak pekerjaan.


Kini, hanya tinggal ada Kiran dan para pelayan di mansion. Kiran kebingungan, dan merasa kesepian.


"Apa yang harus aku lakukan? Di mansion sebesar ini sendirian, bagaimana coba?" Gumam Kiran sendirian sambil memperhatikan seluruh ruang-ruanga di mansion tersebut.


"Nona, ada yang bisa saya bantu?" Sahut Bi Asih dari belakang.


"Eh, bi. Tidak ada, saya hanya ingin melihat-lihat mansion ini dan mengelilinginya." Jawab Kiran sambil tersenyum ramah.


"Baiklah non, jika ada apa-apa panggil saja bibi." Kiran mengangguk, lalu bi Asih pun pergi meninggalkan Kiran sendirian.


Kiran berjalan-jalan, mengelilingin mansion besar tersebut. Dari awal tinggal di mansion itu ia belum pernah melihat seluruh ruangannya.


Setelah bosan mengelilingin mansion itu, Kiran memutuskan untuk kembali ke kamar saja. Sampai di kamar ia merebahka dirinya di atas tempat tidur.


Hmm... Membosankan! Sid sedang apa ya dikantor? Ah! Aku akan meneleponnya!


Kiran mengambil ponselnya, lalu menelepon Sid.


"Hallo, sayang! Ada apa? Aku sedang meeting!" Jawab Sid dengan suara pelan di dalam telepon, karena saat ini dirinya memang sedang meeting bersama kliennya.


"Perutku sakit." Bohong Kiran, yang langsung membuat Sid sangat khawatir.


"Apa?! Kau makan apa? Bagaimana bisa sakit? Ini pasti karena kau memakan makanan yang pedas, iya kan?" Detik berikutnya, Kiran terkikik. "Kiran, kenapa malah tertawa?"


"Tidak, Sid! Aku hanya bercanda, sudah teruskan meetingmu! Aku baik-baik saja, percayalah. Aku hanya merindukanmu!"

__ADS_1


"Kau ini! Aku sudah sangat khawatir, baiklah. Rindu? Sejak aku pergi ke kantor, aku juga sudah sangat merindukanmu." Balas Sid, tentunya sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Sudah, tutup teleponnya! Teruskan meetingnya!"


"Baiklah, jangan lupa makan dan minum obatmu ya?!" Ingat Sid pada Kiran.


"Oke, bos galak!" Sid terkekeh, lalu menutup teleponnya.


Kiran pun juga tertawa, walaupun hanya di telepon, bicara dengan Sid entah kenapa membuatnya sangat bahagia. Mungkin ini adalah bawaan dari bayi yang di kandungnya.


Kiran mengelus perutnya yang masih rata itu, sambil memejamkan matanya.


"Sayang, apa kau bahagia? Apa kau suka, mendengar suara ayahmu? Ibu juga suka, sangat suka mendengar suara ayahmu! Sehat terus ya, sayang! Demi ibu dan ayahmu!" Ucap Kiran pada perutnya itu.


Terlihat, raut wajah dengan pancaran kebahagiaan yang besar dari wajah Kiran. Kiran sangat bahagia, bisa mengandung bayi dari laki-laki yang sangat dia cintai dan sangat mencintainya.


Tak terasa, matanya yang terpejam itu lama-lama benar-benar terpejam karena tidur. Hingga sore hari, Kiran baru bangun dari tidurnya. Bukan bangun sendiri, melainkan ada tangan yang mengelus perutnya. Tangan besar, yang sudah sangat Kiran kenali tangan siapa itu.


"Kau sudah pulang rupanya!" Ucap Kiran sambil memegang tangan besar di atas perutnya itu.


"Hmm... Kau sudah bangun ya? Aku pikir masih tertidur!"


"Benarkah? Kapan aku bisa merasakan tendangannya?" Tanya Sid sambil kembali meletakkan tangannya diatas perut Kiran, berharap ada getaran halus dari perut istrinya yang masih rata itu.


"Sabar, baru saja satu bulan lebih. Mungkin saat berusia empat bulan baru kita mulai bisa merasakan tendangannya." Jelas Kiran.


"Aku sudah tidak sabar, semoga kau dan bayi kita sehat selalu." Sid melepaskan tangannya, lalu mengecup kening istrinya itu.


Tiba-tiba dalam keadaan moment romantis itu, Kiran merasakan mual. Kiran langsung berlari menuju kamar mandi, yang kemudian disusul Sid dari belakang. Sampai di kamar mandi, Kiran langsung memuntahkan isi perutnya.


Hanya ada cairan yang keluar, tidak ada makanan apapun. Karena sejak pagi Kiran belum makan apapun.


"Apa mualnya masih ada?" Kiran menggeleng.


"Tidak, badanku lemas sekali. Rasanya, sangat susah bagiku untuk makan. Tapi, saat aku makan apapun sedikit saja malah sangat mudah aku kembali memuntahkannya." Lirih Kiran sambil bersandar di dinding kamar mandi.


Sid merasa sangat sedih dan iba melihat keadaan istrinya, padalnya setiap pagi saat bangun tidur pasti Kiran selalu merasakan mual dan muntah. Bahkan, sekarang di sore haripun juga terjadi hal yang sama.


Sid meraih tubuh lemah itu, lalu memeluknya dalam-dalam.

__ADS_1


"Maaf, pasti kau sangat tersiksa. Bagaimana jika kita menemui dokter Ema? Meminta cara meredakan mualnya." Kiran mengangguk setuju, pasalnya dia juga ingin mualnya hilang.


"Ayo, bersiaplah. Aku tunggu di luar!" Kira mengangguk lagi, Sid membantu Kiran menuju ruang ganti pakaian.


Setelah itu, ia keluar dari kamar dan menunggu sambil duduk diatas sofa yang berada di hadapan kamarnya.


Tak lama, Kiran sudah keluar. Sid merangkul Kiran, agar tidak terjatuh karena keadaannya yang sepertinya sangat lemah.


"Kalian mau kemana?" Tanya ayah Deva yang melihat Kiran dan Sid.


"Kami akan pergi ke dokter. Menemui dokter Ema, untuk meminta cara meredakan mual yang Kiran rasakan." Ayah Deva mangut-mangut.


"Pergilah, hati-hati di jalan." Sid mengangguk, lalu membawa Kiran keluar.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Kiran hanya diam, menutup matanya. Bukan berarti tertidur, melainkan mencoba meredam rasa mual yang kembali menyerangnya.


Hingga sampai di rumah sakit, Kiran segera berlari menuju toilet. Sid mengikuti Kiran, sampai di kamar mandi ia langsung memijit punggung istrinya.


Yang keluar hanya cairan lagi, karena memang Kiran belum memakan apapun.


"Sudah selesai?" Tanya Sid pelan. Kiran mengangguk, lalu mencuci wajahnya. "Ayo, kita menemui dokter Ema." Kiran mengangguk lagi.


Mereka berdua segera meninggalkan toilet, lalu menemui dokter Ema yang kebetulan sedang berada di ruangannya.


"Wah, Sid! Ini belum waktunya jadwal cek kandungan!" Sambut dokter Ema.


"Aku tahu, aku hanya ingin meminta cara untuk meredakan mualnya Kiran. Aku tidak tega melihatnya selalu muntah setiap bangun tidur. Bahkan, dia jadi tak berselera makan. Saat dia bisa makan dengan lahap, tak lama dia kembali mual dan muntah. Aku merasa sangat sedih melihatnya seperti itu, apa ada cara agar mualnya sedikit reda? Setidaknya, agar Kiran bisa makan juga." Jelas Sid yang membuat dokter Ema berfikir keras.


"Ada, aku ada obat untuk meredekan mual Kiran." Dokter Ema berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju laci. Ia kembali dengan membawa selembar tablet obat.


"Ini, terimalah. Semoga obat ini bisa meredakan mual Kiran. Jika mual di pagi hari itu memang wajar, setiap ibu hamil di trimester pertama akan mengalami hal itu." Jelas dokter Ema.


"Berapa lama Kiran akan mengalami hal seperti itu?" Tanya Sid kembali.


"Mungkin sampai kandungannya memasuki trimester kedua."


"Apa?! Artinya dua bulan lagi baru akan hilang mual dan muntahnya?" Dokter Ema mengangguk.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2