
Hari sudah berganti menjadi hari senin lagi, pagi-pagi sekali Kiran sudah berada di kantor.
"Selamat pagi, Kiran." Sapa Ikhsan yang baru saja datang.
"Pagi." Balas Kiran dengan wajah datar.
"Kau sudah sarapan?" Kiran menghela napas kasar.
"Sudah." Ketus Kiran.
Karena merasa kesal dengan Ikhsan yang selalu saja mengikutinya kemanapun, Kiran beranjak menuju ruangannya.
"Eeehh tunggu, Kiran!" Seru Ikhsan dari arah belakang.
"Apa lagi?!" Nada suara Kiran meninggi.
"Ini, aku membawakan sesuatu untukmu." Ikhsan menyerahkan sebuah bingkisan pada Kiran.
"Selamat pagi, sayang." Tiba-tiba Sid menyahut dari arah belakang, lalu merangkul Kiran sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hah?" Kiran terkejut.
Apa dia bilang tadi? Sayang?! Hahaha, menyebalkan.
"Ayo, ikut aku ke ruanganku." Sid melepaskan rangkulannya dan menarik lengan Kiran menaiki lift khusus dirinya.
Ikhsan terpaku disana, menatap punggung Kiran dan Sid yang mulai menghilang ditelan lift.
"Sa... Sayang?" Lirih Ikhsan dengan wajah kecewa. "Bagaimana bisa?" Gumamnya lagi.
Di ruangan Sid, Kiran terus menatap Sid yang sedari tadi fokus dengan laptopnya. Tidak ada yang berbicara, keduanya hening.
"Kiran." Sid memulai pembicaraan.
"Ya, pak." Sid mendongakkan kepalanya, berhenti menatap laptopnya.
"Kita hanya berdua, Kiran."
"Baiklah, Sid. Kenapa?" Kiran meralat ucapannya.
"Jangan berdekatan dengannya." Ucap Sid pelan, namun masih bisa didengar oleh Kiran.
Eh, apa yang kukatakan? Mulutku ini pasti sudah gila!
"Memangnya kenapa, Sid?"
"Tidak apa-apa. Sudahlah, kembalilah." Sid kembali menatap laptopnya.
Apa aku cemburu? Tapi kenapa?
"Baik." Kiran membalikkan tubuhnya, lalu melangkah keluar dari ruangan Sid.
Sekali lagi aku terlihat bodoh di hadapannya. Apa yang terjadi padaku?
Sid menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan mata sejenak.
...----------------...
"Kenapa dengannya? Tiba-tiba melarangku berdekatan dengan Ikhsan." Gumam Kiran sambil membuka laptopnya.
Apa dia cemburu? Tidak, itu tidak mungkin! Bahkan dulu dia sering menghinaku. Tapi itu dulu! Sekarang dia manis seperti anak kucing
Kiran tersenyum getir, mengingat dulu Sid sering menghinanya.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuklah!" Seseorang yang membuat Kiran kesal lagi-lagi menghampirinya. Ikhsan.
"Hai Kiran."
Bodoh, untuk apa kau muncul di hadapanku lagi? Eh, tapi biarkan saja! Aku ingin membuktikkan apa dia cemburu? Atau iseng saja.
"Oh, hai." Balas Kiran dengan wajah datar.
"Istirahat nanti kita makan bersama, apa kau mau?" Tanya Ikhsan dengan senyuman manis. Lebih tepatnya menyebalkan bagi Kiran.
"Dia akan makan siang bersamaku!" Kiran menoleh, dan terkejut karena Sid sudah bersender di pintu ruangannya.
"Eh, pak Sid. Selamat siang, pak." Ikhsan ketakutan, pasalnya Sid memandang wajahnya dengan pandangan tidak suka.
Untuk apa makhluk astral ini berada di ruangan Kiran? Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu mendekati Kiran lagi!
"Siang." Balas Sid dingin. "Kenapa masih berdiri disana? Kau tidak punya pekerjaan ya? Pergi sana! Atau aku akan memecatmu!" Hardik Sid, yang langsung membuat kaki Ikhsan bergetar.
"Ba... Baik, pak." Ikhsan segera melangkah keluar, dengan wajah pias seketika. Karena takut pada Sid.
Hih! Lebih baik aku mati, daripada harus bersaing dengan pak Sid!
Di dalam ruangan, Sid tertawa terbahak-bahak. Sementara Kiran menatapnya dengan wajah ketakutan.
Ternyata wajahnya jika sedang marah karena cemburu menyeramkan juga, ya? Huh! Lebih baik aku cari aman saja, dengan menuruti kata-katanya. Atau aku akan mati.
"Kau lihat, Kiran! Wajahnya sangat pucat, dia ketakutan! Berani sekali dia mendekati wanita yang akan menjadi milik..." Sid menutup mulutnya dengan tangannya.
"Hah? Apa?" Kiran membelalakkan matanya, mendengar apa yang baru saja di katakan Sid.
Apa dia bilang? Wanita yang akan menjadi milikku? Kan? Kan?
Hatinya mulai berbunga-bunga.
Kiran cemberut, sekaligus kesal.
"Dia itu kenapa? Kadang manis, kadang menyebalkan!" Kiran menggerutu. Tidak sadar, bahwa Sid masih berdiri di depan pintu, mengupingnya.
"Tukang gosip! Dibelakang saja berani, didepan malu-malu kucing." Bergumam pelan, ia bersandar di pintu. Tidak sadar, bahwa pintu belum tertutup rapat dan tidak mampu menahan beban tubuhnya.
Kret... Bruk
Sid ambruk di lantai. Kiran terlonjat, hampir saja ia berteriak, jika tidak segera menyadari sosok yang jatuh dihadapannya.
"Shit! Siapa yang menutup pintu ini? Kenapa tidak benar?!" Sid berteriak kesal, campur malu.
"Sid, kau tidak apa-apa?" Kiran menyodorkan lengannya, membantu Sid berdiri.
Sid mendongakkan kepalanya. Dan meraih lengan Kiran.
"Tidak, aku baik-bai... Aw!" Memegangi pinggangnya. "Pinggangku!" Sid meringis sambil memegangi pinggangnya.
πKarma, nguping sama ngintip orang lain.
"Kau tidak apa-apa kan? Lagipula, kenapa bisa sampai terjatuh?" Kiran menuntun Sid ke dalam ruangannya dan membantu Sid duduk di sofa.
"Tadi aku sedang mengupingmu... Eh tidak, tidak! Maksudku, ah sudahlah. Aku hanya penasaran saja." ππ
Ya ampun, kenapa belakangan ini mulutku tidak bisa di rem? Lihat, kan? Aku jadi terlihat bodoh di hadapannya. Lagipula, kenapa tadi aku harus mengupingnya segala?
"Biar aku ambilkan salep." Kiran hendak melangkah, namun ditahan oleh Sid.
__ADS_1
"Tidak, sepertinya tidak perlu." Sambil mencoba berdiri. "Aw!" Kembali meringis.
"Tidak perlu bagaimana? Sepertinya sakit sekali ya?" Kiran memegang pinggang Sid, dan Sid kembali meringis kesakitan.
"Antarkan aku pulang saja!"
"Baiklah, ayo biar aku bantu berjalan." Kiran memapah Sid menuju keluar.
Sampai di lobi, semua karyawan heran melihat Sid yang berjalan di bantu Kiran.
"Pak, anda baik-baik saja? Apa yang terjadi pada anda?" Rio menghampiri Sid.
"Kau buta ya? Apa keadaanku terlihat baik-baik saja?!" Semprot Sid, membuat Rio terperanjat.
"Maaf, pak. Mari aku akan membantumu." Rio hendak meraih lengan Sid, namun Sid menepisnya.
"Tidak, Kiran akan mengantarku pulang. Kau hubungi dokter Ema. Suruh dia kerumahku!" Perintah Sid.
"Baiklah, pak."
Kiran kembali memapah Sid menuju mobilnya.
"Pelan-pelan melajukan mobilnya, Kiran." Sambil meringis kesakitan.
Kiran mengangguk, lalu mulai menyalakan mobilnya. Kiran melajukan mobilnya dengan pelan, seperti yang diperintahkan sang bos.
Tak lama, mereka sampai di rumah Sid. Kiran membukakan pintu mobil untuk Sid, lalu kembali memapah Sid.
"Aku harus membawamu kemana?" Kiran kebingungan.
"Disana, di kamar tamu saja. Tidak mungkin aku menaiki tangga menuju kamarku, jika berjalan saja dibantu olehmu."
Kiran merebahkan Sid di atas ranjang.
"Aku akan mengambil kompres, agar kau merasa agak lebih baik." Kiran berlalu menuju dapur, tak sulit menemukan dapur. Karena sudah ada petunjuk antar ruangan di rumah Sid.
Tak lama ia kembali membawa air hangat dan sebuah handuk.
"Maaf, tapi aku harus membuka pakaianmu." Ucap Kiran ragu.
Sid mengangguk. "Tidak apa-apa."
Kiran membuka satu-persatu atasan yang dikenakan Sid, jarinya sedikit bergetar dan malu. Ini baru pertama kalinya ia membukakan pakaian pria.
Setelah terbuka, Kiran mulai mengompres pinggang Sid yang ternyata bengkak dengan air hangat.
"Kiran, maaf aku merepotkanmu."
"Tidak apa-apa. Sudah kewajiban sesama manusia untuk saling membantu." Jawab Kiran sambil tersenyum manis.
Sid menahan lengan Kiran yang masih mengompres pinggangnya.
"Mendekatlah." Perintah Sid.
Deg...
Jantung Kiran berdebar kencang, tapi tubuhnya mendekat pada Sid tanpa sadar.
Mendekat... Mendekat...Mendekat... Dan Mendekat...
Kini, hanya ada jarak beberapa sentimeter antara mereka. Kiran dan Sid bisa saling merasakan napas mereka.
Kriet..
__ADS_1
"Hah?!"
Bersambung...