
"Sudahlah, ayah. Ini masih pagi, jangan memarahinya, biarkan saja. Biarkan nanti karma menimpanya." Sinis Sid yang membuat Lakshmi langsung terbatuk.
"Kau jahat sekali, kak! Kau mendoakan adikmu sendiri terkena karma, apa tidak sadis?" Protes Lakshmi.
"Kau sudah membuat kami tersiksa!" Balas Sid sambil mencubit tangan adiknya.
"Maaf... Maaf... Ini idenya Mira." Lakshmi menyengir kuda.
"Sudah, aku tidak ingin berdebat!" Ketus Sid.
Kiran dan Deva hanya diam, merasa geli dengan perdebatan adik dan kakak itu.
"Sudah, kalian makan. Aku akan mengambilkan makanan untukmu, Sid." Kiran beranjak untuk menyajikan makanan.
"Cukup, jangan terlalu banyak. Nanti aku bisa gendut." Sambil menahan tangan Kiran.
"Berlebihan, cepat makan."
Melihat kelakuan anak dan menantunya, Deva menjadi ingat pada Aisha.
Aisha, lihatlah mereka. Sangat mirip dengan kelakuan kita saat makan bersama.
"Sid, Kiran. Apa kalian punya rencana bulan madu?" Kiran yang sedang menikmati sarapannya langsung terbatuk.
Sid cepat-cepat menyodorkan segelas air, yang langsung diminum Kiran.
"Semalam kakek dan nenek memberi kami kado tiket bulan madu, yah. Besok kami akan berangkat." Jawab Sid sambil mengelus punggung Kiran.
"Kemana? Jam berapa penerbangannya?"
"Ke Maldives, jam enam pagi."
Deva mangut-mangut. "Selamat berbulan madu, semoga kalian pulang membawa kabar baik." Wajah Kiran langsung bersemu malu.
"Terima kasih, ayah."
"Sama-sama. Jangan lupa, berjuanglah demi cucuku." Ucap Deva sambil menyengir kuda.
Uhuk
Kali ini Sid yang langsung batuk, Kiran memberikan segelas air untuk diminum Sid.
"Kalian ini kenapa? Sudah menikah tapi masih seperti itu?!" Ketus Lakshmi.
"Terserah kami." Balas Sid dengan nada sinis.
"Ya sudah." Lakshmi mendelik tajam pada Sid.
Setelah acara sarapan selesai, Sid dan Kiran langsung berangkat ke dokter untuk mengobati dan memeriksa pinggang Kiran.
Sampai di rumah sakit, dokter Ema yang memeriksa Kiran langsung terkikik geli.
Bagaimana malam pertama mereka? Sampai Kiran bisa cedera pinggang begitu?
"Apa yang terjadi pada Kiran?" Tanya Dokter Ema setelah memeriksa Kiran.
"Kami jatuh dari ranjang." Jawab Sid dengan entengnya.
__ADS_1
"Hah?! Kalian tidur bagaimana? Mengapa sampai terjatuh begitu?" Tanya dokter Ema penasaran.
"Itu karena ulah Lakshmi, yang mengganti ranjang kami dengan kasur air." Sid merasa jengkel, mengingat kejadian semalam saat mereka jatuh dan basah kuyup.
"Wah, dia memang keren!" Sid mengerutkan dahinya mendengar dokter Ema menyebut Lakshmi keren. "Ulahnya selalu berhasil!"
"Huh! Merugikanku juga!" Ketus Sid. Dokter Ema terkekeh.
"Sudah. Pulanglah, bawa istrimu istirahat! Ini resep obat yang harus kau ambil di apotek, dengan salepnya juga."
Sid dan Kiran pun pulang, mereka rencananya akan istirahat dulu. Karena besok adalah jadwa keberangkatan mereka untuk bulan madu. Sepanjang perjalanan keduanya hening, tidak ada yang bicara seorangpun.
"Kiran, kau serius akan pergi besok?"
"Memangnya kenapa?"
"Kau sedang sakit, aku takut kau bertambah sakit." Wajah Sid berubah cemas.
"Sakit? Ini hanya sakit pinggang biasa, aku baik-baik saja!" Seru Kiran.
"Baiklah, tapi jika sampai di sana kau kesakitan jangan mengeluh! Karena kau sendiri yang sangat ingin pergi!" Sid menjewer telinga Kiran.
"Kau ini! Suka sekali ya menarik telingaku?!" Kiran cemberut.
"Tentu." Angguk Sid antusias.
"Kenapa?"
"Karena kau sangat menggemaskan!" Sid kembali menjewer telinga Kiran.
Sid terkekeh, lalu Kiran memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal ke samping melihat jalanan.
Selama perjalanan, Kiran terdiam. Membuat Sid jadi kalang kabut, dan merasa bersalah.
Tak lama, mereka sudah sampai kembali di mansion utama. Kiran turun tanpa menunggu pintu mobil dibukakan Sid, membuat Sid semakin merasa bersalah.
Sid turun dari mobil, mengejar Kiran yang sudah memasuki rumah.
"Sayang, kau ini kenapa?" Sid mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Kiran. "Hei, aku berbicara denganmu!" Kiran menoleh, dan menatap Sid dengan wajah kesalnya.
"Apa?" Tanya Kiran dengan nada suara tinggi.
"Hih! Kau ini, kenapa jadi marah begitu?" Ucap Sid sambil menahan Kiran dengan memeluknya.
"Kau pikir saja sendiri!" Ketus Kiran sambil melepaskan tangan Sid, dan langsung beranjak menaiki tangga.
Rasa sakit di pinggangnya tidak dia pikirkan lagi, saat ini dia merasa kesal pada Sid yang selalu suka menarik telinganya.
Menyebalkan! Tapi kenapa aku malah semakin mencintaimu?!
Kiran memasuki kamar, dan mengunci pintu kamarnya. Sid yang baru sampai di depan pintu kamar berusaha membukanya, tapi tidak bisa.
"Kiran, kenapa kau mengunci pintunya? Buka! Aku ingin masuk!" Sambil menggedor pintu. Beberapa menit, tidak ada jawaban ataupun pertanda pintu akan dibukakan oleh Kiran.
"Kiran, sayang! A... Aku minta maaf!"
Hih! Kenapa jika bersamanya aku jadi mudah meminta maaf?
__ADS_1
"Kiraaaannn...!!!" Teriak Sid.
Ceklek
Pintu di buka, menampilkan Kiran dengan bibirnya yang sudah seperti kerucut. Bukannya meminta maaf, Sid malah tergelak.
Braak
Kiran membanting pintu dengan sangat keras, membuat tawa Sid berhenti seketika.
Ya Tuhan, apa salahku? Kenapa jadi serba salah seperti ini?
Sid mulai pasrah, kali ini dia tidak tahu harus apalagi. Kiran pasti tidak akan membuka pintunya.
Tok tok tok
"Kiran, sayang. Buka pintunya, kita harus bersiap bukan untuk berbulan madu?!" Sid memegang pegangan pintu, tanpa sadar dia menekannya kebawah dengan tubuh bersender pada pintu.
Pintu terbuka, Sid tidak bisa menyeimbangkan dirinya.
Bruuuk..
Dia terjatuh ke lantai. Membuat Kiran menatap Sid penuh kepuasan.
"Aaaa, apa ini? Ternyata kau tidak mengunci pintunya!" Kiran tergelak, dan langsung membantu Sid bangun.
"Kau ini ceroboh sekali, lain kali periksa apa pintunya terlebih dahulu!" Cibir Kiran.
"Aku pikir, kau menguncinya lagi. Kenapa kau marah padaku?"
Aku jadi bodoh dihadapan istriku sendiri, bagaimana bisa?
"Kau menyebalkan! Aku hanya pura-pura." Jawab Kiran dengan entengnya.
"Apa? Jadi kau hanya pura-pura?" Kiran mengangguk. "Rasakan ini!" Sid kembali menarik telinga Kiran.
"Kau! Lihat saja, sekali lagi kau menarik telingaku, aku akan benar-benar marah padamu!" Ancam Kiran.
"Ah, tidak! Tidak! Aku minta maaf, jangan marah padaku, ya?" Kiran mengangguk, lalu tanpa aba-aba dia langsung menggendong Kiran dan merebahkannya di ranjang.
"Sid, turunkan aku! Aku takut jatuh!" Kiran meringis ketakutan.
"Ayo, kita lakukan sekarang?" Kiran mendongakan kepalanya, terlihat wajah Sid sudah memerah.
Wah, wajah mesumnya keluar! Aku kira kau tidak punya nafsu!
Kiran menggeleng. "Tidak mau! Turunkan aku cepat!" Kiran memukuli dada Sid.
"Tidak, jika kau tidak setuju aku akan memaksa!" Ancam Sid dengan wajah yang bertambah merah.
"A... Apa? Lihat saja, jika kau berani aku akan berteriak!" Sid segera membungkam mulut Kiran, lalu membukanya kembali.
"Teriaklah, kamar ini kedap suara!" Sid menyeringai, lalu dengan sigap membungkam mulut Kiran dengan ciumannya.
Bersambung...
Segini dulu, ya!!! Nanti ada lagi!
__ADS_1