
Sampai di rumah sakit, Sid segera menggendong Kiran menuju ruang pemeriksaan tanpa mempedulikan perawat yang sudah mendorong bed untuk Kiran.
"Dokter! Tolong istriku!" Teriak Sid pada dokter yang baru keluar dari ruang pemeriksaan.
"Sid, ada apa?" Tanya Dokter Ema yang baru keluar juga dari ruangannya.
"Dokter Ema, tolong Kiran!" Jawab Sid dengan ekspresi yang sudah sangat panik.
Dokter Ema memperhatikan Kiran yang berada di gendongan Sid, tampak kakinya berdarah.
"Hei kalian!" Teriak dokter Ema pada perawat yang hanya berdiri sambil menahan bed. "Kenapa diam saja? Cepat bantu dia!"
Para perawat segera membantu Sid menidurkan Kiran di atas bed, dan mendorongnya menuju ruangan gawat darurat.
"Kau tunggu disini!" Sid berhenti pada saat dirinya akan ikut masuk ke ruang gawat darurat. Ia menghela napas kasar, lalu terduduk lemas dilantai.
"Ya Tuhan, kenapa kau selalu memberi kami ujian yang sangat sulit untuk dilewati? Belum lama kami bahagia, sekarang sudah akan terjadi masalah lagi pada kami." Lirih Sid dengan wajah bersedih.
"Pak." Seseorang menepuk pundak Sid pelan, namun hal tersebut tetap membuat Sid terkejut.
"Rio! Kau membuatku terkejut!" Semprot Sid.
Hee... Dalam keadaan sedihpun dia masih bisa menyembur orang lain dengan kemarahannya!
"Maaf, pak. Ini sudah jam setengah sebelas, apa anda akan bertemu dengan bu Maya?" Tanya Rio agak berhati-hati.
"Apa kau tidak melihatnya? Kau tidak lihat keadaan Kiran bagaimana? Apa kau pikir aku akan meninggalkannya sendirian di rumah sakit demi bertemu Maya? Istriku sedang terbaring lemah di dalam sana, aku tidak akan pernah meninggalkannya dalam keadaan begitu!" Rio mengangguk, dia sedikit terharu dengan atasannya itu yang sangat setia pada pasangannya dan rela membatalkan pertemuan penting demi menemani istrinya.
"Maaf, pak."
"Sudahlah, batalkan pertemuannya. Katakan pada Maya, bahwa kita akan memutuskan kontrak apapun dengan perusahaannya. Jika dia meminta ganti rugi, maka berikanlah!" Perintah Sid yang langsung diangguki Rio.
Rio berpamitan pada Sid untuk menelepon Maya, ia agak menjauh sedikit dari tempat itu.
"Hallo, Rio! Bagaimana? Kenapa Sid belum datang juga? Aku sudah lama menunggu disini!" Ucap Maya pada saat ia mengangkat telepon dari Rio.
"Maaf, bu. Pak Sid bilang dia tidak bisa datang dan..."
__ADS_1
"Apa?!" Potong Maya cepat. "Kenapa? Dan apa?" Suara Maya tampak sudah terdengar marah, ketika Rio mengatakan bahwa Sid tidak akan datang.
"Dia harus menemani istrinya di rumah sakit, bu Kiran sedang sakit. Dan pak Sid bilang, kontrak apapun antara perusahaan anda dan perusahaan kami akan dibatalkan." Jelas Rio dengan sangat berhati-hati dan suara tegas.
"Apa?! Tidak! Kalian tidak bisa membatalkan kontrak ini secara mendadak begini, kalian akan merugikan perusahaanku!" Nada suara Maya mulai meninggi.
"Bu, kami akan mengganti kerugian anda! Jadi, jangan khawatir kalian akan rugi." Tanpa mendengar jawaban dari Maya, Rio segera memutuskan teleponnya. Ia pun kembali menuju tempat Sid berada.
"Pak, maaf, tapi sepertinya bu Maya sangat marah." Sid menoleh, dan menatap Rio tajam.
"Berikan ponselmu padaku!" Rio segera memberikannya. Sid mengambilnya dan menelepon Maya.
"Hallo, Rio! Aku tidak terima, kalian membatalkan kontrak ini! Katakan pada Sid bahwa...."
"Bahwa apa? Kenapa kau memaksakan kehendakmu? Kenapa kau selalu memaksa, baik pada pekerjaan ataupun padaku? Berhentilah menggangguku! Kau sudah membuat istriku dalam keadaannya saat ini!" Potong Sid langsung dengan kata-kata yang sudah sedari tadi ia pendam di dalam benaknya.
"Apa maksudmu, Sid?"
"Kau mengirimiku pesan seperti itu, istriku yang membuka pesanmu! Aku sudah punya istri, Maya! Berhenti menghubungiku jika bukan karena pekerjaan!" Tegas Sid.
"Sid, aku hanya ingin berbagi masalah denganmu!" Balas Maya tak terima.
"Tapi, Sid..."
"Cukup, Maya! Cukup sampai disini, kau sudah sangat keterlaluan! Tadi aku sudah berbaik hati padamu dengan akan mengganti kerugian perusahaanmu!" Berhenti sejenak. "Tapi, karena kau bersikeras sekarang aku tidak peduli lagi pada kerugian perusahaanmu! Jangan pernah menghubungiku apalagi menginjakan kakimu di perusahaanku dan juga rumahku!" Sid kembali menegaskan, lalu memutus teleponnya.
"Rio, sekarang juga pulang ke kantor dan siapkan pemutusan kontrak dengan World Music!" Perintah Sid.
"Baik, pak." Patuh Rio. Lalu Rio berpamitan dan kembali ke perusahaan.
Sid masih tetap setia menunggu di luar ruang gawat darurat, hatinya begitu sangat khawatir.
Apapun yang terjadi, tolong selamatkan istriku. Tuhan, aku percaya rencanamu indah. Tapi jangan buat Kirana selalu menderita seperti ini.
Matanya terus menatap lurus ke arah pintu, hatinya berharap istri tercintanya itu akan baik-baik saja. Dia juga berharap bahwa calon bayinya baik-baik saja.
Pintu terbuka, dokter Ema keluar dengan wajah panik.
__ADS_1
"Sid, apa Kiran terjatuh lagi?" Merasa dipanggil, Sid segera berdiri dan melangkah mendekati dokter Ema.
"Tidak, ada apa dokter? Kiran baik-baik saja?" Dokter Ema menggeleng, Sid menjadi tambah khawatir.
"Tidak baik, pendarahannya sangat banyak. Mungkin aku tidak bisa menyelamatkan calon bayi kalian." Ucap dokter Ema dengan wajah lesu.
"Apa?! Tidak, tolong selamatkan calon bayiku! Aku mohon, dokter Ema!" Sid memelas pada dokter Ema.
"Sid itu sangat beresiko, bisa membahayakan nyawa istrimu! Kandungannya sangat lemah, jika dipertahankan memang dia akan lahir, tapi mungkin taruhannya adalah nyawa istrimu sendiri!" Sid tertegun, dia kebingungan.
Satu sisi Kirana, wanita yang sangat dia cintai bahkan sudah menjadi hidupnya sendiri. Sisi lain calon bayi yang sudah sangat dia nantikan, bahkan Kiran juga sangat menginginkan bayi itu.
"Siddharth! Jangan khawatir, aku akan berusaha sebaik mungkin." Dokter Ema meyakinkan Sid.
"Aku berharap padamu, dokter Ema. Tolong selamatkan keduanya."
"Berharaplah pada Tuhan, jangan padaku. Aku manusia, tidak bisa memutuskan mati dan hidup seseorag. Berdoalah, agar istrimu dan janin yang dikandungnya baik-baik saja." Ucap dokter Ema sambil menepuk pundak Sid pelan.
"Terima kasih, dokter Ema." Dokter Ema mengangguk, lalu masuk kembali ke ruangan gawat darurat.
Selama lima belas menit Sid kembali menunggu, hatinya sudah sangat tidak karuan. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan istri dan calon anaknya.
Kiran, maaf. Semua karena diriku, aku seharusnya mengatakan segalanya padamu. Apalagi tentang Maya, wanita sialan itu telah membuatmu dan calon bayi kita dalam keadaan seperti ini.
Dalam hatinya, Sid terus merutuki Maya. Andai saja, Maya tak mengiriminya pesan, andai saja Sid tidak ceroboh meninggalkan ponselnya di dekat Kirana, dan andai saja ia jujur pada Kiran. Andai, Sid terus berandai-andai. Mungkin semua itu tidak akan terjadi pada Kiran dan calon bayi mereka.
Setelah ini, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus Sid katakan pada Kiran? Tentang Maya tentunya, wanita yang menjadi sahabatnya sejak Kanaya meninggalkannya, namun Maya ingin memiliki hubungan lebih dari seorang sahabat dengan Sid.
Dan bodohnya, Sid tidak tahu bahwa Maya dari dulu selalu berusaha mendekatinya. Yang membebaskan Kanaya dari penjara waktu itu adalah Maya.
Namun Sid tidak memberitahukan siapapun, karena ia menganggap Maya khilaf. Tidak sengaja.
Tapi kali ini, Maya sudah keterlaluan.
Tidak, sahabat tidak akan dan tidak boleh jadi alasan untuk aku memaafkan Maya. Itu sama saja memberinya celah kembali untuk mendekatiku, aku tidak akan menyakiti Kiran. Cukup sudah masa lalu kami menjadi pengalaman menyakitkan terakhir! Tidak lagi, tidak akan lagi!
Hatinya sudah menegaskan, bahwa ia akan memutuskan persahabatannya dengan Maya. Sid adalah sosok laki-laki yang tegas, jika ia mengambil keputusan maka tidak akan ada yang bisa menggoyahkan pendiriannya.
__ADS_1
Bersambung...
Selalu author ingatkan, jangan lupa like, coment dan vote nya ya... Itu penting buat author...