Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Bulan Madu


__ADS_3

"Sid! Jangan sekarang, aku mohon!" Sid menghentikkan aksinya, lalu menurunkan Kiran.


"Memangnya kenapa? Kau belum siap?" Kiran mendekati Sid, lalu menggeleng.


"Buka begitu, tapi aku mohon jangan disini! Atau kau tahu sendiri kan? Lakshmi bagaimana!" Sid memikirkan ucapan Kiran.


Ada benarnya juga, Lakshmi selalu bisa mencium apapun walaupun tidak diberitahu. Dia pasti punya seribu cara jahil untuk membuatku kesal!


"Kau benar, tapi sebagai gantinya nanti saat kita sudah sampai tidak boleh menolak, ataupun membantah!" Sid menegaskan.


Astaga, aku menjebak diriku sendiri!


Dengan terpaksa, Kiran mengangguk. Hatinya merasa takut, karena ini pertama kali bagi Kiran melakukan hal yang harus dilakukan bagi suami istri.


"Ya sudah, sekarang lebih baik kita berbenah dulu. Agar besok tidak terburu-buru!" Kiran mengangguk lagi.


Mereka berdua langsung berkemas, memasukan beberapa setel pakaian dan barang-barang serta obat-obatan yang diperlukan untuk berjaga-jaga bila ada hal yang tidak terduga terjadi pada saat bulan madu nanti.


Selesai berkemas, keduanya merebahkan diri di ranjang. Dengan posisi menyamping dan saling menghadap. Beberapa kali, Sid menguap. Dia mengantuk, karena malam kemarin tidak tidur nyenyak akibat ulah Lakshmi dia jadi harus membereskan kamarnya semalaman dengan Kiran.


Setiap kali mengingat ulah Lakshmi, dia selalu kesal. Malam yang seharusnya indah, berakhir dengan menyebalkan dan mengesalkan.


Sid mendengus sebal, Kiran mengerutkan dahinya.


"Kenapa?"


Sid menggeleng, dan menarik Kiran kedalam pelukannya.


"Mandi dulu, setelah itu makan malam, baru kau tidur." Kiran mencubit hidung Sid.


"Baiklah, ayo." Sambil menarik tangan Kiran.


"Kemana? Aku menyuruhmu mandi!"


"Kita mandi bersama saja, seperti semalam!" Sid kembali menyeringai.


"Itu bukan mandi bersama!" Kiran mendorong Sid menuju kamar mandi, saat akan membalikkan tubuhnya, Sid menarik tangan Kiran memasuki kamar mandi. Lalu mengunci pintunya, dan menyalakan showernya. Membuat tubuh mereka berdua basah.


"Kau ini, apa-apaan? Lihat! Aku jadi basah!" Protes Kiran. Sid malah terkekeh, dan melingkarkan tangannya di pinggang Kiran.


"Kiran, jangan banyak protes! Atau aku akan melahapmu sekarang juga!" Kiran meringis, dan memilih diam. Membiarkan Sid melakukan apapun padanya.


Sid mengisi air di bath up, lalu memasukan sabun cair kedalamnya. Setelah penuh, ia melucuti pakaiannya. Kiran langsung memejamkan matanya. Membuat Sid semakin leluasa, setelah pakaiannya ditubuhnya sudah tak tersisa, dia melucuti seluruh pakaian Kiran.


Deg...

__ADS_1


Apa ini? Tamatlah riwayatku!


Sid memeluk Kiran, lalu menggendongnya dan membawanya masuk kedalam bath up.


"Buka matamu, aku hanya ingin mandi bersamamu." Bisik Sid ketelinga Kiran.


Kiran membuka matanya perlahan, Sid menyandarkan kepala Kiran didadanya. hampir setengah jam, keduanya berendam didalam bath up.


Aku bersumpah, akan selalu mencintaimu. Semoga dalam tujuh kehidupanpun kita tetap dipersatukan. -Sid.


Tiada keindahan, selain bersamamu, memilikimu. Bahkan mendapatkan cinta yang besar, teramat besar darimu. Semoga aku akan selalu bisa menjaga semua yang kau berikan dengan baik. -Kiran.


...----------------...


Pagi telah datang, Kiran dan Sid sudah berpakaian rapi. Dengan dua buah koper yang dibawakan oleh pengawal mereka.


Keduanya memasuki mobil, menuju bandara. Mereka akan berangkat untuk tujuan bulan madunya.


Sepanjang perjalanan Kiran tak berhenti mengoceh. Dia terus mengatakan akan mengunjungi ini dan itu, membuat yang mendengarnya menjadi gemas. Seperti anak kecil, ketika Kiran sedang banyak bicara. Namun, pada saat sudah diam membuat Sid panik setengah mati.


"Sid, jangan lupa! Pada saat kita pulang nanti, belikan oleh-oleh untuk ibu!" Sid hanya mengangguk sambil tersenyum. Kiran baru diam setelah sampai di bandara.


Keduanya sudah berada di dalam pesawat. Pada saat pesawat sudah terbang, Kiran mulai merasa tidak nyaman. Ini adalah pertama kalinya Kiran naik pesawat dengan jangka waktu yang panjang.


Sejak tadi ia tak memakan apapun, namun perutnya sudah bergejolak. Mual menerpanya, pusing sudah menerpanya juga. Sid yang tidak tahu, merasa panik sendiri melihat Kiran hanya diam dengan wajah gelisah.


"Ayo, kita ke kamar mandi saja!" Sid langsung mengantar Kiran ke kamar mandi.


Sid membiarkan Kiran masuk kedalam sendiri, ia menunggu diluar. Di dalam Kiran memuntahkan seluruh isi perutnya, yang sebenarnya belum kemasukan apapun sejak pagi.


Setelah merasa lebih baik, Kiran keluar dari kamar mandi yang sudah disambut Sid dengan wajah khawatir.


"Apa kau pusing?" Kiran mengangguk.


Sid bingung, perjalanan masih panjang. Pasti Kiran akan merasa pusing lagi, iapun menemukan ide agar Kiran tidak pusing dan muntah lagi.


"Ini, minumlah obat tidur. Kau tidak akan mual lagi, nanti setelah pesawat mendarat aku akan membangunkanmu." Kiran meminum obat tidur yang diberikan Sid, lalu Sid mengajaknya duduk kembali di kursi. Dalam hitunga menit Kiran sudah terlelap di samping Sid dengan kepala menyandar di bahu Sid.


Berjam-jam perjalanan, akhirnya mereka mendarat dengan selamat di bandara.


"Kiran, bangun, kita sudah sampai!" Kiran terbangun, ia memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


"Kau masih pusing?" Kiran mengangguk.


"Sedikit, tapi mungkin sebentar lagi akan hilang."

__ADS_1


"Ayo turun, kita harus mencari hotel dulu. Kita akan istirahat dulu, lalu setelah itu bebas akan melakukan apapun." Ucap Sid dengan senyuman mesumnya.


"Kau masih bisa saja mengingat itu, padahal aku sedang pusing." Protes Kiran dengan suara lemah.


"Sudah, ayo! Aku sudah tidak sabar!" Sid menarik tangan Kiran untuk mencari hotel terdekat.


Mereka menemukannya, lalu langsung menyewa salah satu kamar tanpa perlu lama, karena Sid menunjukkan bukti bahwa Dia dan Kiran sudah menikah.


Mereka menaiki lift menuju kamar yang disewa, setelah sampai keduanya langsung merebahkan diri di atas ranjang berukuran king size.


"Masih pusing?" Kiran menggeleng. "Apa sekarang sudah boleh?" Kiran membelalakkan matanya. "Hei, kenapa kau malah memelototiku?"


"Kau ini, istirahat dulu! Aku lelah."


Lelah? Bukankah dia tertidur sepanjang perjalanan? Alasan basi!


"Baiklah, tapi kau harus memberinya nanti!" Kiran menghela napas kasar, lalu menggelengkan kepalanya.


Ku kira dia tidak punya nafsu, ternyata kadar mesumnya sangat tinggi!


"Baik, tapi izinkan aku istirahat dulu sebentar!" Sid mengangguk, lalu segera memeluk Kiran.


Keduanya tertidur hingga malam, karena di Maldives sudah sore saat mereka datang.


"Bangun, ayo mandilah dulu! Aku akan menyiapkan makanan untukmu!" Sid terbangun, dengan malas dia beranjak menuju kamar mandi.


Kiran memasuki dapur, dan kebingungan karena di kulkas tidak terdapat makanan apapun ataupun bahan makanan apapun.


"Kiran!" Tiba-tiba Sid menepuk punggung Kiran, membuat Kiran terlonjat.


"Kau mengejutkanku! Ada apa?"


"Aku baru saja ingin bilang, kita makan diluar saja. Karena pasti tidak ada apapun di dapur kan?" Kiran mengangguk.


"Ya sudah, mandilah dulu!"


"Kita mandi bersama lagi?"


"Tidak, aku sudah mandi!" Sambil menunjukkan rambut basahnya. Kiran memang sudah mandi, saat Sid masih tertidur ia bangun lebih dulu dan langsung memandikan dirinya untuk menghilangkan rasa lelahnya.


Sid cemberut, dan langsung meninggalkan Kiran yang tersenyum puas dan penuh kemenangan.


"Jangan tersenyum dulu! Kau masih harus menepati janjimu tadi!" Kiran langsung cemberut.


Huh! Dia selalu saja ingat dengan itu, tapi bagaimana ya rasanya? Aaaa... Aku gila sepertinya!

__ADS_1


Setelah selesai mandi, seperti biasa Kiran sudah menyiapkan pakaian Sid. Setelah selesai keduanya turun menuju restoran yang memang ada di lantai kedua hotel tersebut. Mereka makan malam disana dengan menu makanan yang beragam. Seperti makanan China, Italia, dan berbagai aneka ragam makanan khas negara lainnya.


Bersambung...


__ADS_2