Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Bermulanya Tumbuh Cinta


__ADS_3

"Kau?!"


"Kiran, sedang apa kau disini?" Tanya orang yang bertabrakan dengan Kiran.


"Aku bekerja disini, memangnya kenapa?"


"Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini. Tapi, karena kebetulan kita bertemu. Aku ingin bicara denganmu." Pria itu meraih lengan Kiran dan menariknya. "Ayo, kita bicara di sana saja." sambil menunjuk lift.


"Tidak! Lepaskan aku, kak Rian!" Kiran menepis lengan Rian.


"Kenapa Kiran? Aku hanya ingin bicara denganmu saja, apa kau tidak merindukanku?"


"Merindukanmu? Apa pria bejat sepertimu pantas untuk dirindukan? Setelah apa yang kau lakukan pada Aira, seharusnya kau malu!"


"Tapi itu semua karena dia terlalu ikut campur dalam hubungan kita!" Tegas Rian.


"Lepaskan aku, kak Rian! Kita sudah tidak ada hubungan lagi!"


"Tidak, Kiran. Tolong maafkan aku, kembalilah padaku! Aku berjanji akan menjaga hatiku hanya untukmu." Rian menyentakkan tangan Kiran, hingga Kiran masuk kedalam pelukannya.


"Lepaskan! Aku bilang lepaskan!" Kiran berusaha melepaskan pelukan Rian sekuat tenaga, namun pelukan Rian sangat kuat.


"Tidak, kali ini kau akan ikut denganku! Aku akan melakukan sesuatu yang bisa membuatmu kembali padaku dan tidak akan pergi lagi!" Rian melepaskan pelukannya, dan mencengkram salah satu lengan Kiran dengan tangannya. Tangan yang lain mencengkram dagu Aira.


Rian mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Kiran. Kiran berusaha melepaskan diri tapi tidak bisa.


"Lepaskan!"


Semakin dekat, dan pada saat tidak ada jarak lagi.


Bruk


"Berani sekali kau mengganggu sekretarisku!" Sid memukul Rian hingga tersungkur ke lantai.


"Pak... Pak Sid." Lirih Kiran ketakutan.


"Kiran, kau baik-baik saja?" Kiran mengangguk. Sid mendekap Kiran di pelukannya.


Kiran yang semula ketakutan, mulai tenang dalam dekapan Sid. Dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.


"Rio!" Rio yang berada di belakang Sid.


"Ya, pak."


"Bereskan pria ini! Batalkan seluruh kontrak kerja sama perusahaan kita dengannya!"


Rio memanggil dua petugas keamanan, dan membawa Rian seperti yang diperintahkan Sid.


"Kiran, kau benar tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka kan?" Kiran mengangguk, Sid memeriksa wajah Kiran.


Dagunya sedikit merah akibat cengkraman tangan Rian. Tanpa sadar, wajah Sid dan Kiran saling berdekatan. Membuat jantung keduanya berdebar kencang.


Bahkan Kiran bisa mencium wangi parfum yang dikenakan Sid. Kiran cepat-cepat memalingkan wajahnya, membuat Sid menyadari posisi mereka saat ini.


"Maaf, kembalilah ke ruanganmu sekarang." Kiran mengangguk.


Pak Sid, apa yang kau buat padaku? Kenapa jantungku jadi berdebar kencang jika berada di dekatmu?

__ADS_1


Kiran berbalik, begitu juga Sid. Sebelum melangkah lagi, Kiran menoleh pada Sid.


"Pak, emm... Terima kasih." Sid berhenti melangkah, lalu menoleh.


"Tidak masalah. Aku hanya ingin menolong sahabatku dari dalam bahaya." Ujar Sid membuat hati Kiran sedih sekaligus senang.


Sedih karena Sid mengatakan bahwa Kiran sahabatnya. Senang juga karena Sid sudah mulai menganggapnya.


"Kita sahabat kan?" Kiran mengangguk. Sid tersenyum senang.


Hati, tolong jangan meminta lebih. Dia dan kita tidak mungkin saling mencintai.


Kiran membalas senyuman Sid, lalu berbalik dan melangkah memasuki ruangannya.


Maaf, aku saat ini belum bisa mengenal cinta lagi. Aku tidak ingin menyakitimu. Eh, apa yang kau pikirkan, Siddharth! Saat ini kau harus mengetahui dulu pembunuh ibumu!


Sid berdebat dengan hatinya sendiri. Apakah mulai tumbuh cinta untuk Kiran dalam hatinya yang pernah membeku ini? Tidak! Sid harus menepisnya, dia tidak ingin terluka untuk kedua kalinya hanya karena wanita.


Sid berbalik arah, mengikuti Kiran. Pada saat melewati ruangan Kiran, ia tak menoleh sedikitpun pada Kiran yang sedang duduk.


Ya, begitu pak. Aku tidak ingin berharap lebih dan salah mengartikan kebaikanmu. Maaf.


...----------------...


Di rumah


"Bagaimana kalau kita menikahkan Kiran dan Sid?"


"Kak Deva! Ini sudah modern, jangan menjodohkan anakmu! Biarkan dia memilih pasangannya sendiri!" Rhea mencibir Deva.


"Rhea, mereka kelihatan saling menyukai sekarang." Dendi menimpali.


"Tidak, tapi asisten pribadi Sid yang melaporkan setiap apapun yang Sid dan Kiran lakukan di kantor." Ujar Deva.


"Lalu bagaimana mereka di kantor?" Tanya Rhea penasaran, karena suami dari mendiang sahabatnya itu sepertinya sangat tahu seperti apa putrinya dan juga putranya sendiri.


"Kau tahu, saat pertama kali Kiran bekerja di kantorku Sid begitu galak padanya. Dan sekarang perlahan-lahan sifat galaknya itu menghilang. Jadi bagaimana?"


"Bagaimana apanya?" Tanya Dendi bingung.


"Keponakanmu yang cantik dan manis itu dan putraku yang tampan dan sangat galak itu?"


"Kau jangan menjebak keponakanku masuk ke dalam lubang singa! Kau tahu sendiri kan putramu itu?" Cibir Dendi.


"Sudah-sudah! Kita bicarakan nanti saja, sebelum itu tanyakan dulu pada anak kita masing-masing!" Rhea melerai perdebatan antara Dendi dan Deva.


...----------------...


Di ruangannya, Sid merasah gelisah. Ia tidak dapat fokus pada pekerjaannya.


"Ada apa ini? Kenapa aku merasa gelisah?" Gumam Sid.


Kiran sedang apa, ya? Apa tadi aku berlebihan padanya?


Sid menelepon ke ruangan Kiran dengan telepon ruangannya.


"Hallo, bisa ke ruanganku sekarang? Baiklah, aku menunggumu." Sid meletakkan kembali telepon.

__ADS_1


Tak lama, yang dipanggil sudah berada di hadapan Sid.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?"


"Kiran. Kau ini!" Sid memelotot gemas pada Kiran.


"Maaf, ada yang bisa aku bantu?" Ralat Kiran.


"Maaf, Kiran. Aku tadi mengacuhkanmu saat melewati ruanganmu." Ucap Sid gugup.


Bukannya dulu kau terbiasa acuh ya? Kenapa baru kali ini kau meminta maaf padaku? Bodoh!


Kiran merasa aneh dengan Sid saat ini. Pasalnya, wajahnya tidak pernah sekaku itu.


"Tidak apa-apa, pak."


"Baiklah, kau boleh pergi."


"Heuh?"


"Kau boleh kembali ke ruanganmu." Sambil menghela napas pelan.


Kau ini kenapa? Jika hanya ingin minta maaf kenapa tidak di telepon saja tadi?!


Kiran mulai merasa ngeri melihat kelakuan bosnya.


Kau memang sudah berubah, tapi kenapa malah jadi aneh?!


Sid berjalan kesana-kemari gelisah di ruangannya. Bosan, Sid bangkit dan duduk di kursi.


Sial! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ada apa ini? Siddharth, kenapa kau jadi bodoh saat berhadapan dengannya?


Berkali-kali Sid mengusap wajahnya. Dia merasa seperti orang bodoh dan idiot. Layaknya remaja yang sedang di masa pubertas.


Sesekali ia mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan.


Tiba-tiba pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Dari nomor yang tidak memiliki nama, tapi Sid masih ingat nomor siapa itu. Kanaya.


Maaf Siddharth, sekali lagi aku minta maaf padamu. Dulu aku telah mengecewakanmu. Asal kau tahu, aku sangat menyayangimu.


Sid menghapus pesan itu, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Wajahnya berubah menjadi kesal saat ponselnya berdering, ada panggilan dari nomor Kanaya.


Sid meraih ponselnya, lalu mengangkatnya.


"Siddharth, aku senang kau mau mengangkat teleponku." Sahut Kanaya di telepon.


"Aku juga senang, kau meneleponku. Karena aku bisa lebih leluasa mengatakan apa yang harus aku katakan padamu!" Tegas Sid.


"Memangnya kau ingin mengatakan apa?"


"Berhentilah menerorku dengan cintamu serta bunga-bunga dan surat-suratmu! Aku sudah melepaskanmu, Kanaya! Pergilah, uruslah hidupmu, suamimu dan anakmu itu! Jangan pernah menggangguku lagi dan kehidupan baru yang aku mulai sekarang. Kita sudah berbeda, aku punya hidupku sendiri dan wanita yang aku cintai. Kau juga punya hidupmu sendiri, bersama anak dan suamimu!" Berhenti sebentar.


"Kau masih ingat wanita yang bersamaku di event itu? Dia adalah wanita baru yang aku cintai melebihi hidupku sendiri! Kau camkan baik-baik, meskipun aku belum menemukan wanita baru di hidupku, aku tetap tidak akan sudi memberikanmu kesempatan untuk memasuki hidupku lagi!" Sid langsung memutuskan teleponnya.


Hatinya terasa panas, amarah mulai memuncak kembali di dalam kepalanya. Ia meraih ponselnya, lalu mengeluarkan simcard-nya dan mematahkannya.


Bersambung...

__ADS_1


Sekali lagi buat yang baca, jangan lupa like ya karena dengan like itu adalah dukungan bagi author. Maaf ya hari ini hanya up 1 episode, akan kembali up seperti biasa setelah lulus kontrak. Dan buat yang menyimpan karya ini tapi tidak membacanya tolong dibaca yaa...


__ADS_2