Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kenangan Perpisahan


__ADS_3

"Kiran, sudah sore. Ayo kita ke tempat berikutnya. Tempat terakhir yang akan menjadi saksi perpisahan kita." Sid keluar dari dalam air, diikuti Kiran.


Bukan perpisahan, Sid. Tapi saksi cinta kita.


Kiran tersenyum, lalu mengangguk.


"Ini, pakailah. Supaya kau tidak kedinginan." Sid memberikan sebuah bingkisan berisi pakaian wanita pada Kiran.


"Pakaian? Kapan kau membelinya?"


"Aku tadi menyuruh anak buahku membeli pakaian untuk kita. Sudah, jangan banyak bertanya. Cepat pakai pakaiannya!" Kiran segera mencari kamar mandi, untuk mengganti pakaiannya. Begitu juga dengan Sid.


Setelah selesai berganti pakaian, Kiran dan Sid langsung bergegas pergi dari tempat itu. Tentunya dengan menaiki sepeda motornya seperti tadi.


Kali ini, waktu yang ditempuh tidak terlalu lama. sekitar lima belas menit mereka sudah sampai ditempat yang sudah disiapkan Sid.


"Sid, ini..." Kiran menatap Sid dengan tatapan terkejut, pasalnya dihadapannya sudah disediakan sebuah meja dan kursi, dihadapan sebuah danau besar yang sangat indah.


"Ya, semua ini aku siapkan untukmu." Kiran langsung berhambur memeluk Sis, air matanya tak dapat tertahankan lagi.


"Sid, kenapa kau melakukan ini? Kau tahu kan, bahwa besok kita akan menikah dengan pasangan masing-masing yang telah dipilihkan oleh orang tua kita?" Ujar Kiran tersedu-sedu.


"Aku tahu, Kiran. Justru karena itu aku menyiapkan segalanya beberapa hari ini untukmu, aku ingin menumpahkan rasa cintaku pada dirimu terlebih dahulu sebelum kita menjadi masing-masing dan memulai hidup baru dengan pasangan kita. Aku pikir, aku harus memberikan kenangan terindah padamu. Aku ingin cinta kita dikenang selamanya." Air mata Sid ikut keluar, kali ini ia benar-benar bangga pada dirinya sendiri. Ia tahu, mencintai tak harus saling memiliki.


Saat ini dihatinya sudah ia tegaskan, bahwa ia akan bahagia jika Kiran juga bahagia. Mungkin saja, Tuhan telah menyiapkan yang terbaik untuknya nanti. Atau, jika jodoh mungkin tidak akan lari kemana? Pasti Kiran akan kembali padanya, meskipun dalam kurun waktu yang cukup panjang.


Sid, cinta kita akan dikenang selamanya, bahkan aku akan menemanimu sampai napas terakhirku. Ingin rasanya, aku mengakhiri sandiwara ini. Tapi aku ingin memberikanmu kejutan yang lebih besar daripada ini. Besok, kita akan bersatu padu. Membina rumah tangga kita dengan penuh cinta!


Kiran sangat terharu dengan apa yang telah Sid berikan padanya selama satu minggu ini, hari ini dia percaya bahwa Siddharth memang benar-benar tulus mencintainya. Bukan karena sekedar ingin menghilangkan Kanaya dari kenangannya.


"Sid, terima kasih banyak. Kau telah hadir dihidupku, meskipun dengan cara menyebalkan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita, aku tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi, satu hal yang sangat penting dalam hidupku. Bahwa aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." Kiran memeluk Sid erat, tentunya Sid juga membalas pelukan Kiran dengan sangat erat.


"Aku juga sangat mencintaimu, sangat, sangat mencintaimu. Terima kasih, kau sudah membuatku bangkit dari keterpurukan, bahkan kau bisa sangat mengerti diriku. Andai, kau tidak hadir dalam hidupku mungkin saja aku sudah lebih banyak membuat dosa, dengan mulutku ini yang suka seenaknya menghina orang lain." Bukannya membuat suasana menjadi sedih, tapi jika Kiran dan Sid mengingat-ingat bagaimana Sid dan mulutnya yang tajam itu, itu akan menjadi kenangan terlucu diantara mereka berdua.


"Siddharth Adeva Rafandi, Bos Galak IdamanKu! Hahahaha..." Kiran tertawa terbahak-bahak. Sid ikut tertawa.

__ADS_1


"Jangan lupa, Kera Albino, kakek lampir, manusia tidak punya hati dan sebagainya! Itu kau kan yang memberikan julukan iti padaku?" Wajah Kiran langsung pucat, ketika Sid mengatakan seluruh julukan yang Kiran berikan padanya sewaktu Sid masih galak.


"Aaaa... Sid, kau ini!" Sid mencubit pipi Kiran gemas, lalu menciumnya.


"Sudahlah, kau memang unik. Sekretaris somplak! Kau memang paling berani diantara mereka yang bekerja di kantorku!"


"Haaah?! Menyebalkan! Bos gila dan galak!" Balas Kiran sambil menarik hidung Sid.


"Awas ya kau, Kiran! Aku akan membalasmu, lihat ini ya, lihat!" Sid menggelitiki Kiran. Lalu setelah berhenti, Kiran membalas lagi Sid dengan mencubit perutnya.


"Kiraaannn!!!" Kiran segera berlari menjauh, ketika melihat mata Sid sudah memelototinya.


"Tangkap aku jika bisa!" Lalu Kiran menjulurkan lidahnya.


"Aku pasti bisa menangkapmu!" Sid mengejar Kiran yang sudah berlari menjauh.


Mereka saling kejar mengejar, tanpa sadar dari jauh seorang wanita terus memperhatikan kemesraan mereka.


"Sid, aku tidak menyangka bahwa kau benar-benar bisa melepaskan belenggu cintaku." Gumamnya, lalu pergi meninggalkan dua orang yang sedang bermain kejar-kejaran tersebut.


...----------------...


Setelah melalui hari yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan, Sid mengantarkan Kiran menuju rumahnya kembali.


Sepanjang perjalanan hanya ada hening, bukan karena mereka memang tidak ingij bicara. Tapi karena gadis cerewet yang biasa membuat Sid menjadi gemas itu tertidur nyenyak.


Setelah menempuh waktu perjalanan yang hampir memakan waktu dua jam itu akhirnya mereka sampai di rumah Kiran. Mereka pulang menaiki mobil, karena motor yang dibawa Sid ditukar oleh anak buahnya


Sid membangunkan Kiran, karena tidak mungkin menggendong Kiran masuk kerumahnya.


"Kiran, bangun kita sudah sampai." Kiran mengerjap-ngerjapkan matanya, sedikit terkejut saat wajah Sid yang pertama kali ia lihat. Namun, ia melah tersenyum senang setelahnya.


Sid, ini yang aku inginkan saat bangun dari tidur. Aku ingin kau jadi yang pertama aku lihat saat aku membuka mataku nanti


"Kau malah tersenyum seperti itu, ayo bangun dan masuklah ke rumah! Ini sudah malam." Kiran mengangguk, ia bermaksud turun dari mobil.

__ADS_1


Sebelum turun dari mobil, Kiran memberanikan diri melakukan sesuatu yang tak bisa di duga oleh Sid.


Cup


Satu kecupan yang hangat mendarat di bibirnya Sid, membuat yang mendapat kecupan itu terpaku dan terdiam.


Sid meraba bibirnya.


Dia, ya ampun! Berani juga ya kau!


"Kiran, apa yang kau lakukan? Kau sudah merenggut kesucian bibirku ini dengan bibirmu!" Sid cemberut. "Sudah merenggut, dan hanya sebentar saja!"


"Sid, kau juga merenggut kesucian pipiku tadi!" Kiran ikut cemberut.


Mereka tertawa bersamaan. Setelah itu, barulah Kiran turun dari mobil Sid.


"Terima kasih untuk satu minggu penuh cintamu, Sid. Semoga setelah ini kebahagiaanmu bertambah besar." Ucap Kiran sebelum pergi memasuki gerbang rumahnya.


"Kiran, aku mencintaimu. Tapi aku tidak ingin egois, kau wanita yang sangat baik dan setia. Aku berdoa, semoga pria yang menjadi suamimu juga laki-laki yang memiliki sifat yang sama denganmu." Sid turun dari mobil, lalu meraih kedua lengan Kiran, menggenggam jemarinya dan mengecupnya singkat.


"Sungguh, laki-laki itu beruntung memilikimu. Andai aku lelaki beruntung itu, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku akan menjagamu, membahagiakanmu, dan mencintai serta menyayangimu sepenuh hati." Sid menarik Kiran kedalam pelukannya. Air matanya tiba-tiba menetes.


Bagi Sid, ini adalah perpisahan paling indah di dalam hidupnya. Berpisah tanpa menodai kesetiaan, tanpa pengkhianatan, berpisah atas kehendak diri sendiri. Tanpa sadar, perpisahan ini tidak benar-benar terjadi. Sid dan Kiran adalah takdir Tuhan yang akan disatukan dengan nama yang mereka beri pada mobil yang diberi nama Siran, itu adalah simbol cinta Sid kepada Kiran.


Jangan berandai Sid, aku dan kau adalah Kita. Aku dan Kau, akan digabungkan dari dua kata menjadi satu kata 'Kita' selamanya.


Kiran membalas pelukan Sid. Beberapa menit, lalu saling melepaskan.


"Masuklah, tidak baik gadis berada di luar rumah malam-malam." Menyuruh masuk, tapi tangannya menggenggam tangan Kiran.


Kiran mundur perlahan-lahan, dengan satu tangan yang masih terpaut pada tangannya Sid.


Mundur perlahan, hingga tangan itu saling melepaskan. Tapi, cinta mereka sudah ditakdirkan tidak akan pernah terpisahkan.


Sid melambaikan tangan, Kiran membalasnya. Setelah Kiran masuk ke dalam gerbang, Sid memasuki mobilnya dan melajukannya pelan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2