Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kebahagiaan Kiran dan Kesedihan Ami


__ADS_3

"Kapan aku bisa tahu jenis kelamin bayi kembarku?"


"Biasanya saat kandungannya berumur enam belas minggu, itupun jika kondisinya didalam tidak tertutup tangan atau plasentanya." Jelas dokter Ema.


"Lama sekali, ya?" Dokter Ema mengangguk.


"Sid, sudah cukup! Aku lelah, aku mengantuk. Dokter Ema juga pasti ingin istirahat, kita pulang saja!"


"Kiran benar, pulanglah. Lagipula ini sudah larut malam, kasihan Kiran bisa membawa pengaruh buruk pada kandungannya."


"Baiklah, ayo pulang. Terima kasih, dokter Ema. Terimalah upahmu besok lewat transfer." Dokter Ema mengangguk lagi, kali ini dengan anggukan penuh semangat.


Sid membawa Kiran pulang, dia merangkul pinggangnya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh.


Sepanjang perjalanan Sid terus tersenyum-senyum seperti orang yang tidak waras. Kali ini, ia sangat bahagia karena mendapat kesempatan menjadi ayah lagi. Ia ingin sekali mendampingi Kiran di masa-masa kehamilannya.


Sebelumnya mungkin sangat menyakitkan bagi dirinya dan Kiran yang terpisah dalam keadaan Kiran sedang mengandung. Tapi kali ini, ia tak ingin menyia-nyiakan momen bahagianya.


"Kiran, apa kau ingin sesuatu?" Tanya Sid dalam heningnya.


"Hmm..." Kiran hanya berdeham, Sid menoleh pada Kiran.


"Tidur ternyata." Sambil menghela napas panjang.


Hampir tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman utama ayah Deva.


Tampa ayah Deva sedang menunggu di depan rumah sambil menggendong Kal yang sedang menangis.


"Darimana saja kalian?" Tanya ayah Deva dengan wajah kesal.


"Dari rumah sakit, ayah." Jawab Sid sambil tersenyum, tak peduli bahwa ayahnya sedang kesal.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" Sambil memindai Kiran dan Sid dengan matanya.


"Tidak ada. Tapi..."


"Tapi apa?" Nada suara ayah Deva mulai meninggi.


"Kami habis melihat bayi kami." Sambil menunjuk perut Kiran.


"Bayi apa maksudmu? Ini bayi kalian, dia menangis mencari-cari kalian!" Ketus ayah Deva.


"Apa? Jadi Kal menangis? Sid, kau keterlaluan! Ulahmu ini menyebalkan, lihat Kal pasti mencariku dari tadi!" Marah Kiran. Kiran kemudian menggendong Kal dari tangan ayah mertuanya, lalu membawanya masuk ke dalam.

__ADS_1


"Lihat, ini pasti ulahmu!" Ayah Deva memarahi Sid.


"Ayah, Kiran hamil lagi." Dengan wajah santai. "Hamil anak kembar, itu sebabnya kami ke rumah sakit." Sambung Sid masih dengan senyuman santainya.


"Apa?! Kembar? Kiran hamil anak kembar?" Sid mengangguk.


"Iya, ayah senang kan sekarang?"


"Kau tidak bohong, kan?" Sid menggeleng cepat.


"Ayah, kami berencana menambah anak. Dan tadi pagi aku muntah-muntah di kamar mandi. Kiran menelepon dokter Ema, tapi dokter Ema malah memeriksa Kiran bukan aku." Jelas Sid mengingat kejadian tadi pagi saat dirinya merasa pusing dan mual.


"Kenapa?"


"Dokter Ema bilang, aku mengalami morning sickness karena kehamilan Kiran. Jadi Kiran tidak akan mengalami itu tapi aku yang aka mengalaminya." Ayah Deva langsung tertawa terbahak-bahak.


"Wow, keren!" Sahutnya.


"Apa?" Sid membelalalk. Bisa-bisanya ayah Deva malah mentertawakannya.


"Sudah, masuk sana!" Sid cemberut, lalu memilih masuk saja ke dalam rumah.


"Lihat, kita akan punya cucu kembar!" Gumam ayah Deva sambil menatap langit. "Kau mendengarnya, kan? Sayangnya impian kita dulu untuk memiliki bayi kembar tidak tercapai, tapi setidaknya kita akan memiliki cucu kembar. Kau bahagia kan disana?" Masih sambil menatap langit malam yang indah karena bertabur bintang yang bersinar serta tambah indah karena bulan sedang purnama.


"Aku masuk ke rumah dulu, ya?" Ayah Deva melambaikan tangannya ke langit, seolah disana ada yang sedang berbicara dengannya.


...----------------...


"Kenapa merahasiakan ini dariku? Apa kau tidak mencintaiku lagi? Apa kau tidak percaya padaku? Kau tidak sayang pada putrimu Keyra?" Rafa menunduk.


"Aku tidak bermaksud begitu, aku tidak ingin menyusahkanmu." Lirih Rafa.


"Lalu kau tidak memikirkan perasaanku, begitu?" Ami terus mendesak Rafa dengan pertanyaannya.


"Ami, aku tidak ingin kau sedih dengan penyakit yang aku derita ini. Aku menganggap ini hukuman atas perbuatan burukku padamu, aku pantas menerimanya." Ami mulai terisak, ia tak bisa marah pada Rafa.


"Rafa, dengar! Kau tidak memberitahuku, lalu nanti saat tiba-tiba terjadi sesuatu padamu apa aku tidak akan sedih? Apa kau tidak memikirkan hal itu?" Rafa mengangguk.


"Maaf."


"Aku mohon, izinkan aku mengurusmu!" Ami menggenggam kedua tangan Rafa, dan meletakannya di dadanya.


"Ami, aku tidak ingin terapi. Biayanya sangat besar, jadi biarkan seperti ini saja. Hingga waktunya tiba bagiku untuk kembali ke pangkuan-Nya."

__ADS_1


"Tidak, aku akan berjuang untuk kesembuhanmu."


"Ami, ini adalah hukuman atas perbuatanku. Biarkan aku menerima hukuman ini!" Tegas Rafa dengan air mata yang sudah mengalir membanjiri pipinya. Wajah Rafa pucat, seperti tidak memiliki darah di dalam tubuhnya.


"Rafa, jika ada hukuman untukmu maka perpisahan kita sudah cukup." Ami mulai terisak. "Aku mencintaimu tulus dari hatiku, jadi sejahat apapun kau padaku aku tidak akan membiarkanmu seperti ini." Ami melepaskan genggamannya, lalu memeluk Rafa dengan sangat erat.


"Maaf, Ami. Maafkan aku!" Rafa terisak di pelukan Ami. Hatinya merasa sangat bersalah, jika mengingat pada saat ia dengan teganya meninggalkan Ami ke kota dan bersenang-senang dengan para wanita malam itu. Hatinya sakit, sangat sakit.


Bahkan ia tak menyangka, meskipun Ami tersakiti olehnya tapi Ami masih dengan tulus menerimanya dan mencintainya. Bahkan saat ini Ami bersikeras ingin menyembuhkannya dari sakitnya ini.


"Ami, aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" Lirih Rafa lagi.


"Rafa, aku juga sangat mencintaimu. Demi aku dan Keyra berjuanglah! Aku ada disisimu, aku akan selalu mendukungmu, kau harus sembuh dan harua bangkit dari sakitmu ini!" Rafa tersenyum dan terharu. Ami membuatnya semangat kembalo dengan kata-katanya.


"Tapi Ami, biaya terapi sangat besar." Rafa menunduk, ia bahkan tak punya uang sebesar itu untuk terapinya.


"Kau tenang saja, aku akan mencari uangnya." Ami meyakinkan Rafa.


"Tidak, Ami. Biarkan saja seperti ini. Biarkan aku merasakan sakit, daripada harus melihatmu bekerja keras untuk mencari uang."


Ami terdiam, karena sesungguhnya ia juga bingung harus meminta bantuan siapa untuk membiayai terapi Rafa yang mungkin sekali terapi biayanya bisa mencapai puluhan juta.


Lalu terlintas dibenaknya seseorang yang sangat baik hati, yang pasti Ami yakin bahwa orang itu akan bersedi membantunya.


Ami mengeluarkan ponselnya, lu membawanya keluar tanpa berbicara pada Rafa terlebih dahulu.


"Hallo." Ucap Ami sambil terisak. "Tolong bantu aku, aku sangat membutuhkan bantuanmu saat ini." Sambung Ami sambil menghapus air matanya.


"Apa yang perlu aku bantu? Ada apa? kenapa kau menangis? apa ada masalah?" Tanya Orang di teleponnya beruntun.


"Aku butuh uang, untuk biaya terapi Rafa. Dia terkena Leukimia, dan harua melakukan terapi. Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa, tapi aku harap kau mau membantuku. Aku mohon, bantulah aku." Pinta Ami dengan terisak kembali.


"Apa? Baiklah, aku akan berbicara padanya dulu. Bersabarlah, aku akan selalu membantumu." Ami menutup teleponnya, ia tak kuasa menahan tangisnya.


Kenapa penderitaanku belum berakhir? Kebahagiaan kami belum lama datang, kenapa sekarang kebahagiaan itu malah menghilang secepat kilat dan berganti dengan kesedihan kembali?


Ami kembali menuju ruangan temlat Rafa dirawat, ia menghapus air matanya dan duduk di samping ranjang Rafa.


"Ami, kau darimana?"


"Aku dari toilet, ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Ami sambil meraih tangan Rafa dan menggenggamnya kuat-kuat.


"Tidak, aku hanya membutuhkanmu saat ini. Kau adalah tujuan hidupku." Lirih Rafa dengan suara lemah.

__ADS_1


Ami kembali tak bisa menahan tangisnya, ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Rafa. Rafa ikut menangis sambil mengelus punggung istrinya itu.


Bersambung...


__ADS_2