
Sid dan Kiran sudah sampai di mansion utama, mereka berjalan menaiki tangga menuju kamar yang sudah disiapkan untuk keduanya. Pada saat membuka pintu kamar, begitu terkejutnya Sid dan Kiran.
Kamar mereka sudah dihias dengan taburan bungan mawar di atas ranjangnya. Lilin-lilin dibuat penerangan kamar itu.
Sid menoleh pada Kiran, dan menatap wajahnya.
"Indah sekali, benarkah ini kamar kita?" Tanya Kiran sambil melingkarkan lengannya memeluk suaminya itu.
"Aku tidak tahu, mungkin Lakshmi dan Mira yang menghias kamar lamaku ini." Jawab Sid tidak yakin. "Ayo masuk, kita buka kado seperti yang ayah bilang!"
Kiran mengangguk, dan mengikuti langkah kaki suaminya yang sudah memasuki kamar. Sid mengambil setumpukan kado yang berada di sofa, dan menurunkannya. Lalu Sid menyuruh Kiran duduk di sebelahnya.
Kiran mengangguk, dan duduk disamping suaminya.
"Kemarilah, kau pasti lelah." Sambil menepuk bahunya, menyuruh Kiran agar bersandar dibahunya. Kiran menurut, dan menyandarkan kepalanya di bahu Sid. Karena sejujurnya dia memang lelah seharian berada di gedung itu memakai pakaian terbuka dan kalung yang sangat berat di lehernya itu. Ditambah anting-anting yang ukurannya besar membuat telinganya sangat kesakitan.
"Apa aku boleh membuka perhiasan ini?" Tanya Kiran pada Sid yang langsung diangguki oleh Sid.
"Aku akan membantumu membukanya." Kiran mengangguk, karena dia memang merasa sedikit kesusahan membuka perhiasannya.
Sid melepaskan anting-anting Kiran, setelah itu membantu Kiran melepaskan kalung besar di lehernya. Namun, pada saat melepaskan kalung itu Sid sedikit terpana. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Kiran.
"Sid, apa yang kau lakukan?" Sid tersadar, dan segera menjauhkan wajahnya dari leher Kiran.
Gila! Kenapa dia begitu menggoda saat ini? Tidak apa-apa, Sid! Dia istrimu, leher putih mulus itu milikmu sekarang!
Sid juga seorang laki-laki dewasa yang memiliki hasrat, dia tergoda dengan keindahan Kiran dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Maaf, ini. Aku suda melepaskan perhiasanmu." Sambil memberika anting-anting dan kalung yang dilepaskannya dari leher dan telinga Kiran.
"Terima kasih." Sid mengangguk.
"Ayo, ayah menyuruh kita membuka kado-kado ini. Sebaiknya kita membukanya." Sid mengambil salah satu kado yang berukuran besar, dan meletakannya ditengah dirinya dan Kiran. "Ayo kita buka sama-sama." Kiran mengangguk lagi.
Mereka berdua membuka kado berukuran besar itu, sebelum membukanya terdapat tulisan disana.
*Selamat menempuh hidup baru, untuk Siddharth dan Kirana. Semoga kebahagiaan menyertaimu selalu.
Dari bibimu Resha*
"Dari bibi Resha. Kadonya besar sekali." Gumam Sid.
"Buka saja, mungkin itu untukmu."
Sid membuka bungkus kado itu, lalu membuka kotaknya. Pada saat terbuka, wajah Sid terlihat gugup dan bersemu merah.
__ADS_1
Isinya adalah satu lusin handuk berukuran kecil. Didalamnya ada sebuah surat juga.
Ini hadiah untuk kalian, jangan lupa gunakan dimalam pertama kalian. Untuk menyeka keringat yang bercucuran agar tidak membasahi sarung bantal dan sprei.
"Apa isinya?" Tanya Kiran yang penasaran.
"Hmmm... Hanya handuk dan surat." Jawab Sid. Tanpa berkata dulu, Kiran meraih surat yang dipegang oleh Sid dan membacanya.
"Apa? Maksudnya apa?" Tanya Kiran dengan wajah yang sudah bersemu merah.
"Sudahlah, jangan dipikirkan! Kita buka kado yang lain saja." Sid mengambil surat itu, dan memasukkannya kembali kedalam kotak berisi handuk, lalu meletakannya di samping sofa.
"Kita buka yang ini, sepertinya ini kado dari paman Dendi." Kiran meraih kado berbentuk kotak berukuran kecil.
"Bukalah, aku ingin melihatnya juga." Kiran mengangguk, dan segera membuka bungkus kado itu.
Didalamnya juga terdapat surat.
*Selamat atas pernikahan kalian, ini hadiah dari paman untuk kalian berdua.
Dendi*
Di dalam kotak kado itu, terdapat beberapa tablet obat yang tidak diketahui apa gunanya oleh Kiran maupun Sid.
"Obat? Untuk apa ini?" Tanya Sid sambil meraih tablet obat itu.
Obat kejant*nan laki-laki agar tahan lama. Gila! Mereka ini hanya membuatku malu saja. Apa aku selemah itu, sampai diberi kado obat kuat?
"Kiran, lebih baik kau kembalikan kado ini pada pamanmu saja." Ujar Sid dengan senyuman jahil.
"Kita tidak memerlukannya, dan aku tidak selemah itu." Kiran mengerutkan dahinya, tidak mengerti apa yang dikatakan Sid.
"Maksudmu? Memangnya obat apa itu?" Sid mendekatkan bibirnya ke telinga Kiran dan membisikkan sesuatu.
"Hah?!" Dia menutupi mulutnya yang sudah terbuka lebar dengan tangannya, pipinya semakin bersemu merah. "Buang saja, itu memalukan." Kiran meraih obat yang dipegang Sid dan memasukannya ke dalam tempat sampah yang berada di samping meja di hadapannya.
"Sudah, kita buka kado yang lain lagi." Sid meraih kembali salah satu dari kado-kado itu dan membukanya.
"Sepertinya itu dari ibuku." Ucap Kiran yang mengenali isi kado yang dibuka oleh Sid.
"Benarkah? Lihatlah ini." Sid memberikan kado yang terbungkus plastik itu pada Kiran.
"Iya, benar ini dari ibu." Kiran membuka bungkus plastik itu. Isinya adalah sebuah gaun anak kecil berwarna merah maroon.
"Lihat ini, ada suratnya." Sid memberikan surat itu pada Kiran untuk dibaca. Kiran mengambilnya dan membacanya.
__ADS_1
Kiran, jika kau membukanya. Kau pasti akan tahu bahwa ini kado dari ibu walaupun kau tak membaca surat ini. Maaf, hanya ini yang bisa ibu berikan di hari pernikahanmu. Dan ibu hanya bisa mendoakan, semoga kau dan Sid selalu bahagia dalam pernikahan kalian.
Air mata Kiran sudah jatuh tanpa disadari, membuat Sid bingung.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Sid sambil memandang Kiran kebingungan.
Karena Kiran tak kunjung menjawab, Sid mengambil surat itu. Dia membacanya, dan ikut terharu. Lalu Sid meraih gaun anak kecil itu dari tangan Kiran.
"Gaun siapa ini? Kenapa ibumu memberikan gaun anak kecil?" Sid masih kebingungan dengan kado dari ibu mertuanya.
"Ini gaun yang kupakai waktu masih kecil, aku tidak mengingatnya kapan aku pernah memakai gaun ini. Tapi, ibu bilang ini adalah gaun hadiah ulang tahunku dari ibu dan ayah. Sekaligus kado terakhir dari ayahku, sebelum dia meninggal dalam kecelakaan dulu." Kiran menjelaskan sambil terisak.
Sid yang ikut sedih, membawa Kiran dalam pelukannya. "Maaf, aku sudah membuatmu bersedih daj mengingat ayahmu."
"Tidak, ini bukan salahmu. Dan aku hanya merindukan ayahku." Sid menghapus air mata Kiran, dan mengecup singkat kening Kiran.
"Ayo, kita buka kado yang lain." Sid kembali meraih salah satu kado, dan membukanya.
"Itu dari ayahmu, lihat ada tulisannya." Sambil menunjuk bagian samping kotak kado itu yang terdapat tulisannya.
"Ah, iya. Itu dari ayahku. Aku akan membukanya." Sid membuka kado berukuran besar itu, isinya adalah sebuah figura yang sudah terdapat fotonya. Ada surat juga didalamnya, Sid membacanya.
*Sid, kau pasti tahu anak laki-laki yang berada di foto itu, dan tidak tahu anak perempuan yang disampingmu. Jika ingin tahu, coba kau balikkan figura itu disana ada nama anak perempuan itu.
Ayahmu*.
Sid membalikkan figura itu, seperti yang diperintahkan oleh ayahnya dalam surat itu.
Benar, ada tulisan. Tulisan itu adalah nama kedua anak yang berada di dalam foto.
Siddharth Adeva Rafandi & Kirana Putri Farella Adiwijaya
Sid mendongakan kepalanya, dan menatap Kiran.
"Kiran, kau tahu ini siapa?" Sambil menunjuk anak perempuan di foto itu. Kiran terkejut.
"Itu aku. Bagaimana bisa aku dan kau ada difoto itu waktu kecil?" Kiran sama bingungnya dengan Sid.
"Apa kita memang sudah saling mengenal sejak kecil? Dan kecelakaan yang kita alami masing-masing membuat kita melupakannya?"
"Bisa jadi." Jawab Kiran tidak yakin.
"Ja... Jadi..."
"Kita teman masa kecil?" Ucap mereka berdua bersamaan. Satu menit kemudian, mereka tertawa bersamaan.
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa ya, buat yang baca tinggalkan jejak. Biar author semakin semangat upnya... Like, vote jangan lupa juga yaaa...