
"Sanya," Ucap Sid sambil menatap wanita bernama Sanya itu dengan tatapan tidak suka.
"Apa kabar? Lama tidak bertemu. Dan saat kita bertemu rupanya sudah punya anak dan istri." Ucap Sanya sambil mengulurkan tangannya, mengajak Sid bersalaman.
Sid melirik Kiran, lalu menyalami Sanya dengan singkat. Karena Sid tahu batasan dimana dia tidak boleh membuka cerita lama.
"Kabar baik, sangat baik. Semua karena istriku yang sangat pandai dalam menjagaku." Ucap Sid sambil merangkul Kiran mesra.
Kiran melirik Sid sambil tersenyum, Sid mengecup kening Kiran hingga keduanya semakin terlihat mesra di hadapan Sanya.
"Bagus sekali, semoga kalian tetap bahagia sampai takdir yang memisahkan." Sanya tersenyum miris, bukan karena kebahagiaan Sid dan Kiran, akan tetapi karena ia memiliki penyesalan besar didalam hatinya.
"Karirmu bagaimana? Apa semua sudah sesuai yang kau inginkan?" Tanya Sid dengan sedikit sindiran untuk Sanya.
Sanya tersenyum canggung. Lalu menggeleng.
"Semua tidak akan sesuai yang kita harapkan, termasuk aku dan apa yang menjadi harapanku. Oh ya, anak-anakmu... Dimana?" Tanya Sanya sambil menoleh kesana kemari mencari anak-anak Kiran dan Sid.
Kiran maju satu langkah, lalu merentangkan tangannya. Sanya merasa bingung hingga bingungnya hilang saat seorang anak laki-laki berumur empat belas tahun memeluk Kiran.
"Ini anakku, anak sulungku calon pewaris kami. Siran Kallandra Adeva Rafandi." Sid menarik Kal kepelukannya bersama Kiran juga.
Sanya memperhatikan Kal dari atas kebawah, terutama wajah Kal yang sangat mirip dengan Sid. Hanya ada sedikit bagian wajah yang mirip Kiran, sehingga tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Kal memang anak Sid.
"Dan itu, putri kembar kami. Zoya Amaira Rafandi dan Zoya Raima Rafandi!" Sid menunjuk dua orang gadis remaja berumur dua belas tahun yang saling berpegangan tangan sambil berjalan memasuki rumah.
Sanya menoleh, kembali dibuat takjub lagi dengan putri kembar Sid.
Terlihat wajahnya sangat mirip Kiran. Hanya saja warna matanya mirip dengan warna mata Sid. Hatinya semakin teriris menyaksikan ketiga anak yang Sid tunjuk sebagai anaknya.
"Ini istriku. Kirana Putri Farella Adiwijaya." Sid merangkul mesra Kiran lagi.
Kiran tersenyum senang, Sid begitu suka memperkenalkan dirinya dan anak-anaknya pada siapapun yang mengajaknya berkenalan.
"Oh ya, silahkan masuk. Jangan hanya berdiri disana, atau kakimu bisa merasa pegal." Ajak Kiran.
Sanya masuk kedalam rumah, mengikuti dua orang wanita berbeda usia yang sudah lebih dulu masuk dan terus menggoda ayah Deva.
Terlihat ibu Aisha sudah sangat kesal dan berusaha menghentikan dua wanita yang terus berusaha memeluk, mencium, bahkan menarik ayah Deva kesana kemari.
__ADS_1
"Hentikan! Dia suamiku, kau harus tahu diri disini!" Teriak ibu Aisha yang langsung membuat dua wanita itu terdiam.
Ayah Deva tersenyum bangga pada ibu Aisha dan langsung merangkul pundaknya sambil membawaya berjalan menuju sofa yang sudah terdapat Sid dan Kiran juga Sanya disana.
"Apa anak-anak sudah pulang?" Tanya ayah Deva sambil mencari ketiga cucunya.
Kiran mengangguki pertanyaan ayah Deva. "Mereka sudah berada dikamar, aku menyuruhnya untuk istirahat."
Ayah Deva berganti melirik ke arah lain, wajahnya terlihat pucat melihat Sanya duduk disana. Tangannya mengeoal menahan amarah.
"Kau ikut juga kesini? Darimana saja? Dua puluh tahun lamanya tidak bertemu." Ucap ayah Deva disertai senyuman yang tidak tulus.
"Iya, paman. Bibi yang mengajakku untuk berlibur di rumah paman Deva."
"Sayangnya rumah ini bukan hotel yang bisa sesuka hati kalian tinggal. Jadi, setelah kalian menemukan tempat lain untuk tinggal segeralah pergi dari rumah ini." Tegas Ayah Deva yang langsung diangguki ketiga wanita berbeda usia iti.
Kiran merasa bingung dengan tindakan suami dan mertuanya, Kiran memiliki firasat bahwa ada sesuatu di masa lalu yang membuat Sanya seperti dibenci Sid dan Ayah Deva.
Ibu Aisha sendiri ikut menyimpan tanda tanya bagi semuanya yang diucapkan suaminya.
"Tunjukan kamar yang kosong untuk mereka tempati, Bi!" Perintah ayah Deva pada bi Asih.
"Elina, tidak apa-apa kan satu kamar dengan Sanya?" Tanya ibu Aisha yang ikut menunjukan kamar dengan berhati-hati.
Elina mengangguk, lalu memasuki kamar lebih dulu.
"Terima kasih, Bibi Aisha." Ucap Sanya yang diangguki ibu Aisha.
...****************...
Dua hari berjalan begitu cepat, sudah dua hari juga Elina dan ibunya serta Sanya berada di rumah ayah Deva.
Dalam dua hari, Sanya terus berusaha mencuri waktu untuk mengobrol dengan Kiran atau Sid. Sid sendiri karena sibuk dikantor selalu menolak ajakan Sanya untuk mengobrol bersama. Begitu juga Kiran, yang dilarang oleh Sid untuk terlalu berdekatan dengan Sanya karena takut Sanya akan menghasut Kiran untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.
"Sid, apa malam ini kau akan pulang malam lagi?" Tanya Sanya saat Sid akan berangkat ke kantor. Kiran menoleh pada Sid, mendengar pertanyaan Sanya.
"Meskipun aku pulang lebih awal, sepertinya tetap saja sama. Bahkan, yang membuat rumah ini berbeda adalah sejal aku pulang larut malam." Jawab Sid datar dengan meraih tangan Kiran dan menariknya keluar.
"Jangan terlalu mendekatinya, hindari dia!" Peringat Sid pada Kiran lalu mengecupi kening dan pipinya. Saat Sanya keluar, Sid dengan sengaja mencuri ciuman dari bibir Kiran.
__ADS_1
Itu membuat Sanya langsung berbalik arah dan memasuki rumah lagi.
"Begini, jika dia melihat!" Ucap Sid seraya menunjuk Sanya.
Kiran menoleh kebelakang lalu memukul dada Sid pelan.
Sid dan Kiran terkekeh bersamaan, menertawakan kelakuan Sid yang selalu membuat Kiran semakin gemas padanya.
"Aku pergi dulu, kau ingat ya kata-kataku?" Kiran mengangguk lalu memeluk Sid lebih dulu sebelum Sid pergi ke kantor.
Harmonisnya keluarga Sid, meski telah berusia lima belas tahun tentu membuat siapa saja iri melihatnya. Bagaimana tidak? Jarang sekali bukan, ada keluarga yang masih semenggemaskan mereka setelah pernikahan mereka berusia lima belas tahun?
Sore harinya, Sid pulang lebih awal atas permintaan Kiran yang menuntut untuk dibawakan bunga mawar biru yang langka.
Dengan setianya tentunya Sid akan memenuhi permintaan Kiran, karena ia sangat tidak suka jika melihat Kiran tidak tersenyum akibat ulahnya.
"Ayah pulang lebih awal? Setelah ini antar aku ke kursus musik, ayah mau kan?" Sid mengangguki permintaan anak sulungnya, yang langsung bersorak gembira.
Kiran tersenyum melihat tingkah dua pria kesayangannya itu.
Dari arah kamar tamu, muncul Sanya yang langsung ikut berkumpul dengan Sid dan Kiran.
"Kalian akan pergi ke kursus musik di daerah mana?" Tanya Sanya.
"Di daerah dekat taman xx, Bi." Kal yang menjawab.
"Apa aku bisa ikut berangkat bersama kalian? Kebetulan, aku ada pekerjaan yang satu arah dengan perjalanan kalian." Pinta Sanya.
"Hanya mengantar saja, tidak usah menungguku!"
"Tapi aku..."
"Boleh," Potong Kal dengan santainya.
Sid melirik Kiran dengan bibir cemberut, Kiran mengangguk saja memberi isyarat untuk membawa Sanya pada Sid.
Bersambung...
Bau-baunya Sanya calon pelakor nih. Tenang aja, Sid dan Kiran akan tetap bersama meskipun.... Rahasia deh... 😁
__ADS_1