
**Sebelum cerita berlanjut, author ada satu pengumuman untuk kalian.
Karya ini sudah diajukan kontrak ya, jadi author memohon yang sebesar-besarnya pada para pembaca novel ini, kalau sudah membaca jangan lupa Like ya, walaupun gak berpengaruh, tapi like kalian itu adalah dukungan dan semangat untuk author. selain itu, like gratis. Mungkin selama belum ada kepastian kontrak dari pihak mangatoon atau noveltoon, besok hanya akan up satu episode sampai ada kepastian kontrak author akan up 2 sampai 3 episode seperti kemarin. Jangan lupa juga ya votenya!
Terima Kasih.
Selamat membaca...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
Ada sesuatu yang berbeda mengganjal di hati Sid.
Kenapa dia terlihat berbeda hari ini? Apa karena ini hari yang tidak biasa?
Sid berdiri dari kursi, lalu menghampiri Kiran.
"Kiran, kau sangat berbeda hari ini. Seperti ada yang tidak lengkap." Kiran menoleh, lalu mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa, pak?"
"Entah, yang jelas kau sangat berbeda. Tidak seperti biasanya." Lalu Sid pergi meninggalkan Kiran yang masih kebingungan.
Manusia yang satu itu kenapa? Sudah bertanya lalu pergi begitu saja!
"Kiran, kemarilah! Kita makan dulu!" Niki menarik tangan Kiran menuju tempat yang sudah disediakan makanan.
Terlihat disana Sid sudah duduk sambil memegang sepiring makanan. Sid mendongakkan kepalanya, ketika Kiran duduk tepat di hadapannya. Lalu ia tersenyum pada Kiran.
"Duduklah!" Sid menepuk tempat di sebelahnya.
"Tidak, pak. Aku disini saja." Kiran duduk di hadapan Sid.
"Baiklah, itu lebih baik sepertinya."
"Iya lebih ba... Eh, maksudnya lebih baik bagaimana, pak?" Kiran menatap wajah Sid penuh tanda tanya.
"Agar aku bisa memperhatikan apa yang dari tadi membuatmu berbeda." Ujar Sid dengan tatapan fokus pada makanan di tangannya.
Apa? Kenapa kau masih memperhatikannya saja? Bodoh!
"Haaaa...!" Sid menyimpan makanan yang di pegangnya, lalu menepukkan kedua tangannya.
Kiran terperanjat karena terkejut. Begitu juga semua karyawan lainnya, ikut terkejut dan menoleh pada Sid dan Kiran.
"Ada apa, pak?" Tanya Kiran sambil melirik kesana kemari, merasa risih saat semua mata tertuju pada Sid dan dirinya.
"Pantas saja!" Ujar Sid sambil terkekeh.
Kiran mengerutkan dahinya semakin bingung.
"Dimana kacamatamu, Kiran?" Sid menunjuk mata Kiran dengan jari telunjuknya.
"Kacamata? Ada, disini." Kiran meraba-raba wajahnya. "Hah?! Mana kacamataku? Aku rasa tadi memakainya!" Kiran berubah panik.
"Kau ini bagaimana, kau yang memakainya dan kau juga yang lupa? Jika kau memang memakainya pasti sekarang kacamata itu menempel di wajahmu!" Sid mencibir Kiran.
"Aku tadi memakainya dan..." Kiran membayangkan kegiatannya tadi pagi.
__ADS_1
Ia memakai kacamatanya, lalu pergi ke kantor dan menyiapkan seluruh rangkaian perayaan ulang tahun Sid. Lalu, pada saat mengecek kembali persiapan, Kiran membuka kacamatanya dan... Menyimpannya di meja resepsionis.
"Ah, pasti tertinggal di kandangnya Niki!"
"Kandang?" Ulang Sid.
"Maaf, pak. Maksudku di meja resepsionis." Ralat Kiran.
"Sekali lagi kau menyebut kandang, aku akan memasukkanmu ke kandang harimau di kebun binatang!" Ancam Sid dengan wajah serius.
Wah, rupanya senjata ancamanmu masih ada juga ya?!
"Ma.. Maaf, pak." Kiran menunduk.
"Maaf saja terus, sebenarnya dimana kau membeli paketan kata maaf itu?!" Sid mendengus sebal.
"Sorry."
"Sudah ku bilang, orang yang mudah minta maaf adalah..."
"Orang yang suka mengulangi kesalahan yang sama!" Potong Kiran.
"Kau!" Sid menunjuk hidung Kiran, lalu terkekeh.
Kiran ikut terkekeh, tapi jujur saja, dia masih takut dengan bosnya ini. Takut sewaktu-waktu roh kakek lampirnya kembali dan membuatnya galak lagi. Dan... Takut hatinya tidak bisa berkompromi dengannya.
...----------------...
Sid berjalan menuju area parkiran kantornya, keningnya berkerut mendapati selembar kertas warna merah muda terselip di bawah wiper kaca mobilnya. Sekali sentak saja, kertas itu sudah berada di tangannya.
Aku tau aku salah, tapi tolong maafkan aku. Aku mohon, beri aku satu kesempatan saja.
Lagi-lagi tak ada nama pengirimnya, tapi itu tak membuat Sid kebingungan. Karena dia sudah tahu siapa pengirimnya. Kanaya.
Sid memberangus kertas itu, lalu membuangnya ke tempat sampah ya g berada tidak jauh dari mobilnya. Dia masuk ke dalam mobil dan berlalu.
...----------------...
Kiran bergegas menuju lantai dua. Ketika hendak berjalan, Kiran menemukan sebuah kertas dan sebuket bunga mawar di meja Sid. Kiran mengambilnya, lalu membacanya.
Bola mata Kiran membulat. Ada kata Siddharth tertera disana.
"Kiran, sedang apa kau disana?" Sahut Niki dari arah belakang. Membuat Kiran terperanjat.
"Niki, apa pak Sid sudah melihatnya?" Sambil menunjukkan sebuah buket bunga mawar dan selembar kertas.
"Belum, tadi aku ingin memberikannya. Tapi pak Sid sedang pergi. Jadi aku menyimpannya saja di meja kerjanya." Jawab Niki.
Kiran terdiam. Dia sudah tahu siapa pengirimnya.
"Kiran, ayo makan siang bersama!" Ajak Niki.
"Kalian duluan saja, nanti aku menyusul." Niki mengangguk, lalu berlalu meninggalkan Kiran yang masih berdiri sambil memegangi sebuket bunga mawar dan selembar kertas.
Kiran membuka lipatan kertas itu, dan membaca isinya.
Siddharth, aku tahu aku salah. Tapi tolong, beri aku satu kesempatan lagi.
__ADS_1
Aku masih mencintaimu, masih sangat mencintaimu.
Ada yang sakit, ketika Kiran membaca kata 'masih sangat mencintaimu'.
Jika kau sangat mencintanya, mengapa kau dulu mengkhianatinya, dan tidur bersama pria lain? Sungguh, itu bukan cinta. Melainkan hanya nafsu dan obesi semata.
Kiran membawa bunga dan kertas itu keluar, lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di ruangannya.
"Pak Sid telah menjadi sahabatku, aku akan membalas orang yang sudah menyakitinya. Aku akan berusaha membuatnya bahagia, dan tidak ada orang yang boleh merenggut kebahagiaannya lagi!" Gumam Kiran dengan nada tegas.
Kiran mengambil kembali bunga mawar itu, lalu menginjak-injaknya di lantai hingga hancur. Setelah itu Kiran memasukkannya lagi ke dalam tempat sampah.
"Cinta? Cinta macam apa yang kau berikan padanya?! Jika memang itu cinta, pasti tidak akan saling menyakiti!" Gumam Kiran dengan wajah kesal.
"Kau sedang apa, Kiran?"
Kiran berhenti bergumam, lalu menghela napas kasar mendengar suara yang sangat tidak ingin di dengarnya.
Kiran menoleh, lalu memasang wajah datar pada sumber suara di belakangnya itu.
"Ada apa kau kemari?" Tanya Kiran judes.
"Itu, teman-teman menunggumu untuk makan siang." Jawab Ikhsan dengan senyuman yang membuat Kiran ingin muntah.
"Kau duluan saja, aku akan menyusul!" Tegas Kiran.
"Baiklah." Ikhsan berbalik, lalu berbalik pada Kiran lagi.
"Kiran, kau cantik jika tidak memakai kacamata. Ibuku pasti akan sangat menyukaimu!"
"Apa?!" Ikhsan buru-buru pergi meninggalkan Kiran, yang menatapnya dengan wajah yang sudah merah padam karena kesal.
"Apa maksudnya, ibunya akan senang jika melihatku?! Aku tidak sudi bertemu dengannya apalagi ibunya! Mereka pasti sama. Sama-sama menyebalkan dan membuatku muak!" Kiran menggerutu sambil melangkah berlalu meninggalkan ruangannya.
Sepanjang langkah ia tidak memerhatikan jalan. Hingga tidak menyadari bahwa dari arah berlawanan ada orang yang sedang berjalan.
Hingga pada saat mereka sudah dekat.
Braak
Kiran dan orang itu bertabrakan. Kiran jatuh terduduk di atas lantai, begitu juga dengan orang yang bertabrakan dengannya.
"Aduuuhhh..." Kiran meringis kesakitan.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja." Yang ditabrak Kiran adalah seorang pria.
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak memerhatikan jalan." Pria itu mengulurkan tangannya untuk menolong Kiran.
Kiran mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat pria di hadapannya.
"Kau?!"
**Bersambung...
Siapa nih?... Hmmm.... tanda tanya lagi deh...
Like like like pokoknya like ya jangan lupa**.!
__ADS_1