Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Pulang ke Rumah


__ADS_3

"Kita bawa ibumu pulang saja ke rumah, agar sedikit demi sedikit dia bisa mengingat semuanya." Ayah Deva memulai pembicaraan setelah lama hening di ruangan Kiran.


"Iya, dan kami akan tetap disini saja." Sambil mengangguk.


"Tidak, Kiran. Kita ikut pulang saja, disini terlalu berbahaya bagimu. Biarkan paman Reihan saja yang mengurus Rafa dan Ami." Kiran mengangguk, dia tak ingin ambil resiko dengan menemani Ami. Kiran takut kejadian kemarin terulang lagi padanya dan membahayakan bayinya.


"Ayo, siapkan kepulangan kita."


Tak perlu lama untuk bersiap-siap pulang, kini keempat orang itu sudah berada di dalam satu mobil. Dengan posisi Sid menyetir, dan Kiran duduk bersebelahan dengan Sid di samping kursi pengemudi. Di kursi belakang ayah Deva yang merangkul bunda Aisha yang tertidur dengan kepala yang bersandar di dadanya.


Ayah Deva terlihat tersenyum cerah, meskipun wanita yang menyandang status istrinya itu belum bisa mengingat masa-masa indah mereka, sikapnya masih seperti anak kecil.


"Ayah, kedepannya kita akan bagaimana dengan bunda?" Sid memulai pembicaraan, setelah hampir setengah jam hening.


"Ayah masih belum memikirkannya, tapi jika kalian punya saran maka katakanlah."


"Ayah, aku akan mengurus ibu. Aku akan berusaha membuatnya ingat semuanya, tapi tolong bantu aku menyiapkan segalanya." Kiran menyahut dari depan.


"Tidak, apakah itu tidak akan mengganggu kehamilanmu? Tugas ini lebih baik kita serahkan saja pada seorang perawat, aku takut cucu kembarku kenapa-napa." Ayah Deva menolak usul Kiran.


"Tidak, ayah. Izinkan aku merawat ibu, aku berjanji akan berhati-hati dan menjaga juga kandunganku. Boleh, kan Sid? Ayah, boleh kan?" Pinta Kiran memelas, ia sangat ingin mengurus mertuanya itu.


"Tapi kau harus benar-benar berjanji, bahwa tidak akan memaksakan jika kau lelah?" Kiran mengangguk cepat.


"Sid, boleh kan?" Sid melirik Kiran sebentar, lalu kembali menatap jalanan.


"Terserah padamu saja, tapi ingat apa yang dikatakan ayah. Kau harus berhati-hati." Kiran tersenyum senang.


"Baiklah, aku berjanji."


Sampai di mansion utama, ayah Deva segera membawa ibu Aisha masuk ke kamarnya. Sebenarnya ayah Deva sangat berharap, ketika ibu Aisha memasuki rumah ia akan ingat semuanya.


Tapi, mungkin belum waktunya. Ibu Aisha sama sekali tidak mengenali bangunan yang jadi saksi kisah indahnya bersama ayah Deva dua puluh enam tahun yang lalu.


"Deva, Deva!" Ibu Aisha menarik-narik pakaian ayah Deva.


"Ya, ada apa Aisha?"


"Rumahnya besar sekali, seperti istana! Apa disini ada banyak mainan?" Ayah Deva mengangguk cepat.

__ADS_1


"Iya, mainan milik Kal sangat banyak, kau boleh memainkannya." Dengan sabar, ayah Deva menjawanya.


"Kal? Siapa Kal?" Ibu Aisha menggaruk kepalanya.


"Anaknya Siddharth dan Kirana." Sambil menunjuk Sid dan Kiran yang sedari tadi duduk di sofa.


"Apa Kal temanku?" Ayah Deva mengangguk lagi. "Mana dia? Aku ingin main dengannya!" Ibu Aisha berlarian kesana kemari, hingga hampir saja ia terjatuh.


"Eh, tidak Aisha, jangan! Jangan berlarian disini nanti kau terjatuh dan terbentur benda-benda yang ada disana!" Ayah Deva menahan ibu Aisha yang sudah berlarian.


Sid melirik Kiran, Kiran pun melirik Sid. Tampak di mata Sid dipenuhi kesedihan. Kiran menepuk bahu Sid pelan, lalu memberi sebuah anggukan yang bisa diartikan 'Sabar, semua akan baik-baik saja' begitulah, artinya.


Sid mengangukki Kiran juga.


"Ayo, kita lihat Kal. Kita bawa dia bermain dengan ibu." Sid mengangguk, lalu merangkul Kiran dan membawanya menuju kamar Kal.


Terlihat Kal sedang duduk di atas ranjang bersama bi Asih. Ia sedang memainkan mainannya yang berserakan dimana-mana.


"Kal, pasti memberantakan lagi semua mainan ya? Jangan seperti itu lagi, ya? Kasihan nenek Asih harus membereskan mainanmu terus!" Kiran menggendong Kal, lalu di ambil alih oleh Sid karena takut mengenai perut Kiran.


"Mbu... Mbu... Ayah... Yah..." Kal menunjuk-nunjuk pintu, mengajak Kiran dan Sid keluar.


Kal mengangguk. Sid membawanya keluar, sementara Kiran membantu bi Asih membereskan mainan Kal terlebih dahulu.


Setelah selesai, ia menyusul suaminya ke ruang keluarga. Dimana disana terdapat ayah Deva, ibu Aisha, Sid, dan Kal.


Kal terlihat sedang bermain dengan ibu Aisha neneknya. Ibu Aisha sendiri bermain dengan Kal sambil tertawa-tawa persis seperti anak kecil.


"Bagaimana ini? Aku tidak mengerti, apa yang sudah terjadi padanya hingga seperti ini? Sampai kapan kita akan menunggu ibumu sadar, dan menceritakan segalanya?" Ayah Deva memasang wajah cemasnya.


"Ayah, bersabarlah! Semoga keajaiban datang dan menyembuhkan bunda." Sambil merangkul ayah Deva dan mengusap-usap punggungnya.


"Ayah, dokter Hera bilang sebelum kita pulang tadi kita harus sering membawanya ke tempat-tempat yang membuatnya mengingatkannya pada kejadian-kejadian besar, baik buruk maupun indah. Itu akan mempermudah ibu mengingat segalanya." Peringat Kiran, seperti yang persis di katakan Hera sebelum mereka pulang dari rumah sakit.


"Kau benar, mungkin mulai besok ayah akan membawa ibu kalian ke London." Sid membelalakan matanya, ia agak terkejut dan tidak setuju dengan kata-kata ayahnya serta keputusannya.


"Tidak, lebih baik kita obati disini!"


"Sid, jangan membantah ataupun protes! Ini demi ibu kalian! Ayah juga harus membawa ibumu bertemu dengan putrinya, Lakshmi!" Sid terdiam, ayahnya ada benarnya juga. London adalah tenpat dimana ibunya dulu dinyatakan tewas akibat tembakan Yessi. Mungkin, dengan membawanya kesana ibu Aisha bisa mengingat segalanya lagi dan kembali normal.

__ADS_1


"Baiklah, tapi jaga diri ayah baik-baik disana." Ayah Deva mengangguk.


"Ayo, aku akan membantu ayah mempersiapkan keberangkatannya ke London. Kiran, tolong bantu mengemasi pakaian ayah." Kiran mengangguk, lalu segera beranjak menuju kamar lama ayah Deva dan ibu Aisha.


...----------------...


Pagi tiba, waktu menunjukan pukul sepuluh pagi. Waktu itu adalah waktu keberangkatan ayah Deva ke London bersama ibu Aisha.


"Jaga diri ayah baik-baik, jika ada apa-apa kabari aku. Aku pasti akan segera menyusul kalian kesana." Ayah Deva mengangguk, lalu memeluk putra sulungnya itu sebentar.


"Jaga diri kalian juga, terutama cucu kembar ayah. Setelah ini bawa Kiran istirahat di rumah, jangan pergi kemana-mana!" Ayah Deva memperingatkan. Kiran dan Sid mengangguk, kemudian ayah Deva memasuki pesawat. Sebelum masuk ke pesawat ayah Deva melambaikan tangannya pada Sid dan Kiran.


"Ayaaah! Kabari aku jika kalian sudah sampai!" Teriak Sid yang langsung diangguki ayah Deva.


Ibu Aisha ikut melambaikan tangannya sambil melompat-lompat, membuat ayah Deva menepuk keningnya dan tersenyum geli. Sid dan Kiran yang menyaksikan itu ikut tersenyum geli.


Setelah pesawat terbang, Sid dan Kiran sudah dalam perjalanan pulang menunu mansion utama.


Sepanjang perjalanan Kiran hanya diam, Sidpun begitu.


"Sid, apa yang terjadi pada ibu? Kenapa kalian bisa sampai tidak tahu bahwa ibu Aisha masih hidup?" Tanya Kiran dengan wajah penasaran.


"Kau kan sudah tahu ceritanya!" Jawab Sid singkat.


"Kapan?"


"Saat dulu aku memanggilmu malam hari ke kantor, aku sudah menceritakan semua padamu, kan!" Ucap Sid sambil mengacak-ngacak rambut Kiran.


"Maksudku, bagaimana bisa kalian tidak tahu ibu belum tiada?! Jika cerita kronologi kejadian ibumu aku sudah tahu, dan masih mengingatnya!" Ketus Kiran.


"Aku tidak tahu, aku juga tidak mengerti. Waktu kami memakamkan bunda, jelas terlihat itu adalah bunda. Tidak ada sesuatu apapun yang mengganjal di hati kami, pada saat memakamkan ibu. Tapi entah kenapa, sekarang ini aku merasa tidak percaya wanita itu adalah ibuku." Sid memasang wajah curiga, Kiran ikut bingung.


"Sid, aku juga merasa ada yang mengganjal dihatiku saat melihat ibu Aisha."


"Sepertinya kita harus melakukan sesuatu, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada ayahku." Kiran mengangguk.


Bersambung...


Mulai ada teka-teki, benarkah dia Ibu Aisha? Atau.... Hanya mirip, dan ada seseorang yang sedang berusaha menghancurkan lagi kebahagiaan keluarga ayah Deva?

__ADS_1


__ADS_2