
Setelah mandi, keduanya tidak pergi kemanapun. Hal ini disebabkan karena Kiran yang belum pulih akibat ulah Sid semalam.
"Kiran, aku lapar. Apa kau lapar juga?" Tanya Sid sambil menidurkan kepalanya di pangkuan istrinya.
"Tentu saja lapar, ayo kita makan."
"Tidak, kau tunggu disini saja aku akan memesan makanan dan kita makan disini." Sid mengambil telepon hotel dan menelepon pelayan hotel agar mengantarkan makanan ke kamarnya.
"Katakan padanya agar cepat-cepat, aku sudah sangat lapar." Sid tergelak, istrinya seperti anak kecil yang berhari-hari tidak makan.
"Kau ini, baru tidak beberapa jam saja sudah seperti tidak makan berhari-hari!" Sid bangun, dan mencium pipi istrinya yang menggemaskan.
"Kau juga, sudah seperti pada anak kecil saja. Selalu mencium pipiku!" Kiran balas dengan mencubit Sid.
"Hmmm... Baiklah, aku akan mencium yang lain saja." Sebelum bergerak, Kiran menjewer telinga Sid.
"Apa kau bilang? Mencium yang lain?! Jadi kau punya wanita lain? Begitu ya?" Wajah Kiran tampak kecewa.
"Bukan begitu, sayangku! Maksudku adalah mencium bagian lain!" Sambil mendekati Kiran dan mendekatkan bibirnya ke leher Kiran.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Kiran dengan jantung yang sudah berdetak kencang. Tangan Sid bahkan sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Melakukan apa yang ingin ku lakukan." Jawab Sid dengan suara parau, karena sudah terpancing hasratnya.
Bibirnya sudah menyentuh leher Kiran, dan melakukan hal yang sangat dia inginkan dan terlupakan sejak semalam.
Sid meninggalkan tanda kepemilikannya di leher mulus Kiran. Bukan hanya satu, bahkan ada tiga.
Hiks, kadar mesum bos galak ini ternyata sangat tinggi!
Ciuman Sid sudah tak bisa dikondisikan, dari leher turun ke dada.
Ting tong
Bel kamar mereka berbunyi, Sid menghela napas kasar. Frustasi, karena hasratnya terganggu lagi. Kiran membuat hal itu menjadi kesempatan bagi dirinya.
Sid menatap Kiran kesal, dan langsung beranjak untuk membukakan pintu.
"Pak, kami ingin mengantarkan makanan yang anda pesan." Pelayan hotel yang datang, mengantarkan makanan yang dipesan Sid.
"Letakkan saja di meja itu!" Pelayan itu mengangguk, lalu masuk dan meletakan makanan yang dibawanya menuju meja yang ditunjuk Sid.
Sebelum keluar, pelayan itu menoleh pada Kiran sekilas.
"Berani sekali kau menatap istriku! Keluar sana, atau aku akan menemui manajermu dan menyuruhnya memecatmu!" Pelayan itu langsung pucat, dan keluar dari kamar Sid dan Kiran.
"Kau berlebihan, Sid!" Protes Kiran.
__ADS_1
"Berlebihan apa? Aku tidak suka ada laki-laki lain yang melihatmu, apalagi melihat seperti itu.
Wah wah wah, kau cemburu ya sekarang? So sweat sekali!
"Begitu ya?" Sid mengangguk cepat. "Kau hanya milikku! Ingat itu!" Kiran tersenyum, dan mengangguk pelan.
Aku senang, saat kau mengatakan bahwa aku hanya milikmu. Itu adalah tanda bahwa kau sangat mencintaiku dan tidak ingin kehilanganku.
"Ayo makan, aku sudah lapar!" Kiran kembali bersuara, dan langsung bergegas menuju meja yang sudah terhidang makanan diatasnya.
"Ayo, aku juga sudah lapar."
Selesai makan, keduanya memutuskan untuk tidak keluar. Lebih memilih untuk istirahat karena mungkin setelah pulang bulan madu, mereka tidak akan bisa bersantai lagi seperti itu. Hal itu dikarenakan Sid pasti akan sibuk di kantor dengan pekerjaannya.
Kiran membayangkan hari-harinya yang akan sangat membosankan dirumah. Tidak ada teman, jika ada pelayan pasti tidak mungkin mereka akan menemani Kiran seharian. Dan pasti akan segan jika berbicara dengannya.
"Sid, aku ingin bekerja lagi denganmu di kantor." Sid menoleh, dan menatap Kiran tajam.
"Tidak boleh, mana mungkin istri dari seorang bos bekerja menjadi sekretaris? Kau dirumah saja, tekuni posisimu sebagai ibu rumah tangga!"
Apa? Ibu rumah tangga apa? Pekerjaan saja akan dikerjakan pelayan di rumah, lalu apa pekerjaanku? Menghangatkan ranjangmu saja begitu, setiap malam?
"Ibu rumah tangga maksudmu? Di rumah pelayan banyak! Aku harus apa seharian di rumah?" Protes Kiran lalu mencemberutkan bibirnya.
Sid mencium bibir cemberut itu tanpa rasa malu.
Kapan lagi kan aku bersantai begini dan bebas menciuminya?
"Kau gila!"
"Tidak, nanti akan ku beri pekerjaan tambahan!" Sid tersenyum jahil.
"Apa?" Kiran penasaran.
"Mengurus anak-anak kita."
"Itu masih lama! Bahkan aku belum hamil, dan kita baru saja melakukan itu tadi malam!" Kiran tambah cemberut.
"Ayo, kita lakukan lagi. Agar anak kita cepat tumbuh di dalam perutmu!"
Tuh kan, dia mulai lagi!
"Gila, bukan hanya bos yang galak! Tapi kau juga bosnya mesum!"
"Tidak apa-apa, yang aku ajak mesum ini istriku sendiri! Jadi bebas bukan, kita melakukannya kapanpun?"
Haha, kau menang dalam hal ini!
__ADS_1
Kiran meringis, ketika Sid tiba-tiba sudah menggigit telinganya. Dengan tangan yang sudah meraba kemana-mana, berakhir dengan posisi di atas gunung kembarnya.
"Sid! Kau mulai lagi, yang semalam saja masih sakit! Apa kau akan menambahnya?" Protes Kiran.
"Maaf, baiklah. Kita lanjutkan saja nanti malam!" Kiran menghela napas lega. Merasa sudah mendapatkan angin segar. Tapi meringis juga, karena pasti setelah ini setiap malam ia akan merasakan malam-malam panas lagi. "Tentunya dua kali lipat, karena sekarang kau membuatku panas dingin!" Dada Kiran menjadi sesak.
Baru saja aku senang, kenapa kau ini tidak membiarkanku sehari saja tenang? Dulu kau galak membuatku tak bisa tidur. Sekarang kau mencintaiku masih saja begitu!
"Ya sudah, baiklah. Aku mau tidur saja lagi." Kiran naik ke atas ranjang, lalu menemukan hal mengejutkan di sprei berwarna putih.
Astaga, ini darah... Ya ampun, kenapa aku tidak teliti saat membersihkannya tadi!
Kiran melepaskan sprei itu, dan memasukannya kedalam keranjang cucian yang sudah tersedia. Lalu menggantinya dengan sprei berwarna hijau yang juga sudah tersedia di dalam lemari kecil.
"Kenapa diganti?" Tanya Sid pada saat Kiran sedang memasangkan sprei hijau itu.
"Em... itu, ada darah." Sid yang mengerti kenapa ada darah di atas sprei langsung bersemu malu.
Darahmu, iya kan? His, dia memang masih suci. Pantas saja semalam sangat susah untuk memasukinya!
Dia memukul kepalanya, malu dengan pikirannya sendiri.
Dia memikirkan apa? Kenapa malah memukul kepalanya sendiri?
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Kiran setelah selesai memasang sprei.
Sid menggeleng, lalu mengajak Kiran berbaring.
"Kiran, aku ingin punya anak. Kau siap kan?"
Deg...
Kiran sedikit ragu, terutama takut.
"Akan kupikirkan." Jawab Kiran singkat.
"Tapi kau tidak boleh menunda, atau aku akan benar-benar marah padamu! Awas saja, jika kau berani meminum dan memakan apapun yang akan menunda kehamilanmu!" Kiran benar-benar takut dengan kata-kata Sid.
"Baiklah, aku sudah memikirkannya. Aku siap hamil." Jawab Kiran dengan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Ayo, kita buat lagi sekarang!" Sambil menarik Kiran dan mengungkungnya dibawah tubuhnya.
Tuh kan, ujungnya pasti seperti ini lagi! Otak mesum!
"Siiiidddd!"
"Bercanda!" Sambil membiarkan Kiran keluar dari kungkungannya.
__ADS_1
Mereka pun tertawa bersama. Hari itu jadilah mereka menghabiskan waktu dengan bersantai
Bersambung...