
Seperti setiap paginya semenjak Kiran dinyatakan hamil, pagi ini hal yang sama juga menerpa Kiran. Sejak bangun tidur Kiran sudah memuntahkan isi perutnya yang semalam dia makan.
Sid yang kini menjadi calon ayah siaga, sedang mengelus-elus punggung Kiran dengan minyak kayu putih.
"Rasanya sia-sia saja aku makan, malam aku bisa makan dan pagi harinya aku muntahkan sampai habis." Lirih Kiran disertai isakan.
"Kiran, jika kau tidak makan nanti kau akan lemas. Apa kau tidak merasa kasihan pada bayi kita? Dia pasti bisa kelaparan juga." Balas Sid masih dengan mengolesi punggung Kiran dengan minyak kayu putih.
"Sid, rasanya aku ingin bayi ini cepat lahir saja!" Lirih Kiran lagi.
"Sayangnya masih lama, baru satu bulan artinya masih harus menunggu delapan bulan lagi." Sid mengira-ngira.
"Hmm..." Kiran berdeham sambil cemberut.
"Kau sudah selesai? Tidak ingin muntah lagi?" Kiran menggeleng. "Ayo, istirahat saja! Setelah ini minum obatmu, tapi kau harus sarapan dulu!" Sid memapah Kiran menuju kamar.
Kiran menatap kelantai saat berjalan, lalu terkejut ketika menemukan tetesan darah di lantai.
"Sid, tunggu!" Sid berhenti melangkah, dan menatap wajah Kiran penuh penasaran.
"Ada apa?" Tanya Sid masih menatap Kiran dengan wajah penasaran.
"Apa kau terluka?" Sid menggeleng cepat. "Lalu kenapa ada darah di lantai?Lihatlah!" Kiran menunjuk lantai.
Sid menunduk, dan melihat lantai yang ditunjukkan oleh Kiran. Benar, terdapat darah disana.
"Darah siapa ini?" Gumam Sid pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Kiran. Sid memperhatikan darah itu, dan matanya tertuju pada kaki Kiran.
"Kiran, itu darahmu!" Seru Sid sambil menunjuk kaki Kiran. Kiran menunduk, dan melihat kakinya sendiri.
"Hah?! Tidak, kenapa ada darah di kaki..."
Bruk...
Tiba-tiba Kiran tak sadarkan diri, Sid dengan sigap menangkap Kiran agar tak terjatuh ke lantai.
"Kiran, bangun! Kiran! Bertahanlah, kita akan ke rumah sakit!" Sid segera menggendong Kiran, ia tak memikirkan penampilannya yang masih berantakan akibat baru bangun tidur. Yang saat ini penting baginya adalah Kiran dan calon bayi keduanya.
"Ayah! Lakshmi! Bantu aku!" Teriak Sid pada saat sampai di ruang keluarga mansion. Ayah Deva dan Lakshmi terkejut, mendapati Sid sudah menggendong Kiran yang tak sadarkan diri dan kakinya juga berlumuran darah.
"Apa yang terjadi pada kak Kiran?" Tanya Lakshmi dengan wajah terkejut.
"Aku tidak tahu! Kau bantu aku pergi ke rumah sakit! Ayah tolong aku juga untuk mengendarai mobil!" Keduanya segera melakukan apa yang diperintahkan Sid.
Ayah Deva mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat cepat, karena mereka sangat khawatir dengan Kiran dan bayinya.
Sampai di rumah sakit, ayah Deva segera memanggil perawat untuk membawa bed rumah sakit untuk Kiran.
Sid menggendong Kiran turun dari mobil. Keadaan menjadi sangat tegang, ketika Kiran dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Sementara ayah Deva dan Lakshmi menunggu di luar ruangan pemeriksaan.
Sid yang ikut masuk ke ruang pemeriksaan sudah sangat khawatir.
"Pak, tolong anda keluar dulu agar kami dapat melakukan pemeriksaan!" Perintah dokter yang baru masuk ke ruang pemeriksaan.
"Tidak, aku harus menemani istriku disini! Dia pasti akan sangat membutuhkanku!" Sid bersikeras untuk tetap berada di ruang pemeriksaan.
__ADS_1
"Pak, mengertilah! Istrimu sedang dalam bahaya, jadi keluarlah!" Dengan terpaksa, Sid keluar dari ruangan pemeriksaan dengan perasaan yang diliputi kecemasan.
"Bagaimana Kiran?" Tanya ayah Deva.
"Belum tahu, sedang ditangani." Jawab Sid dengan wajah yang sangat cemas.
"Semoga kak Kiran dan bayinya baik-baik saja." Ucap Lakshmi ikut bersedih. Sid mengangguk, dan langsung duduk di kursi tunggu.
Tiga puluh menit sudah, dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Dokter, bagaimana istriku?" Tanya Sid langsung ketika dokter keluar.
"Istrimu baik-baik saja, kau tepat waktu membawanya kemari." Jawab dokter bernama Niken itu.
"Lalu bagaimana dengan bayi kami?" Tanya Sid lagi masih dengan perasaan was-was.
"Terjadi pendarahan pada kandungan istrimu, tapi beruntung janinnya tidak keluar karena anda buru-buru membawanya kemari. Jika tidak, mungkin istri anda akan mengalami keguguran." Jelas dokter itu.
"Apa aku boleh membawanya pulang sekarang?" Dokter Niken menggeleng cepat.
"Sepertinya untuk beberapa hari dia harus dirawat di rumah sakit, untuk mencegah terjadinya pendarahan kembali. Aku takut jika terjadi pendarahan berikutnya akan sangat berbahaya bagi janin yang di kandungnya."
"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik untuk istri dan bayiku." Ucap Sid lemas.
Dokter Niken mengangguk, lalu berpamitan untuk bekerja lagi.
"Sid, tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja, Kiran dan bayimu akan selamat." Ayah Deva mencoba menenangkan Sid, dia tahu benar bahwa Sid adalah tipe seseorang yang mudah khawatir.
"Kak, lebih baik kau temui kak Kiran di dalam. Mungkin dia butuh dirimu saat ini." Usul Lakshmi yang langsung diangguki ayah Deva dan Sid sendiri.
Setelah berada di ruangan Kiran, tampak wanita itu sedang terpejam.
"Sid." Lirih Kiran. Ternyata Kiran terbangun, dan hendak duduk bersandar. Dengan cepat Sid membantu Kiran bersandar.
"Jangan banyak bergerak, kau harus banyak istirahat."
"Sid apa yang terjadi? Apa bayi kita baik-baik saja?" Sid mengangguk cepat, mencoba menghilangkan kepanikan Kiran.
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja. Maka dari itu, jangan ceroboh, jangan melakukan apapun yang akan membuat kau dan bayimu berada dalam bahaya lagi!" Sid mengingatkan Kiran, karena ia curiga saat dirinya pergi ke kantor Kiran melakuka sesuatu yang membahayakan dirinya dan bayinya.
Kiran mengangguk, dia merasa bersalah akibat kecerobohannya semalam sebeluk Sid pulang dari kantor.
Flashback on
Sejak jam lima sore, Kiran terus berjalan kesana kemari. Seolah sedang menunggu sesuatu yang sangat ia tunggu.
"Huft, kenapa dia belum pulang juga? Biasanya jam empat dia sudah pulang!" Gumam Kiran sendiri, sambil melihat-lihat jam dinding.
"Kak, kau sedang apa?" Tanya Lakshmi yang sejak tadi pulang dari kampus merasa jengah melihat kakak iparnya terus berjalan kesana kemari.
"Menunggu kakakmu pulang. Biasanya jam empat sudah pulang, tapi ini sudah jam lima lebih!" Jawab Kiran dengan wajah kesal.
"Kak, kau tunggu dia sambil duduk saja! Jangan berjalan kesana kemari seperti itu! Nanti kau kelelahan!" Ingat Lakshmi pada Kiran.
Kiran pun menuruti Lakshmi, dan duduk di sofa dekat pintu utama mansion.
__ADS_1
Tak lama, suara deruman mesin mobil terdengar. Mobil Sid, Kiran sangat mengenali suara mobil suaminya itu.
Dia berlari keluar, dan langsung memeluk Sid yang baru turun dari mobil. Sid yang mendapat perlakuan seperti itu merasa bingung sendiri.
"Ada apa? Sepertinya kau senang sekali?!"
"Kau kenapa baru pulang? Aku sudah menunggumu dari tadi, ayo kita pergi! Bukankah kita akan jalan-jalan?" Ucap Kiran sambil menarik tangan Sid memasuki rumah.
Jalan-jalan? Sepertinya aku tidak pernah mengajaknya jalan-jalan? Kapan? Tapi, memang tidak pernah!
"Kiran, sepertinya aku tidak pernah mengajakmu jalan-jalan!" Kiran berhenti menarik Sid, dan langsung menatap Sid tajam.
"Benarkah?" Tanya Kiran menyelidik. Sid mengangguk cepat. "Bohong!" Tuduh Kiran.
"Apa? Aku tidak berbohong!" Bantah Sid cepat, karena memang dia tidak berbohong.
"Kau jahat!" Kiran langsung berlari memasuki kamarnya, sementara Sid berdiri sambil memandang penuh kebingungan pada Kiran.
"Dia kenapa?" Gumam Sid. Lalu iapun mengikuti Kiran, dan masuk kekamarnya.
Kiran ternyata sudah tertidur pulas.
Heh?! Dia baru saja masuk, kenapa sudah tertidur saja?! Ibu hamil memang benar-benar sangat aneh!
Malam tiba, Kiran baru terbangun dari tidurnya. Sedangkan Sid baru saja tertidur. Kiran melihat jam weker yang ada di sampingnya. Waktu menunjukan pukul sebelas malam lebih sedikit.
"Aku haus sekali, tapi air lupa tidak aku isi!" Gumam Kiran pelan sambil turun dari tempat tidur.
Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air, keadaan mansion gelap gulita akibat lampu yang memang selalu dimatikan jika malam hari.
Dengan berjalan tergesa-gesa, Kiran memasuki dapur. Tak dia pedulikan langkah kakinya sendiri.
Hingga pada detik berikutnya, kakinya tersandung kursi meja makan hingga terjatuh.
Bruk
"Aw! Siapa yang meletakkan kursi disini?!" Rutuk Kiran. Dengan cepat, Kiran berdiri dan melangkah kembali dengan cepat menuju ke kamarnya.
Tak dia pedulikan rasa sakit di kakinya.
Flashback off
Kiran bergidik ngeri, membayangkan kejadian semalam pada saat ia tersandung kursi hingga terjatuh. Bahkan setelah itu ia berjalan dengan langkah yang cepat. Tidak peduli bahwa ada kehidupan lain di dalam dirinya.
Ya Tuhan, jika aku memberitahu Sid dia pasti akan sangat marah!
"Kiran, apa yang sedang kau pikirkan?" Kiran menggeleng cepat.
"Tidak ada." Bohong Kiran.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Cepat katakan!"
"Tidak, Sid! Tidak ada apapun yang aku sembunyikan!" Bantah Kiran.
"Baiklah, awas jika kau berani menyembunyikan sesuatu dariku!" Ucap Sid dengan mata memelotot, membuat Kiran sedikit takut.
__ADS_1
Bersambung...
Pada kangen Kiran dan Sid gak sih? Aku udah kembali loh, walaupun mungkin up nya tidak bisa sering karena masih harus banyak istirahat. Yang kangen yuk merapat, jangan lupa juga ya tinggalin jejak coment, like serta vote atau mau kasih poin hadiah juga boleh. Selamat membaca yaa...