
"Apa kabar?" Tanya pria yang sedang duduk bersama ayah Deva.
"Ba... Baik, untuk apa kesini?" Kiran bertanya balik sambil melirik ayah Deva yang menggeleng tanda tak tahu.
"Begini, aku ingin meminta bantuanmu untuk pernikahanku." Ucap Rian langsung pada tujuannya, Kiran langsung terdiam.
Pikirannya kembali teringat pada pertengkarannya dan Sid satu minggu yang lalu dan baru tadi malam mereka berbaikan meskipun dengan tindakan, bukan ucapan maaf.
"Maaf, aku tidak punya waktu. Sebaiknya cari orang lain saja untuk membantumu, lagipula aku tidak tahu apapun dalam hal mempersiapkan pernikahan." Tutur Kiran dengan lembut, membuat Rian mungkin sedikit tersinggung akan tetapi menerima alasan Kiran.
"Maaf, aku sangat tidak bisa." Ucap Kiran lagi sambil berpamitan naik kelantai atas dimana suaminya sedang terbaring sakit.
"Jawabannya sudah diberikan, menantuku tidak bisa membantumu jadi silahkan pergi dari rumah ini." Usir ayah Deva secara halus karena jujur saja ia tidak suka melihat Rian masuk kedalam rumahnya.
Di kamarnya, Kiran sedang mengompres kening Sid sambil menunggu dokter keluarganya datang. Keadaan Sid sendiri semakin lama semakin parah, suhu tubuhnya bertambah panas.
Hal itu jelas membuat Kiran semakin khawatir, terlebih Sid terus mengigau menyebutkan bahwa Kiran tidak boleh pergi.
"Jangan pergi, kau tidak boleh meninggalkanku." Gumam Sid dengan suara serak.
Tepat pada saat itu, dokter datang untuk memeriksa keadaan Sid.
"Ada apa, Kiran? Siapa yang sakit sampai kau memanggilku kesini?" Dokter Ema.
Kiran menunjukan Sid dengan keadaannya yang sudah parah, lalu dengan segera dokter Ema memeriksanya.
Setelah selesai memeriksa Sid dokter Ema langsung menghampiri Kiran lagi dan menjelaskan bagaimana keadaan Sid.
"Sid terkena dehidrasi, jangan khawatir karena bukan dehidrasi berat jadi masih bisa diatasi dengan obat tidak perlu dirawat. Tapi setelah ini kau harus memperhatikan pola minum Sid, jangan sampai dia kekurangan cairan."
Kiran menghela napas lega, karena penyakit yang diderita Sid tidak parah. "Syukurlah, terima kasih dokter Ema." Dokter Ema mengangguk, lalu Kiran mengantarkannya hingga kedepan rumah setelah itu kembali untuk menemani Sid.
Ditengah perjalanan menuju kekamar, Kiran berpapasan dengan ibu Aisha yang baru pulang dari luar kota menemui keluarganya.
"Kiran, ibu dengar Sid sakit. Apakah itu benar?" Kiran mengangguk. "Sakit apa?"
"Hanya sakit biasa, bu. Dokter Ema sudah memeriksanya dan sudah memberinya obat." Jelas Kiran menenangkan ibu mertuanya yang sudah tampak khawatir tersebut.
Ibu Aisha menghela napas lega, lalu dengan segera menemui putranya diikuti Kiran dibelakangnya.
...****************...
Empat hari berlalu sejak Sid jatuh sakit, hari ini keadaannya sudah mulai membaik. Bahkan ia sudah bisa berkumpul lagi dikantornya dengan para rekan-rekan bisnisnya serta karyawannya.
Ditengah perkumpulan itu beberapa hal membuat Sid sedikit tidak nyaman, terlebih dengan adanya seseorang yang sangat tidak ingin sama sekali ia lihat. Rian.
__ADS_1
Untuk apa manusia itu berada dikantorku ini?
Sejak tadi Rian terus memberi kode pada Sid mengajaknya berbicara, namun Sid tak menghiraukan ajakan Rian karena ia masih ingat malam dimana Rian mengantarkan istrinya.
Hingga kumpulan itu bubar, Rian masih berusaha mengajak Sid berbicara.
"Sebenarnya kenapa kau sangat ingin mengajakku berbicara? Apa yang kau inginkan?" Tanya Sid dengan wajah kesal namun nada suara yang datar.
Rian sedikit terkejut, lalu tersenyum pada Sid. Sid yang mendelikan matanya tajam melihat senyuman yang cukup manis tapi mampu memikat wanita manapun yang melihatnya.
Cih, senyumannya pantas saja dulu Kiran begitu membanggakannya. Tapi masih manis senyumanku!
"Pak, aku hanya ingin meminta perusahaan anda mengatur pernikahanku." Ujar Rian ramah. Sid berhenti berjalan, lalu membalikan tubuhnya dan menatap Rian penuh tanda tanya.
"Mengatur pernikahanmu?" Rian mengangguk. "Perusahaanku?" Rian mengangguk lagi.
"Begini, apa kau punya keluarga?" Tanya Sid lagi acuh tak acuh.
"Punya, pak. Memangnya kenapa bapak bertanya seperti itu?" Sid menggeleng tak percaya.
"Jika kau punya keluarga kenapa tidak meminta keluargamu saja yang mengaturnya? Kenapa malah memohon dan meminta aku yang mengaturnya? Dulu aku hanya punya ayahku, tapi dia bisa mengatur pernikahanku sendiri!" Sinis Sid.
Rian menggeleng, lalu terkekeh ringan.
"Apa?" Potong Sid. "Jelaskan! Aku memberimu waktu lima menit, jangan membuat waktuku terbuang sia-sia!"
Rian mengangguk, lalu mulai menjelaskan segala sesuatu dengan cepat.
"Pak, aku ingin pernikahanku memakai dekorasi dari anda dan juga Kiran, maksudku ibu Kiran. Bapak bersedia, kan?" Sid terdiam, dalam pikirannya sudah memikirkan hal negatif tentang pria yang berada dihadapannya tersebut.
Apa ini alasannya untuk mendekati istriku? Mengapa dia sangat ingin bekas diriku? Tidak, aku tidak akan membiarkan dia menatap apalagi bertemu dengan Kiranku walau hanya satu detikpun!
"Masih banyak perusahaan yang menyediakan dekorasi yang sangat bagus, jadi carilah yang lain!" Tegas Sid sambil berlalu dari hadapan Rian.
Meski begitu, Rian masih belum menyerah. Ia terus mengejar Sid hingga berhasil membuat Sid menghentikan langkahnya lagi yang sedang menuju keruangannya.
"Apalagi? Kenapa kau menggangguku?!" Kesal Sid.
"Pak, aku mohon." Rian memelas dan berlutut dihadapan Sid.
Sid menghela napasnya kasar, lalu membuang pandang kearah lain hingga dengan terpaksa ia menatap Rian lagi.
"Akan kupikirkan, jika terlalu banyak yang memakai dekorasi kami maka carilah dekorasi lain!" Rian berdiri, lalu memeluk Sid.
"Lepas!" Hardik Sid sambil mendorong Rian dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu membungkuk sebentar.
"Terima kasih, pak aku akan menunggu sampai anda bisa menjadi pendekorasi pernikahanku!" Serunya senang sambil berlari keluar dari kantor Sid.
Sid menggeleng tak percaya, lalu memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit setelah Rian pergi.
Hingga sore hari saat pulang kerumah, kepalanya bertambah sakit dan berdenyut. Sampai Kiran berada dihadapannyapun masih saja terasa sakit.
"Kenapa? Apa kau sakit lagi? Sudah aku bilang beberapa kali, jika kau masih belum sembuh benar jangan dulu pergi ke kantor! Lihat sekarang apa yang terjadi?! Kau sakit lagi!" Omel Kiran tanpa henti, bukannya Sid kesal, tapi hal itu malah membuatnya tergelak.
"Tertawalah sepuasmu!" Ketus Kiran sambil menarik telinga Sid. "Sekarang pergi ke kamarmu dan istirahat!" Perintahnya lagi yang langsung dituruti Sid.
Sebelum pergi Sid mencuri ciuman terlebih dahulu dari pipi Kiran yang membuat sebuah bantal sofa melayang ke tubuhnya seketika.
Sid kembali tergelak sambil menaiki tangga. Sementara Kiran menatap Sid tajam.
...****************...
Malam harinya, kepala Sid mulai membaik dan tidak terlalu merasakan sakit lagi.
Namun sebuah keanehan terjadi saat Kiran membereskan pakaian kotor Sid yang akan dicuci.
Ia terus mencium bau pakaian itu, terasa berbeda dan jelas membuatnya sedikit curiga karena bau parfum yang berada dipakaian itu seperti parfum perempuan.
"Sid, apa kau mengganti parfum?" Tanya Kiran pada Sid yang sedang bersandar pada kepala ranjang.
Sid menoleh pada Kiran, lalu menggelengkan kepalanya sambil mengerutkan dahi.
"Memangnya kenapa?"
Kiran melangkah mendekati Sid, lalu menunjukan pakaian Sid dan menyuruh Sid mencium baunya.
"Lihat, ini parfum wanita!" Ucap Kiran dengan wajah yang sudah khawatir.
Sid mencium baju kotornya itu dan ikut merasakan keanehan pada wangi parfumnya itu.
"Kau benar, padahal tadi aku tidak berdekatan dengan karyawan wanitaku." Ucap Sid sambil mengingat-ngingat dengan siapa saja tadi saat dikantor ia berdekatan.
Kiran mengatur napasnya, menenangkan diri dan berusaha menghilangkan kecurigaan serta pikiran negatifnya.
"Sudahlah, aku cuci saja."
Bersambung...
Kenapa ya bisa wangi parfum wanita? Apakah Sid....???? 😲
__ADS_1