Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-8 (Season2)


__ADS_3

"Selamat pagi, semoga harimu menyenangkan!" Seru Kiran pada Sid yang baru bangun tidur sambil menyajikan teh melati kesukaannya. Dengan rambut basah yang masih terbalut handuk, itu membuat Sid semakin terpana akan kecantikan istrinya.


"Kau mencuci rambutmu?" Kiran mendelik tajam pada Sid.


"Jangan berpura-pura lupa, kau sendiri yang menjadi penyebabnya!" Ujar Kiran sambil mengaduk gula yang baru dimasukan kedalam teh tersebut.


"Tehnya wangi sekali," kata Sid dengan turun dari ranjang lalu mendekati Kiran. Tanpa aba-aba, Sid memeluk Kiran dari belakang dan beberapa kali mengecupi tengkuk belakang lehernya sambil mencium wanginya.


"Tapi anehnya, aku lebih suka wangi yang berasal darimu."


"Diam, pagi-pagi sudah mengatakan hal yang seperti itu!" Ketus Kiran.


"Apalagi wangi khas pertem..."


"Wangi khas apa, ayah?" Ira tiba-tiba sudah berada diantara keduanya, lebih tepatnya diambang pintu.


"Ayah dan ibu sedang apa? Kenapa ayah memeluk ibu dari belakang? Apa kalian bertengkar lagi?" Ira terus bertanya tanpa henti.


Sid dan Kiran mengatur posisi masing-masing, lalu saling melirik kebingungan untuk menjawab pertanyaan salah satu putrinya tersebut.


"Ayah jawab! Kenapa diam?!" Teriak Ira.


"Bukan apa-apa, ayo cepat bersiap! Kalian akan berangkat sekolah kan?" Ira mengangguk, kemudian keluar dari kamar Sid.


Sid kembali pada posisi sebelum Ira datang dengan memeluk Kiran lagi dari belakang.


"Ayah!" Sid melepaskan pelukannya, lalu menghembuskan napasnya kasar.


Kiran tertawa cekikikan melihat suaminya kesal. Tanpa sadar, Ira semakin penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Sid dan Kiran.


"Ayah sedang apa?"


"Euuuuh, membuat adik kalian!" Ketus Sid sambil berlalu ke kamar mandi.


...****************...


Sejak kejadian Rian memeluk Kiran, sejak saat itu juga Rian tidak muncul lagi. Padahal, hari pernikahannya akan berlangsung tiga minggu lagi akan tetapi Rian tak menghubungi Sid untuk dekorasinya.


Sid berpikir bahwa mungkin Rian memakai jasa dekorasi lain, sehingga tidak pernah mendatangi lagi kantornya ataupun rumahnya.


Akan tetapi, baru saja Sid akan tersenyum senang tiba-tiba manusia yang sedang iapikirkan sudah berteriak sambil mengetuk pintu ruangannya.


"Cih, kenapa dia selalu muncul saat aku pikirkan?" Gumam Sid.


"Masuklah!" Perintahnya.


Pintu terbuka, lalu munculah Rian dari luar dengan penampilan yang cukup menawan, tapi tidak lebih menawan dari Sid.

__ADS_1


"Pak, aku kesini ingin memastikan tentang dekorasi pernikahanku." Sid tak menjawab Rian, melainkan membuka laci mejanya dan mengeluarkan beberapa lembar brosur bergambar dekorasi pernikahan.


"Pilihlah yang menurutmu bagus!" Ujar Sid datar.


Rian mengambilnya, lalu tersenyum saat melihat-lihat brosur yang diberikan Sid.


"Pak, apa boleh aku meminta pendapat ibu Kiran? Sepertinya aku sangat butuh pendapatnya." Pinta Rian.


Sid menatap Rian tajam.


"Jika kau berani berbicara dengan istriku maka kepalamu akan terpisah dari lehermu detik itu juga!" Ancam Sid yang membuat Rian langsung bergidik ngeri, berpura-pura.


"Maaf, Pak." Ucap Rian.


"Pilih, aku tidak punya banyak waktu untuk melayani obrolanmu!" Ketus Sid.


Sombong sekali, tapi tak lama lagi kesombonganmu akan hilang saat keluargamu hancur!


"Sepertinya yang ini saja," Rian menyodorkan salah satu brosurnya pada Sid.


Sid kemudian mengambil selembar kertas berisi persetujuan untuk menggunakan jasa dekorasi dari perusahaannya dan menyuruh Rian mengisinya.


Setelah itu Rian belum pergi dari ruangan Sid, melainkan mengajak Sid mengobrol. Beberapa kali menyinggung tentang masa lalunya bersama Kiran membuat Sid sebal, sehingga jika tidak memikirkan Kiran mungkin Sid sudah membuat Rian babak belur ditempat.


"Kau sudah selesai? Silahkan pergi dari tempat ini!"


...****************...


Di rumah, tepatnya sore hari. Kiran sedang membereskan beberapa pakaian Sid yang baru kering, ia bermaksud akan menyetrika pakaian Sid karena tak terbiasa jika dirapikan orang lain.


Tepat saat itu, ibu Aisha memanggilnya.


"Kiran, ada tamu yang ingin bertemu denganmu. Cepatlah turun!" Teriak ibu Aisha dari lantai bawah.


"Iya, bu!" Ucap Kiran sambil bergegas turun untuk menemui tamu tersebut.


Saat sudah turun, betapa terkejutnya Kiran saat melihat siapa yang datang disebut tamu oleh ibu Aisha.


"Rian? Untuk apa kesini? Suamiku masih dikantor, jika ingin bicara atau bertemu dengannya pergilah ke kantor saja." Perintah Kiran.


Rian menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, aku sudah menemuinya. Aku kesini untuk bertemu denganmu!"


Kiran menganga tak percaya mendengar bahwa Rian ingin bertemu dengannya. Saat itu juga Kal yang baru pulang sekolah menghampiri Kiran.


"Bu, aku ingin..." Ucapan Kal terhenti ketika melihat Rian. "Siapa dia?" Tanya Siran sambil menatap Rian penuh tanda tanya.


"Kal, kenalkan nama paman Rian." Rian memperkenalkan diri tanpa menunggu Kiran menjawab pertanyaan Kal, tentu hal itu membuat Kal kebingungan.

__ADS_1


"Dia..."


"Dulu paman teman dekat ibumu," potong Rian lagi yang membuat Kal seketika kesal.


Kal dan Kiran saling melirik kebingungan, keduanya merasa kesal dengan Rian yang suka menyela pembicaraan orang lain.


Di tengah-tengah kebingungan itu, ponsel Kiran berdering dan membuat perhatian ketiganya tertuju pada ponsel yang berdering didalam saku pakaian Kiran tersebut.


"Hallo? Apa?! Aku akan segera kesana!" Teriak Kiran panik.


"Kal, panggil Baba dan Nani! Kita harus pergi kerumah sakit!" Panik Kiran sambil mengambil kunci mobil yang tergantung dan bergegas keluar tanpa melirik Rian lagi.


Rian mengikuti Kiran yang berlari ke garasi, lalu menghentikan Kiran dengan menarik tangannya.


"Kiran, ada apa? Aku ikut!"


"Sid kecelakaan, aku harus segera kerumah sakit. Lebih baik kau pulang saja, aku bisa sendiri!" Ketus Kiran.


"Tidak, biarkan aku ikut. Agar tidak terjadi sesuatu padamu dan keluargamu!" Dengan terpaksa, akhirnya Kiran mengangguk setuju dengan permintaan Kal.


...****************...


Flashback Sid


Sid bermaksud pulang lebih awal dari biasanya, ia tengah memikirkan sesuatu di dalam mobil sebelum melaju untuk pulang.


"Hmm, sudah lama aku tidak membelikan Kiran sesuatu. Sebaiknya hari ini aku membelikannya sesuatu!" Sid tersenyum senang, lalu melajukan mobilnya pelan.


Sengaja ia lajukan pelan, agar bisa sambil berpikir akan membelikan Kiran makanan atau barang apa yang kira-kira akan membuat Kiran senang.


Di tengah perjalanan Sid melihat ada sebuah toko perhiasan dengan model desain baru yang paling indah. Sid menghentikan mobilnya didepan toko itu, lalu memasuki toko itu.


Tak lama ia sudah keluar dengan tempat perhiasan berupa cincin didalamnya dengan model terbaru dan terbatas.


"Lihat saja, Kiran! Kau pasti akan sangat bahagia melihat apa yang kubawa hari ini!" Sid berseru dalam gumamannya.


Ia kembali melajukan mobilnya menuju jalan pulang kerumah utama. Dengan sepanjang laju mobil terus berdendang ringan. Namun saat jalan menurin dan terlihat didepannya ada perbaikan jalan berlubang, Sid mulai merasakan keanehan saat menginjak oedal rem mobilnya.


"Apa ini? Kenapa remnya tidak berguna?!" Seru Sid dengan mulai panik.


Ia terus berusaha mengendalikan mobilnya. Akan tetapi, semakin Sid menginjak pedal remnya maka semakin mobilnya tidak bisa dikendalikan.


Kini Sid hanya bisa menekan klakson, agar siapapun baik yang berkendara atau tidak segera menjauh dari mobilnya yang sudah tak terkendali.


"Tidaaaaaaakkkk!!!"


Braak...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2