
Mempersiapkan pernikahan yang tidak pernah kita inginkan, bukankah itu suatu hal yang tidak bisa di bayangkan?
Tapi justru, Sid dengan bangga mempersiapkan pernikahan keduanya dengan Sanya.
Saat ini, dengan hebohnya ia mendekorasi rumahnya sendiri untuk pernikahan itu. Segera, setelah keduanya diumumkan sudah resmi bercerai.
Sanya sendiri, ia masih bisa tersenyum belum mengetahui bahwa Sid sudah menjadi gelandangan.
Kiran dari lantai dua rumah utama berekspresi biasa saja. Tak ada sedikitpun perasaan apapun dalam hatinya. Baginya, hidupnya sudah mati saat hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali.
Flashback
"Hasil keputusan sidang terakhir, Kirana Putri Farella Adiwijaya dan Siddharth Adeva Rafandi resmi bercerai."
Kata sakral yang dari dulu tidak pernah ingin Kiran dengar hari ini didengarkannya di depan banyak orang.
Kabar yang akan sangat membuat Sanya bahagia. Akhir dari segalanya, termasuk hidupnya.
Sidang di bubarkan, Kiran turun perlahan-lahan dari atas panggung kesaksian.
Sid menghampirinya dengan senyuman yang tidak dapat diartikan sedikitpun apa makna dari senyuman itu.
"Berbahagialah, kau memiliki segalanya. Hatiku juga selalu milikmu." Memberikan kecupan terakhir, mengusap juga kepala Kiran pelan sebelum lekas pergi meninggalkan seorang wanita yang tampak hancur tanpa memperlihatkannya di wajahnya.
Dua minggu ternyata belum bisa membuat Sanya pergi, meski Kiran tak berharap mereka bisa seperti semula lagi. Bersatu padu tanpa ada masalah seperti itu.
Setidaknya, walaupun masing-masing tapi tak ada orang lain yang akan memiliki ia ataupun Sid.
__ADS_1
Flashback off
Anak-anak Kiran turut menangis menyaksikan ibunya yang bak patung. Terus berdiri sambil menatap kosong.
"Anak-anak, acaranya jam sembilan malam. Bersiaplah." Bicara dengan nada suara datar namun bergetar.
Namun ketiga anaknya menolak, dengan tidak bergerak sedikitpun. Kiran sendiri diseret kemanapun akan mengikuti. Termasuk saat Siran si sulung menggamit lengannya dan membawanya duduk diatas sofa yang masih bisa memperlihatkan pemandangan rumah yang sedang di dekorasi.
Ibu Aisha yang masih dalam penyamarannya menghampiri Kiran dan mengusap kepalanya.
"Itu semua akan menjadi awal baru kalian."
Kiran menoleh mendengar suara khas wanita tua itu, terkejut karena tiba-tiba suara itu terdengar kembali.
"Ikut aku. Biarkan anak-anak bersama kakeknya!" Kiran menurut, ia mengikuti ibu Aisha yang mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Tepat pukul sembilan malam, Para tamu sudah datang. Sanya sudah dirias dengan riasan yang membuatnya semakin cantik.
Sid sendiri duduk disamping Sanya diatas pelaminan.
Kiran dan ibu Aisha masih belum keluar dari kamar, membuat ayah Deva hanya sendirian duduk menyaksikan putranya yang akan menikah lagi tersebut.
"Ayo, pernikahannya sudah bisa kita mulai!" Yang akan menikahkan dua insan berbanding terbalik itu bersuara.
Sid dan Sanya berjalan berdampingan menuju meja pernikahan.
Ketika mereka duduk, suasana sangat damai. Nyaris seperti rumah yang kosong. Tidak ada yang berani bersuara sedikitpun.
__ADS_1
Prosesi demi prosesi dilakukan keduanya, kini hanya tinggal giliran satu ucapan lagi yang akan selamanya resmi mengikat Sid dan Sanya.
"Sudah siap?" Sid melirik ke atas, ke arah pintu kamar ibunya. Wajah yang semula tenang kini terlihat gelisah.
Sanya turut melihat ke arah Sid melihat.
"Apa yang kau lihat?"
Sid menjawab dengan gelengan. Kemudian menjabat tangan pria yang akan menikahkannya.
Ucapan sakral mulai di ucapkan pria yang berjabat tangan dengan Sid, ketika giliran Sid mengulang. Sid merasa tidak mampu mengucapkan kata itu.
"Sid, apa yang kau lakukan? Jangan merusak acaranya!" Ucap Sanya penuh penekanan.
Sekali lagi, pria itu mengulangnya yang langsung Sid ulang juga.
"Tunggu!"
**Bersambung...
Aku baca lagi kok malah gak nyambung ya kayak ada yang ilang 🤣🤣🤣
Author mau nanya nih, kalian tau gak cinta itu apa? Menurut kalian masing-masing cinta itu apa?
Kalo menurut author sendiri, cinta itu perasaan yang bisa menuntun kita ke jalan bisa yang benar, bisa yang salah. Terkadang kalo cinta itu menuntun ke jalan yang salah pasti sebaik apapun kita bisa bikin kesalahan apapun karena cinta. Begitu juga sebaliknya, sejahat atau setidak baik apapun kita, kalo cinta menuntun ke arah jalan yang benar pasti lama-lama berubah dan menjadi benar. Makanya ya kalo jatuh cinta usahakan jangan jadi buta, tapi lihat ke arah mana cinta itu menuntun kita. Apakah ke jalan yang baik dan benar? Atau ke jalan yang buruk dan salah? Sejatinya kita harus bisa mengendalikan cinta jangan cinta yang mengendalikan kita. Kalo udah keliatan menuntun ke jalan yang salah, maka cepat-cepat kita sadarkan diri sendiri dan perbaiki apa yang udah terlihat salah...
Jatuh cinta boleh, tapi cintai juga diri kita sendiri jangan sampai cinta merusak diri kita. 😁**
__ADS_1