
Keadaan Kiran sedikit ada kemajuan, namun tetap saja masih belum bicara sedikitpun. Jika diajak berbicara atau ada yang bertanya Kiran hanya menjawab dengan anggukkan atau gelengan kepala.
Ayah Deva sejak semalam tidak tidur. Terus mengawasi Kiran dari sofa. Saat mengetahui ada sedikit kemajuan, ia yang lebih dulu menghela napas lega. Namun, ia juga sangat bingung. Apa yang harus dikatakannya pada putranya besok mengenai keadaan istrinya?
"Kiran, bicaralah sedikit saja! Ayah mohon, jangan seperti ini." Ayah Deva mengelus kepala Kiran. Kiran menggeleng.
Kiran akan lebih ketakutan ketika melihat Ami, semalam Ami sempat masuk ke ruangannya untuk menemuinya. Namun, saat itu juga Kiran memberikan reaksi ketakutan saat melihat Ami.
"Kiran, sebentar lagi Sid akan datang. Apa kau tidak kasihan jika ayahmu ini dimarahi Sid?" Ayah Deva memelas pada Kiran.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku akan memarahi ayah?" Sahut Sid dari ambang pintu tiba-tiba.
Ayah Deva sangat terkejut, putranya datang secepat ini? Bagaimana bisa?
Sid sudah datang? Bukankah jadwal kedatangannya jam sepuluh?
Ayah Deva melirik jam di tangannya, sudah pukul sepuluh ternyata. Tepat dengan jadwal kedatangan Sid.
Apa yang harus aku katakan dan aku lakukan? Dia pasti akan sangat marah!
"S..Sid, kau sudah kembali?" Dengan suara gugup dan gemetar ayah Deva memberanikan diri.
"Ayah, ada apa?" Sid tetap bertanya, tak menghiraukan pertanyaan basa-basi ayahnya.
"Tidak ada, tidak ada apapun." Ayah Deva berusaha meyakinkan Sid.
"Ayah serius? Kiran, kenapa kau dia..."
"Sid, mana dokter yang kau bawa? Apa dia sudah mengobatinya?" Potong ayah Deva cepat, sambil menarik Sid keluar dari ruangan Kiran.
"Ada, dia baru saja masuk ke ruangan Rafa. Ayah sebenarnya apa yang..."
"Tidak ada, tidak penting! Kiran hanya perlu istirahat, itu saja." Potongnya lagi dengan cepat. Justru jawaban ayah Deva malah membuatnya semakin penasaran dan merasa curiga.
Aku belum bertanya apakah Kiran sakit atau tidak, tapi kenapa ayah langsung mengatakan bahwa Kiran perlu istirahat?
Sid menatap ayahnya lekat-lekat, aura kebohongan terpancar dari sorot matanya. Setiap kali Sid menatap ayah Deva, maka setiap itu juga ayah Deva mengalihkan pandangannya dari Sid.
"Ayah." Tegur Sid sambil memegang bahu ayahnya.
"Ya?" Ayah Deva mencoba tersenyum, walau hatinya sangat ketakutan.
"Ayah menyembunyikan sesuatu?" Ayah Deva menggeleng cepat.
"Tidak, tidak ada. Memangnya kenapa? Sudahlah, ayo kita lihat perkembangan Rafa." Menarik tangan Sid menuju ruangan Rafa.
"Tunggu dulu, aku ingin menemui istriku sebentar. Pasti dia juga sudah menungguku dan merindukanku." Melepaskan tangan ayahnya, dan berbalik menuju ruangan Kiran.
"Sid, nanti saja! Kiran baru istirahat, jangan mengganggunya!" Kembali menahan Sid dan menariknya menuju ruangan Rafa.
Kecurigaan dalam hati Sid semakin bertambah, ayahnya tak pernah mencegahnya menemui Kiran.
__ADS_1
Kau menyembunyikan sesuatu, kan? Apa yang kau sembunyikan, ayah? Pasti terjadi sesuatu!
Sampai di ruangan Rafa semua hening, Ami menunduk ketakutan. Rafa masih dalam keadaan tak sadarkan diri, dokter yang dibawa Sid sedang memeriksa Rafa.
"Ada apa ini? Kenapa kalian diam begini?" Sid menegur mereka semua.
"Sid, kami hanya diam apa itu salah?" Jawaban ayah Deva kembali membuat Sid curiga.
Sid menatap Ami tajam. Ami semakin menunduk.
"Ami!" Bentak Sid. "Katakan!" Perintahnya dengan nada tinggi.
"Pa... Pak Sid, Kiran..." Sid menunggu Ami menyelesaikan ucapannya. "Aku minta maaf, aku tidak sengaja." Sambungnya. Sid menghela napas kasar.
Detik berikutnya Sid berbalik lalu keluar ruangan Rafa menuju ruangan Kiran. Ayah Deva mengejar Sid.
Sampai di ruangan Kiran, Sid merasa bingung lagi. Kiran tak menyambutnya, hanya menoleh sekilas lalu memandang ke arah lain lagi.
Sid mendekatinya, lalu duduk di samping Kiran.
"Sayang." Panggil Sid sambil menggenggam tangan Kiran. Kiran tak menjawab, membuat Sid mulai merasakan keanehan padanya.
"Kenapa diam? Kau marah padaku?" Tak menjawab lagi, hanya diam. "Kirana!" Sid mengguncang tubuh Kiran.
Jantungnya sudah berdebar kencang, pikirannya mulai melayang kemana-mana.
Ada apa dengannya? Kenapa dia diam saja, tak menjawab pertanyaanku?
Pandangan Sid menangkap lagi hal yang mengejutkan, yaitu Hera.
Hera? Kenapa disini ada Hera? Bukankah dia psikolog?
"Hera!" Hera sangat terkejut, lalu menundukan pandangannya ke lantai.
"Apa yang sudah terjadi?!" Sid mengacak rambutnya frustasi.
"Kiran shock berat." Jawab Hera pelan. Tentu saja membuat Sid menjadi sangat terkejut dan marah besar.
"Apa?! Bagaimana bisa dia sampai shovk seperti itu?!" Bentak Sid penuh kemarahan.
"Di... Dia..." Hera tergagap, tak tahu apa yang harus ia katakan pada Sid.
"Katakan!" Bentak Sid menggelegar di telinga semua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Aku penyebabnya." Sahut Ami yang baru datang, ia berdiri di ambang pintu dengan wajah menunduk. Tapi masih terlihat raut penyesalan di wajahnya.
"Ami?! Apa ini? Apa sebenarnya yang terjadi?!" Teriak Sid hingga menggema di ruangan itu.
"Paman Reihan!" Reihan menunduk.
"Tuan muda, nona muda sudah akan jatuh dari lantai paling atas rumah sakit ini."
__ADS_1
Sid membelalak, dia sangat terkejut bukan main. Amarah sudah memuncak di kepalanya.
"Hebat! Aku tinggalkan Kiran seharian, dan kau ingin mencelakakannya? Benar-benar tidak tahu balas budi, ya?!" Menunjuk Ami yang masih tertunduk dari tadi.
"Aku tidak sengaja." Ami terisak.
"Aku tak ingin mendengarnya! Setelah suamimu sembuh, pergilah jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi!" Usir Sid.
"Bolehkah aku menemui Kiran dulu?"
"Tidak! Kau pasti akan membuat keadaan istriku tambah parah!" Teriak Sid lagi. "Pergi kau sekarang!" Ami berbalik, lu pergi dengan air mata yang sudah mengalir membanjiri pipinya.
Di sisi lain, Sid juga menangis karena Kiran yang masih tetap pada posisinya sedari tadi.
"Kiran, ini aku, apa kau tidak ingin bicara denganku?" Sid membingkai wajah Kiran, mencoba memusatkan perhatian Kiran padanya.
"Sid, biarkan dia istirahat saja. Semoga dia cepat pulih setelah istirahat." Ayah Deva menepuk pundak Sid.
"Tidak, aku akan menemaninya disini." Ayah Deva mengalah, ia tak ingin berdebat lagi.
Lalu ayah Deva memberik kode pada yang lainnya agar ikut keluar dari ruangan ini bersamanya. Mereka mengangguk, lalu satu persatu mulai keluar.
Kini hanya tinggal Sid dan Kiran berdua di ruangan itu.
"Sayang." Sid terus berusaha, ia sangat sedih jika harus melihat Kiran seperti ini.
Ya Tuhan, ujian apa lagi ini? Baru saja kami bahagia, tapi sudah ada ujian lagi dalam keluarga kami.
"Kiran, aku mohon bicaralah! Aku berjanji akan melakukan apapun setelah kau mau bicara denganku. Apapun yang kau minta aku akan memberikannya." Tiba-tiba Kiran menatapnya, mula-mula seperti orang ketakutan.
"Ada apa? Kau kenapa?" Lalu Kiran mulai diam lagi, membuat Sid kembali harus bersedih.
Sid tak kuat lagi menghadapi situasi ini, iapun beranjak ingin keluar dari ruangan Kiran.
"Kiran, aku pergi sebentar. Setelah ini aku akan kembali lagi, kau jangan kemana-mana, ya?" Sambil berdiri, lalu melangkah menuju pintu keluar ruangan.
Tiba-tiba Kiran berdiri, lalu menarik lengan kemeja Sid yang membuat Sid berhenti berjalan dengan tiba-tiba.
"Kiran, ada apa?" Kiran menggeleng cepat, lalu mendekati pintu dan menguncinya.
Setelah pintu terkunci rapat, ia langsung memeluk Sid dan menangis sesenggukan di dalam pelukan Sid.
Sid membalas pelukan itu, lalu membawa Kiran duduk di atas ranjang.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Lirih Kiran masih dengan isakan. Wajahnya seperti ketakutan, dan juga gelisah.
"Ada apa?" Sid merangkul kedua bahu Kiran, lalu mencoba menenangkannya.
Kiran segera menceritakan sesuatu yang sejak kemarin mengganjal di hatinya.
Bersambung...
__ADS_1
Sebenernya ada apa sih? Author kok gak ngerti ya? Hmm... Sepertinya Kiran mengetahui sesuatu yang aneh dan ganjal. Tapi apa???