
Byuurr...
Ira mendorong Sid hingga tercebur ke kolam renang, itu membuat Sid terkejut. Tanpa rasa bersalah, keduanya tertawa terbahak-bahak.
Sid yang akan marahpun mengurungkannya, karena walau bagaimanapun mereka adalah putrinya. Tidak mungkin juga, Sid akan memaki anaknya sendiri. Iapun ikut tertawa.
"Dengan anak kecil saja kau kalah!" Ejek Kiran yang diikuti tawa renyahnya.
"Kalian ini ya, lihat ayah jadi bahan ejekan ibu kalian!" Ketus Sid pura-pura marah.
"Ayo, ayah naik!" Kal mengulurkan tangannya, membantu Sid naik ke atas kolam renang.
"Terima kasih." Kal mengangguk.
"Ayah basah!" Ira dan Ima tertawa lagi.
"Iya, lihat ini ya! Ayah akan membuat kalian basah juga!" Sid menghampiri Ira dan Ima, lalu memeluk keduanya hingga pakaian keduanya ikut basah juga.
"Sid! Nanti mereka masuk angin dan kedinginan!" Kiran mengingatkan.
"Tidak boleh ya? Hmm..." Sid tersenyum jahil, lalu melepaskan Ira dan Ima. Ia melangkah menghampiri istrinya itu disertai senyum jahilnya.
Kiran membelalak, ia tahu apa yang akan dilakukan suaminya.
"Eh, Sid! Jangan, jangan!" Sambil berjalan mundur.
Namun, baru beberapa langkah terhenti karena di belakang Kiran terdapat tembok yang menghalanginya.
"Rasakan ini!" Sid memeluk Kiran, hingga pakaian yang di kenakan Kiran basah juga.
Lalu beralih menggendongnya dan membawanya ke dekat kolam renang.
Byuurr..
Sid membawa Kiran masuk ke dalam kolam renang, hingga ditertawakan ketiga anaknya.
"Aaa... Sid! Kau menyebalkan!" Rutuk Kiran yang membuat Sid terkekeh.
"Ayo main air!" Kal mengajak kedua adiknya masuk kedalam kolam renang yang tidak dalam, merekapun bermain air cukup lama.
Sementara ayah Deva dan ibu Aisha yang baru bisa keluar dari kamar paling atas setelah dikunci oleh Lakshmi masih saja berdebat.
"Anakmu itu yang menyebalkan!" Ketus ayah Deva sambil berjalan.
"Semua karena kau yang selalu saja memulai perdebatan!" Balas ibu Aisha.
"Diam! Kau bilang tidak ingin berdebat lagi tadi!"
"Iya, iya! Dimana anak-anak?"
__ADS_1
"Tidak tahu! Aku kan terkunci denganmu!" Ayah Deva menjawab dengan nada sinis.
"Huft! Kau ini!"
"Coba kita lihat di taman belakang, tadi kan mereka ada di taman belakang."
Ibu Aisha mengangguk, lalu mengikuti ayah Deva berjalan menuju taman belakang. Sesampainya di taman belakang mereka menghela napas kasar ketika melihat anak, menantu, serta cucunya sedang bermain air di kolam renang.
"Kalian bersenang-senang disini? Sedangkan kami terkunci di atas!" Teriak ayah Deva kesal.
Kiran, Sid, dan Kal menoleh dan terkejut. Berbeda dengan si kembar yang masih fokus bermain air.
"Baba dan Nani terkunci?" Ibu Aisha mengangguk.
"Itu karena nenek dan kakekmu selalu saja berdebat, jadi bibimu menguncinya!" Timpal Sid diikuti tawanya.
"Sid! Jadi kau tahu, yang mengunci kami adalah Lakshmi?" Sid mengangguk. "Lalu kenapa tidak membuka pintunya?" Sid mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum jahil.
"Lebih baik seperti itu, daripada telinga kami panas mendengar perdebatan kalian." Jawabnya acuh.
"Sid!" Ibu Aisha mengerucutkan bibirnya.
"Sudah cukup! Lebih baik kalian keluar dari kolam renang, lalu ganti baju kalian agar tidak masuk angin dan kedinginan!" Perintah ayah Deva.
Semua langsung naik ke atas, lalu bergegas menuju kamar masing-masing. Si kembar diurus oleh pengasuhnya masing-masing.
"Kal, bagaimana?" Tanya ayah Deva pada Kal yang duduk disebelahnya.
"Sudah menentukan akan pindah ke sekolah mana?" Timpal ibu Aisha.
"Apa?! Kau akan pindah sekolah?" Sid tak percaya.
Kal mengangguk. "Iya."
"Kenapa tidak mengatakannya pada ayah?"
"Baru saja akan mengatakannya." Jawab Kal lembut.
"Jadi kau akan pindah ke sekolah mana?"
"Sekolah musik, yah. Aku ingin sekolah di sekolah xx, disana materi musik diajarkan setiap hari." Jelas Kal dengan bersemangat.
"Bagaimana sekolahnya? Apa sebuah asrama atau sekolah biasa?"
"Asrama, aku akan sekolah disana bukan hanya untuk belajar musik." Kiran cemberut mendengar bahwa sekolah yang dipilih Kal adalah sebuah asrama.
"Kal, jadi kau akan sekolah di asrama?" Kal mengangguk, Kiran tambah cemberut lalu memberi isyarat pada Kal afar duduk disampingnya.
"Ibu kenapa?" Kal membingkai wajah ibunya lembut. Kiran menggeleng.
__ADS_1
"Lalu ibu bagaimana? Apa kau tidak akan merindukan ibu?"
"Tentu saja aku akan sangat merindukan ibu, tapi tenang saja aku akan sering mengabari ibu. Aku juga ingin belajar mandiri, bu dengan sekolah di asrama." Kiran tersenyum, tak mungkin juga ia tidak memperbolehkan Kal sekolah di asrama.
Bagi Kiran, Kal adalah anak yang istimewa. Selain pintar dan penuh kasih sayang ia juga adalah anak yang selalu bersemangat dalam belajar hal-hal baru, mandiri juga.
"Tapi kau bisa menjaga dirimu kan disana? Berjanjilah pada ibu, kau tidak akan terbawa pergaulan yang tidak baik."
"Aku janji pada ibu, aku sayang kalian semua! Aku tidak akan mengecewakan kalian." Kal memeluk Kiran, lalu Kiran membalas pelukan itu.
"Ibu sayang padamu juga, Kal. Ibu sangat menyayangimu." Balas Kiran sambil mengeratkan pelukannya. Sid yang duduk disamping Kiran ikut memeluk Kiran dan Kal.
"Teruslah seperti ini, jangan sampai ada yang mencoba mengganggu kebahagian keluarga kecil kalian lagi." Ujar ayah Deva dengan senyuman bahagianya.
Ibu Aisha mengangguk, lalu menarik cucu kembarnya untuk duduk di pangkuannya. Ira duduk di pangkuan ibu Aisha, sedangkan Ima duduk di pangkuan ayah Deva.
"Ira dan Ima juga harus jadi anak yang baik, ya? Buat kami semua bangga pada kalian!" Ira dan Ima mengangguk patuh.
"Kapan kau masuk sekolah, Kal? Belajarlah dari sekarang, biar ibumu yang menyiapkan barang-barang yang akan kau bawa." Ujar Sid sambil mengelus kepala putra kesayangannya.
"Minggu depan, terima kasih ayah dan ibu." Kal memeluk Sid.
Kiran menatap Sid dengan tatapan sendu, karena sesungguhnya berat bagi dirinya untuk melepas Kal hidup jauh darinya.
Sid mengangguk, memberi isyarat pada Kiran untuk percaya dan yakin pada putranya.
Kiran pun tersenyum tipis, hatinya masih sangat takut untuk melepaskan Kal.
"Kal anak yang pemberani dan mandiri. Dia akan selalu baik-baik saja disana." Sid meyakinkan Kiran.
"Baiklah, apapun itu semoga kau selalu bisa menjaga diri. Hanya satu pesan ibu padamu, jangan hilang arah saat kau sedih, Kal. Ingatlah, disini masih ada ayah, ibu, Baba, Nani, dan adik-adikmu yang sangat menyayangimu. Hormati gurumu, jangan melawan ya?" Kal mengangguk patuh.
Kiran mengecup kening Kal lembut.
"Rasanya cepat sekali kau besar, Kal. Baru kemarin ibu melahirkanmu, tapi hari ini kau sudah akan remaja. Waktu cepat sekali berlalu."
"Kau benar, baru kemarin aku mengajari Kal cara berjalan tapi sekarang dia akan jauh dari kita selama beberapa tahun. Tapi tidak apa-apa, semoga apa yang Kal harapkan tercapai." Ujar Sid sambil mengelus kepala Kal.
"Aku ingin tidur dengan ibu dan ayah, boleh kan?" Sid dan Kiran mengangguk.
Malamnya, Kal benar-benar tidur dengan Sid dan Kiran. Dengan posisi ditengah-tengah kedua orang tuanya.
Sid dan Kiran memeluk Kal, sementara Kal sudah terlelap sedari tadi.
"Tidurlah sayang, ibu dan ayah menyayangimu, sangat menyayangimu." Bisik Kiran lembut.
Sid mematikan lampu, lalu memeluk Kal dan Kiran lagi. Ketiganya akhirnya tidur dengan sangat nyenyak hingga matahari terbit dan menyinari tubuh mereka.
Votenya jangan lupa ya...Masih banyak nih bab tambahannya...
__ADS_1