Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Tidak Jadi Pergi


__ADS_3

Sid menatap bandara dengan tatapan ragu, ia bingung. Antara ingin melupakan, atau harus kembali untuk memenangkan Kiran.


Sesekali dia menoleh kebelakang, berharap sosok yang ada di hatinya menghalanginya untuk pergi. Hasilnya nol, bahkan tak ada yang mencarinya seorangpun.


"Pak, kita berangkat sekarang? Penerbangan akan segera dilakukan." Anak buahnya memperingatkan.


"Tunggu sebentar, aku masih ingin disini." Jawab Sid dengan mata memandang ke arah lain.


Pak, jika masih ingin disini kenapa kau memutuskan untuk pergi? Bukankah itu pemikiran dan tindakan yang tak sejalan dengan hati?


Anak buahnya terus menggerutu di dalam hati. Sid melangkahkan kakinya menuju arah pesawat, dengan hati yang dipenuhi ketidakrelaan dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kiran akan menikah dengan pria lain.


"Mau kemana kau, Siddharth Adeva Rafandi? Berani sekali, kau pergi tanpa izin dariku!" Langkah Sid terhenti, lalu menoleh dan membelalakkan matanya mendapati sumber suara di belakangnya.


"A... Ayah."


"Jangan panggil aku ayah! Jika kau berani pergi tanpa izin dariku!" Deva mendengus kesal.


"Ayah, aku hanya ingin melupakan Kiran. Aku hanya akan pergi sementara."


"Kalian bodoh? Cepat bawa dia ke mobilku, atau dia akan lari!" Perintah Deva pada anak buahnya.


"Apa? Kenapa ayah menangkapku seperti buronan saja? Ayah!" Detik berikutnya, Sid sudah dibawa ke dalam mobil Deva.


"Ayah, kenapa ayah melakukan ini?"


"Diam kau! Kau harus menikah minggu depan dengan wanita pilihan ayah! Janga pikirkan Kiran lagi! Dia bukan jodohmu!" Tegas Deva.


"Tapi ayah, aku mencintai..." Deva membungkam Sid deng dengan tangannya.


"Diam! Turuti saja perkataanku, jika tidak aku akan membuangmu ke lautan dalam!" Ancamnya, membuat Sid sedikit meringis ketakutan.


Ya ampun, bahkan ayahku tidak memikirkan perasaanku, malah mengancamku. Tega sekali dia.


"Aku tidak tega, aku hanya memikirkan kebaikanmu dan calon penerus keluarga kita!"


Bagaimana bisa kau tahu apa yang aku pikirkan? Ah iya, aku lupa! Kau kan adalah ayahku, dan aku adalah keturunanmu!


Selama perjalanan, Sid terdiam. Sementara Deva tak henti-hentinya mengomel seperti perempuan pada Sid.


"Turun!" Pada saat sudah sampai di kediaman utama Deva.


"Ayah, aku ingin pulang ke rumahku saja." Pinta Sid.


"Tidak, selama satu minggu sampai kau menikah, kau akan tinggal bersamaku. Aku ingin mengawasimu langsung, aku takut kau kabur lagi!" Sedikit menyindir.


"Baiklah." Sid membuang napas kesal.


Anak aneh, aku bukan tidak memikirkanmu. Justru aku yang akan membawakan wanita yang kau cintai itu untukmu!

__ADS_1


"Ayah, Lakshmi dimana?"


"Dibelakang, dia sedang melihat pembangunan taman belakang rumah yang baru."


"Apa? Tidak! Dia pasti akan merusak bunga-bungaku!" Tanpa melirik lagi pada ayahnya, Sid segera berlari ke halaman belakang rumahnya.


"Lakshmi! Kau merusak bunga-bungaku!" Lakshmi menoleh, dan tersenyum penuh kemenangan pada kakaknya.


"Kakak, kau sudah punya rumah sendiri dan taman juga yang sangat indah dibelakangnya. Sekarang taman ini jadi milikku!" Seru Lakshmi dengan penuh kemenangan.


"Lakshmiiiiiiiii......!!!" Teriak Sid, dengan penuh kekesalan.


"Kakaaaaakkkkkkk...." Lakshmi membalasnya, lalu mentertawakan Sid yang wajahnya sudah memerah karena kesal.


"Cepat kembalikan bunga-bungaku!" Perintah Sid pada pegawai yang sedang merombak taman belakang rumah utama mereka.


"Tidak, jangan dengarkan kak Sid! Mulai sekarang taman ini milikku!"


"Lakshmi! Siddharth! Taman ini milik ayah! Masih milik ayah!" Deva tiba-tiba muncul diantara mereka.


"Pak, maaf. Jadi kami harus mengerjakan yang mana? Mengembalikan bunga mawar ini, atau mengubahnya seperti yang dikatakan nona?" Para pegawai kebingungan.


"Keduanya, ubah dan tanam lagi bunga-bunga mawar itu!" Perintah Deva.


"Baik pak."


"Sid, ikut ayah ke atas! Lakshmi, tetap disini awasi pekerjaan mereka!" Deva kembali memerintah.


Di atas, tepatnya di balkon kamar Deva. Sid dan Deva sedang duduk berhadapan.


"Sid, ayah minta lupakan Kiran. Bukalah hatimu untuk calon istrimu, dia adalah wanita yang baik dan berbeda dari yang lain." Deva memulai pembicaraan.


"Ayah! Bagaimana bisa aku melupakan Kiran? Ayah sendiri, bukankah menyuruhku mengejarnya dan mendapatkannya? Lalu mengapa sekarang ayah menyuruhku melupakannya? Maksud ayah bagaimana sebenarnya?! Apa ayah tidak ingin melihatku bahagia bersama Kirana?" Kali ini Sid berbicara dengan nada suara yang sedikit tinggi.


"Justru itu, ayah memikirkan kebahagiaanmu! Kau pasti akan sangat bahagia, menikah dengan wanita pilihan ayahmu ini!"


Sid memikirkan perkataan ayahnya, yang sebenarnya hanyalah sandiwara ayahnya saja. Bukan tanpa sebab, Deva mempermainkan Sid dan menyuruhnya menikah dengan wanita pilihannya yang sebenarnya adalah Kiran.


Deva hanya ingin melihat kesungguhan putranya itu. Apakah Sid benar-benar tulus mencintai Kiran? Ataukah hanya sekedar pelampiasan untuk melupakan Kanaya?


"Baiklah, aku akan menerimanya. Dengan satu syarat!" Sid mengacungkan jari telunjuknya. Deva mengangguk, tanda setuju. "Izinkan aku menghabiskan waktu dengan Kiran, sampai sehari sebelum pernikahanku."


"Baik, syaratmu ayah terima." Tanpa bertanya dan berkata-kata lagi pada Deva, Sid langsung pergi meninggalkan ayahnya itu di balkon.


Kita lihat, Sid. Kau memang benar-benar sangat mencintai Kiran atau hanya karena ingin sekedar melupakan Kanaya?


...----------------...


Kiran sedang merebahkan dirinya di atas ranjang berukuran sedangnya itu, ia menatap fotonya dan Sid di ponselnya.

__ADS_1


"Kau sedang apa? Dimana, ya? Aku merindukanmu, apa kau benar-benar terbang ke London?" Guman Kiran sambil mengetuk-ngetuk foto Sid di ponselnya.


Detik berikutnya, ia terkejut saat ponselnya berdering. Sampai ponselnya terjatuh tepat di atas hidung Kiran sendiri.


"Shit! Untung saja, hidungku tidak tambah pesek karena tertiban ponsel!" Kiran meraih ponselnya, dan melihat siapa yag menelponnya.


Sid? Kenapa dia meneleponku?


Kiran sedikit ragu mengangkatnya, namun akhirnya ia angkat juga teleponnya itu.


"Hallo."


"Hallo, Kiran." Sapa Sid di seberang sana.


"Ya, ada apa?"


"Sebelum pernikahan kita masing-masing terjadi, apa kau bisa menghabiskan waktumu denganku? Aku mohon, jangan menolak. Izinkan aku membahagiakanmu, dan menunjukkan cintaku padamu, dalam waktu satu minggu ini." Terdengar, suara Sid penuh permohonan.


"Baiklah, aku bisa." Jawab Kiran dengan nada terpaksa, namun tak dapat dipungkiri hatinya sangat senang.


"Sampai jumpa besok, Kiran." Sid menutup teleponnya sebelum Kiran menjawab.


"Haaaaaa.... Jadi dia tidak berangkat ke London ya?!" Serunya sambil melompat-lompat di atas ranjang.


"Kakak, kau kenapa?" Tiba-tiba Mira sudah berdiri di ambang pintu.


"Kau! Sejak kapan kau berada disana?" Kiran terkejut.


"Hmmm... baru saja." Jawab Mira sambil memandang Kiran tajam.


"Baguslah, pergi sana! Jika tidak ada yang penting!" Usir Kiran.


"Huh! Dasar nenek sihir!" Mira mencibir Kiran.


"Kau setan berlidah tajam! Jika bicara terlalu jujur!" Balas Kiran.


"Kalian, diamlah! Jangan mulai lagi berdebat! Ibu sudah pusing dengan perdebatan kalian yang tiada akhir!" Rhea yang kebetulan melewati kamar Kiran dan mendengar awal perdebatan kedua putrinya langsung menengahi.


"Baik, bu." Ucap Mira dan Kiran bersamaan.


"Semua ini gara-gara kau!" Tuduh Kiran pada Mira.


"Apa? Kakak yang lebih dulu mengusirku!" Nada suara mulai meninggi.


"Miiirrrraaaaaaaa.... Kiiiirrrrrrraaaaannnnnn, Diaaaaammmmmmmmmm!!!" Teriak Rhea sambil menjewer telinga kedua putrinya.


"Maaf ibu." Ucap Kiran dan Mira bersamaan.


**Siddharth sama lakshmi berantem, Mira sama Kiran tidak perlu dibahas lagi. Kalian sudah tau dari awal 😳😳🙄🙄🙄😌😌😌😌😌

__ADS_1


Bersambung**...


__ADS_2