
Sid terus berlari, tak peduli kakinya yang letih. Baginya yang terpenting adalah Kirananya saat ini. Di tengah-tengah perjalanannya, ia berhenti.
Sebuah ledakan terdengar jelas di telinganya.
Ledakan? Tidak, itu tidak mungkin!
Sid kembali berlari, berkali-kali kakinya tersandung batu di jalanan. Berkali-kali juga tubuhnya terjatuh, luka yang menggores tubuhnya tak ia pedulikan. Darah segar yang sudah membasahi tubuhnya pun tak ia pedulikan.
Semua demi Kirananya.
Tiga puluh menit, barulah ia sampai di laut yang dituju. Hatinya benar-benar merasa bagaikan ditikam ribuan pisau. Lututnya sudah mengenai pasir pantai yang indah.
Matanya tak mampu lagi menahan ribuan tetes air mata yang akan jatuh. Detik berikutnya, ia bersujud di atas pasir. Menumpahkan air matanya.
"Tidak! Semua ini tidak mungkin terjadi!" Lirihnya dalam isakan yang cukup keras.
"Pak, kenapa anda menangis?" Tanya seorang warga yang menghampirinya.
Sid bangun, menghapus air matanya.
"Istriku berada di kapal itu. Dia sedang hamil." Jawab Sid dengan nada sedih.
Warga itu menepuk pundak Sid, mencoba menegarkan Sid.
"Tidak ada yang selamat, tim SAR sedang mencari jasad seluruh korban."
Hatinya bertambah perih, namun naluri hatinya mengatakan bahwa Kirana masih hidup.
"Tidak, itu tidak mungkin! Kiran masih hidup! Dia tak mungkin meninggalkanku!" Bantah Sid sambil berlari memasuki kawasan pantai dan berenang kedalam air.
Tim SAR yang sedang melakukan pencarian korban menahan Sid agar tidak berenang lebih jauh, namun Sid terus bertekad mencari Kiran.
"Pak! Jangan, biar kami yang melakukan pencarian korban!"
"Jangan menahanku, aku akan mencari istriku sendiri! Aku yakin dia masih hidup dan sedang membutuhkan bantuanku!" Tim SAR menyeret Sid kembali ke sisi pantai.
Ayah Deva dan paman Dendi yang baru sampai langsung menahan Sid yang akan kembali memasuki lautan.
"Tidak! Biarkan mereka bekerja, kau diamlah disini!" Larang ayah Deva.
"Jangan mencegahku lagi, ayah! Aku akan menemukannya, aku akan mencari Kiranku sendiri!"
"Diam! Jangan bodoh, itu sangat berbahaya! Kita tunggu saja, kabar dari mereka!" Sid akhirnya tak berdaya melawan perintah ayah Deva. Bukan karena ia tidak bisa, tapi karena tubuhnya sudah melemah akibat darah yang sudah mengalir sejak tadi berlarin menuju laut.
"Sid, bangunlah!" Ayah Deva menopang tubuh Sid, dan berusaha menyadarkannya.
"Deva, apa yang terjadi? Kenapa dengan Sid?" Tanya paman Dendi yang ikut terkejut saat Sid mulai tak sadarkan diri.
__ADS_1
Ayah Deva memeriksa tubuh putranya itu, dan terkejut ketika mengetahui lututnya berdarah. Sikunya juga ikut berdarah, bahkan pelipisnya memiliki luka yang lebih parah.
"Cepat, cari taksi! Kita harus membawanya ke rumah sakit!" Sejenak, mereka melupakan tujuan mereka ke daerah tersebut.
...----------------...
Tiga hari berlalu, Sid sudah pulih. Pulih kondisi tubuh dan kesehatannya, namun tidak dengan hatinya.
Luka yang sangat dalam, lebih dalam dari yang Kanaya berikan padanya dulu. Dunia sudah menganggap Kirana tiada, namun tidak dengan Sid dan hatinya. Ia percaya Kirananya masih hidup, selama jasadnya belum ditemukan.
Jauh dari relung hatinya yang paling dalam ia berharap Kirananya bisa ditemukan baik dalam keadaan hidup, ataupun sudah tiada.
Pencarian korban resmi dihentikan, itu sangat membuat Sid menjadi tambah bersedih.
"Maaf, pak kami tidak bisa menemukan jasad istri dan ibu mertua anda." Ketua tim SAR yang mengadakan pencarian korban melaporkan pada Sid.
"Tidak! Kalian harus menemukan istriku!" Tegas Sid dengan suara lantang, membuat banyak orang yang berada di pantai menoleh seketika padanya.
"Pak, kami tidak bisa melanjutkan pencarian. Batas waktu sudah habis, dan tidak mungkin melanggar batas waktu yang sudah ditentukan."
"Kalian bekerja untuk siapa? Kau pasti juga memiliki istri, bagaimana jika istrimu yang berada di posisi istriku?!" Hardik Sid, ia sudah menarik kerah baju ketua tim SAR tersebut. Ayah Deva langsung menahan Sid, takut anaknya tak bisa mengontrol dirinya lagi.
"Sid, cukup! Tidak mungkin Kirana bisa bertahan hidup di dalam air selama tiga hari, lepaskanlah. Dimanapun dia berada, mungkin dia sudah tenang."
"Tidak bisa begitu! Aku tidak percaya semua ini, ayah! Kiranaku pasti masih hidup! Dia masih hidup, dan akan kembali padaku!" Ucap Sid penuh keyakinan.
Adik dan keponakannya tidak disangkanya akan mengalami musibah seburuk itu. Paman Dendi membawa keranjang berisi bunga di tangannya, ia berjalan menaiki perahu milik nelayan.
"Tolong bawa aku ke tempat kapal itu meledak." Ucap paman Dendi pada nelayan pemilik kapal yang ia tumpangi.
"Baik, pak." Ucap nelayan itu diiringi senyum ramah.
"Kau mau kemana, Dendi?" Tanya ayah Deva sambil merangkul Sid.
"Ikutlah, kita harus memberikan penghormatan terakhir pada Rhea dan Kiran." Jawab paman Dendi dengan nada suara sedih. Bahkan raut kesedihan yang besar terpancar di wajahnya.
"Paman, kenapa kau juga menganggap Kiran ku tiada?" Tanya Sid penuh penekanan, disertai air mata yang terua mengalir membanjiri wajahnya yang masih pucat.
"Sid, terimalah. Ini sudah tiga hari, kemungkinan manusia hidup dengan terombang-ambing di lautan sangat kecil." Paman Dendi menunduk, jelas hatinya masih berharap. Namun apa yang dikatakannya memang ada benarnya juga.
"Sid, ikutlah. Kita beri penghormatan terakhir untuk Kiran dan ibu Rhea." Ayah Deva membantu Sid naik ke atas perahu.
Perahu mulai berlayar, mereka sudah berada di titik tempat ledakan kapal itu terjadi.
Sid hanya bisa terduduk, sambil menatap lautan dengan matanya yang sudah sembab.
Paman Dendi mulai menaburkan bunga-bunga itu ke air laut. Dengan tiba-tiba saja, sebuah botol yang berisi gulungan kertas mengambang di samping perahu yang terdapat Sid sedang duduk.
__ADS_1
Sid melihatnya, dan meraihnya. Hatinya tergerak untuk membuka botol itu. Seperti dia akan menemukan sesuatu yang mengejutkan didalamnya.
Perlahan, dengan tangan bergetar Sid membuka gulungan kertas itu. Ternyata ada tulisannya.
Sid, dimanapun kau berada, semoga kau menemukan surat ini.
Deg...
Surat ini dan tulisannya Sid mengenalnya, Kiran.
Air matanya kembali jatuh pada saat membaca baris pertama tulisan di surat itu.
*Aku menulis surat ini diam-diam, aku harap kau menemukannya dan membacanya. Mungkin, pada saat menemukan surat ini entah aku masih hidup atau sudah tiada. Yang pasti, aku sudah tidak berada disisimu lagi.
Maaf, jika aku sering mencurigaimu dan membuatmu kesal. Tapi, aku sangat mencintaimu, bahkan aku mencintaimu lebih dari aku mencintai ibu dan ayahku.
Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Tentang Maya, dan tujuannya mendapatkanmu.
Maya memiliki nama asli Fanny, Fanny William Lothaire. Atau Fanny Deevasha Rafandi. Dia bilang, dia sempat diangkat menjadi anak ayah dan ibumu. Ayah Deva menghabisi paman William, ayahnya Fanny.
Sid, aku tidak bisa meneruskan tulisanku lagi. Waktuku sangat sedikit, mungkin selebihnya kau harus menanyakannya pada ayah Deva. Sid, semoga kita bisa bertemu lagi. Baik di kehidupan saat ini, atau di kehidupan berikutnya. Inti dari surat ini, Fanny atau Maya ingin membalaskan kematian ayahnya pada ayahmu dan seluruh keluargamu.
Kirana*.
Sid meremas surat itu, lalu berdiri dan mendekati ayahnya.
"Ayah, katakan! Ceritakan tentang Fanny!" Ayah Deva langsung membelalak, mendengar nama Fanny.
Ingatannya langsung terhubung dengan kejadian saat ia menghabisi seorang laki-laki bernama William.
"Memangnya ada apa dengan Fanny?" Sid langsung memberikan surat itu pada ayah Deva, ayah Deva langsung membacanya dan matanya membelalak.
"Ma... Maya?"
"Nama aslinya adalah Fanny!" Ucap Sid dengan tangan mengepal.
"Katakan, apa masalahmu dengannya? Apa benar, ayah menghabisi ayahnya Maya?" Ayah Deva mengangguk.
"Ayah lihat, masalahnya dengan ayah. Tapi kenapa Kiran juga terkena imbasnya? Kenapa aku yang harus menderita akibat dari sesuatu yang ayah lakukan saat aku sendiri belum lahir? Ayah lihat, imbasnya seperti apa? Kirana, ayah! Aku kehilangan Kirana!" Ucap Sid dengan suara lantang.
Sid kembali terduduk di atas perahu. Paman Dendi yang tak tahu menahu hanya terdiam. Tangannya terus menaburkan bunga, bibirnya terus melantunkan doa untuk adik dan keponakannya.
Ayah Deva ikut terduduk, dia meminta maaf pada putranya.
"Maaf, semua ini kesalahan ayah."
"Tidak ada gunanya, Kiran tidak akan pernah kembali hanya dengan kau mengucapkan kata maaf!" Balas Sid.
__ADS_1
Ada yang ikut sedih gak? Segimananya sih cerita ini bikin kalian greget? Hayoh, yang baca jangan lupa like komen dan vote... Hadiah pun gk masalah, sebagai tanda kalo kalian baca karya author. Yang penasaran sama apa yang bikin ayah Deva membunuh ayahnya Maya atau Fanny, baca karya pertama author. Judulnya Ikatan Cinta Masa Kecil... Sudah tamat.