
Sesampainya di tempat yang dituju, Sid dan Kiran turun dari mobil.
"Kenapa kita ke taman umum seperti ini?" Kiran yang merasa bingung langsung bertanya pada Sid.
"Ikut saja, setelah beberapa saat kau akan tahu betapa istimewanya taman ini bagiku." Jawab Sid sambil menarik tangan Kiran memasuki area taman itu.
Mereka melangkah memasuki taman, dengan tangan saling menggenggam. Sid membawa Kiran menuju sebuah danau yang berada di taman itu, dan membawanya duduk di sebuah bangku yang tepat menghadap danau tersebut.
Diatas air danau terdapat bunga teratai, dan angsa yang sedang berenang. Menambah keindahan danau tersebut. Mata Kiran berbinar, melihat indahnya danau tersebut.
"Indah sekali." Gumamnya lirih.
"Ya, indah. Bahkan kenangan tempat ini membuatnya tambah indah jika kita bayangkan." Balas Sid dengan mata lurus menatap danau itu.
"Apa itu kenangannu bersama..."
"Stop! Jangan sebutkan namanya! Dia dan tempat ini tidak punya hubungan apapun." Potong Sid sambil memelototi Kiran.
"Maaf." Lirih Kiran.
"Jangan minta maaf. Memuakkan. Tempat ini adalah tempat kesukaan ibuku, jika dia sedang memiliki masalah atau bertengkar dengan ayahku. Dia selalu menangis di tempat ini, kadang jika cuaca sedang hujan, dia suka membiarkan dirinya diguyur air hujan." Kiran tertegun.
"Dulu, waktu bunda mengandung diriku dia sempat bertengkar dengan ayah. Dia pergi dari rumah, dan datang ke tempat ini. Menangis disini. Saat itu, ayah tidak mengetahui kepergiaannya." Sid melanjutkan cerita tentang ibunya.
"Lalu, kapan ibumu pulang? Atau ayahmu menemukan ibumu?" Kiran menjadi penasaran.
"Ayah bilang, berhari-hari baru dia bisa menemukan ibuku. Pada saat ditemukan, ternyata bunda tinggal di apartemen lamanya semasa kuliah. Bahkan saat ayah mengajaknya pulang, dia tidak mau. Jadi, ayah mengalah dan tinggal beberapa hari di apartemen itu. Sampai sebuah insiden akhirnya membuat ayah bisa membawanya pulang ke rumah lagi."
Hingga hari menjelang sore, Sid dan Kiran masih berada di taman itu. Sid menceritakan pada Kiran kehidupan ayah dan ibunya, hingga akhir. Sedangkan Kiran menjadi pembaca setia yang senantiasa mendengarkan cerita Sid.
"Sudah sore, ayo kita pulang." Ajak Kiran.
"Tunggu, justru karena sudah sore. Keistimewaan dari danau ini baru akan kita lihat di sore hari saat matahari tenggelam." Sid menahan Kiran yang sudah akan pergi menuju parkiran.
"Maksudnya?" Kiran tidak mengerti.
"Duduklah."
Kiran kembali duduk disamping Sid, dengan sedikit jarak yang jauh.
__ADS_1
"Mendekatlah, atau akan sia-sia saja kita melihatnya jika saling berjauhan seperti ini!" Kiran menggeser tempat duduknya, hingga berdekatam dengan Sid.
Sid tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia langsung merangkul Kiran dam menyandarkan Kiran di bahunya.
Matahari mulai tenggelam, perlahan-lahan cahaya berwarna jingga muncul di ujung danau. Kiran terpana, Sid benar-benar memperlihatkan sebuah keindahan tiada bandingan, keindahan yang di tunjukkan sang Pencipta.
Kiran membalas rangkulan Sid dengan melingkarkan tangannya di perut Sid. Dia menyandarkan kepalanya di dada Sid.
Sid, kau benar-benar membuatku terharu dan bahagia hari ini. Semoga seterusnya aku bisa merasakan kebahagiaan ini selamanya bersama denganmu.
"Kiran, ayo kita pulang. Hari sudah mulai malam." Sid melepaskan rangkulannya, yang di rangkul mendongakkan kepalanya. Terlihat, wajah Kiran menunjukkan bahwa ia tak ingin pergi dari tempat ini.
"Aku masih ingin disini." Kiran mengeratkan pelukannya.
"Hei, tadi kau yang buru-buru ingin pulang. Kenapa sekarang malah tidak ingin pulang lagi?" Menghela napas pendek. "Kiran, nanti calon suamimu marah, dan kau akan dipandang buruk olehnya!" Sid memperingatkan.
"Biarkan saja, mereka yang mengizinkanku. Maka mereka tidak bisa protes juga!" Ujar Kiran keras kepala.
"Kiran." Sid menatap Kiran tajam, tapi Kiran tidak bergeming sedikitpun. Malah menyosorkan kepalanya di dada Sid.
"Kiran, jangan keras kepala! Ayo pulang!" Akhirnya, dengan terpaksa Kiran melepaskan pelukannya dan memasang wajah kesal. Tanpa membuka mulutnya lagi, ia berjalan lebih dulu ke arah mobil.
Kau memang menggemaskan, tapi sayang aku tidak akan pernah bisa melihat wajah menggemaskanmu itu mulai minggu depan.
"Sid! Cepat, kau bilang sudah malam! Kenapa masih berdiri disana saja?!" Ketus Kiran yang sudah berdiri di pinggir mobil.
Sid segera berlari menuju mobilnya, dan membuka pintu mobil yang terkunci. Kiran masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian belakang.
"Kiran, kenapa kau duduk disana?"
"Memangnya tidak boleh ya?!" Ketus Kiran.
"Maju!" Perintah Sid. "Pindah ke depan!" Ucapnya lagi saat melihat Kiran tidak beranjak sedikitpun.
"Iya, iya baiklah!" Kiran segera berpindah ke depan. "Sudah kan?" Sid mengangguk, lalu menghidupkan mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Kiran.
Sesampainya di rumah Kiran, tanpa berkata-kata Kiran langsung turun dari mobil dan masuk ke rumahnya. Sid yang melihatnya seperti itu hanya bisa diam saja.
"Ya Tuhan, dia sudah seperti anak kecil yang tidak dibelikan es krim saja!" Sid terkekeh geli.
__ADS_1
"Siiiiiddddd!" Tiba-tiba Kiran berteriak dari balkon kamarnya.
Sid mendongakkan kepalanya, dan melambaikan tangannya pada Kiran.
"Aku pulang!" Teriak Sid.
"Hati-hati di jalan!" Balas Kiran. Sid mengangguk, lalu memasuki mobilnya dan melajukannya.
Setelah Sid dan mobilnya tak terlihat lagi, Kiran tersenyum mengingat moment hari ini, yang ia lalui bersama Sid dari pagi hingga sore.
"Indah sekali, aku tak menyangka si galak ini ternyata bisa romantis juga!" Gumamnya.
"Kakak!" Kiran hampir melompat dari balkon, karena terkejut.
"Mira! Kau membuatku terkejut!" Pekik Kiran.
"Maaf." Mira menyengir kuda.
"Kau tahu, aku hampir saja loncat dari balkon ini! Lain kali jangan membuat orang lain terkejut di tempat seperti ini!" Tanpa aba-aba, Kiran terus menceramahi manusia berlidah tajam di hadapannya.
"Maaf kak, aku kan sudah minta maaf!" Sinis Mira.
"Hei, kau yang salah kenapa kau juga yang berubah jadi sinis?!" Cibir Kiran. "Katakan, kau mau apa kesini?"
"Kak, kau dan Kak Sid tadi kemana saja?" Tanya Mira seperti detektive.
"Kau ingin tahu saja, ya? Itu urusan orang dewasa, kau tidak perlu tahu!" Ketus Kiran sambil mengacak-ngacak rambut Mira.
"Kakak, jangan bilang kau dan kak Sid tadi pergi ke hotel dan..."
"Diam!" Potong Kiran sambil meletakkan jari telunjuknya di mulut tajam adiknya itu. "Apa? Sid tidak sebobrok itu, Mira! Sekali lagi kau berpikir buruk tenyang kami, aku akan membawamu ke kota Bandung dan memasukkanmu ke dalam lubang buaya!" Ancam Kiran yang membuat adiknya langsung bergidik ngeri.
"Kak, kau ngeri sekali! Tega sekali ingin memasukkan adikmu sendiri ke dalam lubang buaya!" Mira meringis.
"Ya sudah, diam! Dan pergilah ke kamarmu!" Kiran menyeret paksa tubuh adiknya keluar dari kamarnya, karena ia yakin jika tidak menyeretnya, maka Mira tidak akan pernah berhenti berbicara.
Merepotkan sekali, mempunyai adik seperti dia! Lebih baik aku punya anak dengan Sid! Eh, apa yang kau pikirkan Kiran? Kenapa malah menjurus ke hal seperti itu?!
...Bersambung......
__ADS_1