Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Usia Kehamilan ke Delapan Bulan


__ADS_3

Menginjak usia kehamilan ke delapan bulan, Kiran sudah tidak diperbolehkan ikut berjualan oleh kakek Narja dan nenek Anjum.


"Nak Kiran, mulai sekarang kau lebih istirahat saja di rumah. Jangan ikut berjualan, agar kau tidak kelelahan." Ucap nenek Anjum sambil memberikan jamu kunyit yang dibuatnya untuk Kiran.


"Kenapa nek? Tapi aku pasti bosan di rumah." Jawab Kiran dengan nada agak sedih.


"Hei, lihat itu perutmu! Sudah seperti akan meletus saja!" Timpa kakek Narja.


Kiran mengelus perutnya, lalu tersenyum geli saat mendapat tendangan yang cukup keras.


"Lalu ibu berjualan dengan siapa?" Tanya Kiran sambil melirik ibu Rhea yang sedang membuat anyaman karpet dari daun kelapa.


"Nenek yang akan berjualan dengan ibumu."


"Baiklah, nek." Kiran lebih memilih patuh, karena ia merasa tidak sanggup lagi berjalan jauh akibat kakinya yang sudah membengkak.


Setelah kakek Narja dan nenek Anjum serta ibu Rhea pergi, kini tinggal Kiran yang sendirian di rumah. Dia sedang meneruskan anyaman karpet yang di buat oleh ibunya tadi.


Sejenak, ia berhenti dan mengelus-ngelus perutnya yang besar.


Sid, andai kau berada disisiku, mungkin kami tidak akan seperti ini. Mungkin, bayi ini tidak harus merasakan kehidupan seperti ini. Datanglah, tolong kami. Tolong aku, aku mungkin tidak bisa melahirkan bayi ini tanpamu.


Air matanya mulai kembali membanjiri pipinya, setiap malam ia tak pernah berhenti merindu pada laki-laki yang tidak ia ketahui seperti apa keadaanya. Bibirnya tak henti mengucap satu nama itu.


Harapannya terus dilantunkan menjadi doa, hanya satu harapan. Yaitu ingin dipertemukan dengan Siddharthnya.


Sid, datanglah. Tuhan, datangkanlah dia.


"Kiran, kenapa menangis?" Tanya seseorang dengan perut yang sama besarnya seperti perut Kiran.


"Ami? Sejak kapan berada disini?" Tanya Kiran terkejut.


"Baru saja, kenapa menangis? Jangan menangis! Lihat, aku membawakan pakaian bayi untukmu!" Ucap Ami sambil menyerahkan satu kresek pakaian bayi, beserta perlengkapannya.


"Tidak apa-apa, seperti biasa aku hanya merindukan ayahnya." Ucap Kiran sambil menghapus air matanya. "Wah, Ami terima kasih banyak ya? Maaf jika aku merepotkanmu, maaf sekali." Sambung Kiran tidak enak hati, karena Ami selalu membelikan pakaian bayi untuk bayinya jika ia pergi membeli pakaian bayi.


"Tidak apa-apa, Kiran. Tidak merepotkan, aku senang punya teman sepertimu." Ami tersenyum senang, karena sejak pertama kali Kiran datang ke desa itu ia jadi memiliki teman.


"Terima kasih banyak, Ami." Ami mengangguk, lalu duduk di sebelah Kiran.


"Sedang membuat apa? Sepertinya seru sekali."


"Ini, aku sedang membuat anyaman karpet dari daun kelapa." Jawab Kiran sambil menunjukan karpet hasil anyamannya.

__ADS_1


"Wah, aku akan membantumu!" Seru Ami antusias sambil mengambil beberapa daun kelapa lainnya dan langsung membuatnya.


Selama ada Ami disisinya, Kiran merasa tak sedih lagi. Mereka bercanda dan tertawa ria. Apalagi ketika membicarakan pengalaman ngidam yang aneh-aneh. Namun, disitu juga mereka menangis karena memiliki nasib yang sama.


Nasib mengalami momen-momen kehamilan tanpa didampingi suaminya. Bedanya, suaminya Ami yang pergi meninggalkan Ami tanpa alasan yang jelas, sedangkan Kiran terpisah dari Sid akibat ulah Maya.


...----------------...


Sid mulai kembali bersikap normal, namun tentunya ia tak senormal saat ada Kiran disisinya. Ia kembali menjelma menjadi sosok manusia berhati batu.


"Apa ini? Tidak bisa bekerja? Keluar dari kantorku sekarang!" Bentaknya pada salah satu karyawan yang memberikan laporan yang salah.


"Ma... Maaf, pak. Saya akan memperbaikinya!" Karyawan itu cepat-cepat mengambil berkas laporannya, dan meninggalkan ruangan Sid tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Hal itu membuat Sid mengingat Kiran.


Seperti itu, kan? Dia seperti itu dulu saat bekerja menjadi sekretarismu? Tidak punya sopan santun, bahkan pergi tanpa izin dari ruanganmu!


Hatinya sakit, merindukan wanita yang sangat ia cintai. Sudah beberapa bulan, tapi ia masih yakin bahwa wanita yang mampu mencairkan hatinya yang beku itu masih hidup dan sedang merindukannya juga.


Bunda, kali ini aku minta padamu, untuk bicara pada Tuhan agar mengembalikannya padaku. Aku sangat mencintainya, sangat!


Ia terduduk di atas kursi, dengan menyandarkan tubuhnya. Matanya terpejam, napasnya mulai teratur. Mungkin Sid tertidur.


"Bunda, ini bunda?" Wanita itu mengangguk.


Aisha, ya Aisha datang ke mimpi Sid. Wanita yang telah melahirkannya itu, akhirnya datang ke mimpinya. Setelah lebih dari dua puluh tahun ia pergi menghadap sang pencipta.


"Kenapa, anakku? Kenapa kau bersedih? Ada apa?" Tanyanya sambil merangkul kedua bahu putranya itu.


"Bunda, aku mencintainya." Lirih Sid sambil terisak dan memeluk ibunya.


"Bunda tahu, dia juga mencintaimu. Bersabarlah. Percayalah padaku, dia akan kembali. Seperti yang hatimu katakan, dia akan kembali padamu." Bunda Aisha memeluk Sid, lalu melepaskannya dan membawanya duduk di sebuah batu besar.


"Bunda, lalu dimana dia? Jika dia masih hidup, kenapa tidak memberiku kabar? Kenapa dia tidak kemari untuk menemuiku?" Tanya Sid menuntut. Namun, bunda Aisha tersenyum.


"Sid, bisa jadi dia membutuhkanmu saat ini. Bisa jadi, hidupnya disana sedang tidak baik-baik saja. Mungkin, dia ingin datang dan menemuimu, tapi kesulitan menimpanya. Carilah dia lebih dulu, temuilah dia lebih dulu." Ucap bunda Aisha sambil mengelus kepala putra sulungnya tersebut lembut.


"Tapi dimana, dan kemana aku harus mencarinya?" Bunda Aisha menggeleng.


"Untuk itu, aku tidak bisa memberitahumu."


"Tapi kenapa? Aku mohon, beri tahu aku!" Sid memegang tangan Aisha, dan menggenggam keduanya. Lalu meletakkannya di dadanya.

__ADS_1


"Sid, maaf bunda tidak bisa. Bunda harus pergi." Aisha melepaskan tangan Sid, lalu berjalan mundur.


"Bunda! Kau akan kemana? Tolong beri tahu aku!" Teriak Sid.


"Tidak bisa." Bunda Aisha terus berjalan mundur, hingga tangannya benar-benar lepas. Lalu ada sebuah cahaya terang di belakangnya, ia memasukinya.


Perlahan, cahaya itu semakin menyebar membuat mata Sid silau. Lalu setelah cahaya itu menghilang ia tak mendapati wanita yang telah melahirkannya itu di depannya.


"Bundaaaa....!!!!" Sid terbangun dari mimpinya, napasnya terengah-engah.


Dia meraba dadanya, jantungnya berdebar kencang.


Benarkah? Apakah mimpi itu memang benar? Kiranku memang masih hidup? Jika begitu, aku akan mencarinya sekarang juga!


Sid berdiri, lalu berjalan keluar. Ia menaiki lift untuk turun kebawah.


"Sid, kau mau kemana?" Tanya ayah Deva yang sedang berbicara dengan Rio.


"Aku akan pergi, jangan halangi aku!" Jawab Sid sambil terus berjalan keluar.


"Tunggu! Kau akan pergi kemana?" Tanya ayah Deva lagi dengan wajah bingungnya.


"Kemana? Tentu saja mencari istriku, aku masih yakin dia masih hidup, dia membutuhkan diriku!" Tegas Sid sambil kembali berjalan menuju mobilnya.


"Sid! Ini sudah tiga bulan, jangan bodoh!" Bentak ayah Deva.


"Lalu kenapa? Memangnya kenapa jika sudah tiga bulan?"


"Dia sudah tiada, jangan mencarinya lagi! Itu akan sia-sia!" Tegas ayah Deva.


"Tidak, bahkan istrimu saja memberitahuku lewat mimpi bahwa istriku masih hidup!" Jawab Sid sambil menunjuk ayahnya.


"Sid! Jangan kurang ajar, aku ayahmu!"


"Jika kau ayahku, kau akan mendukungku! Bukannya membuatku hilang keyakinan!" Bentak Sid.


"Setidaknya, persiapkan dulu segalanya!" Ayah Deva mulai mengalah, ia tidak tahu kenapa keyakinan Sid begitu besar percaya bahwa Kiran masih hidup.


"Baiklah." Sid ikut mengalah, ia tidak ingin kurang ajar lagi pada ayahnya. Walau bagaimanapun, Deva adalah ayahnya. Satu-satunya orang tuanya yang masih hidup.


"Sekarang kembalilah keruanganmu, dan bekerjalah! Nanti sore kita akan membahasnya!" Sid mengangguk, lalu kembali menuju ruangannya.


Huhu... Author ikut sedih ikut nangis ngetik bab-bab ini... Author ikut bingung juga, gimana nambah bab ini jadi makin nyesek 😁😂🤣 Bersambung... Jangan lupa like, coment dan Vote yaaaa!!! Hadiah juga boleh, bunga sama kopi!

__ADS_1


__ADS_2