Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Sikap Aneh Kiran


__ADS_3

Sid dan Kiran masih terlelap di atas tempat tidur, setelah olahraga panas mereka semalam, membuat keduanya enggan untuk terbangun. Bahkan alarm dibiarkan berdering begitu saja.


"Hmmm..." Sid berdehem, dengan mata masih tertutup dan tangan yang memeluk tubuh mungil Kiran. Bahkan, keduanya tidak memakai pakaian. Tubuhnya hanya ditutupi sehelai selimut. "Kiran, tolong matikan alarmnya. Berisik sekali, hanya mengganggu saja!"


"Emm... Kau saja, kepalaku pusing." Mendengar bahwa kepala Kiran pusing, Sid langsung terbangun.


"Pusing? Kau sakit?"


"Tidak tahu." Jawab Kiran sambil menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


"Kiran, aku bertanya serius padamu!" Sid menarik tubuh Kiran, dan menyandarkannya di dadanya. Tak peduli mereka sudah berpakaian atau belum.


"Sudahlah, aku hanya sedikit pusing saja! Pergilah, aku tidak suka bau tubuhmu!" Usir Kiran, yang membuat mata Sid membelalak.


"Kau ini kenapa? Bilang tidak suka, padahal semalam menempel pada tubuhku terus!"


"Sid, pergi! Jangan mengoceh, aku pusing!" Kiran kembali mengusir Sid.


Dengan hati yang dipenuhi tanda tanya, Sid pun beranjak dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Di dalam kamar mandi, ia terus memikirkan sikap aneh Kiran.


Aneh, memang aneh! Huh, dia kenapa? Kenapa seperti yang jijik padaku?


Sid meringis, sikap Kiran begitu aneh baginya. Bukan hanya aneh, tapi pasti sesuatu yang buruk baginya akan terjadi dan membuatnya tersiksa.


"Sid, kau sedang apa di kamar mandi? Kenapa lama sekali?!" Teriak Kiran dari luar.


"Iya sebentar!" Jawab Sid dengan hati yang sudah kesal.


Dia kenapa? Tadi mengusirku, sekarang berteriak-teriak dan memarahiku.


Tak lama, Sid keluar dari kamar mandi. Diluar Kiran sudah menyambutnya dengan wajah pucat.


"Kiran, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali?!"


"Minggir!" Ucap Kiran sambil mendorong Sid menjauh dari hadapannya.


"Hoeek...Hoeek..." Mendengar suara yang sedang muntah, Sid segera berlari memasuki kamar mandi.


"Ada apa? Kau sakit?" Kiran menggeleng, air mata sudah jatuh membasahi pipinya. Dia langsung mencuci wajahnya dengan air.


Setelah selesai, Kiran berbalik dan memeluk Sid. Tentunya, sambil menangis tersedu-sedu.


"Kiran, ada apa? Apa kau sakit?" Kiran menggeleng.


"Aku.... Hiks...Hiks..." Sid semakin panik. Dia tidak tahu harus bagaimana. Tangisan Kiran semakin keras.

__ADS_1


"Kiran, sayang... Ada apa? Coba katakan, jangan menangis!" Sid menghapus air mata Kiran, dan mengecup keningnya. Lalu membawanya merebahkan diri kembali di ranjang.


"Sid, aku mual. Kepalaku juga pusing, kau jangan kemana-mana, aku ingin bersamamu." Kiran melingkarkan tangannya di perut Sid, dan menyandarkan kepalanya di dada Sid.


"Kita ke dokter saja, bagaimana?" Kiran menggeleng.


"Aku tidak mau! Mungkin kau yang perlu ke dokter!" Balas Kiran dengan suara lemah.


"Memangnya aku kenapa? Sampai perlu ke dokter?"


"Ke dokter jiwa, di rumah sakit jiwa." Sid melepaskan pelukannya, lalu menjewer Kiran pelan.


"Aaahhh, sakit! Kau ini, lepaskan!" Sid melepaskan jewerannya, lalu mengelus telinga Kiran lembut.


"Maaf, lagipula disaat seperti ini kau masih saja bisa mengejekku!"


"Hmmm..." Jawab Kiran dengan deheman. "Sid, kau bilang kau pernah kecelakaan. Bagaimana bisa?"


Hei, kenapa dia menanyakan hal itu?


Kiran memandang Sid, menanti jawabannya.


"Dulu, aku tidak sengaja. Aku sedang bermain dengan teman-temanku, bermain bola. Tiba-tiba, bola itu menggelinding ke jalanan. Pada saat aku mengambilnya, ada mobil yang melintas dan menabrakku." Cerita Sid sambil mengelus-ngelus kepala Kiran, beberapa menit kemudian, Sid merasa bingung karena Kiran sudah tidak bergerak sama sekali.


"Kiran, kenapa diam? Apa kau tidur?" Kiran tak menjawab, hanya hembusan nafas yang teratur keluar dari hidungnya.


Kau memang sangat cantik, bukan hanya wajahmu. Hatimu juga sangat cantik, lebih cantik dari wajahmu.


Sid mengecup kening Kiran, lalu meninggalkan Kiran menuju ruang makan.


"Hei, dimana menantuku?" Tanya Deva pada saat melihat Sid turun tanpa Kiran.


"Dia sedang sedikit tidak sehat, jadi dia istirahat lagi di kamar." Jawab Sid sambil duduk di kursi dan memakan roti yang sudah disiapkan pelayan mansion.


"Sakit? Sakit apa? Apa sakitnya parah?" Lakshmi menimpali.


"Tidak tahu, dia bilang kepalanya pusing dan mual."


"Apa?" Ucap Deva dan Lakshmi bersamaan.


Keduanya saling memandang, sambil tersenyum.


"Apa dia hamil?" Sid yang sedang menyantap rotinya langsung tersedak, dan segera meminum air putih.


"Apa? Ha... Hamil? Mungkinkah begitu?"

__ADS_1


"Kak, dia muntah-muntah atau hanya mual saja?" Tanya Lakshmi.


"Dia tadi muntah juga, bahkan sebelum itu dia mengusirku dengan alasan tidak suka bau tubuhku." Sid mengingat-ingat pada saat tadi Kiran mengusirnya. "Mungkin dia mual karena masuk angin."


"Kak, dia bukan masuk angin. Tapi kemasukan timun." Sid memelototi Lakshmi, sedang Lakshmi terkekeh.


"Kau ini! Darimana kau mengetahui hal seperti itu?"


"Kak, dari bangku Sekolah Menengah Pertama bukankah kita sudah diajarkan tentang reproduksi?"


"Kau benar, tapi bukankah hanya fungsinya?" Sinis Sid dengan tatapan tajam pada Lakshmi.


"Sudah, sudah! Ini masih pagi, kalian akan berdebat di pagi hari? Sungguh berisik, ayah sudah tua! Butuh ketenangan. Jika kalian ribut terus, pergilah ke ring tinju! Atau adakan kampanye debat calon raja dan ratu mesum di Jakarta!" Lerai Deva.


Keduanya pun diam, sibuk dengan sarapan masing-masing. Tiba-tiba, dari arah pintu muncul seseorang yang membuat Sid, Lakshmi, dan Deva menoleh dan menatapnya penuh keterkejutan.


"Selamat pagi." Sapa suara khas itu sambil berjalan mendekati meja makan dan duduk di samping Sid.


"Kiran, kau? Apa yang kau lakukan? Dan apa ini?" Sid memperhatikan Kiran dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


Dengan rambut yang diubah menjadi bergelombang, wajah dengan make up sedikit tebal, serta pakaian dengan gaun yang panjang hingga lutut, penampilan Kiran saat ini membuat Sid sangat terkejut.


Astaga, apa yang terjadi? Kenapa penampilannya jadi mencolok begitu?


"Kenapa? Ada yang salah denganku?" Tanya Kiran sambil memeriksa penampilannya.


"Kak, kau mau kemana? Sudah seperti akan pergi ke pesta saja!" Timpal Lakshmi sambil meringis, pasalnya penampilan Kiran memang sangat berbeda dan mencolok.


"Aku? Tidak akan kemana-mana, hanya ingin merias diriku sedikit saja." Jawab Kiran dengan santainya.


"Tidak akan kemana-mana, kau bilang begitu apa kau yakin? Penampilan seperti ini, tidak mungkin bahwa kau tidak akan kemana-mana!" Emosi mulai merasuki Sid.


"Kau ini kenapa? Aku hanya merias diriku sedikit saja!" Jawab Kiran dengan nada suara yang meninggi.


"Tapi, kau berlebihan!" Sid berdiri, dan memandang Kiran tajam.


"Berlebihan bagaimana maksudmu, hah?! Aku tidak akan kemana-mana, lagipula aku hanya ingin mencoba semua ini saja!" Deva yang tidak enak memperhatikan pertengkaran akan keduanya segera berada di posisi diantara Sid dan Kiran.


"Hentikan! Sid, biarkan saja! Kiran, jangan seperti itu. Hentikan, kalian janga bertengkar." Lerai Deva.


"Ayah, bagaimana bisa aku menghentikan ini? Kiran istriku, bagaimana dia bisa berpenampilan semencolok ini? Aku takut, ada laki-laki lain yang melihatnya!" Jawab Sid tidak terima.


"Terserah, Sid! Kau memang tidak bisa, jika melihatku bahagia sedikit saja!" Kiran berbalik, dan segera berlari menuju kamarnya. Sid mengikutinya, namun pada saat akan masuk, Kiran menutup pintu kamar dengan membantingnya sangat keras.


Ada apa ini? Kenapa sikapnya semakin aneh saja?!

__ADS_1


Bersambung... Jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like dan vote juga!!


__ADS_2