
Setelah aksi bercinta mereka selesai, Kiran tertidur pulas di kamar pribadi ruangan kantor Sid yang hanya di ketahui oleh Sid dan ayahnya. Sid yang juga ikut tertidur bangun lebih dulu, karena dia harus bekerja.
"Hmm... Kau mau kemana?" Tanya Kiran setengah sadar dari tidurnya.
"Aku harus bekerja, sebentar lagi ada rapat penting." Jawab Sid sambil berjalan memasuki kamar mandi. Sementara Kiran kembali tertidur pulas, akibat kelelahan setelah olahraga panasnya dengan Sid.
Sid membersihkan dirinya, setelah selesai ia langsung memakai pakaiannya yang memang sudah tersedia di lemari ruang rahasia itu.
"Kiran, jangan kemana-mana! Tetap di ruangan ini, sebelum aku menyuruhmu keluar!"
"Hmm..." Kiran hanya berdeham.
Dengan senyuman puas, Sid keluar dari kamar itu.
Di luar ruangan Sid sudah ada Rio yang mengetuk-ngetuk pintunya sedari tadi.
"Masuk!" Perintah Sid dengan nada suara datar.
"Pak, hari ini ada rapat dengan World Music. Bu Maya meminta agar anda datang tiga puluh menit sebelum rapat dimulai."
"Baiklah, tapi kenapa harus tiga puluh menit sebelum rapat?" Tanya Sid dengan wajah bingung.
"Tidak tahu, pak. Bu Maya bilang ada hal yang sangat penting menyangkut pribadi." Sid menghela napas kasar pada saat Rio mengucapkan 'menyangkut pribadi'.
Maya, kau tidak pernah berubah! Selalu saja menggangguku!
"Ada lagi jadwal untuk hari ini?" Tanya Sid sambil memperhatikan jam dinding.
"Tidak ada pak, hanya ada pertemuan dengan bu Maya hari ini." Jawab Rio sambil menggeleng.
"Pukul berapa pertemuannya?"
"Pukul dua belas siang." Jawab Rio sambil melihat agendanya.
"Baiklah, artinya aku sudah harus berada disana pukul sebelas lebih tiga puluh, benarkan?" Rio mengangguk cepat. "Kau boleh pergi, jangan lupa ingatkan aku untuk bertemu dengan Maya!" Rio mengangguk cepat, lalu berpamitan dan keluar dari ruangan Sid.
Tapi, saat hendak melangkahkan kaki keluar Rio merasa mencium wangi yang sangat menyengat dihidungnya, bahkan seketika bulu kuduknya ikut berdiri.
"Ada apa, Rio? Kenapa berhenti?"
"Pak, anda mencium wangi seperti..." Rio melihat-lihat sekeliling, mencoba mencari sumber wangi yang tercium olehnya. "Bunga melati?!" Seru Rio saat matanya mendapati ada bunga melati di meja kerja Sid.
Sid yang sedari tadi lupa bahwa ada bunga melati di ruangannya kembali merinding.
"Hmm... Istriku yang membelinya, aku tidak tahu kenapa dan bagaimana bisa dia memilih bunga melati dari sekian banyak bunga di toko, bahkan sedari perjalanan menuju kantor dia menyanyi dengan suara yang menyeramkan." Ungkap Sid sedikit mengeluarkan pikirannya tentang Kiran.
Rio sedikit terkejut mendengarkan cerita Sid, dia mulai membayangkan hal mistis dengan apa yang diceritakan Sid.
"Pak, maaf."
__ADS_1
"Ya." Sid menatap Rio dengan tatapan bingung. "Maaf untuk apa?"
"Apa mungkin Kiran eh, maksudku bu Kiran kerasukan?" Sid membelalak, mendengar yang di katakan Rio.
Benarkah Kiran kerasukan? Ah, tidak mungkin! Ini kan zaman modern!
Sid menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba tidak percaya dengan apa yang di katakan Rio.
"Rio! Kau pikir ini zaman dukun? Tahun berapa ini? Kau masih saja percaya hal seperti itu?!"
"Tapi, pak. Dari semua tanda itu sudah seperti orang kerasukan!" Rio kembali mencoba meyakinkan Sid.
"Lalu, jika dia benar-benar kerasukan apa yang harus aku lakukan? Dan bagaimana dengan bayiku, maksudku calon bayiku?! Apa berbahaya?" Pendirian Sid mulai goyah.
"Pak, sepertinya anda harus memanggil orang pintar. Tidak, tapi jika kita membiarkannya akan berbahaya juga untuk calon bayi anda." Rio kembali meyakinkan Sid.
"Bicara apa kalian? Kenapa harus memanggil orang pintar?" Tiba-tiba Kiran sudah muncul di antara keduanya.
"Eh, em... Bu Kiran, anda dari mana? Itu pak Sid akan memanggil orang pintar untuk... Aw!" Rio meringis, ketika Sid mencubit lengannya dengan sangat keras.
"Sid, kau akan memanggil orang pintar? Tapi untuk siapa?" Kiran berpaling dengan tatapan menyelidik pada Sid.
"Tidak, sayang. Kau mungkin salah dengar!" Bantah Sid.
Kiran hanya ber-oh saja, sambil mangut-mangut.
"Rio, apa kabar Aira? Kapan-kapan kau bawa dia ke mansion utama, aku sangat merindukannya."
"Sudah, cepatlah pergi! Dan jangan lupa ingatkan aku untuk dua hal itu! Pertemuan dengan Maya, kau harus ingat!" Rio mengangguk, lalu segera keluar dari ruangan Sid.
Kini hanya ada Kiran dan Sid berdua di ruangan itu. Kiran sudah menatap Sid dengan tatapan kesal.
"Siapa Maya? Aku ingin ikut denganmu bertemu dengannya!" Tegas Kiran dengan wajah galaknya.
"Maya itu CEO dari perusahaan world music." Jawab Sid sambil memfokuskan matanya pada laptopnya.
"Bohong!"
"Kiran, aku tidak berbohong. Kenapa kau kira aku berbohong?"
"Lalu apa ini?" Kiran menunjukan ponsel Sid yang sudah terdapat pesan dari kontak bernama Maya.
*Sid, aku ingin bertemu denganmu!
Ini sangat penting!
Siddharth*!
Tiga pesan, itu cukup membuat Sid berdebar-debar ketakutan karena Kiran membacanya. Dia memang lupa, tidak membawa ponselnya tadi.
__ADS_1
Apa yang harus aku katakan tentang Maya padanya? Dia pasti akan sangat marah, apalagi dalam keadannya seperti ini yang menjadi sensitif dalam setiap hal.
"Sid! Kenapa kau diam? Apa dia wanita barumu? Jadi kau tidak mencintaku, begitu? Kau mengkhianatiku?" Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Kiran.
"Tidak, Kiran! Bukan begitu dia adalah..." Sid merasa ragu untuk mengucapkannya, sementara Kiran sudah nampak kecewa.
"Siapa? Dia adalah apa? Simpananmu, begitu? Atau aku yang menjadi simpananmu?" Kiran semakin menatap Sid dengan wajah kecewa.
"Tidak, kenapa kau berfikir seperti itu? Hanya kau satu-satunya istriku, wanita yang aku cintai setelah ibuku!" Sid tak terima Kiran menuduhnya memiliki simpanan.
"Lalu siapa dia? Kenapa sepertinya kau dan dia sangat dekat?" Kiran kembali bertanya dengan nada suara yang mulai meninggi dan air mata yang sudah turun bebas dari matanya.
"Kiran, ini bukan waktu yang tepat. Kau akan tahu nanti setelah pertemuan ini."
"Jika bisa sekarang, kenapa harus nanti? Jangan-jangan memang benar, aku adalah simpananmu!" Sinis Kiran.
"Jika kau simpananku, maka aku tidak akan mengenalkanmu pada publik bahwa kau istriku!" Emosi Sid mulai terpancing.
"Lalu jika begitu Maya itu adalah simpananmu, begitu?" Lirih Kiran dengan isakan.
"Kiran, percayalah padaku! Tidak ada simpanan! Kau satu-satunya wanita yang aku cintai saat ini!"
"Kau bohong! Aku tahu, aku bukan wanita yang kau inginkan, iya kan?"
"Kirana!!!" Bentak Sid yang membuat Kiran langsung menangis dengan isakan yang sangat keras.
"Lihat, bahkan kau membentakku!" Tunjuk Kiran sambil melangkah keluar dari ruangan Sid. Tentunya Sid tidak berdiam diri, dia segera mengikuti Kiran. Takut Kiran akan pergi darinya.
"Kiran, Kiran! Tunggu, maafkan aku! Aku tidak sengaja!" Sid meraih tangan Kiran dan menariknya hingga masuk kepelukannya.
"Pembohong, keterlaluan!" Teriak Kiran sambil memukul-mukul dada Sid.
Itu terjadi di hadapan sebagian karyawan Sid, yang tentunya langsung menjadi tontonan para karyawan tersebut.
"Wah, lihat itu! Pak Sid ternyata bisa lemah juga jika di hadapan orang yang dia cintai!" Karyawan itu berbisik-bisik, terutama karyawan wanita yang sudah pernah menjadi korban kegalakan Sid.
"Kenapa kalian? Kembali bekerja!" Semprot Sid pada saat sadar sedang menjadi tontonan karyawannya sendiri.
Kiran masih menangis di pelukan Sid, lalu pada saat Kiran melepaskan pelukannya, ia merasa matanya berkunang-kunang. Kepalanya berputar.
Bruk...
Kiran kembali jatuh kepelukan Sid.
"Kiran!" Sid sudah panik, melihat Kiran tak sadarkan diri. Matanya tertuju pada kaki Kiran yang sudah terdapat darah.
"Tidak! Bertahanlah, kita akan kerumah sakit!" Sid menggendong Kiran dan berlari keluar kantor menuju mobilnya yang terparkir agak jauh.
"Kiran! Kau pasti kuat, bertahanlah! Demi calon bayi kita!"
__ADS_1
Bersambung...
Yuk, like, coment, dan vote! Author udah maksain nih buat up masa kalian tega gk ngasih like, coment dan votenya sih!!!