
Dokter Ema kembali keluar dari ruangan, kali ini disertai senyuman di wajah tenangnya.
"Dokter Ema, bagaimana keadaan Kiran?"
"Tenang saja, keadaannya mulai membaik. Kiran dan calon bayimu baik-baik saja, tapi bukan berarti dia boleh beraktivitas seperti biasa. Kiran masih tetap harus istirahat, dia tidak boleh turun dari ranjang." Jelas dokter Ema.
"Baik, terima kasih dokter Ema."
"Tidak masalah, jangan lupa jaga emosinya. Jangan biarkan dia kesal ataupun sedih, itu dapat memicu keguguran pada kandungannya." Sid mengangguk kuat, mulai saat ini ia tidak akan lalai dalam menjaga Kiran.
"Apa aku boleh menemuinya?"
"Ya. Setelah Kiran dipindahkan ke ruang perawatan tentunya."
Setelah Kiran di pindahkan ke ruang perawatan, Sid cepat-cepat menemuinya. Ia ingin meminta maaf atas sikapnya tadi pada saat di kantor, tentunya tentang Maya juga.
"Kiran." Lirih Sid, namun Kiran memalingkan wajahnya menghadap jendela.
"Kirana, istriku." Panggil Sid lagi. Namun Kiran tetap berpaling wajah darinya.
Sid berjalan memutari bed, agar bisa melihat wajah Kiran.
"Sayang, maaf." Sid meraih tangan Kiran dan menggenggamnya serta mengecupnya. "Bukan maksudku seperti itu, aku akan menceritakannya. Tapi bukan sekarang."
Kiran menghempaskan tangan Sid, lalu berbalik ke lain arah agar tak melihat Sid.
"Ceraikan aku." Ucap Kiran pelan, yang langsung membuat Sid seperti disambar petir.
"Apa?! Kau sudah gila, ya?!" Sahut Sid terkejut.
"Kau pikir aku tidak tahu? Maya itu simpananmu, iya kan?" Sinis Kiran.
"Bagaimana bisa kau berfikir begitu? Kami itu sahabat, tapi dulu." Sid mengikuti kemana arah wajah Kiran memandang. "Sebelum dia memiliki perasaan terhadapku, dan memaksakan dirinya padaku." Lanjut Sid yang membuat Kiran tampak kecewa.
"Sudah ku duga, seharusnya kita tidak bersama." Ujar Kiran yang membuat Sid tambah terkejut.
"Apa maksudmu? Apa kau tidak memikirkan perasaanku?!" Bentak Sid sambil meraih kedua bahu Kiran dan menatapnya dalam-dalam.
"Kau saja tidak memikirkan perasaanku!" Balas Kiran dengan bentakan yang lebih keras.
"Aahh..." Kiran meringis memegangi perutnya.
"Kenapa?" Wajah Sid berubah jadi panik, dia seharusnya tidak terpancing kata-kata Kiran yang membuatnya emosi.
"Sakit!" Ringis Kiran.
"Aku akan memanggil dokter, tunggu disini!" Sid melangkah, memanggil dokter Ema.
Tak lama ia kembali dengan dokter Ema.
"Kiran, apa rasanya sakit sekali?" Tanya dokter Ema setelah melihat Kiran seperti sangat kesakitan.
__ADS_1
Kiran mengangguk sambil memegangi perutnya. Dokter Ema membuka selimut Kiran, dan terkejut mendapati darah yang sudah memenuhi sprei bed rumah sakit itu.
"Ya Tuhan, kita harus segera melakukan tindakan!" Seru dokter Ema dengan wajah panik.
"Apa? Apa yang terjadi, dokter Ema?" Sid ikut panik.
"Pendarahannya kembali terjadi! Sid keluarlah, aku akan memeriksanya lebih dulu!"
Sid segera keluar dari ruangan, diluar ia sudah sangat takut akan kehilangan calon bayi dan istrinya juga.
"Sid, apa yang terjadi?" Tanya seseorag dari arah belakang, Sid langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat dan berbalik.
Tatapan matanya sudah sangat tajam, bahkan tatapan membunuh bukan hanya tajam.
"Untuk apa kau kesini?" Tanya Sid dengan nada suara tinggi. "Kau ingin menghancurkan rumah tanggaku? Pergi! Aku tidak akan pernah menganggapmu lagi!" Ketus Sid sambil menunjuk wajah wanita di hadapannya.
"Hei, Sid! Kenapa kau marah-marah? Tenanglah, kita bicarakan dengan baik." Ucap Maya. Ya, yang datang adalah Maya.
"Maya, Maya! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi! Sudah cukup kau membawa masalah dalam hidupku!" Sinis Sid.
"Apa?"
"Kau selalu membawa masalah dalam hidupku, pergi!" Usir Sid.
"Sid, kau akan merasakan akibat dari tindakanmu ini!" Ancam Maya.
"Aku tidak takut, kau hanya bisa mengancam dan merusak semua hal! Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan semua ancamanmu menjadi nyata!" Suara lantang Sid membuat semua orang menoleh padanya.
"Pak, tolong usir wanita ini dari sini!" Sid memanggil satpam rumah sakit yang kebetulan sedang berkeliling.
"Kau yang akan menyesal, kau adalah pembawa masalah dalam hidupku!" Balas Sid dengan penuh kemarahan.
Setelah Maya pergi, Sid kembali duduk di kursi tunggu. Menunggu dokter Ema selesai di periksa.
"Sid, jangan terlalu memarahinya dan menekannya." Ucap dokter Ema yang baru saja keluar dari ruangan Kiran.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Janin yang dikandungnya semakin melemah, untuk saat ini biarkan dia istirahat. Jangan menemuinya!" Sid mengangguk, berat baginya tidak bertemu Kiran.
Dalam keadaan seperti ini, ia hanya bisa pasrah. Hatinya sangat ingin berada disisi Kiran, membelainya, dan mencium keningnya.
Dengan terpaksa, dia duduk di kursi yang sejak tadi didudukinya.
Ini terlalu berat, aku tidak tega melihat Kiran menderita seperti itu.
Air matanya turun, rasa bersalah sudah timbul di hatinya. Isakan mulai terdengar. Pria yang sejak tadi memperhatikannya mendekatinya dan memeluknya.
"Ayah." Ayah Deva mengangguk, dan mengeratkan pelukannya pada putra tersayangnya itu.
"Bersabarlah, semua akan baik-baik saja. Tuhan tidak akan menguji seseorang diluar batas kemampuannya. Kau pria yang kuat, juga seorang suami yang kuat." Ayah Deva mengelus punggung Sid penuh kasih sayang.
__ADS_1
Selama ini kau sudah terlalu banyak menderita, aku tidak akan dia lagi melihat putraku sendiri menjadi sasaran kejahatan keluarga itu! Aku akan segera mengakhiri semua ini!
"Ayah, aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengakhiri semua penderitaan yang Kiran rasakan saat ini." Lirih Sid.
Untuk saat ini, baginya hanya ada Deva, ayahnya yang bisa mengerti apa yang sedang ia alami.
"Semua ini akan segera berakhir, tapi kau harus bersabar sebentar dan hadapi dulu semua ini." Ayah Deva melepaskan pelukannya, lalu menghela napas sebentar. "Ayo, antar aku menemui menantuku."
"Ayah, dokter Ema bilang dia tidak boleh ditemui dulu untuk hari ini. Dia harus istirahat."
"Tidak, kita hanya akan melihatnya. Jangan membangunkannya." Ayah Deva merangkul Sid, dan membawanya memasuki ruangan Kiran.
Terlihat Kiran sedang terlelap, mungkin karena pengaruh obat yang diberikan dokter.
Ayah Deva mendekati Kiran, dan duduk di sampingnya.
"Kirana, menantuku. Tolong maafkan putra ayahmu ini, dia tak pernah bermaksud menyakitimu apalagi membohongimu." Gumam ayah Deva yang masih bisa didengar oleh Sid.
Tak ada jawaban, napas Kiran pun berhembus teratur. Menandakan bahwa ia benar-benar tidur.
Sid melangkahkan kakinya, berdiri di samping bed Kiran. Ia meraih tangan mungil itu dan menggenggamnya di tangannya yang besar.
Tiba-tiba Kiran membuka matanya, dan terbangun. Pada saat ia akan duduk Sid langsung menahannya. Begitu juga dengan ayah Deva.
"Tidak, kau tidak boleh bangun. Beristirahatlah." Ucap Sid lembut.
Hatinya mulai kembali damai, ketika Kiran mengangguk yang tandanya merespon Sid kembali.
"Aku ingin bersandar." Ucap Kiran lemah.
Sid mengangguk, dan membantunya bersandar ke kepala bed. Tak lupa, ia letakkan bantal di punggung Kiran agar Kiran merasa nyaman.
Sid berbalik, dan berniat pergi dari hadapan Kiran. Namun Kiran menahan tangan Sid.
"Mau kemana?" Tanya Kiran sambil tersenyum.
"Keluar, disini ada ayah. Aku tahu, kau tidak ingin melihat wajahku. Tidak apa, jangan berpura-pura dihadapan ayah." Jawab Deva sambil tersenyum tulus.
"Tidak, aku ingin bersamamu." Ujar Kiran sambil mengeratkan genggamanya pada tangan Sid.
Tadi dia marah, sekarang dia berubah lagi. Aku jadi bingung dan serba salah!
Sid mendekati Kiran, dia tak ingin berbicara ataupun bertanya lagi. Saat ini dia akan menuruti kemauan Kiran, meskipun mungkin akan membuatnya terkadang jengkel.
Kiran menarik Sid lebih dekat padanya,lalu memeluknya dengan sangat erat. Tak peduli bahwa ayah mertuanya juga ada disampingnya.
"Hmm..." Ayah Deva berdeham. "Ayah keluar sebentar, Lakshmi sepertinya kesini juga menyusul."
Dengan gelagapan, Sid mengangguk malu. Sementara Kiran dengan tidak tahu malunya terus memeluk Sid.
"Kiran, maaf, aku akan menjelaskan tentang Maya."
__ADS_1
"Tidak, itu tidak perlu. Aku percaya padamu."
Bersambung...