
"Apa?!" Ucap Sid dan Kiran bersamaan, Sid melirik Kiran. Hatinya sangat bahagia, akhirnya istrinya mengandung untuk yang kedua kalinya.
"Kiran hamil lagi, umur kandungannya sudah empat minggu."
"Kau tidak berbohong, kan?" Dokter Ema mengangguk.
"Selamat, ya! Untuk lebihnya kau bawa saja Kiran ke rumah sakit besok, agar aku bisa memeriksanya lebih lanjut lagi."
"Baik, tapi dengan mual dan pusingku bagaimana? Dan apa hubungannya dengan kehamilan Kiran?"
"Beberapa pasangan mengalami hal seperti itu, dimana istrinya yang hamil tapi suaminya yang mengalami morning sickness. Coba kau baca diinternet, aku tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut karena aku harus segera kembali ke rumah sakit."
"Baiklah, terima kasih banyak."
Setelah mengantar dokter Ema keluar, Sid kembali ke kamarnya dengan wajah sumringah. Senyuman terus terbit di bibirnya, ia sudah melupakan rasa mual dan pusing yang dialaminya tadi.
"Sid, kau kenapa tersenyum-senyum sendiri terus dari tadi?" Kiran mengerutkan dahinya.
"Aku bahagia, aku akan punya anak lagi." Sambil memeluk Kiran erat.
"Iya, iya. Aku tahu itu, tapi jangan seperti itu atau orang-orang bisa menganggapmu gila!" Peringat Kiran.
"Aaa... Iya-iya, aku tahu. Kau juga pasti tahu kan, bahwa ini sangat membuatku bahagia. Aku harap kau juga sangat bahagia sama seperti bahagianya diriku."
"Tentu saja, aku seorang ibu dan aku sangat bahagia bisa melahirkan anak-anakmu. Kau tahu, moment teri dah seorang ibu adalah ketika dia bisa merasakan tendangan malaikat kecil di perutnya dan pada saat mendengar suara tangisan bayi pada saat melahirkan." Sid duduk di samping Kiran, ia sangat tertarik mengenai cerita bagaimana rasanya hamil dan melahirkan.
"Bagaimana rasanya melahirkan?" Tanya Sid tiba-tiba dengan wajah penasarannya.
"Sakit, sangat sakit. Tapi rasa sakit itu akan hilang saat kita mendengar suara tangisan bayi."
"Seorang ibu itu sangat mulia, ya? Dia berjuang antara hidup dan mati, mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan manusia kembali. Tapi aku bingung, bagaimana bisa banyak laki-laki yang suka menyakiti hati perempuan dan menyakiti tubuhnya? Andai, jika laki-laki tahu rasa sakit melahirkan mungkin mereka tidak akan mau menyakiti seorang perempuan." Sid berandai-andai.
"Kau benar, karena itulah mereka menyakiti perempuan. Karena tidak bisa merasakan sakitnya melahirkan, tapi kita juga tidak bisa menyalahkan laki-laki sepenuhnya. Semua juga bisa tergantung pada diri sendiri."
"Begitu, ya?" Kiran mengangguk, lalu Sid menidurkan kepalanya di pangkuan Kiran. Kiran menyambutnya sepenuh hati, lalu mengusap-usap kepala Sid lembut.
Author juga mau usap-usap kepala, tapi ayah Deva nya malah pergi bawa Kal jalan-jalan 😂
"Ya, makanya jika aku memiliki anak perempuan aku tidak akan membiarkannya menikah dengan sembarang laki-laki." Sid menahan tangan Kiran yang mengusap kepalanya, lalu menciumnya sekilas.
"Kau benar, aku tidak akan biarkan dia memilih pendamping hidup yang salah. Dia harus bersama laki-laki yang bisa menyayangi, menjaga, dan menghormatinya seperti pada ibunya sendiri." Lalu mengecup lagi tangan Kiran.
"Hmm... Suamiku sudah semakin bijak saja, ya? Semoga putra dan putrimu sebijak dirimu nanti."
"Iya, tentu saja." Jawab Sid sambil terkekeh.
...----------------...
Diluar ruangan pemeriksaan, Ami berjalan kesana-kemari menunggu dokter yang memeriksa Rafa selesai dan keluar ruangannya.
Sementara didalam, Rafa sudah sadar dan sedang berbicara dengan dokter yang sedang menanganinya.
"Apa anda sudah tahu penyakit anda?" Rafa mengangguk lemah. "Lalu kenapa tidak menjalani terapi? Ini sangat berbahaya, jika tidak melakukan terapi." Rafa menunduk.
Tidak, aku tidak akan melakukan pengobatan dan terapi apapun. Aku tidak ingin membuat Ami mengalami kesusahan lagi.
__ADS_1
"Dokter, tolong jangan beritahukan ini pada keluargaku." Rafa memegang tangan dokter itu, dan memelas padanya.
"Tapi kenapa? Pak, lebih baik beritahukan ini. Agar kau bisa memulihkan keadaanmu. Anda menderita Leukimia." Rafa mengangguk, ia pasrah tapi khawatir juga dan sedih.
Ini hukuman untukku, atas semua perbuatanku pada Ami.
"Dokter, aku mohon jangan beritahukan pada siapapun tentang ini." Rafa kembali memelas.
Dokter menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi apa kau akan melakukan terapi?" Rafa menggeleng.
"Biarkan seperti ini saja dok, aku tidak ingin menyusahkan keluargaku." Sambil tersenyum getir.
"Baiklah, semoga lekas sembuh. Besok pagi kau boleh pulang, dengan syarat kau harus meminum obat-obatan yang ku berikan tepat waktu." Rafa mengangguk cepat.
Ami yang berdiri di ambang pintu karena merasa khawatir hanya bisa terdiam, mengetahui fakta besar tentang Rafa.
Apa? Dia sakit parah? Kenapa Rafa merahasiakan ini dariku, kenapa?
Ami membalikkan tubuhnya, mengurungkan niatnya untuk menemui Rafa. Hatinya sakit, bukan karena Rafa yang membohonginya. Tapi karena ternyata suaminya sakit parah dan ia tak mengetahui itu.
Kenapa kau melakukan ini, Rafa? Apa kau tidak percaya padaku?
"Keluarganya pak Rafa?" Dokter menepuk bahu Ami, sehingga Ami terkejut.
"Ya, dokter. Bagaimana suamiku?"
"Dia hanya kelelahan." Bohong dokter itu, karena ia sudah setuju dengan Rafa agar tak memberi tahu Ami perihal penyakitnya.
"Dokter, aku ingin bicara denganmu."
Sampai di ruangan dokter tersebut, Ami menatap dokter yang menangani Rafa tajam-tajam.
"Lakukan terapi padanya, tapi aku mohon supaya dokter tidak memberitahunya." Tatapan tajam itu kini berubah menjadi sendu.
"Apa?!" Dokter itu terkejut, ternyata Ami sudah mengetahui segalanya.
"Dokter tidak perlu berbohong padaku, aku sudah mendengarnya tadi." Ujar Ami membuat dokter itu menunduk.
"Tapi suami anda menolak terapi."
"Bujuk dia dokter, aku akan melakukan apapun untuk kesembuhannya." Pinta Ami.
"Baiklah, aku akan berusaha membujuknya untuk melakukan terapi." Dengan suara ragu.
...----------------...
Jika biasanya seorang istri yang merengek pada saat mengidam, kali ini berbeda dengan pasangan Sid dan Kiran. Yang sering merengek adalah Sid, ingin dibuatkan ini dan itu. Malam ini Sid merengek ingin pergi ke rumah sakit untuk melakukan USG. Sid ingin melihat bayinya dengan cepat.
"Sid, ini sudah malam! Rumah sakit mungkin sudah menutup poli kandungan di jam selarut ini." Kiran berusaha membujuk Sid agar melakukan USG esok hari saja.
"Tidak, Kiran! Jika poli kandungan sudah ditutup aku akan meruntuhkan rumah sakit itu saja!" Ancam Sid.
Kiran terbelalak, antara terkejut dan kesal.
Gila! Ngidamnya laki-laki ternyata merepotkan juga, ya? Kenapa tidak aku saja yang mengidam? Kenapa harus dia?
__ADS_1
"Ayo cepat, aku tidak sabar lagi untuk melihat anakku di kandunganmu!" Sambil menarik tangan Kiran, membawanya keluar rumah. Beruntung baby Kal tidur di kamar bersama kakeknya sejak hari berganti malam tadi.
"Sid, apa kau sudah tidak waras?! Ini sudah malam sekali!"
"Tidak apa-apa, aku akan menelepon dokter Ema nanti!" Sambil menyengir kuda.
Ya Tuhan, suamiku memang suami yang terbatas di dunia ini! Dia tak terbantahkan.
Sid kembali menarik tangan Kiran, kini mereka sudah berada di dalam mobil. Dengan perlahan, mobil itu melaju. Membelah jalanan malam menuju rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman Sid.
Di dalam mobil Kiran hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya yang jadi aneh tersebut.
"Sampai kapan dia akan mengidam? Merepotkan saja, lebih baik aku yang mengidam agar bisa merepotkannya terus." Gerutu Kiran.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak! Aku hanya mengantuk saja." Ketus Kiran.
"Sabar, jangan tidur! Sebentar lagi kita akan segera sampai di rumah sakit." Sid tersenyum girang.
Akhirya keduanya sampai di rumah sakit, Sid turun lebih dulu. Lalu berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk Kiran.
Keduanya masuk kedalam area rumah sakit, dokter Ema tampak sudah menunggu dengan wajah lelah di depan ruangannya.
"Kau sudah lama menunggu?" Dokter Ema mengangguk.
"Maaf, dokter. Tolong maafkan dia." Ucap Kiran setengah berbisik, tidak enak karena sudah membuat dokter Ema kembali ke rumah sakit gara-gara Sid di jam istirahatnya.
"Tidak apa-apa, Kiran." Dokter Ema tersenyum ramah pada Kiran sambil mengangguk.
"Ayo, dokter! Lakukan sekarang USG nya aku tidak sabar ingin segera melihat anakku di dalam perut Kiran!" Seru Sid dengan wajah berbinarnya.
"Ayo, ikuti aku menuju ruangan USG." Kiran dan Sid mengikuti dokter Ema ke ruangan USG.
USG langsung dilakukan tanpa berlama-lama, dokter Ema mengoleskan gel di perut Kiran dan langsung menempelkan alat.
Di layar sudah muncul dua biji kecambah, membuat Sid mengerutkan dahinya.
"Wow!" Seru dokter Ema sambil tersenyum.
"Ada apa?"
"Dua buah Embrio!" Sid semakin bingung.
"Apa maksudmu?"
"Selamat, istrimu mengandung bayi kembar!" Sid membelalak, lalu tersenyum bahagia.
"Kau serius, kan?" dokter Ema mengangguk cepat.
"Lihatlah, itu ada dua buah kantung yang akan menjadi bayimu." Sambil menunjuk layar yang menampilkan dua biji kecambah.
"Kiran, lihat! Kita akan punya bayi kembar!" Seru Sid dengan wajah bahagianya.
Kiran agak terkejut, namun dia juga sangat senang.
__ADS_1
Bersambung...