Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Bersatu Lawan Musuh!


__ADS_3

**Sebelum ceritanya di lanjutkan, ada sedikit hal yang mau author sampaikan.


Sebelumnya terima kasih, buat yang sudah setia membaca karya author ini dari awal sampai akhir. Bukan author enggak mau bikin bab yang banyak sampai lebih dari 200 bab misalnya, author takut nantinya jalan cerita malah muter-muter jadi gak tentu arah dan gak nyambung di baca. Jadi, author lebih suka cerita yang singkat gak lebih dari 150 bab. Insya Allah kalo udah tamat author kasih bonus bab.


Thor, setelah tamat cerita ini mau bikin novel baru gak? Iya, author bakal bikin cerita tentang Siran Kallandra Adeva Rafandi dengan judul baru dan alur baru.


Sekian ya, mohon maaf bila selama ini author suka up lama, karena author juga punya kesibukan sendiri di dunia nyata.


Selamat membaca...! Jangan lupa selalu like, coment, dan vote. Kasih hadiah juga boleh**.


...----------------...


"Siapa kalian?!" Tanya ayah Deva sambil mengeluarkan pistol dari saku jasnya dan mengacungkannya ke arah gerombolan itu.


"Hahahahaha...! Mereka anak buahku!" Paman Dendi tertawa jahat.


"Kak, kau sudah keterlaluan!" Bentak ibu Rhea pada paman Dendi.


Plak...


Paman Dendi menampar ibu Rhea, hingga jatuh tersungkur ke lantai dan ujung bibirnya mengeluarkam darah.


"Rhea!" Ibu Aisha menghampiri ibu Rhea, dan membawanya menjauh dari paman Dendi.


"Berani sekali kau Dendi Adiwijaya! Dia adalah adikmu, apa kau tidak ingat itu?!" Ucap ibu Aisha setengah berteriak.


"Demi cintaku, aku akan menghabisi siapapun yang menghalangiku! Termasuk adik ataupun keluargaku sendiri!" Balas Dendi sinis.


"Aku tidak bodoh, aku tidak akan masuk kedalam neraka sepertimu!" Kali ini ibu Aisha menjawab dengan nada sinis. "Cukup Deva yang aku cintai, dia selalu mencintaiku dengan sepenuh hati! Tidak pernah memperlakukan wanita sesuka hati seperti dirimu! Jangankan kau menghormati dan menyayangiku, adikmu sendiri kau berani memukulnya!" Bentak ibu Aisha.


"Itu semua karena dirimu, Aisha! Jika kau tidak meninggalkanku demi laki-laki itu aku tidak akan berbuat senekat ini!" Sambil menunjuk ayah Deva.


"Kau yang keterlaluan, Dendi Adiwijaya! Dia mencintaiku, tapi kau terus memaksanya untuk bersamamu!" Ayah Deva mendekati ibu Aisha, dan merangkulnya erat. "Aku tidak akan pernah melepaskan Aisha untukmu, aku akan selalu melindunginya dan mencintainya!"


Paman Dendi tertawa sinis, lalu memberi isyarat pada anak buahnya entah isyarat apa.


Dor...


Pistol ditembakan ke atas, Sid bersama Kiran tiba-tiba mendekati ayah Deva dengan membawa pistol di kedua tangannya yang disiapkan Sid untuk berjaga-jaga.


"Ibu dan ibu Aisha, berdiri di belakang kami! Buatlah lingkaran dengan saling membelakangi!" Ibu Rhea dan ibu Aisha segera melakukan instruksi yang diberikan Kiran.


"Paman Reihan, lindungi Kal di rumah kakek dan nenek!" Paman Reihan segera pergi. "Paman Ridan, kau mengerti pastinya dengan keadaan ini?!" Paman Ridan mengangguk mengerti.


Tanpa berbicara sepatah katapun, Ridan menepukan tangannya tiga kali lalu munculah gerombolan yang lebih banyak daripada gerombolan paman Dendi.


Paman Dendi dan para anak huahnya menganga melihat gerombolan itu. Lalu tersenyum sinis.


"Lebih baik kumpulkan anak buahmu itu untuk kontes event saja daripada untuk bertarung! Jika kau nekat, maka mereka akan habis dalam waktu satu jam."


"Diam kau! Jika anak buahmu butuh waktu satu jam untuk menghabisi anak buahku, maka itu hanya mimpi! Mereka adalah orang-orang terpilih yang bisa menghabisi anak buahmu dalam waktu satu kedipan mata!" Balas ayah Deva dengan nada sengit.


"Jangan banyak bicara, banyaklah membuat bukti!" Timpal Kiran. "Selama ini aku bodoh menganggapmu baik, tapi hari ini aku melihat sisi burukmu itu! Bahkan aku tidak percaya pada ibu saat mengatakan bahwa kau yang telah melenyapkan ayahku karena itu tidak mungkin!" Kiran terisak.

__ADS_1


"Setelah kau menghabisi ayah, ibu, dan juga Andra mungkin kau masih bisa tersenyum! Tapi hari ini aku akan membuatmu kehilangan senyumanmu sekaligus nyawamu!" Teriak Rhea.


Paman Ridan mengeluarkan pistol dalam jumlah banyak, lalu memberkannya pada ibu Rhea, ibu Aisha, dan juga bi Asih.


Mereka memposisikan diri bersiap untuk menghadapi musuh dan menghindari serangannya.


"Kami satu, dan kami akan melawan seluruh musuh kami hingga tetes darah penghabisan!" Ucap Sid penuh keberanian.


"Lawan saja aku, jangan banyak bicara!" Sinis paman Dendi.


"Serang!" Perintah ayah Deva pada anak buahnya. Tak perlu menunggu waktu lama, anak buah ayah Deva segera menyerang anak buah paman Dendi.


Paman Dendi merasa sedikit kewalahan, karena ternyata memang benar anak buah ayah Deva sangat kuat. Anak buahnya sudah hampir tiada semua dalam waktu kurang dari setengah jam.


"Ayo, paman! Hadapi kami? Kenapa kau diam sekarang? Apa kau takut?" Kiran menantang paman Dendi.


Dor...


Entah siapa yang membebaskan Asri, tiba-tiba ia menembakan pistolnya ke arah yang terdapat ibu Rhea dan Ridan.


"Kiran." Ucap ibu Rhea sambil memegangi dadanya. Tiba-tiba tangannya terlepas dari dadanya, darah mengucur begitu deras.


"Ibu!" Teriak Kiran sambil berlari menghampiri ibu Rhea yang sudah akan ambruk di lantai.


Namun, tiba-tiba Asri mengarahkan pistolnya pada Kiran. Sid yang melihatnya langsung berlari menghampiri Kiran.


"Kiran awas!" Teriak Sid sambil menarik tubuh Kiran ke pelukannya.


Dor...


"Sid!" Seru Kiran.


Kiran mengangkat pistolnya, lalu mengarahkannya pada Asri untuk membalas tembakannya pada ibu Rhea dan Sid.


"Terima ini Asri!" Teriak Kiran sambil berjalan maju menghampiri Asri.


Asri tak ingin menyerah juga, ia juga menodongkan senjatanya ke arah Kiran.


"Ayo, tembaklah! Aku akan menembakmu juga. Kita akan sama-sama mati, dengan cara yang saja juga!" Sinis Asri.


Dor...


Asri menjatuhkan pistolnya, sementara Kiran kebingungan karena ia belum menembakan pistolnya kepada Asri.


Asri tergeletak di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Barulah Kiran bisa mengetahui siapa yang telah menembak Asri.


"Ibu!"


"Bunda!" Ya, ibu Aisha yang telah menembak Asri dari belakang.


"Cepat, bawa Rhea dan Sid ke rumah sakit!" Kiran mengangguk, dengan bantuan Ridan ia membawa Rhea dan Sis ke rumah sakit terdekat.


Tentunya bukan hal yang mudah pergi ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini. Berkali-kali mereka dihalangi oleh anak buah paman Dendi yang sangat kuat bagi Kiran dan Sid.

__ADS_1


Sementara Sid tidak berkutik karena tangan kanannya yang tertembak.


"Kalian tidak akan bisa pergi dari sini!" Ucap anak buah paman Dendi sambil menodongkan senjatanya ke arah Kiran.


"Pergi! Bawa Sid dan ibu ke rumah sakit, paman!"


"Tidak! Kiran kau sedang dalam keadaan seperti itu, aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian!" Dengan sisa kekuatannya Sid berucap.


"Paman Ridan, cepat!" Sid tetap bersama Kiran, sementara paman Ridan membawa ibu Rhea yang sudah tak sadarkan diri ke rumah sakit.


"Lihat ini Siddharth!" Sahut paman Dendi dari belakang.


Tampak Mira dan Lakshmi sudah jadi sanderaannya.


"Mira, Lakhsmi!"


"Kakak, tolong kami!" Isak Mira.


Ayah Deva dan ibu Aisha ikut menoleh.


"Lakshmi itu...?"


"Dia adalah putri kita! Yang dibuang dan dihabisi oleh keluarga Yessi adalah bayi yang sudah tiada milih orang lain!" Ayah Deva memotong kata-kata ibu Aisha.


"Lepaskan mereka!" Bentak Sid.


"Tidak semudah itu!" Sinis paman Dendi..


Darah terus mengucur dari tangan Sid, Kiran merobek bajunya sedikit dan mengikatkannya ke bagian tangan Sid yang terluka.


"Ayo, kita hadapi dia sekarang!" Sid mengangguk.


"Lepaskan, atau riwayatmu akan tamat!" Ancam Sid.


"Cobalah, coba kau langkahi mayatku jika bisa!" Sinis paman Dendi lagi sambil menyuruh anak buahnya mendekat untuk memegang Lakshmi dan Mira.


"Ibu, ayah, tolong!" Lakshmi sudah sangat ketakutan dan terisak ketika pistol ditodongkan ke kepalanya.


Mira hanya diam, tidak mampu berucap. Namun diam-diam ia berani, kakinya diangkatnya dan ditendangkan ke bagian utama laki-laki anak buah pamannya hingga kesakitan.


Lakshmi mengikuti cara Mira, sehingga keduanya terlepas dari sanderaan oaman Dendi.


"Ambil ini Lakshmi, Mira!" Ayah Deva melemparkan dua buah pistol yang langsung ditangkap oleh Lakshmi dan Mira.


"Ayo paman, hadapi kami!" Mira mulai mengeluarkan keberaniannya.


"Rhea!" Teriak paman Dendi. Karena lengah, lantas semua menoleh ke arah lain. Paman Dendi tidak diam saja, ia menggunakan kesempatan ini untuk melawan salah satu diantara sekeluarga itu.


Dor...


Pistol ditembakan, semua kembali terfokus pada yang lainnya. Saling melirik, hingga salah satunya menjatuhkan pistol dan tergeletak di lantai.


"Tidaaaakk!!!" Teriak Sid sambil meraih tubuh orang itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2