
Sidang pertama cukup membuat Sanya merasa satu langkah lebih unggul di depan, tentu juga itu membuat peluangnya semakin besar.
Rencana yang sudah puluhan tahun ia pendam atas saran orang tuanya, akhirnya hari ini akan berhasil ia menangkan.
Aku akan menikmati itu, perusahaan terbesar di dunia aku akan memilikinya.
Sejak tadi hatinya berbunga-bunga, bukan hanya akan jadi istri Sid akan tetapi ia juga akan membuat dirinya kaya raya.
"Ayah, ibu! Aku akan mendapatkan apa yang kalian inginkan sejak dulu! Posisi milik ayah, kini akan kembali!" Berbicara dengan telepon, tentu saja dengan nada suara yang begitu senang.
Di belakang seseorang mendengarkannya secara diam-diam, tak lupa merekam dengan layar ponselnya.
"Semua ini adalah bukti, aku harus mendapatkan bukti yang lebih besar tepat pada waktunya!" Gumam perekam itu sambil menyudahi rekamannya dan keluar dari rumah.
Di ruang lain, pria yang sudah menginjak usia tua terlihat termenung dengan mata yang berair. Di tangannya tergenggam foto yang sepertinya foto orang yang dia tangisi.
"Sudahlah, aku akan terus berusaha. Ayah jangan bersedih!" Sid mengingatkan sambil berlutut di depan ayahnya.
Tampaknya pria tua itu tetap bersedih, meski Sid meyakinkan dengan sekuat tenaga.
Tiga orang anak remaja memeluk pria tua itu, mencoba menghilangkan sedikit kesedihannya walau mereka tahu bahwa tidak mudah.
Sid meraih ponselnya, menelepon seseorang dengan raut wajah serius.
"Datanglah sebentar, tolong temani ayah aku harus pergi!"
...****************...
__ADS_1
(Kalo ceritanya makin ngawur, please jangan dibaca lagi! Tinggalkan saja jangan meninggalkan komentar pedas juga. Sebenarnya kalo enggak sakit mungkin aku up tiap hari, tapi minggu kemarin terpaksa aku cuti segala-galanya karena sakit dan harus mengkarantina diri di rumah karena gejalanya mirip covid-19 tapi Alhamdulillah hari ini sudah mulai membaik dan sudah dinyatakan negatif dari virus bar-bar itu 😁)
...****************...
Satu jam berlalu, akhirnya orang yang Sid telepon datang dan langsung masuk ke rumah. Kiran.
"Kau mau pergi kemana dalam keadaan ayah seperti itu?" Tanya Kiran tak tega Sid akan pergi meninggalkan ayah Deva yang terlihat tidak sehat.
Sid tidak menjawab, ia hanya menggeleng dan langsung pergi begitu saja. Kiran sedikit kesal, namun sadar ia sudah tak berhak kesal pada Sid.
"Setidaknya, katakan jangan sampai kau menyesal!" Teriak Kiran mampu membuat langkah Sid berhenti.
Sid menoleh, kemudian menatap Kiran dengan tatapan gelisah.
"Jika aku tidak pergi, justru aku akan menyesal!" Tegasnya sambil melanjutkan langkahnya.
Aku harus bagaimana? Semua karena Sanya, dia telah membuat ketenangan di rumah ini jadi hancur!
Kiran duduk diatas sofa ruang tamu. Ia memejamkan matanya, bukan untuk tidur melainkan untuk memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Dua minggu, aku harus membuatnya jera dalam waktu dua minggu.
Di sela-sela pemikiran itu, tiba-tiba terlintas rasa penyesalan.
"Bercerai itu salah, seharusnya aku tidak membiarkan dia menang!"
Kiran kembali memejamkan matanya, tiba-tiba ia mendapatkan sebuah rencana.
__ADS_1
Apa dengan aku dan Sid rujuk bisa menghadapinya? Ah tidak! Aku harus menggunakan waktu dua minggu itu untuk melakukan hal-hal yang bisa membuatnya tidak nyaman!
Senyumnya mengembang setelah mendapatkan rencana, kemudian Kiran mengambil ponselnya dan menelepon Sid. Menyuruhnya pulang, hanya untuk rencana itu. Biarlah urusan ibu yang menghilang dicari anak buah mereka.
"Ada apa?"
"Ini tidak ada kaitannya dengan hubungan kita, tapi mungkin kita bisa menghilangkan akar dari masalah itu dengan cara ini." Jelas Kiran yang masih tidak dimengerti oleh Sid.
"Jika kita pura-pura tidak bermasalah lagi apa dia akan pergi?" Sambung Kiran yang membuat Sid berpikir keras.
Sid duduk, kemudian memikirkan kata-kata Kiran.
"Bisa saja, tapi apa yang ingin kau lakukan?"
Kiran membisikan sesuatu ke telinga Sid, yang membuat Sid hanya mengangguk.
"Mulai dari kapan?"
Ketika Kiran akan kembali berbicara, seseorang tiba-tiba duduk di hadapan keduanya membuat Kiran kesal bukan main.
"Kiran kapan datang?" Sanya lagi, ia duduk di samping Sid menyandarkan kepalanya pada bahu Sid.
Kiran mengepalkan tangannya, hatinya seperti merasa terbakar membuat Sid menunduk.
"Aku ke kamar dulu!"
Braak...
__ADS_1
Bersambung...