Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-27


__ADS_3

Sebelum mulai cerita, aku mau kasih jangan lupa mampir di novel baru author judulnya "Istri Simpanan Sang Mafia Kejam" Tap love/favorit, like, coment juga yaa...


...****************...


"Memangnya ada apa, bu?" Perawat itu memberanikan diri bertanya pada Kiran.


Kiran menatapnya dengan tatapan tenang. Membuat perawat itu ikut tenang dalam tatapan Kiran.


"Tidak ada apa-apa, hanya masalah bisa."


Jelas-jelas dia terkena masalah besar! Menduga-duga, Kiran memang terkena masalah besar.


"Bu, anda sangat membuat saya nyaman. Pasti, siapapun yang berada di dekat anda akan merasa sangat nyaman." Kiran menunduk malu.


"Baik, bu kalau begitu aku tinggal dulu. Jika ada apa-apa kau bisa memanggilku!" Diangguki Kiran, lalu segera pergi meninggalkannya. Sid juga masih berada di luar, kini ia sedang duduk termenung diatas kursi tunggu.


Tak berani masuk, ia sadar diri bahwa Kiran sudah sangat membencinya. Akan tetapi setelah menyerahkan harta kekayaannya Sid sudah merasa tenang.


Di dalam, Kiran merasa dirinya ingin ke kamar mandi. Sedang bayi Arsya masih dalam gendongannya. Di sela-sela kebingungan itu Kiran sudah memanggil perawat tadi namun tak kunjunh datang.


Sid yang mendengarnya ragu untuk masuk, namun mendengar teriakan itu Sid akhirnya masuk.


"Ada apa?"


Kiran tak menjawab, ia berusaha turun dari atas ranjang hingga hampir terjatuh.


"Hati-hati, setidaknya bicaralah! Suaramu masih ada, kan? Jangan sampai mencelakakan anak kita!" Sid mengingatkan, Kiran mengangguk kemudian menyerahkan bayi itu pada Sid.


Sid mengambilnya, sambil mengikuti Kiran yang akan masuk kedalam kamar mandi.


Maaf, setidaknya aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Tapi kenyataannya aku bersalah!


Disaat itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Sid akhirnya meletakan bayi Arsya kedalam box bayi dan mengangkat teleponnya.


Matanya membelalak saat mendengar ucapan si penelepon.


Saat Kiran keluar dari kamar mandi, ia langsung menghampirinya.


"Aku pergi dulu, bunda hilang!" Kiran mengangguk cepat, ia bingung harus melakukan apa.

__ADS_1


...****************...


"Tadi bukankah nenek kalian pulang bersama kalian?" Bertanya pada cucunya satu persatu.


Ketiganya mengangguk, lalu menjelaskan kejadian hilangnya sang nenek yang secara tiba-tiba.


Flashback


Ibu Aisha sedang berada di dalam mobil,ketika tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang tertinggal di rumah sakit.


"Pak, hentikan mobilnya!" Perintahnya pada supir pribadinya.


Mobil berhenti, menyisakan tanda tanya pada ketiga cucunya.


"Kalian pulang, nenek akan pulang dengan taksi! Sepertinya ada yang tertinggal di rumah sakit!" Sambil membuka pintu mobil dan turun.


Tak lama, datang seseorang yang membawa ibu Aisha ke sebuah tempat.


Flashback off


"Apa?!" Ayah Deva mengelus dadanya, merasa terkejut.


Sid datang tepat waktu, ia langsung membantu ayah Deva yang terlihat sangat sedih.


"Aku akan mencarinya segera!" Ayah Deva mengangguk, kemudian memberitahu Sid lokasi terakhir.


Sid dengan cepat segera pergi untuk mencarinya.


...****************...


Satu minggu berlalu, ibu Aisha masih belum bisa ditemukan. Hal itu membuat seluruh anggota keluarga merasa khawatir.


Yang lebih membuat keadaan semakin mengkhawatirkan, Sid dan Kiran akan memulai proses perceraian mereka. Lebih tepatnya, hari ini keduanya akan menghadiri sidang mereka.


Keduanya sudah berada di ruang sidang, Kiran sudah duduk diatas kursi bersama pengacara.


Sid yang duduk disampingnya menepuk bahu Kiran pelan.


"Bisa kita bicara sebentar?" Sambil memohon. Kiran mengangguk, lalu ikut Sid keluar.

__ADS_1


Di luar udara tampak dingin, seperti akan hujan Sid duduk disebuah bangku yang berada di bawah pohon dengan Kiran yang berada di sampingnya.


"Semua sudah atas nama kalian." Menyerahkan sebuah map. Kiran meliriknya, lalu meraih map itu.


"Itu milik kalian, aku tidak punya apa-apa lagi." Berdiri, lalu berjongkok di hadapan Kiran.


"Terimalah, beri aku satu permintaan untuk terakhir kalinya. Aku ingin kita bersama satu malam saja." Meraih jari jemari Kiran dan menggenggamnya lalu memohon lagi dan bertekuk lutut.


Kiran menatap langit, lalu menunduk memandang suaminya yang sebentar lagi tidak akan menjadi suaminya lagi.


Ia mengangguk, membuat pria di hadapannya itu tersenyum bahagia sambil berdiri dan memeluknya.


Kecupan ia berikan berkali-kali di kening istrinya itu, kecupan penuh kasih sayang.


"Terima kasih."


"Semua sudah menunggu kita!" Menepis tangan Sid, lalu meninggalkannya masuk kedalam ruang sidang.


Di dalam ruang sidang, hakim sudah memulai sidangnya.


Hingga akhirnya, keputusan hakim akan menunda sidang dan melakukan sidang ke dua.


Palu di ketuk, Kiran keluar dari ruang sidang terlebih dahulu.


Tenang, Kiran! Keputusannya beberapa minggu lagi dan kau akan bebas dari pengkhianat itu!


"Kiran." Sebuah suara memanggil, bukan Sid.


Kiran meliriknya, matanya langsung menatap tajam.


"Jangan lakukan ini, tolong maafkan Sid." Sanya.


"Maafkan? Kau sudah merusak kebahagiaanku dengan membuat masa lalunya terbongkar. Kau juga berusaha mendapatkannya, bukan? Ambilah! Oh iya, dia akan menikahimu setelah kami resmi bercerai. Selamat, kau mendapat bekasku!" Menepis tangan Sanya dan meninggalkannya disana.


Sanya tersenyum bahagia setelah Kiran pergi, ia memasang senyum penuh kemenangan.


"Kau disini? Urus surat-surat pernikahan kita!" Perintah Sid. "Tapi... Jangan bahagia dulu, kau tidak akan mendapatkan apapun yang kau inginkan!"


Sid berjalan menjauh, membuat Sanya merasa geram seketika.

__ADS_1


Lihat saja, kau akan hancur!


bersambung...


__ADS_2