Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-1 (Season 2)


__ADS_3

Sudah lima belas tahun Sid dan Kiran menikah, tepat pada hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya.


"Selamat ya, kalian sudah lama menikah semoga tetap bahagia dan damai!" Ibu Aisha memeluk Kiran dan Sid.


Sid dan Kiran membalas pelukan ibu Aisha. Setelah melepaskan pelukannya, ibu Aisha memberikan sebuah kotak kado berukuran persegi panjang kecil pada Sid.


"Apa ini? Bunda menyiapkan kado?" Ibu Aisha mengangguk, lalu meraih tangan Sid dan meletakan kotak kado itu ditangannya.


"Buka dan berikan pada istrimu nanti!" Ucapnya sambil menunjuk Kiran dengan dagunya.


Kiran hanya menatap ibu Aisha dengan wajah bingung. Sedangkan Sid lebih memilih menuruti perkataan ibu Aisha.


"Sekarang sudah malam, Kal dan kedua adiknya sudah tidur kan?" Sid mengangguk. "Kalian istirahat juga, bunda dan ayah juga akan istirahat!" Ucap ibu Aisha sambil berlalu menuju kamarnya diikuti ayah Deva yang dari tadi duduk di sofa setelah acara pesta ulang tahun pernikahan Sid dan Kiran selesai.


"Sekarang aku juga ingin tidur, tubuhku sangat lelah rasanya." Ucap Kiran.


"Aku juga, tapi sebelum tidur lebih baik kita buka kado dari bunda terlebih dahulu!"


"Kau benar, aku penasaran dengan isinya. Apa kira-kira yang ibu berikan untuk kita?"


Sid dan Kiran memasuki kamar, kemudian membuka beberapa kado pemberian anggota keluarganya. Yang mereka buka terlebih dahulu adalah kado dari ibu Aisha, karena Sid dan Kiran merasa begitu penasaran dengan isi kado tersebut.


Saat membukanya Kiran tersenyum penuh haru, isi dari kado tersebut adalah kalung warisan.


"Ini, kalung warisan keluarga!" Seru Sid sambil mengambil kalungnya dan memasangkannya pada Kiran.


Kiran tersenyum penuh haru lagi, saat mendapat perlakuan romantis dari suaminya tersebut.


"Jangan begitu, kita sudah lama menikah!" Goda Sid disertai senyuman jenakanya.


Kiran memukul lengan Sid pelan, lalu mencubitnya.


"Hmm.. Sudah selesai, permaisuriku! Lihat ke cermin kau tambah cantik saja semakin hari!" Godanya lagi membuat Kiran tambah merasa malu.


Tapi dengan bodohnya, Kiran malah melangkah menuju cermin dan melihat bagaimana penampilannya yang sedang menggunakan pakaian tidur tersebut.


"Kau ini mengejekku atau memujiku? Penampilanku berantakan seperti ini tapi malah mengatakan aku cantik!" Ketus Kiran dengan wajah curiganya.


Sid yang merasa dituduh berbohong mulai cemberut.


"Aku memperlakukanmu romantis salah, bahkan tidak sama sekali salah! Sudahlah, kau menyebalkan!" Rutuk Sid sambil berlalu ke balkon dan duduk diatas kursi kayu yang memang sudah ada disana.


Kiran tertawa renyah melihat kelakuan suaminya, ia merasa semakin hari Sid semakin seperti anak kecil yang merengek minta jajan lalu marah jika tidak dituruti.


"Hei, kenapa kau seperti anak kecil saja?" Teriak Kiran.


Sid yang berada di balkon menertawakan dirinya sendiri, karena ia sendiri merasa belakangan ini seperti anak kecil.

__ADS_1


"Tertawa sendiri? Gila?" Ujar Kiran sambil menepuk bahu suaminya pelan.


Sid mendelik tajam pada Kiran, namun Kiran seperti tidak ada takut-takutnya pada Sid. Ia malah tertawa semakin keras dengan delikan suaminya itu.


"Kau ini, kenapa sekarang tidak ada takut-takutnya padaku? Dulu kau selalu menangis jika aku marah!"


"Wohohoho, dulu itu kau sangat galak! Sekarang masih galak, karena aku sudah mengenalmu jadi aku tidak akan takut lagi padamu!" Ujar Kiran diiringi tawa lagi.


"Kenapa?"


Kiran menggeleng, kemudian mengedikan kedua bahunya sambil berlalu menuju kamarnya lagi.


Sid mengikuti Kiran, memasuki kamarnya dan merebahkan diri disamping Kiran. Hingga pukul sebelas malam Sid masih belum bisa memejamkan matanya. Hanya satu yang jadi pikirannya saat ini, ia merasa ada yang janggal dengan dirinya sendiri.


Seperti akan ada yang terjadi dalam rumah tangganya.


Tidak! Jangan lagi! Jangan uji rumah tanggaku lagi dengan masalah-masalah yang rumit, sudah cukup dulu penderitaan yang besar menimpa kami!


Tangannya terulur, meraih kening istrinya dan mengusapnya pelan. Kiran sedikit membuka matanya dan meraih tangan Sid.


"Tidur, jangan begadang nanti kau sakit!" Ucapnya dengan nada serak.


Sid mengangguk dan menggeser posisi tidurnya lalu memeluk Kiran. Sebelum memejamkan mata ia melirik Kiran lagi dalam pelukannya.


Lalu Sid mengecup keningnya dan perlahan napasnya mulai teratur hingga akhirnya tertidur pulas.


Pagi yang cerah, kedua insan yang masih tertidur pulas itu dibangunkan oleh suara telepon dari ponselnya yang berbunyi nyaring.


"Siapa pagi-pagi yang sudah menelepon?" Tanya Sid.


"Hmm... Tidak tahu, kau angkat saja!" Perintah Kiran karena dia enggan bangun.


Sid menghela napas panjang sebelum meraih ponselnya. Namun ia menghela napas lagi saat melihat bukan ponselnya yang berbunyi karena ponsel Sid mati. Justru, ponsel milik istrinya yang berbunyi nyaring tersebut.


"Ponselmu! Bukan ponselku, ini angkat teleponnya!" Perintah Sid sambil meraih ponsel Kiran dan menyerahkannya pada Kiran.


"Sama saja, kenapa tidak kau saja yang mengangkatnya? Hmm?!"


Sid menghela napas kasar lagi, iapun mengangkat telepon di ponsel istrinya.


"Hallo?" Sahutnya. "Baiklah, akan aku sampaikan pada istriku."


"Siapa?"


"Temanmu, dia mengundangmu untuk reuni alumni kampus." Kiran hanya meng-ohkan saja perkataan Sid.


"Jadi kau akan datang atau tidak?"

__ADS_1


"Aku akan datang, tapi kau harus menemaniku!" Sid kembali menghela napas kasar.


"Kenapa? Tidak mau? Ya sudah, aku akan pergi sendiri!" Ketus Kiran.


Sid menyengir kuda, ia tahu bahwa Kiran ingin ditemani olehnya.


"Jika tidak sibuk aku akan menemanimu, acaranya besok malam." Kiran menoleh sambil tersenyum senang.


"Kau harus datang, jika tidak jangan harap bisa memasuki kamar!" Ancam Kiran.


Sid mengangguk saja, kemudian memasuki kamar mandi dengan berbagai gumaman yang tidak jelas.


"Lihat saja, tidak masalah jika tidak boleh masuk ke kamar! Aku akan tidur di apartemen atau dikamar anak-anakku!"


"Jangan harap!" Teriak Kiran. "Aku mendengarmu, telingaku masih bisa mendengar dengan jelas! Lain kali jika mengumpat seseorang pilihlah tempat yang benar!"


Sid menutupkan kedua tangannya ke telinganya, lucu memang, tapi Sid tidak punya mentak untuk mendengar omelan istrinya lagi.


"Dia suka mengomel, tapi kenapa aku malah seperti menjadikan omelannya sebagai hiburan? Bukankah itu aneh?" Rutuk Sid sambil memulai ritual mandi paginya.


...*********...


"Ayah, apa jika wanita sudah tua memang seperti itu?" Sid memulai pembicaraan disaat sedang sarapan bersama dengan berbisik pada ayah Deva.


Ayah Deva mengerutkan kening tak mengerti.


"Bagaimana?" Tanyanya dengan bisikan sambil matanya menoleh kesana kemari memperhatikan dua wanita yakni istri dan menantunya.


"Mengomel tanpa henti, apalagi jika kita berbuat salah?!" Ayah Deva mengangguk, kemudian mulai berbisik lagi.


"Iya, contohnya ibumu! Dia bahkan selalu mengomeli ayah setiap pagi!"


"DEVA DAN SID!!! BICARA APA KALIAN? CEPAT MAKAN!!! JANGAN BERBISIK-BISIK, APALAGI MEMBICARAKANKU!!!" Teriak ibu Aisha dengan lantangnya membuat Kal dan si kembar menutup telinganya dengan tangan mereka.


"Nani! Berisik!" Ucap Kal dengan wajah kesal.


"Iya, iya, maaf! Sudah, kalian makan jangan berbisik-bisik!"


Ayah Deva melirik Sid, sebaliknya Sid juga melirik ayah Deva dengan tatapan meringis ketakutan.


"Seperti itulah singa betina yang sedang mengaum!" Ketus ayah Deva.


"DIAM!!!"


Bersambung...


Ngakak pas ngetik, lucu gak? lucu gak? enggak lah!!! 😥😥😥

__ADS_1


__ADS_2