Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Sandiwara Kematian Bi Asih


__ADS_3

Sebuah pisau tertancap di punggung bi Asih, darah sudah mengucur keluar membuat baju berwarna kuning yang dipakai bi Asih dipenuhi darah.


"No... nona, Kiranaaa..." Mata bi Asih terpejam, napasnya berhenti.


Asri yang masih berada disana tersenyum puas. Sementara Kiran yang sudah terbangun dan melihat segalanya dibalik tembok hanya memegang dadanya.


Aku harus berpura-pura tidak melihat kejadian ini, atau dia juga akan menghabisi aku!


Kiran mengatur napasnya, agar terlihat tenang dan tidak membuat Asri curiga.


Tuhan, bantu aku! Semoga dia tidak curiga bahwa aku melihat segalanya.


Kiran melangkah, pura-pura mengucek-ngucek matanya seperti orang mengantuk.


"Bi, Asri! Kalian dimana? Tolong ambilkan aku air!" Teriak Kiran memerintah.


Asri sangat panik dan terkejut, lalu memutuskan untuk berpura-pura pingsan disamping jasad bi Asih yang bersimbah darah.


Kiran yang melihatnya mulai bersandiwara, meski hatinya sedih dan sakit tapi kali ini ia akan kuat dan menghadapi segala bahaya dengan penuh keberanian.


"Hah?! Bibi, Asri!" Seru Kiran sambil menghampiri jasad bi Asih.


"Asri, bangun! Paman Reihan!" Teriak Kiran sambil mengguncang tubuh Asri dengan kasar agar terbangun.


Reihan sudah datang sambil berlari, ketika mendengar teriakan Kiran.


"Nona, ada apa?" Reihan membelalakan matanya, saat Kiran menunjuk bi Asih yang sudah tergeletak tanpa nyawa lagi. "Apa yang terjadi?" Kiran menggeleng.


"Aku tidak tahu, pada saat aku keluar mereka sudah dalam keadaan seperti ini." Jawab Kiran. Kiran memberi kode pada Reihan agar segera melakukan sesuatu pada Asri, Reihan mengangguk mengerti dengan kode yang diberikan Kiran.


"Asri, bangun!" Reihan membangunkan Asri. Asri pura-pura terkejut saat sudah bangun.


"Apa yang terjadi?! Apa ada seseorang yang masuk ke sini?" Asri memegang tengkuk kepalanya, pura-pura kesakitan.


"Nona!" Asri memulai aktingnya di hadapan Kiran.


"Apa yang terjadi pada kalian?!" Kiran bertanya lagi.


"Ta... Tadi, ada se...se...seseorang yang masuk ke sini, lalu mencoba memasuki ruangan kerja tuan muda, bi Asih dan aku menghalanginya dan dia menusuk bi Asih. Setelah itu pergi dari sini." Jawab Asri tergagap.


Reihan menatap Asri sinis, dari penjelasan Asri ia sudah mengerti bahwa Asri sedang bersandiwara.


"Nona, sekarang lebih baik kita bawa bi Asih ke rumah sakit!" Kiran mengangguk, tanpa mempedulikan Asri lagi mereka segera berangkat membawa bi Asih ke rumah sakit.


Di dalam mobil, bi Asih membuka matanya. Kiran dan Reihan tersenyum pada bi Asih.


"Nona, bagaimana?" Tanya bi Asih. Kiran mengangguk.


"Bagus, kita berhasil mengecohnya. Sekarang, kita akan memulai sandiwara kematian bi Asih." Bi Asih dan Reihan mengangguki ucapan Kiran.


Flashback on.


Kiran membawa bi Asih masuk kedalam ruang kerja Sid, setelah bi Asih mengatakan ada bayangan di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Nona, ada apa?"


"Pelankan suaramu, bi." Bi Asih mengangguk.


"Iya, ada apa nona? Kenapa mengajaku kesini?" Bi Asih bertanya lagi.


"Asri, kita harus berhati-hati padanya! Bi, yang tadi berada di depan pintu adalah Asri, sudah beberapa kali hari ini aku memergokinya menguping pembicaraan kita." Bi Asih menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.


"Lalu kita harus bagaimana, nona?"


Kiran mengambil sebuah pisau, lalu menunjukannya pada bi Asih.


"Tukar pisau ini dengan pisau yang ada di saku Asri." Bi Asih mengangguk, tapi masih bingung dengan rencana Kiran.


"Bi, pasang baju ini di tubuh bibi." Memberikan pakaian berbahan plastik yang bisa diisi dengan air. "Lalu tutupi dengan pakaian bibi, kita akan mengecohnya dengan cara bibi ikuti terus dia." Bi Asih mulai mengerti dengan rencana nonanya itu.


"Kita lakukan sekarang, nona?" Kiran mengangguk. "Jangan lupa, beritahu paman Reihan juga."


Bi Asih mengangguk, lalu pergi untuk menemui paman Reihan.


Flashback off.


"Jangan lupa, siapkan segalanya dengan baik dan rapi. Jangan sampai Asri curiga, kita harus segera membongkar apa yang maksud dan tujuannya yang jahat itu pada keluarga ayah Deva."


"Nona, menurut informasi yang aku dapatkan dari yayasan pembantu itu dia adalah putri dari keluarganya Kanaya yang ingin membalas dendam atas kematian Kanaya." Kiran menatap Reihan dengan tatapan terkejut.


"Kau yakin, paman?" Reihan mengangguk.


"Sepertinya kita harus sangat berhati-hati saat ini, paman tolong bantu aku menghadapi semuanya." Pinta Kiran.


"Tenang saja, nona. Tapi kita harus memberi tahu tuan muda juga, agar jika terjadi apa-apa dia tidak akan bingung."


"Itu akan menjadi urusanku, aku akan segera memberitahunya." Kiran mengeluarkan ponselnya dan menunjukan video yang direkamnya pada saat Asri mengejar bi Asih. "Sekarang kita harus lebih cerdik dari Asri, jangan sampai dia curiga."


"Nona, tuan muda kecil bagaimana? Kita meninggalkannya sendirian dirumah, apa tidak akan berbahaya?"


"Tenang saja, aku sudah menitipkannya di tempat yang sangat aman."


Selama perjalanan, ketiganya terus merencanakan sandiwara mereka dalam rencana membongkar kejahatan Asri. Sampai di rumah sakit, Kiran langsung menemui dokter Ema dan menceritakan segalanya.


Tak lupa, ia juga mengabari Sid tentang keadaan mereka saat ini.


"Kiran, aku sepertinya harus pulang kesana. Aku takut ini membahayakan nyawamu dan yang lainnya." Ucap Sid dengan nada bingung.


"Tidak, kau lebih baik membantu ayah disana. Biarkan saja aku yang akan mengurus semua yang disini, lagipula ada paman Reihan yang membantuku. Bagaimana keadaan ibu?"


"Sudah mulai mengingat segalanya, tapi masih belum ingat aku." Nada suara Sid berubah menjadi sendu.


"Sid, semua pasti akan baik-baik saja. Ibu pasti akan ingat dirimu." Kiran menghibur Sid.


"Terima kasih, kau selalu menghiburku dan menenangkan aku."


"Iya, sekarang istirahatlah. Atau pergilah bersama ibu dan ayah."

__ADS_1


"Iya." Kiran menutup teleponnya, lalu menghela napas panjang.


Baru sebentar keluargaku bahagia, kenapa selalu banyak masalah datang menghampiri? Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu?


Kiran merasa sangat penasaran dengan latar belakang terdahulu keluarga Sid. Pasalnya masalah dan balas-membalas terus menerus terjadi di keluarga Sid.


"Haruskah aku mencari tahu segalanya?" Gumam Kiran bertanya pada dirinya sendiri.


"Nona, ada apa?" Reihan menghampiri Kiran dengan membawa Kal yang tadi diantarkan salah satu anak buah Sid.


"Tidak ada, tapi tolong berjanjilah padaku setelah semua ini berakhir paman akan menceritakan segalanya padaku." Pinta Kiran sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Memohon pada Reihan.


Segalanya? Tapi apa?


Reihan mengerutkan dahinya bingung.


"Segalanya... Maksud nona apa?"


"Keluarga, masa lalu keluarga ayah mertuaku."


Deg...


Reihan memejamkan matanya, mengingat kembali masa lalu kelam keluarga tuan besarnya tercinta.


Tidak, apa yang harus aku katakan pada nona?


"Jangan pernah memberi tahu Kirana tentang semua masa laluku yang kelam ini, biarkan menantuku berbahagia bersama putraku."


Ucapan ayah Deva di hari pernikahan Sid dan Kiran terus terngiang-ngiang di telinga Reihan.


"Maaf, nona. Tidak ada apa-apa di masa lalu keluarga ini, balas dendam mereka adalah karena tuan besar yang turun tangan menghabisi para pelenyap nyonya Aisha." Reihan menunduk.


"Benarkah? Bersumpahlah demi Tuhan!" Pinta Kiran dengan wajah memohon dan memelas pada Reihan.


"Nona, suatu saat tuan besar yang akan menceritakan segalanya padamu."


"Itu artinya ada sesuatu yang besar di masa lalu keluarga ini bukan?" Reihan mengangguk, lalu tanpa berbicara lagi apapun segera pergi melangkah meninggalkan Kiran.


Kiran terduduk lemas di kursi rumah sakit, air mata sudah membanjiri pelupuk matanya.


"Nona kenapa?" Bi Asih menghampiri Kiran.


Kiran menggeleng cepat.


"Bi, bersiaplah. Kita harus memulainya sekarang, sebelum Asri merasa curiga dengan semuanya."


Bi Asih kembali melangkah, Kiran masih terduduk di kursi. Ia mengelua perutnya dan bergumam sendiri.


"Kalian harus kuat, kita akan berjuang untuk kebahagiaan keluarga kita. Ayo, kita hadapi semua penjahat itu!"


Bersambung...


Hayoohh, apa sih yang menjadi masa lalu keluarga besar ayah Deva? Siapakah dulu ayah Deva sebenarnya???

__ADS_1


__ADS_2