Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ngidam Tengah Malam


__ADS_3

Sampai di rumah, ayah Deva tampak sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil membaca buku novel.


"Kau sudah pulang?" Tanya ayah Deva pada saat menyadari bahwa Sid sudah melangkah memasuki ruang keluarga.


"Iya, kami sudah pulang." Jawab Sid sambil mendudukkan Kiran di sofa yang berhadapan dengan ayahnya.


"Bagaimana? Apa Kiran baik-baik saja?" Sid tersenyum mendengar pertanyaan ayahnya. Lalu ia mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan foto yang di ambilnya tadi saat melihat layar hasil USG Kiran.


"Apa maksudnya? Apa menantuku hamil?" Sid mengangguk cepat. "Kau serius?" Sid mengangguk lagi.


"Iya ayah, Kiran hamil. Kami akan mempunyai bayi." Jawab Sid sambil tersenyum senang.


"Akhirnya, aku akan menjadi seorang kakek. Dan aku akan memiliki cucu dari putra pertamaku ini." Ayah Deva memeluk Sid.


"Lihat kan, kecebongku memang hebat!" Ucap Sid dengan polos dan tanpa rasa malu. Membuat Kiran menjadi salah tingkah.


"Jangan terlalu polos, kau memalukan!" Rutuk ayah Deva, mendengar kepolosan anaknya itu.


"Eum... Hehehe... Baiklah." Jawab Sid dengan tersipu malu.


"Sudah, bawa Kiran istirahat. Pasti dia lelah." Sid mengangguk, dan langsung membawa Kiran menuju kamarnya.


"Kiran, besok kita pindah saja ke kamar bawah! Aku takut kau kenapa-kenapa jika setiap hari harus naik turun tangga." Kiran menoleh, dan mengangguk.


Hmmm... Aku yang hamil, dia yang cemas.


"Baiklah, tuan muda." Patuh Kiran. Sid menatap Kiran tajam, yang langsung membuat Kiran ketakutan.


Berani sekali aku, habislah aku jika sedang tidak hamil!


"Apa kau bilang tadi? Tuan muda? Berarti kau nona muda, iya kan?" Ucap Sid sambil terkekeh.


"Bisa jadi!" Angguk Kiran.


...----------------...


Tengah malam adalah waktu tidur paling nyenyak bagi hampir seluruh orang, namun tidak dengan Kirana. Dia masih terbangun. Bukan karena tidak bisa tidur, tapi karena sudah tidur, terbangun dan tak bisa tidur lagi.


"Sid, bangun." Menggoyang-goyangkan tangan Sid.


"Hemm..." Sid hanya berdehem, sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Kiran. "Hmm..." Berdehem lagi, lalu tak lama terdengar dengkuran halus dari mulutnya.


Kiran cemberut, dan berniat untuk membangunkannya lagi.


"Sid!" Panggil Kiran setengah berteriak, sambil menepuk tangan Sid dengan sangat keras.


"Hah?! Ada apa? Apa kau mual? Atau pusing?" Akhirnya Sid terbangun, dan memberondong Kiran dengan pertanyaan. Melihat suaminya seperti itu, Kiran terkikik.


"Kenapa tertawa? Ada apa? Ini tengah malam! Kenapa masih belum tidur?" Tanya Sid lagi.


"Aku lapar." Rengek Kiran sambil menyandarkan kepalanya di tangan Sid.

__ADS_1


"Ayo, kita ke ruang makan." Ajak Sid sambil membantu Kiran berdiri. Namun Kiran tidak kunjung berdiri.


"Aku tidak mau makan di rumah, aku mau yang lain." Rengek Kiran lagi dengan wajah memelas.


"Kau mau makan apa? Besok aku akan mencarikannya." Sid membingkai wajah Kiran.


Kiran menepisnya, dan mencemberutkan bibirnya.


"Kenapa besok? Aku mau sekarang!"


"Apa? Tapi ini tengah malam! Kita akan mencari makanan apa di luar?" Tanya Sid dengan wajah bingung.


"Aku ingin makan bubur sumsum."


"Hah? Bagaimana jika kita menyuruh bi Asih membuatnya saja besok?"


"Besok? Aku bilang aku ingin sekarang! Apa kau tidak dengar?!" Nada suara Kiran mulai meninggi.


"Kiran! Itu tidak mungkin, dimana orang yang menjual bubur seperti itu tengah malam begini? Apa kau sadar dengan permintaanmu?" Tanya Sid frustasi.


Tanpa sadar, kata-kata Sid membuat Kiran sedih. Dia menangis, Sid yang menyadarinya merasa sangat bersalah.


"Maaf, maaf, Kiran. Baiklah! Tapi apa kau tahu akan mencari bubur itu dimana tengah malam begini?" Tanya Sid pelan.


Kiran menggeleng.


"Lalu bagaimana kita mencarinya jika kau saja tidak tahu?" Kiran menggeleng lagi. Sid sudah putus asa.


"Sayang, kau boleh minta apapun. Tapi jangan seperti ini, resikonya terlalu besar. Aku tidak ingin kau kenapa-napa."


"Artinya aku harus membangunkan pelayan, begitu?" Kiran mengangguk.


"Baik, ayo kita turun. Pakai sweatermu, atau kau akan kedinginan."


"Ada kau, aku tidak akan kedinginan." Ucap Kiran sambil melingkarkan lengannya di badan Sid.


"Kau ini, pandai sekali ya merayu? Sejak kapan pandai merayu seperti ini?" Sid menarik Kiran, dan memeluknya. "Ayo, kita turun! Tadi kau bilang lapar!"


"Iya." Sid melepaskan pelukannya, dan membantu Kiran berjalan dengan sangat berhati-hati.


Sampai di dapur, beruntung ada salah satu pelayan yang masih berada di dapur.


"Tuan muda, anda belum tidur? Nona muda juga, apa anda butuh sesuatu? Biar saya membantu anda." Ucap pelayan itu ramah.


"Apa kau bisa membuat bubur sumsum? Istriku sepertinya ingin makan itu, jika bisa tolong buatkan." Perintah Sid..


"Tentu, tuan. Sebentar, saya akan membuatnya. Anda bisa menunggu disana bersama nona muda." Ucap pelayan itu sambil menunjuk ke meja makan.


Sid dan Kiran segera duduk disana sambil menunggu pelayan itu membuat bubur yang diinginkan Kiran.


Cukup lama pelayan itu membuatnya. Sid bahkan sudah terlelap dengan kepala diatas tangan yang berada diatas meja makan. Sedangkan Kiran seperti tidak mengantuk sedikitpun. Dia sangat bersemangat menunggu pelayan itu menghidangkan makanan yang diinginkannya.

__ADS_1


"Sid, bangun! Jangan tidur!" Kiran mengguncangkan tubuh Sid. Dengan mulut yang terus menguap, Sid terbangun lagi.


"Kiran, aku sangat mengantuk." Jawab Sid dengan suara serak.


"Kau tidak boleh tidur, kau harus menyuapi aku bubur itu!"


"Iya, iya!" Angguk Sid masih dengan menahan kantuknya.


Tak lama, pelayan itu datang dengan semangkuk bubur sumsum. Mata Kiran berbinar, saat melihat bubur itu.


"Terima kasih." Ucap Kiran yang langsung diangguki pelayan itu ramah.


"Nona, apa anda menginginkan lagi sesuatu? Biar saya membuatkannya juga untuk anda." Tawar pelayan itu ramah.


"Tidak." Kiran menggeleng. "Kau istirahatlah, ini sudah malam." Perintah Kiran.


"Baik, nona. Saya permisi, nona dan tuan." Sid dan Kiran mengangguk.


"Ayo, suapi aku." Sid mengangguk, dan langsung menyuapi Kiran bubur itu dengan perlahan-lahan.


Ujian macam apa ini? Apa sekarang setiap malam aku akan mengalami hak seperti ini? Tidak, bisa-bisa wajahku jadi pucat karena terganggu tidur. Tapi... Ini semua pasti karena Kiran sedang hamil, tidak apa-apa. Aku akan menuruti kemauannya, asalkan Kiran dan calon bayi kami sehat.


Sid meringis, membayangkan jika dia akan terbangun setiap tengah malam dengan permintaan anehnya Kiran.


Setelah bubur itu habis, Kiran kembali meminta hal yang tidak masuk akal.


"Sid, kita tidur disana! Aku ingin tidur disana!" Kiran menunjuk sofa di ruang keluarga, Sid kaget bukan main.


"Kiran, kau tidak boleh tidur disana! Itu sofa, nanti badanmu pegal! Kau bisa kedinginan juga!" Larang Sid, yang langsung membuat Kiran menangis.


"Sid, aku ingin tidur disana!" Rengek Kiran dengan tangisan yang terisak-isak.


"Ya Tuhan, Kiran! Kenapa kau keras kepala sekarang?"


"Bukan aku yang mau! Tapi biji kecambahmu ini yang mau!" Jawab Kiran sambil menunjuk perutnya yang masih datar itu.


"Apa? Kau berani memanggil anak kita bij kecambah?"


"Kau sendiri memanggilnya kecebong!" Ketus Kiran.


"Kiran, cukup! Hentikan! Kita tidur diatas, jangan tidur disini!" Kiran tetap tidak mau menuruti Sid.


Dengan cepat, ia merebahkan dirinya di atas sofa ruang keluarga dan memejamkan matanya disana. Tak lama, sudah terdengar dengkuran halus.


Sid yang memperhatikannya hanya bisa menghela napas kasar.


Sangat aneh, beginikah orang ngidam? Macam-macam sekali permintaannya, tidak masuk akal!


Dia pun mengambilkan selimut untuk Kiran, dan menyelimutinya. Sedangkan dirinya sendiri, ia mengambil posisi tidur dibawah. Dengan gelaran karpet Sid membaringkan tubuhnya. Tak lupa, ia membawa selimut serta bantal juga untuk dirinya sendiri.


Sebelum tidur Sid mengecup kening Kiran terlebih dahulu.

__ADS_1


Bersambung...


Sekali lagi, jejak ya guys! Like, Coment dan Vote!!!


__ADS_2