
Di kediaman yang ditempati ayah Deva, keadaan berubah menjadi genting saat ayah Deva menemukan ibu Aisha yang sudah tergeletak pingsan di bawah tangga.
"Aisha!" Ayah Deva meraih ibu Aisha dan segera menggendongnya untuk di bawa ke rumah sakit.
Ia membawa ibu Aisha ke rumah sakit yang sama dimana dulu ia dinyatakan tiada. Bukan karena tidak ada rumah sakit lain, tapi karena rumah sakit itu adalah rumah sakit terdekat di daerah tempatnya tinggal saat ini.
Satu jam perjalanan akibat macet akhirnya ayah Deva tiba di rumah sakit itu. Ridan menyambutnya, namun pada saat akan mengatakan bahwa Sid saat ini sedang kritis Ridan pun mengurungkannya karena melihat bahwa tuan besarnya pun sedang kepanikan sambil menggendong istrinya.
"Ridan, cepat panggilkan dokter!" Ridan mengangguk, dan segera berlari.
Akhirnya beberapa suster tiba membawa brankar. Ibu Aisha segera dibawa masuk ke dalam ruang gawat darurat, ayah Deva dan Ridan menunggu di luar.
"Tuan besar, apa yang terjadi pada nyonya?"
"Tidak tahu, tiba-tiba dia sudah tergeletak pingsan di bawah tangga." Jawab ayah Deva dengan nada suara cemas. Tak memperhatikan pakaian Ridan yang berlumuran darah putranya sendiri.
"Dimana Sid?" Ayah Deva baru menyadari ketidak hadiran Sid diantara mereka.
"Tuan muda sedang dirawat, akibat..."
"Apa?!" Potong ayah Deva. "Apa yang terjadi padanya?!" Sambungnya tambah panik.
"Tuan muda tertembak manager rumah sakit ini, pada saat meminta rekaman cctv dua puluh enam tahun yang lalu." Jelas Ridan gugup, ia pasrah jika akan dimarahi tuannya.
"Lalu dimana kau saat itu, hah?!" Bentak ayah Deva.
"Tuan, waktu itu aku sedang mengambil rekaman itu di ruang penyimpanan data. Pada saat kembali terdengar suara tembakan, dan tuan muda sudah tak terjatuh."
"Sialan! Cepat kumpulkan anak buah kita! Aku merasa bahwa masih ada yang ingin menghancurkan keluargaku!" Ridan mengangguk, lalu segera menghubungi satu-persatu anak-anak buahnya yang berada di kota London.
Sementara ayah Deva bergegas untuk melihat putranya yang sedang kritis.
"Kau tunggu disini, panggil aku jika dokter sudah selesai memeriksa istriku!" Ridan mengangguk, lalu ayah Deva segera menuju ruang dimana putranya berada.
Ia memasuki ruangan itu, terlihat Sid belum sadarkan diri dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.
Aku baru sadar, jika terjadi sesuatu padamu maka akan selalu terjadi juga pada ibumu dalam bentuk lain.
__ADS_1
Ayah Deva mendekati Sid, lalu menggenggam tangannya.
"Bangunlah, ayo kita mulai perang ini! Perang sebenarnya baru akan dimulai, lindungilah keluargamu! Kau adalah laki-laki tangguh! Kau kuat, bangunlah! Kirana istrimu dan juga anak-anakmu menunggu di seberang sana!" Ucap ayah Deva lantang.
Tapi yang diajaknya bicara hanya diam, dengan mata tertutup dan napas yang lemah.
"Ayah pergi dulu, untuk mengatur perang ini. Berjanjilah, pada saat ayah kembali kau harus sudah membuka matamu!" Ayah Deva mengusap kening putranya, lalu keluar dari ruangan itu.
"Tuan, nyonya sudah sadar." Reihan yang baru akan menghampiri ayah Deva langsung berbicara pada ayah Deva.
"Iya, aku akan kesana."
Sesampainya di ruangan ibu Aisha, terlihat dia sedang berbaring. Pada saat ayah Deva menghampirinya, ibu Aisha langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
"Deva?" Ucapnya lirih sambil menatap sang pemilik nama yang dipanggilnya dengan tatapan penuh kerinduan.
Ayah Deva mengangguk pelan, sambil tersenyum saat mengetahui bahwa ternyata ibu Aisha sudah sembuh.
"Aisha, darimana saja kau? Hah?! Apa yang telah terjadi selama dua puluh enam tahun ini padamu?" Ibu Aisha turun dari ranjang, lalu memeluk ayah Deva erat.
"Semua diluar dugaanku, mereka merenggut nyawa putriku lalu membuangku ke rumah sakit itu." Ayah Deva membelalak, mendengar bahwa putri mereka ternyata sudah tiada.
"Aku tidak tahu, tapi hari dimana aku melahirkan ibunya Yessi masih hidup dan menghabisi seorang bayi dengan sangat sadis. Aku pikir itu adalah anakku." Isak ibu Aisha.
"Jika anak yang tiada itu adalah anak kita, lalu yang bersamaku saat ini siapa? Anak siapa dia?"
"Tuan, semua akan kita ketahui kebenarannya lewat ini!" Ridan yang berdiri di ambang pintu menunjukan sebuah memori berisi rekaman cctv.
"Apa itu?" Tanya ibu Aisha dan ayah Deva bersamaan.
"Rekaman cctv dua puluh enam tahun yang lalu di rumah sakit ini, dimana hari itu nyonya Aisha dinyatakan tiada oleh dokter." Jelas Ridan.
"Simpan itu baik-baik, kita akan melihatnya segera setelah Sid sadar dan pulih." Ridan mengangguk.
"Sid? Dimana dia? Dan kenapa dia?" Ibu Aisha sangat panik.
"Dia terluka saat mencari rekaman itu, manager rumah sakit ini yang menembaknya."
__ADS_1
"Manager?" Ayah Deva mengangguk. "Dimana manusia tidak berperikemanusiaan itu sekarang?!" Wajah ibu Aisha berubah menjadi wajah penuh amarah.
"Dia sudah kami bereskan, nyonya." Jawab Ridan.
"Ada apa? Kenapa dengannya?" Ayah Deva penasaran.
"Tidak ada." Ibu Aisha menggeleng, namun gelengan itu membuat ayah Deva semakin penasaran. "Jangan dipikirkan, sekarang sudah waktunya kita bangkit dan melawan! Perang yang sesungguhnya baru akan dimulai, aku tidak ingin melihat keluarga kita ditindas lagi! Sudah waktunya bagiku untuk melawan semua kejahatan ini!" Tekad ibu Aisha penuh keberanian.
"Kau benar, kita akan memulai perang yang sesungguhnya. Ridan, siapkan keberangkatan kita esok juga. Kita akan membawa Sid pulang ke Indonesia, dan memindahkan perawatannya!" Ridan mengangguk, lalu segera melakukan perintah ayah Deva.
"Ayo, antar aku melihat anak kita." Wajah penuh keberanian itu berubah jadi sendu, setelah ingat bahwa putranya tak sadarkan diri.
Sampai di ruangan Sid, ternyata Sid sudah membuka matanya. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum ketika ibu Aisha mendekatinya dan meraih tangannya.
"Bunda disini, ayo bangunlah! Kita harus melawan mereka yang sudah membuat dan memberikan seluruh penderitaan pada kita. Lindungi keluarga ini!" Sid mengangguk pelan, membalas genggaman tangan wanita bergelar ibunya yang selama ini ia rindukan sosoknya.
"Bunda." Lirih Sid lemah, ibu Aisha mengangguk pelan. Tangannya sudah mengusap kening putra kesayangannya itu.
"Anakku, aku disini. Untukmu, kita bangkit sekarang, ya?" Sid mengangguk. "Kau sangat tampan, seperti ayahmu." Pujinya ketika memperhatikan wajah Sid.
"Kiran dimana?"
"Kiran? Siapa?" Ibu Aisha kebingungan.
"Menantumu, istrinya Sid. Putri sahabatmu, Rhea bersama Andra. Dia berada di Jakarta, dia aman." Ibu Aisha tersenyum.
"Besok kita akan pulang, segera. Setelah kau pulih ayo kita langsung hadapi semua yang telah membuat keluarga kita tidak utuh selama ini!" Sid mengangguk kuat-kuat.
Ayah Deva merangkul ibu Aisha, kedua tangan Sid digenggam ayah Deva dan ibu Aisha.
Genggaman tangan itu sangat erat, menandakan bahwa sekarang tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan keluarga tersebut.
Ketiganya saling melirik, lalu mengangguk.
"Ayo!" Ucap ketiganya dengan penuh keberanian.
Bersambung...
__ADS_1
Segitu dulu, ya? Besok di lanjut lagi.