Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Pernikahan


__ADS_3

"Kiran, tidak! Aku pasti bermimpi!" Sid menggosok matanya pelan.


"Lihat, kan? Ayah tidak akan membiarkan anak ayah bersedih. Lihat! Dihadapanmu ini adalah Kiranmu! Kiran yang sangat kau cintai, yang paling mengerti dirimu, bahkan dia bisa mengerti dirimu lebih dari ayahmu ini. Pandanglah dia, Sid!" Deva merangkul Sid, membawanya mendekati Kiran.


"Ayah, apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti? Apa..."


"Sid, ini rencana ayahmu." Dendi memotong perkataan Sid.


"Ayah..." Lirih Sid, dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Dengar, Sid! Ayah tidak akan pernah membiarkanmu bersedih lagi. Semua ini ayah lakukan, karena ingin melihat kesungguhanmu. Apakah kau memang benar-benar mencintai Kiran tulus dari dalam hatimu? Atau hanya sekedar pelampiasan karena ingin melupakan Kanaya? Ternyata, setelah ayah melihat apa yang kau lakukan demi membuat Kiran bahagia, ayah yakin sekarang bahwa kau memang sangat mencintai Kiran tulus dari dalam hatimu." Deva menjelaskan panjang lebar. Semua terharu, dengan usaha Deva untuk membahagiakan putranya. "Dengar, Siddharth! Ayah tidak akan membuat putra ayah sendiri bersedih, sekarang pergilah!


Bawalah Kiran bersamamu, mulailah awal baru bersamanya. Jadikan Kiran sebagai pusat kebahagiaanmu! Ayah akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian, kau putra ayah, ayah akan selalu mendukung apapun yang akan membuatmu bahagia." Air mata mulai tak terbendung, ayah dan anak itu mengeluarkan air matanya. Sid memeluk ayahnya dengan sangat erat.


"Terima kasih ayah, maaf aku tadi sudah meragukanmu. Bahkan aku berteriak padamu. Maafkan anakmu ini, ayah. Maaf, tolong maafkan aku." Sid melepaskan pelukannya, dan bersujud di kaki ayahnya.


"Sid, berdirilah. Jangan seperti itu!" Sid berdiri, dan memeluk ayahnya lagi. "Sid, berbahagialah dengan Kiran. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian berdua. Ayah, paman Dendi, dan bibi Rhea menitipkan Kiran padamu. Jangan kau buat dia terluka sedikitpun, baik perasaan maupun tubuhnya. Apalagi kau buat dia menangis, jagalah dia seperti kau menjaga ibu dan saudara-saudara perempuanmu!" Sid mengelus punggung putra sulungnya itu penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Terima kasih, ayah. Terima kasih kau telah menjagaku sedari kecil hingga saat ini, maaf jika aku pernah mengecewakanmu. Aku berjanji akan menjaga amanatmu dengan sangat baik. Aku akan selalu berusaha membuat keluarga kecilku bahagia."


"Sudah, ayo kita mulai acara pernikahanmu." Deva melepaskan pelukan Sid, lalu meraih lengan Sid dan Kiran.


Deva menyatukan lengan mereka.


"Jangan pernah lepaskan tangan istrimu. Ini adalah simbol, bahwa kalian akan bersama dalam keadaan susah dan senang." Lalu Deva merangkul Sid dan Kiran, membawanya duduk kembali di kursi yang sudah tersedia.


Sid melirik Kiran. Kiran tersenyum padanya, lalu mengangguk.


"Baik, kita mulai? Saudara Siddharth Adeva Rafandi, apa kau sudah siap?" Sid mengangguk cepat. "Saudari Kirana Putri Farella, apa kau sudah siap?" Kiran mengangguk.


Akad mulai diucapkan, Sid mengucapkannya dengan sangat lancar dan cepat.


"Bagaimana? Sah?" Dendi dan Deva mengucapkan kata Sah.

__ADS_1


Rhea tak mampu berkata-kata, dia sangat bangga dan terharu bisa menyaksikan pernikahan putri yang sangat dia sayangi.


Lihat, Andra! Putri kita sudah menikah! Menikah dengan pria yang sangat dia cintai dan yang mencintainya sepenuh hati! Sekarang, hatiku sedikit lega. Sudah ada orang lain yang akan menjaga putri kita. Kau melihatnya kan dari sana?


"Ibu, jangan menangis lagi." Tiba-tiba Kiran sudah berada di depannya.


"Kiran, putri ibu. Selamat ya, nak? Kau sudah menikah dengan pria yang sangat baik dan sangat mencintaimu. Ibu menangis karena terharu, dan pasti ayahmu juga sangat senang juga terharu, bisa melihatmu menikah, walaupun dia sudah tidak ada lagi di dunia ini." Rhea membelai pipi putrinya.


"Ibu, terima kasih. Terima kasih untuk segala pengorbananmu, terima kasih sudah menjagaku sampai saat ini. Terima kasih, untuk ayah dan ibu. Tanpa kalian aku tidak akan ada disini hingga saat ini." Kiran memeluk ibunya, Sid yang berdiri disisinya ikut terharu.


"Sid, sekarang Kiran jadi milikmu seutuhnya. Ibu menitipkan sepenuhnya tanggung jawabnya padamu." Rhea melepaskan pelukannya pada Kiran.


"Terima kasih, bu. Aku pasti akan menjaga Kiran dengan sangat baik. Terima kasih, ibu telah melahirkan putri yang sangat baik kedunia ini dan telah melahirkannya untukku." Rhea mengangguk, dan memeluk menantunya.


Sid melirik Kiran yang sudah berdiri berdampingan dengannya, dan menyuruh Kiran menggandeng tangannya. Dengan senyum merekah, Kiran segera menggandeng tangan Sid.


Mereka berjalan menuju pelaminan yang sudah tersedia dengan dekorasi yang sangat indah. Sebelum duduk, Sid dan Kiran saling berdiri berhadapan.


"Terima kasih juga, untuk kesungguhanmu. Aku juga sangat mencintaimu, hingga tak terbatas." Balas Kiran.


Lalu mereka saling berpelukan. Membuat semua yang melihatnya bertepuk tangan dan berteriak.


"Hmmm.... Sepertinya ini masih siang, tunda dulu kemesraan kalian! Jangan membuat para jomblo iri!" Lakshmi dan Mira sudah berdiri di belakang Sid.


Sid terkejut, dan langsung melepaskan pelukannya. Kiran menunduk malu, wajahnya sudah memerah.


"Kau menganggu saja! Biarkan saja, hari ini adalah milik mereka berdua!" Deva menarik telinga Lakhsmi.


"Ayah, kau disini juga?" Lakshmi terkejut.


"Sudah, jangan ganggu mereka! Kau juga, Mira! Jangan ikuti kelakuan Lakshmi!" Deva menarik tangan Lakshmi dan Mira menjauh dari Sid dan Kiran.


Mereka berdua terkekeh. Kini pandangan Sid kembali terpusat pada Kiran.

__ADS_1


"Kau cantik sekali, sayang." Kiran membelalak.


Apa? Dia memanggilku apa tadi? Sayang? Aaaa.... Ini yang kedua kalinya.


"Kenapa kau melotot?" Sid membalas Kiran memelototinya kembali. "Sekarang kita suami istri, jadi tidak apa kan aku memanggilmu sayang?" Kiran mengangguk malu-malu.


"Baiklah, tidak apa-apa." Sid tersenyum, lalu membawa Kiran duduk di pelaminan. Mereka duduk dengan sangat dekat, bahkan Sid melingkarkan tangannya di perut Kiran, kepalanya bersandar di bahu Kiran.


"Sid, nanti mereka melihatnya!" Protes Kiran malu-malu.


"Hei, memangnya kenapa jika mereka melihatnya? Ini hari pernikahan kita!"


Sid melepaskan lengannya, lalu memandang Kiran lekat-lekat. Ia kemudian meraih dagu Kiran, mendekatkan bibirnya dengan bibir Kiran.


"Semalam kau mencuri ciuman bibirku, sekarang aku ingin membalasnya." Bisik Sid pelan.


"A... Apa? Ta.. Tapi..." Sid meletakkan jari telunjuknya di bibir Kiran, menyuruhnya untuk diam.


Deg...


Jantungnya berdebar sangat kencang. Wajah mereka sudah sangat dekat, Kiran bisa merasakan napas Sid. Lalu Kiran memejamkan matanya, bibir mereka semakin dekat.


Dekat... Dekat... Dekat...


"Hai Kiran!" Sebuah suara mengagetkan mereka, hingga membuat Sid kesal karena gagal melakukan kemesraannya.


"Kau? Apa tidak bisa datang di waktu yang tepat?" Ketus Sid dengan wajah penuh kekesalan.


"Ma... Maaf!" Ucapnya gelagapan.


Kiran yang sedari tadi sudah sangat berdebar-debar, menjadi ikut kesal dengan kemunculan sosok pria yang sangat menyebalkan itu di hadapannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2