Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kotak Sabun


__ADS_3

Pukul lima sore, Sid dan Kiran keluar dari sebuah kafe di daerah XX. Pertemuan yang memuaskan, membuat Sid menyanjung Kiran.


"Terima kasih, Kiran. Pekerjaanmu hari ini sangat memuaskan." Ucap Sid, memuji tapi wajahnya tetap datar.


"Sama-sama, pak."


"Kau hari ini bisa lembur? Ada banyak pekerjaan, aku pikir kau bisa membantuku!"


"Tentu, pak." Patuh Kiran.


Malam harinya, setelah pekerjaan selesai, Kiran bermaksud untuk pulang. Namun terhenti saat melihat Sid sedang berdiri di pinggir jalan.


"Pak, anda belum pulang?" Tanya Kiran.


"Saya akan pulang, naik taksi."


"Bapak tidak membawa mobil?" Tanya Kiran heran, karena tadi Sid pada saat datang membawa mobil.


"Saya menyuruh supir mengantarkan berkas ke perusahaan Maya. Lagipula, jangan banyak bertanya!"


"Maaf, pak." Sid memutar bola matanya malas, mendengar kata maaf yang di ucapkan Kiran.


"Pak, taksinya tidak ada sepertinya. Bagaimana jika anda saya antarkan dengan mobil saya?" Tawar Kiran.


"Memangnya kau membawa mobil?"


Kiran mengangguk. "Iya, pak."


"Oke." Jawab Sid sambil melirik jam tangannya.


"Kau bilang kau membawa mobil?" Sid memutar bola matanya. Menjelajahi setiap sudut mobil mungil milik Kiran.


"Ya, pak. Ini mobilku." Jawab Kiran dengan bangga.


"Ini bukan mobil!" Sid mendesis.


Kiran membelalak. "Maaf, pak?"


"Ini kotak sabun! Bisa melaju atau tidak?"


Pada usaha ke lima kalinya, barulah mobil Kiran menyala. Dengan tenang, Kiran melajukan mobil itu.


"Rumahku di Komplek XX." Kata Sid.


"Aku tahu, pak. Blok apa?"


"Blok M."


"Maaf pak, aku tidak tahu jalannya."


"Nanti aku akan menunjukkannya. Tapi apakah lajunya bisa lebih cepat?" Sid meneliti Kiran yang tengah mengemudi.


"Ini sudah kecepatan maksimal, pak." Kiran mengalihkan pandangannya, tak berani menatap Sid.

__ADS_1


"Ini kecepatan maksimal? Astaga, Kiran!" Sid mencondongkan tubuh, mengintip angka yang ditunjuk jarum speedometer.


"Empat puluh kilometer perjam? Sudah ku bilang ini kotak sabun, bukan mobil!"


"Maaf pak, maklumlah mobil ini sudah tua." Kiran meringis.


"Bukan hanya tua, tapi sudah uzur! Lebih baik kau masukkan saja ke museum atau tukang loak!"


"Tapi mobil ini sangat berharga, pak. Dia sudah menemani saya sejak kuliah tingkat pertama."


"Kirana, aku serius! Kau butuh mobil baru!"


"Saya rasa tidak perlu, pak. Saya masih senang dengan mobil ini."


"Panas sekali. Jangan bilang jika AC mobil ini tidak berfungsi?!" Sid menahan napas, seperti menunggu detik-detik pengumuman pemenang kejuaraan.


"Maaf, pak. AC mobil ini memang sedang rusak, saya belum sempat membawanya ke bengkel." Kiran mengibaskan rambut lurusnya dengan cuek.


Sid menghempaskan tubuhnya ke sandaran jok dengan wajah kesal. "Jika kau masih ingin bekerja, belilah mobil baru! Aku tidak ingin kau terlambat bekerja karena kotak sabun ini yang mungkin bisa saja mogok!"


"Mobil ini memang sering mogok, pak. Tapi tenang saja. Saya pasti tidak akan terlambat."


"Apa semua barang milikmu sudah uzur juga?"


"Tidak pak." Kiran sedikit jengkel dengan pria disampingnya itu.


"Syukurlah!" Sid menggeleng-gelengkan kepala.


Kiran tidak menjawab. Tak ada lagi yang berbicara, sampai akhirnya mereka tiba di depan gerbang komplek.


Ketika mobil berhenti, Kiran menyempatkan diri memandangi rumah Sid. Rumah bergaya minimalis, berlantai tiga. Cat temboknya berwarna biru, bersih dan terawat. Di halaman rumahnya ditanami berbagai bunga, tapi yang lebih banyak adalah bunga mawar dan melati.


"Wow. Bunganya sangat indah. Ibuku juga sangat menyukai tanaman bunga." Ujar Kiran. "Semua ini siapa yang menanamnya, pak?"


Sid melirik Kiran sekilas, sebelum ikut mengamati aneka bunga di halamannya.


"Aku yang menanamnya."


"Oh ya? Bagaimana bisa? Saya..."


"Tidak percaya? Begitu kan? Kau tidak percaya kan bahwa orang yang tidak punya hati dan perasaan sepertiku suka menanam bunga?" Sid memutar kepalanya kembali, menatap Kiran dalam-dalam.


"Ah, bagaimana bisa anda berbicara seperti itu, pak?" Kiran membelalak kaget.


"Telingaku masih cukup peka, ketika mendengarkan seluruh umpatanmu padaku di toilet waktu itu!" Jawab Sid dingin.


"Maaf, pak. Saya tidak bermaksud seperti itu." Kiran tergagap.


"Paket maafmu belum habis juga? Atau kau baru membelinya?"


Masih banyak persediaan!


"Rumah anda terlihat sepi sekali, pak." Gumam Kiran mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Kau banyak sekali bertanya, ya? Kau ingin melamarku? Dari tadi kau bertanya terus!" Sid memperbaiki dasinya.


"Tidak, pak. Mana mungkin itu terjadi." Kiran terkekeh geli. Namun, entah mengapa hatinya malah mengatakan hal sebaliknya.


"Sudahlah, pulanglah ke rumahmu sekarang!" Sid membuka pintu mobil. "Terima kasih, sudah mengantarkanku."


"Sama-sama, pak Siddharth." Jawab Kiran, masih dengan mata mengamati sekeliling rumah Sid.


"Apa? Kau memanggilku apa?"


"Pak Siddharth." Ulang Kiran.


"Semua orang memanggilku Sid!"


"Oh, ma..."


"Jangan minta maaf! Berapa kali aku harus bilang? Aku tidak suka dengan orang yang sangat sering meminta maaf. Itu hanya orang-orang pengecut!" Suara Sid meninggi. Membuat Kiran mengkeret di kursinya, tidak menyangka kemarahan Sid akan meledak karena sepotong kata maaf itu.


"Sorry." Akhirnya Kiran berhasil memilih kata itu. "Jika anda lebih suka di panggil dengan sebutan Sid, maka saya akan selalu mengingatnya. Tadi lidahku mungkin tidak sengaja." Kiran memutar bola matanya bingung. Lagi-lagi ia dihadapkan pada keanehan akan sosok pria tampan di sampingnya. Kesalahan penyebutan nama pun ternyata bisa memicu temperamennya.


"Aku tidak suka dipanggil Siddharth, hanya satu orang yang memanggilku dengan sebutan itu." Sid melangkah sambil keluar dari dalam mobil. Suaranya terdengar semakin sayup, terbawa angin. Tapi telinga Kiran masih bisa menangkap kalimat itu dengan jelas.


Pak, sebenarnya apa yang terjadi dalam hidupmu? Mengapa aku merasa seperti ada hal besar, sangat besar di balik semua itu? Bahkan aku menjadi penasaran denganmu, setiap kau membahas wanita yang waktu itu, entah kenapa aku tidak suka.


Kiran menurunkan kaca mobilnya, Sid menunduk. "Pak, anda pasti akan marah mendengar kata-kataku ini. Tapi saya tidak peduli, saya hanya ingin meminta maaf yang setulus-tulusnya dari hati saya. Maaf jika saya mengingatkan anda, mungkin pada sebuah hal yang sudah anda berusaha lupakan. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."


Sid membalas tatapan Kiran. Dalam hening, hatinya menghangat. Ia mengangkat bahunya. Memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


"Termasuk untuk tidak mengumbar kata 'maaf'?"


Kiran mengangguk. "Saya pamit, pak."


Kiran melambaikan tangannya, mencoba bersikap hangat dan bersahabat. Sid hanya menganggukkan kepalanya ringkas, lalu melangkah memasuki pintu rumahnya. Sama sekali tidak membalas senyuman Kiran yang jelas-jelas menawarkan persahabatan.


Kiran tersenyum menatap punggung Sid yang perlahan menghilang dibalik pintu.


"Lihat saja, pak. Aku akan membantumu, kita pasti akan bersahabat! Suatu saat kau pasti akan menjadi sahabatku, dan kau harus berbagi masalahmu denganku!" Gumam Kiran percaya diri.


Dengan senyuman yang tak luput dari bibir ranumnya itu, Kiran melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Di tengah jalan, ia terkejut karena ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, dari kontak yang bernama Raja Singa, yang tak lain adalah Sid.


Hati-hati di jalan, terima kasih sudah mengantarkanku.


Kiran tersenyum membaca pesan itu, entah mengapa hatinya seperti membawanya melayang.


Sama-sama, pak.


Kiran mengetik kata-kata itu, lalu mengirimkannya pada Sid. Ia kembali fokus ke jalanan, perjalanan pulang kali ini ia tak terlihat lelah seperti biasanya.


Kali ini seperti ada angin segar yang meniup tubuhnya.


**Bersambung...

__ADS_1


Mulai nih, Sid oooohhh Sid! Kiran oooohhh Kiran! Kalian bakal saling mencintai, tapi sayang.


Masih lama**....


__ADS_2