
"Maafkan aku, Ami." Rafa memulai pembicaraan, ketika semua sudah berkumpul di rumah Ami, termasuk Kiran dan Sid yang juga ikut berkumpul dan penasaran dengan alasan kenapa Rafa meninggalkan Ami.
"Apa alasanmu meninggalkan Ami?" Tanya ayahnya Ami disertai tatapan membunuh.
"Aku..." Rafa kembali diam. Dia menunduk, berusaha menutupi rasa malu dan perasaan bersalahnya.
"Apa? Pasti wanita lain, iya kan?" Timpal Sid dengan nada dingin.
Rafa menunduk lebih dalam lagi, bagaimana bisa Sid megetahui segalanya secepat mungkin.
"Katakan!" Bentak Ami yang sudah tidak sabar ingin mendengar alasan Rafa.
"Kau tidak ingin bicara?" Tanya Sid sambil melipat kedua tangannya di dada. "Biar aku yang menjelaskannya!" Sambungnya sambil duduk disebelah Kiran.
"Tidak, aku akan jelaskan." Rafa mulai buka suara kembali.
"Katakan, atau aku yang akan menjelaskan segalanya. Dan ingat, jangan membawa nama perusahaanku! Karena kau disana tidak memiliki hak ataupun wewenang apapun. Disana aku hanya membantumu, agar kau tidak menjadi gelandangan di jalanan setelah dibuang gadis jal*ng itu!" Sid memperingatkan. Semua orang terkejut dengan kata-kata Sid, kecuali Kiran yang semalam sudah mendengarkan cerita tentang Rafa dari Sid sebelum tidur.
Flashback on
"Kau mengenal Rafa, Sid? Tapi bagaimaja bisa?" Tanya Kiran sambil menidurkan kepalanya diatas dada Sid, kebetulan baby Kal sudah tidur di box bayinya.
"Aku menolongnya saja, tidak mengenalnya. Aku pikir dia tidak punya istri seperti Ami." Jawab Sid sambil mengelus kepala Kiran.
"Ceritakan, kenapa kalian bisa bertemu dan kau bisa menolongnya?" Kiran tambah penasaran dan sedikit sebal karena Sid selalu berputar-putar jika ingin bercerita. Maksudnya bukan memutar tubuhnya tapi arah pembicaraan.
"Sebentar, tunggu sebentar." Sid memindahkan kepala Kiran keatas bantal, lalu turun dari ranjang dan mengambil laptopnya.
Setelah itu ia duduk di atas ranjang dan menghidupkan laptopnya. Kiran yang sangat penasaran menyandarkan kepalanya di tangan Sid.
"Aku minta kau menceritakan, kenapa malah mengambil laptop?" Tanya Kiran dengan nada kesalnya.
"Tunggu sebentar, jangan banyak protes." Jawab Sid sambil mencubit pipi Kiran gemas.
"A... Iya, iya!" Kiran membalas Sid dengan menciumnya.
"Coba kau sering-sering menciumku, pasti aku akan senang walaupun tidak diberikan pendaratan." Sid mencibir Kiran.
"Iya, iya! Aku akan sering-sering mencium suamiku ini, tapi sekarang ceritakan tentang Rafa itu!" Kiran mencium pipi Sid lagi.
"Lihat ini. Apa saat kau bekerja di kantorku waktu itu pernah melihatnya?" Sid menunjukkan foto Rafa yang sedang berbicara dengannya di laptop.
Kiran mengernyitkan dahi, bukan bingung tapi mencoba mengingat-ingat apakah dia pernah melihat Rafa di kantor Sid atau tidak.
__ADS_1
"Seingatku tidak pernah, memangnya kenapa?" Sid menutup laptopnya lalu menghela napas pelan. Dia kemudian membawa Kiran ke dekapannya.
"Dia dulu aku temukan sudah tergeletak di depan kantor. Keadaannya sangat miris, banyak luka di tubuhnya." Sid berhenti sejenak. "Karena aku masih punya hati nurani, jadi aku membawanya ke rumah sakit untuk diobati. Setelah dia sedikit pulih aku langsung menanyakan apa yang terjadi padanya, serta menyelidiki seluruh informasi tentangnya. Aku takut dia adalah mata-mata yang dikirim keluarga Kanaya untuk mengintaiku." Sambung Sid.
"Apa?!" Kiran terduduk, dan langsung menatap Sid dengan wajah terkejut.
"Kenapa terkejut begitu?" Tanya Sid ikut terduduk.
"Teruskan ceritanya!" Sid mengangguk.
"Ternyata dia bukan mata-mata Kanaya, atau orang yang mengintaiku. Dia bilang, beberapa bulan yang lalu dia pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Sampai disana seorang wanita menawarinya pekerjaan, Rafa menyetujuinya dan menerima tawaran pekerjaannya. Ternyata pekerjaan yang ditawarkan adalah menjadi laki-laki bayaran." Kiran langsung menganga mendengar cerita Sid. "Dia berusaha melarikan diri dari tempat itu, beberapa kali tertangkap dan disiksa hingga di pukuli oleh para penjaganya hingga babak belur."
"Lalu?" Kiran semakin penasaran.
"Sesudah aku menolongnya dia bercerita padaku bahwa dia mempunyai istri yang sedang hamil. Aku merasa kasiha lagi padanya lalu aku memberinya uang dengan jumlah yang cukup banyak, aku pikir dia akan langsung pulang ke desa tempatnya berasal, sialnya dia pergi ke sebuah club malam dan menghabiskan uang itu bersama wanita jal*ng!" Kalimat terakhir Sid menambahkan nada kesal didalamnya.
"Begitu? Lalu sekarang bagaimana rencana kita?" Tanya Kiran setelah Sid selesai menceritakannya.
"Iya. Aku akan menyuruh anak buahku mencarinya dan membawanya saat hari peresmian memulai proyek nanti." Jawab Sid.
"Terima kasih." Ujar Kiran sambil mencium lagi pipi Sid. Lalu Kiran beranjak, menyimpankan laptop Sid di tempat asalnya dan berbaring di samping Sid.
"Tidak masalah, selama itu membuatmu bahagia." Sid menarik Kiran, dan membawa Kiran berbaring di atas tubuhnya. "Tidurlah, sudah larut malam. Baby Kal juga sudah tidur." Kiran mengangguk dan memejamkan matanya.
"Begitu?" Tanya ayah Ami setelah Rafa menceritakan segalanya.
"Maaf, ayah. Aku khilaf." Rafa bersujud di kaki ayahnya Ami. "Tolong maafkan aku, aku menyesal aku akan menebus kesalahanku dengan membahagiakan Ami." Ucapnya sambil terisak.
"Terserah! Kau sangat keterlaluan!" Bentak Ami sambil bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Kiran, kita sepertinya harus pergi sekarang. Sudah waktunya peresmian." Bisik Sid pada Kiran.
Kiran mengangguk, dan langsung berpamitan pada orang-orang yang berada di rumah Ami.
Di luar, Sid bergantian menggendong baby Kal dan membawanya masuk ke dalam mobil.
...----------------...
Sesampainya di lokasi, Sid langsung mengajak Kiran duduk.
"Pak Sid, selamat datang." Sambut salah satu karyawannya sambil tersenyum, lalu tersenyum pada Kiran yang sedang menggendong baby Kal.
Sid yang memperhatikan itu memasang wajah sinisnya.
__ADS_1
"Kiran, masuk ke mobil!" Perintah Sid yang langsung diangguki Kiran.
Kiran mengerti maksud Sid yang menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Ia tahu, bahwa karyawan yang baru saja menyapanya itu membuat Sid kesal.
"Paman Reihan dan paman Ridan, tolong jaga Kiran di dalam mobil." Reihan dan Ridan segera melaksanakan perintah Sid.
"Pak, apakah anda akan naik ke panggung untuk menyampaikan sambutan?" Tanya karyawan itu dengan nada gugup.
"Ya, setelah aku menghabisimu atau membuatmu jera agar tidak berani lagi memandang istriku!" Jawab Sid disertai seringaiannya yang membuat siapapun yang memandangnya bergidik ngeri.
"Ma.. Maaf, pak." Karyawan itu semakin gugup.
"Pergi! Jangan pernah berani muncul di hadapanku dan istriku!" Pria itu segera pergi dengan lari terbirit-birit.
Lalu Sid memberikan kode pada Reihan agar menyuruh Kiran keluar. Kiran keluar dari mobil, dengan senyumannya pada Sid.
"Kau ini memang menyebalkan, baru saja aku duduk kau sudah menyuruhku masuk lagi ke dalam mobil!" Gerutu Kiran.
"Kau tahu? Dia menatapmu tadi!"
"Tapi lihatlah, anakmu selalu menangis jika di dalam mobil!" Protes Kiran sambil menunjukkan baby Kal yang masih menangis.
"Maafkan ayah, tapi ayah tidak suka ibumu ditatap pria lain dengan tatapan seperti itu!" Sid mencium pipi gembul putranya.
"Ada-ada saja!" Ketus Kiran.
"Kemarikan, aku akan menggendongnya sampai acara peresmian dimulai." Sid meraih baby Kal dan menggendongnya.
Hmm... Suamiku ini memang suami idaman.
Kiran tersenyum memandang suaminya yang sedang menggendong anak mereka sambil sesekali mencium pipi gembulnya.
Acara peresmian dimulai, Sid memberikan kembali baby Kal pada Kiran dan membawanya naik ke panggung untuk memberikan sambutan.
Setelah selesai memberikan sambutan, Sid langsung memperkenalkan Kiran sebagai istrinya pada publik.
"Hallo, semuanya apa kabar? Saya sebagai CEO dari SAR-E Group ingin memperkenalkan istriku." Sid merangkul Kiran, semua orang bertepuk tangan melihat kemesraan Sid dan Kiran.
"Perkenalkan, namanya Kirana Adiwijaya putri dari ibu Rhea Adiwijaya dan keponakan dari Dendi Adiwijaya pemilik perusahaan Adiwijaya Group." Semua orang kembali bertepuk tangan. Setelah memperkenalkan Kiran, Sid memperkenalkan Siran atau baby Kal.
"Dan ini putraku, Siran Kallandra Adeva Rafandi."
Setelah memperkenalkan Kiran dan baby Kal, mereka turun dari panggung dan menuju ke tempat lainnya.
__ADS_1
Bersambung...