Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Pernikahan dan Keterkejutan Siddharth


__ADS_3

Wajah Sid tampak tegang, apalagi ketika ia memakai jasnya. Dari matanya, terpancar kesedihan yang sangat dalam.


Selamat tinggal, Kiran. Kini antara aku dan kau hanya tinggal kenangan. Tapi aku berjanji akan selalu memberimu tempat teristimewa dalam hatiku, siapapun tidak akan bisa menggantikan tempatmu itu. Karena kau adalah wanita teristimewa dalam hidupku.


"Sid, kau sudah selesai bersiap?" Deva menepuk bahu putranya. Sid berbalik, dan memeluk ayahnya sekejap.


"Ayah, katakan! Katakanlah, tolong katakan bahwa ini hanya mimpi. Bahwa kehadirannya itu hanya mimpi." Sid menggenggam kuat tangan ayahnya.


"Sid, ini kenyataan kau harus menerimanya. Terimalah wanita yang akan menjadi istrimu itu." Deva menepuk lagi bahu Sid.


"Ayah, katakan! Bagaimana aku bisa menerimanya? Melihat ataupun bertemu dengannya saja tidak pernah? Bagaimana bisa ayah mengambil kesimpulan seperti itu?" Sid menekankan kata tidak pernah.


Tidak pernah? Bahkan kau sendiri mencintainya, bodoh! Dasar anakku ini lugu sekali, tidak curiga dengan rencana ayahnya sendiri.


"Anakku, seperti kau melupakan Kanaya dan menerima kehadiran Kiran dalam hidupmu, maka lupakanlah Kiran dan terima wanita yang ada disampingmu nanti saat duduk di pelaminan." Deva menepuk punggung putranya pelan, lalu memeluknya.


"Baiklah, aku tahu semua yang ayah lakukan adalah yang terbaik untukku." Ucap Sid dengan nada suara yang dipenuhi kesedihan.


Kiran, maaf. Tapi kisah cinta kita tinggal kenangan. Walaupun begitu, kau akan selalu memiliki tempat teristimewa dalam hatiku. Tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikanmu ditempat itu.


"Ayo, pernikahanmu akan segera dimulai." Deva merangkul Sid, dan membawanya keluar.


Sepanjang perjalanan menuju gedung tempat dilaksanakan pernikahan, Sid hanya terdiam sambil menatap kesamping, keluar kaca mobil.


Deva sendiri tersenyum geli, melihat putranya yang bersedih.


Kau bahkan tidak tahu isengnya ayahmu seperti apa? Kau pikir aku tega, memisahkanmu dengan wanita yang kau cintai? Tentu saja tidak, bodoh.


"Sid, jangan bersedih! Kau pasti akan menemukan kebahagiaan yang lebih besar dari istrimu nanti!" Sid menoleh, lalu tersenyum getir pada ayahnya.


Hei Aisha, kenapa bodohmu menurun pada putra kita? Seharusnya kau tidak menurunkan kebodohanmu, lihat! Putra kita bahkan tidak tahu bahwa ayahnya sendiri sedang mempersiapkan kejutan untuknya.


Mobil berhenti, tepat di parkiran gedung tempat akan dilaksanakannya pernikahan Kiran dan Sid.


"Ayo Sid, masuklah! Semua sudah menunggumu." Sambut Dendi, Sid mengangguk. Tak merasa curiga, kenapa pamannya Kiran berada di pernikahannya?


Namun, di langkah berikutnya Sid berhenti dan menoleh pada Dendi. Sid mengerutkan keningnya.


Tunggu, tunggu! Dia kan pamannya Kiran? Kenapa berada disini? Bukankah Kiran juga menikah hari ini? Jangan bilang bahwa Kiran juga akan menikah disini?


"Paman kenapa berada disi..."


"Jangan hiraukan dia, cepat masuk! Semua menunggumu di dalam!" Deva mengedipkan sebelah matanya pada Dendi, lalu merangkul Sid membawanya memasuki gedung.

__ADS_1


"Ayah, kenapa pamannya Kiran juga ada disini? Jangan bilang, bahwa Kiran juga akan menikah disini?" Sid menghentikan langkahnya, dan menatap Deva penuh tanda tanya.


"Kiran, Kiran, dan Kiran! Fokus saja pada pernikahanmu!" Tegas Deva.


"Tapi ayah, bukankah dia seharusnya berada di pernikahan keponakannya sendiri?" Sid mulai merasa curiga.


"Ayah tidak tahu, cepat duduk disana! Lihat, mempelai wanita sudah menunggu!" Deva mendorong Sid untuk duduk disebelah wanita yang duduk di hadapan seorang laki-laki yang bertugas menikahkan mereka.


Jantung Sid berdebar kencang pada saat duduk di sebelah wanita itu, Sid tak menoleh padanya sedikitpun. Dia haya menatap lurus ke depan.


Stop, Sid! Berhenti pikirkan Kiran! Sekarang liriklah wanita disampingmu, dia adalah calon istrimu!


"Kau sudah siap?" Tanya pria di hadapannya.


Sid mengangguk.


"Sebelum itu, lihat baik-baik wanita disampingmu. Benarkah dia mempelaimu? Atau kau akan menyesal karena tidak melirik ya sama sekali!" Sambil menunjuk wanita yang berada disamping Sid.


"Untuk apa aku melirik dan melihatnya? Bukankah mulai hari ini dan seterusnya aku akan selalu melihatnya?" Tanya Sid penuh keheranan.


"Bukan begitu, aku takut bahwa wanita disampingmu ini bukanlah mempelaimu yang sebenarnya." Laki-laki yang bertugas menikahkannya mulai mengotot.


"Pak, bagaimana bisa aku mengenalinya? Aku saja tidak pernah melihat wajahnya! Kami menikah karena dijodohkan!" Nada suara Sid mulai meninggi.


Dia memakai gaun berwarna pink yang sedikit terbuka di bagian belakang, sehingga memperlihatkan punggungnya yang mulus. Wajahnya tertutup kain tipis yang berwarna senada dengan warna gaunnya. Sehingga wajahnya terlihat samar-samar.


Kenapa aku seperti mengenalinya? Kenapa aku seperti melihat Kiran disini? Ah, sudahlah! Seharusnya aku tidak memikirkan Kiran! Jadi aku tidak akan membayangkannya berada disampingku lagi.


"Sudahlah, pak. Lanjutkan saja pernikahannya." Sid menghela napas panjang.


Deva dan Dendi yang sedari tadi berada di belakang mereka, sekarang mendekati Sid.


"Sid, jangan seperti itu! Kau lihat dulu, atau kau akan menyesal mengatakan bahwa kau tidak pernah melihatnya, ataupun bertemu dengannya."


"Ayah, maksudmu apa? Jelas-jelas aku tidak pernah bertemu dengannya!" Perdebatan dimulai.


Wanita yang duduk di samping Sid berdiri, lalu menghadap Sid yang sudah ikut berdiri.


"Buka!" Perintah Deva pada Sid, sambil menunjuk kain yang menutupi wajah wanita itu.


"Tidak, ayah! Aku ingin membukanya nanti jika pernikahan ini sudah selesai!"


"Sid, sebelum menikah kau harus mengetahui wajah calon istrimu dulu!" Nada suara Deva mulai meninggi. Dendi yang berada disampingnya sudah tak kuat menahan tawa.

__ADS_1


"Ayah, kenapa kau selalu memaksaku? Aku tidak ingin melihat wajah wanita ini sekarang!" Kali ini, Sid sudah tidak bisa menahan emosinya yang sudah berhari-hari ia tahan.


"Sid, pelankan nada suaramu! Dia ayahmu!" Dendi memperingatkan.


"Paman, bagaimana aku tidak emosi? Pertama dia memaksaku menikahi wanita ini! Lalu, sekarang dia memaksaku membuka kain penutup wajah wanita ini?" Ucap Sid dengan wajah kesal.


Yang berada di balik kain sudah merasa tidak tahan lagi, melihat perdebatan antara ketiganya yang terdengar sangat lucu. Tapi, ia tetap bersikeras menahan tawanya.


"Cukup Sid, kau keterlaluan! Ayah hanya ingin kau bahagia, apa salahnya?" Deva berpura-pura terpancing emosinya.


"Bahagia? Apa ini yang ayah katakan bahagia? Memaksa anak sendiri menikah dengan wanita yang tidak dicintainya? Dan memisahkannya dari wanita yang sudah jelas dicintainya?" Sid menunjuk wanita disampingnya.


"Sid, aku adalah ayahmu! Pilihanku adalah yang sangat terbaik untukmu!" Deva meraih lengan Kiran, dan menariknya hingga berdiri disampingnya. "Jika kau tidak ingin melihat dan menikah dengannya, maka ayah yang akan menikah dengannya!" Ancam Deva.


"Ayah, jadi ayah akan mengkhianati cinta ayah pada ibu, begitu?" Sid menggeleng tak percaya.


"Iya, jika kau keras kepala maka ayah akan mengkhianati ibumu! Jika kau tidak suka ayah mengkhianatinya, maka bukalah penutup wajah wanita ini!" Perintah Deva tegas.


"Ayah, kenapa dengan ayah? Apa ayah sudah gila?"


"Sid, ayah memberimu dua pilihan! Menikah atau ayah akan..."


"Baiklah, tapi aku tidak ingin membuka penutup wajahnya!" Potong Sid tegas.


"Baiklah, ayah akan membukanya dan kau harus melihatnya!" Sid berfikir kembali.


"Baiklah, aku yakin bahwa aku tidak mengenalinya."


"Baik." Pelahan, Deva membuka penutup wajah Kiran.


"Lihat! Tiga... Dua... Satu...!" Penutup wajah akhirnya terbuka sempurna.


"Kau yakin tidak mengenaliku? Jadi kita tidak pernah bertemu? Kenapa kau jahat sekali?" Kiran cemberut.


Sid sangat tercengang, ia memandangi wanita dihadapannya dengan penuh keterkejutan.


Saat ini, Sid benar-benar shock dengan hasil dari penglihatan matanya.


Kiran? Tidak, aku pasti bermimpi! Ini tidak mungkin Kiran! Ah, aku bermimpi!


"Tidak, aku pasti bermimpi!" Sid menggeleng-gelengkan kepalanya. Detik berikutnya, semua orang yang berada du gedung tertawa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2