
"Sid, aku ikut walaupun hanya sampai ke bandara. Tapi, setidaknya itu membuatku senang. Boleh, kan?" Sid menatap wajah Kiran lekat-lekat, ia tak tega menolak permintaan Kiran kali ini.
Sid menghembuskan napas pelan, lalu mengangguk.
"Terima kasih." Sid mengangguk lagi.
Kiran pun ikut masuk ke mobil yang di kendarai Reihan, Kal juga ikut di gending oleh bi Asih yang duduk di kursi depan di samping pengemudi.
Selama perjalanan Sid dan Reihan dibuat bingung dan curiga, karena sedari tadi ada mobil yang seperti mengikuti mereka di belakang.
"Tuan muda, apa kita akan berhenti dan turun? Sepertinya mobil di belakang itu mengikuti kita." Tanya Reihan setengah berbisik.
Kiran menoleh ke belakang, mobil yang dimaksud Reihan tiba-tiba berbelok.
"Mobil itu sudah berbelok, kita teruskan saja. Penerbangan sebentar lagi, jangan sampai kita terlambat karena tidak akan ada lagi penerbangan ke London setelah ini." Reihan mengangguk, lalu menambah kecepatan laju mobilnya.
Namun tiba-tiba saja, mobil yang mengintai mereka tadi sudah terparkir di area parkiran bandara. Reihan dan Sid saling memandang. Kiran dan bi Asih tak memperhatikannya, mereka sibuk menghentikan Kal yang menangis sedari turun dari mobil.
"Tuan muda, mobil itu..."
"Paman, jangan khawatir! Mungkin mobil itu memang memiliki tujuan yang sama dengan kita." Reihan mengangguk, namun hatinya sedikit curiga.
"Tuan muda, penerbangan akan berlangsung sebentar lagi. Bersiaplah!"
"Baiklah, aku titipkan Kiran dan Kal padamu. Jaga mereka dengan baik, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Reihan mengangguk patuh.
"Tuan muda, mereka akan ikut bersamamu untuk mengawalmu." Sambil menunjuk beberapa pengawal terbaik keluarga Sid yang baru tiba. Sid mengangguk.
"Kiran, aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik." Kiran mengangguk, lalu memeluk Sid sebentar.
"Jaga dirimu baik-baik juga, ya? Aku akan menunggumu disini, selalu." Ucap Kiran diiringi tetesan bening dari pelupuk matanya.
"Jangan menangis, lihat Kal juga tidak menangis." Menunjuk Kal yang berada di gendongan bi Asih. Kal memang sudah tak menangis, namun setelah Sid menunjuknya menjadi menangis.
Tangannya meronta-ronta ingin di gendong Sid.
"Ayah... Huu..." Isaknya. Sid tak tega, ia pu. mengambil Kal dan menggendongnya.
"Anak ayah jangan nakal, ya? Lindungi ibu dan nek Asih juga adik-adikmu diperut ibu!" Kal tersenyum, lalu mencium pipi ayahnya. "Terima kasih, anak pintar. Ayah sayang kalian." Merangkul Kiran, dan memeluknya sebentar.
"Hati-hati disana, jangan lupa istirahat dan makan yang benar." Sid mengangguk, lalu melambaikan tangannya pada Kiran sambil berjalan menuju pesawat.
Kal, Kiran, dan bi Asih beserta Reihan membalas lambaian tangan itu. Tapi, entah mengapa hati Kiran merasa tidak ingin Sid pergi saat ini.
__ADS_1
Sid berhenti melangkah, sebelum memasuki pesawat. Ia menoleh pada Kiran sambil tersenyum dan melambaikan tangannya lagi. Kiran membalas lambaian itu, hingga akhirnya Sid masuk ke dalam pesawat. Tak lama, pesawat itu sudah mengudara menuju kota London.
Kiran mengeluarkan ponselnya, lalu mencari kontak Sid dan mengiriminya pesan.
Jangan lupa kabari aku jika sudah sampai, selalu kabari aku.
Pesan terkirim, tak lama ada balasan dari Sid.
Iya, sayangku. Aku baru beberapa menit pergi, jangan khawatir aku akan baik-baik saja. Kau juga jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kelelahan. Jika Kal rewel telepon aku saja.
Kiran membalasnya lagi.
Iya, Love you my hubby.
Love you too, my wife.
"Nona, mari kita pulang?!" Reihan menepuk pundak Kiran.
"Paman Reihan, ayo!" Sambil memberikan seulas senyum.
Kiran memasuki mobil beserta bi Asih dan Sid. Selama perjalanan mereka kembali diikuti oleh mobil yang tadi mengintainya saat berangkat ke bandara.
"Nona, maaf tapi mungkin kecepatannya akan aku tambah." Sambil menginjak pedal gas dalam-dalam.
"Ada apa, paman?" Tanya Kiran dengan wajah panik.
"Tolong cepat, paman!" Reihan menambah kecepatan mobilnya, bukan menuju mansion utama tapi menuju rumah Sid yang sudah lama tidak diisi.
Di persimpangan jalan, mobil itu sudah tak terlihat lagi mengikuti mereka. Tapi Reihan tetap was-was dan berjaga-jaga takut tiba-tiba mobil itu masih mengikuti juga.
Reihan mengeluarkan ponselnya, lalu meminta bantuan pengawalan untuk Kiran.
"Hallo, aku perlu beberapa orang untuk mengawal nona muda. Ada satu mobil yang mengikuti kami dari belakang, tolong cari tahu siapa itu dan apa maksudnya mengikuti kami." Lalu menutup teleponnya dan menyimpannya lagi.
Reihan kembali melajukan mobilnya, menuju rumah Sid yang dulu sering dikunjungi Kiran semasa kerjanya.
"Nona, untuk sementara nona akan tinggal di rumah milik tuan muda sampai keadaan benar-benar aman."
"Baik, paman. Terima kasih."
"Tidak masalah, sudah tugasku melindungi nona dan tuan muda kecil." Reihan tersenyum. Baginya, hidupnya adalah milik ayah Deva beserta keluarganya. Jika ada yang ingin mencelakakan ayah Deva maka harus menghadapi dirinya terlebih dahulu.
Tak lama mereka sampai di rumah Sid. Kiran tersenyum saat meginjakan kaki di halaman rumah itu yang dipenuhi bunga-bunga mawar. Seorang pelayang yang ditugaskan mengisi dan membereskan serta membersihkan rumah itu menyambut Kiran dengan ramah.
__ADS_1
"Nona muda, selamat datang."
"Terima kasih." Balas Kiran tak kalah ramah.
"Antar nona muda masuk, bawakan buah untuknya dan biarkan nona istirahat." Pelayan itu mengangguk patuh pada Reihan.
Pelayan bernama Asri itu mengantar Kiran menuju kamar Sid. Betapa terkejutnya Kiran saat sampai di kamar itu, apalagi saat melihat dindingnya yang dipenuhi figura berisi foto Sid bersama Kiran.
"Foto ini? Bukankah ini saat hari ulang tahunnya yang pertama kali di rayakan di kantor?!" Kiran mendekati foto itu dan mengelusnya. Banyak sekali foto mereka berdua, foto pernikahan yang paling banyak.
Dia kapan melakukan ini? Kenapa tidak memberitahuku?! Aku akan memarahinya saat pulang nanti!
Kiran duduk di ranjang Sid, ia teringat ketika Sid waktu itu terkilir pinggangnya. Itu adalah moment saat pertama kali Sid hampir menyatakan cintanya pada Kiran.
Air mata sudah mengalir dari mata Kiran, mengingat semua momen indahnya bersama Sid. Rindu di hatinya kembali menggebu-gebu. Baru beberapa jam mereka terpisah, sudah seperti bertahun-tahun saja.
Aku tidak bisa jauh darimu lebih dari satu jam, setelah waktu itu aku berpisah denganmu di pulau terpencil itu rasanya aku tidak tahan sedetik saja tanpa dirimu.
Kiran membaringkan dirinya di ranjang besar itu, sampai ia akhirnya tanpa sadar terlelap disana hingga sore.
"Nona, nona bangun!" Asri membangunkan Kiran.
Kiran menggeliat, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih mengantuk.
"Ada apa?" Kiran bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Mari makan, ini sudah sore." Kiran mengerutkan dahinya, lalu melirik jam dinding. Sudah jam empat sore, itu artinya lama juga dia tertidur.
"Baiklah, aku akan mandi dulu. Tapi..." Kiran ingat bahwa disini tidak ada pakaiannya.
"Pakaian anda sudah disiapkan di lemari itu nona." Menunjuk lemari di pojok ruangan, seolah mengerti bahwa Kiran sedang memikirkan pakaian.
"Eh, bagaimana bisa?"
"Tuan muda yang menyiapkannya dulu saat anda menikah dengannya. Tapi, karena tuan besar menyuruh anda dan tuan muda tinggal di mansion semuanya jadi dibiarkan saja disini." Jelas Asri.
Itu artinya sudah sedari lama semua ini disiapkan Sid? Ya Tuhan! Kenapa dia tidak bilang?!
"Baiklah, terima kasih. Aku akan turun setelah mandi." Asri mengangguk, lalu keluar dari kamar.
Kiran mengambil handuk yang tergantung di tempat penyimpanan handuk, tak sengaja sebuah kertas jatuh dari dalam handuk itu.
Kiran mengambilnya, lalu membukanya. Kertas itu berisi tulisan Sid. Kiran membacanya, seketika matanya membelalak senang dan bibirnya tersenyum.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Vote, like, coment, dan hadiah boleh juga yaa...!!!