Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Menyambut Kebahagiaan


__ADS_3

Mentari pagi bersinar, membuat tubuh ketiga manusia yang sedang berbaring di ranjang terkena pancaran sinar mentari pagi.


"Selamat pagi, Sid dan Kal! Ayo bangun, lalu mandi dan setelah itu sarapan." Kiran membangunkan suami dan anaknya.


Sid menggeliat, lalu mendudukan tubuhnya.


"Selamat pagi juga, dua tokoh penting dalam hidupku." Balasnya sambil tersenyum hangat.


"Ayo, mandilah. Biarkan Kal diurus bi Asih saja, aku yang akan memasak untuk pagi ini." Sid mengangguk tanpa perlu berlama-lama ia segera pergi membawa handuknya dan memasuki kamar mandi.


Kiran segera memanggil bi Asih untuk menyiapkan Kal, sementara dirinya sendiri hanya mencuci wajahnya lalu memasuki dapur yang sudah terdapat beberapa orang pelayan sedang menyiapkan sarapan.


"Selamat pagi, semuanya." Sapa Kiran ramah.


"Selamat pagi, nona. Anda sudah bangun ternyata, ada yang bisa kami bantu?" Kiran menggeleng.


"Aku ingin memasak sarapan untuk pagi ini, kalian kerjakan saja pekerjaan lain."


"Eh, nona mana bisa begitu. Nanti kami dimarahi oleh tuan muda."


"Tidak apa, dia sudah tahu aku akan memasak untuk sarapan pagi ini." Sambil meraih beberapa sayuran dan memotongnya dengan pisau.


Para pelayan tak bisa membantah lagi, merekapun segera berpamitan untuk mengerjakan hal lain.


Sementara di kamar tuan besar dan nyonya besar sang pemilik rumah masih terlelap bertiga. Eh, bertiga? Dengan siapa?


Ya, mereka tidur bertiga dengan sang putri kesayangan. Lakshmi.


Sejak semalam Lakshmi tidur bersama ayah dan ibunya. Hal itu tak menjadi masalah bagi ayah Deva. Ia tahu, bahwa Lakshmi sangat menginginkan belaian dan kasih sayang seorang ibu. Jadi, ayah Deva mengizinkannya tidur bersama dirinya dan ibu Aisha.


"Selamat pagi." Sapa ibu Aisha saat melihat ayah dan anak itu membuka matanya.


"Ibu? Selamat pagi." Balas Lakshmi sambil memeluk tubuh ibunya.


"Selamat pagi, dua wanita istimewaku." Balas ayah Deva sambil merangkul kedua wanita itu da mengecup keningnya.


"Ayo, bersiap-siap. Lakshmi, kau ada kuliah kan pagi ini? Cepat mandi lalu sarapan, ya?" Lakshmi mengangguk, lalu turun dari ranjang dan keluar dari kamar orang tuanya.


Ayah Deva masih berbaring di ranjang, saat ibu Aisha akan beranjak ayah Deva menarik tangannya.


"Ada apa? Kenapa menahanku seperti ini?"


"Kau tidak merindukanku?" Ibu Aisha menggeleng. "Jahat!"


"Sudah tua, jangan suka menggoda atau sepatumu akan mendarat di mulutmu! Cepat mandi!" Ayah Deva terkekeh, sikap istrinya masih sama seperti saat mereka masih muda.


"Baik-baik, aku akan mandi jika mau berjanji satu hal padaku."


"Apa?" Tanya ibu Aisha dengan nada ketus.


"Tetap bersamaku, jangan pergi lagi dariku." Ibu Aisha tersenyum, lalu duduk disamping ayah Deva.


"Aku tidak pernah akan pergi darimu kecuali pergi karena satu hal yang diharuskan. Kita disatukan Tuhan, lalu Tuhan sendiri yang akan memisahkan kita dengan cara dipisahkan maut."


"Terima kasih, telah menjadi wanita yang setia dan mencintaiku apa adanya." Ibu Aisha menyandarkan kepalanya di dada ayah Deva, lalu meraba dadanya.

__ADS_1


Deg... Deg... Deg...


"Detak jantung ini selalu indah jika aku mendengarnya, aku sangat menyukai ini darimu." Ucap ibu Aisha pelan namun masih bisa didengar oleh ayah Deva.


"Detak jantung ini akan tambah indah terdengar saat kau berada disisiku seperti ini."


"Hmm..." Sid yang sedari tadi berdiri di ambang pintu membuat keduanya gelagapan dan menjauhkan posisi duduk masing-masing. "Setidaknya tutuplah pintu kamarnya jika ingin bermesraan!" Protesnya dengan senyum jahil.


"Kau ini belajar tidak sopan dari siapa? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" Sinis ayah Deva.


"Dari ayah." Jawab Sid singkat yang membuat ibu Aisha menoleh pada ayah Deva dan menatapnya dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Kenapa?" Tanya ayah Deva dengan santainya.


"Tidak ada." Ketus ibu Aisha.


"Kau kenapa masih berdiri disana? Ada apa? Apa ada yang penting?" Bertanya dengan nada sinis.


"Kiran menyuruh kita semua turun untuk sarapan, dia sudah memasak makanannya sendiri."


"Wow! Istri yang tepat sekali, idaman! Cantik, pandai memasak!" Puji ibu Aisha.


"Tidak sepertimu sudah jelek dan cerewet juga pandai berdebat."


"Kalian akan berdebat atau turun untuk sarapan?!" Sid melerai sebelum perdebatan antara pak presiden dan ibu presiden rumah dimulai dan semakin menjadi-jadi.


"Iya, kami akan turun. Kau duluan saja, aku akan menghukum ayahmu dulu."


Perang dimulai! Lebih baik aku turun, sebelum telingaku panas!


"Kenapa mereka suka sekali berdebat?! Apa bibir mereka tidak pegal?!" Gerutunya kesal.


Di ruang makan semua sudah berkumpul, keluarga kakek Lucas, Keluarga ibu Rhea termasuk Ami dan Rafa. Karena Rafa adalah anak dari ayah Andra, yang berarti kakak tirinya Kiran.


"Kemarikan, kau duduk saja biar ibu yang hidangkan." Ibu Rhea meraih piring makanan di tangan Kiran.


"Tapi bu..."


"Jangan membantah, kau sedang hamil!"


"Apa?!" Rafa dan Ami berteriak.


"Iya, Kiran sedang hamil lagi. Bayi kembar." Jawab ibu Rhea sambil tersenyum.


"Kenapa kalian terkejut?" Kiran keheranan.


"Kal baru satu tahun, dia akan memiliki adik?" Kiran mengangguk.


"Ini permintaan Sid, tapi aku juga senang memiliki banyak anak."


"Ami, apa kau ingin..."


"Tidak!" Jawab Ami cepat ketika Rafa berbicara, ia tahu kemana arah pertanyaan suaminya. Rafa cemberut.


"Kenapa tidak?" Kiran yang bertanya.

__ADS_1


"Kiran, itu sakit! Melahirkan itu sakit!"


"Tidak, justru aku bahagia." Ami menganga, bagaimana bisa Kiran mengatakan melahirkan itu bahagia?


"Bukan saat kita mengeluarkan bayinya, tapi saat bayinya keluar. Tentu saja mengeluarkan bayinya sakit, seperti ratusan tulang dipatahkan secara bersamaan. Tapi, saat mendengar tangisan bayi disitulah aku merasa bahagia." Jelas Kiran yang membuat Ami mangut-mangut.


"Kau mau kan sekarang?" Ami mendelik tajam pada Rafa.


"Keyra saja baru satu tahun, setidaknya beri aku waktu untuk membesarkannya dulu!" Rafa cemberut lagi.


"Kenapa harus menunggu selama masih bisa?" Sahut ibu Aisha yang sedang menuruni tangga bersama ayah Deva.


"Eh, bibi Aisha."


"No! Panggil aku ibu."


"Eh, i... iya bi. Eh, bu." Ami gelagapan.


"Selagi kita diberi rahim oleh Tuhan buatlah anak sebanyak-banyaknya." Goda ibu Aisha.


"Sudah, Aisha. Jangan menyuruh mereka mempunyai banyak anak! Kau saja tidak mau menambah anak lagi!" Cibir ayah Deva. Sontak semua tertawa mendengar kata-kata ayah Deva.


Ibu Aisha mendelik tajam padanya.


"Kau gila atau bagaimana? Sudah tua masih ingin menambah anak! Jangankan melahirkan, aku sudah tidak mampu membuatnya!" Ketus ibu Aisha.


"Benarkah kau sudah tidak mampu lagi? Nanti malam kita coba!" Ayah Deva tersenyum nakal.


"Kau sudah tidak waras!"


Kiran tertawa terbahak-bahak mendengar perdebatan mertuanya itu, entah kenapa itu malah menjadi hiburan tersendiri baginya. Mungkin, di hari-hari berikutnya itu juga akan menjadi hiburan bagi Kiran setiap harinya.


"Sudah, ibu dan ayah mertuaku yang sangat baik hati ayo kita sarapan sebelum makanannya dingin." Keduanya mengangguk, lalu mengambil posisi duduk masing-masing.


Sid turun membawa Kal, dan membawanya duduk di samping Kiran.


"Selamat pagi sayang, kau mau sarapan juga?" Kal mengangguk.


"Mbu... Mbu..." Ucap Kal sambil menunjuk ibu Aisha.


"Aaa... Sayang, cucu nenek ingin digendong nenek ya?" Kal mengangguk, rasanya begitu cepat Kal akrab dengan neneknya padahal baru beberapa hari ibu Aisha kembali.


"Kemarilah." Ibu Aisha berdiri, lalu mengambil Kal dari gendongan Sid.


Tampak Kal tertawa ceria setelah diambil neneknya.


Kiran menatap Sid, lalu Sid mengangguk.


"Dia mungkin kedepannya akan lebih senang bersama bunda."


"Tidak apa-apa, aku akan fokus dengan si kembar ini." Kiran menunjuk perutnya.


Sid mengangguk lalu mengusap perut Kiran yang sudah tampak menonjol agak besar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2