
Sudah tiga hari, sejak Sid dan Kiran pulang dari bulan madunya. Sudah tiga hari juga, keduanya berkeliling mencari keberadaan Deva dan Lakshmi yang menjadi tahanan Kanaya.
"Kiran, aku bingung. Kita harus mencari ayah dan Lakshmi kemana lagi? Kita sudah mengelilingi banyak tempat, tapi masih belum berhasil menemukan keberadaan mereka." Wajah Sid tampak terlihat pasrah, cemas, sekaligus marah.
"Sid, jangan putus asa. Kita pasti bisa menemukan ayah dan Lakshmi." Kiran mencoba menegarkan Sid.
"Lalu kemana lagi kita harus mencari?" Kiran terdiam, lalu duduk di samping Sid. Dia memikirkan sesuatu.
"Sid, apa kau tahu apa saja tempat yang dimiliki Kanaya?" Sid menoleh pada Kiran.
"Ya, kenapa aku tidak memikirkan itu? Bisa saja bukan, kita menemukan Kanaya disana? Dan mungkin dia menyandera ayah dan Lakshmi disana?" Kiran mengangguk.
"Ayo, kita harus segera pergi mencari mereka!" Sid mengangguk, dan langsung pergi dengan mobilnya bersama Kiran.
...----------------...
Flashback on
Satu hari sebelum kepulangan Sid, Deva berencana untuk menyambut keduanya. Deva dan Lakshmi pergi menuju toko untuk membeli keperluan penyambutan putra dan menantunya.
Selama perjalanan, mereka tidak sadar tengah diikuti oleh mobil lain dari belakang. Deva yang menganggap bahwa mobil itu memang berarah sama perjalanannya, merasa santai saja.
"Ayah, kenapa mobil itu seperti mengikuti kita?" Tanya Lakhsmi curiga.
"Lakshmi, mungkin mereka memiliki arah yang sama saja dengan kita." Deva mencoba menepis kecurigaan Lakshmi.
Namun, tiba-tiba mobil itu menyalip mobil Deva. Dengan spontan, Deva menginjak pedal rem dalam-dalam yang membuat keduanya terpental.
"Bodoh! Apa maksud mereka? Apa mereka ingin mencelakakan kita?" Deva mengelus pelipisnya yang terbentur setir. "Lakshmi, kau baik-baik saja?"
"Iya, ayah aku tidak apa-apa. Tapi siapa mereka?" Sambil menunjuk orang-orang yang turun dari mobil yang menyalip mereka.
Deva menoleh, memperhatikan orang-orang itu. Salah satunya membuat Deva sangat terkejut.
Kanaya? Bagaimana bisa dia terlepas?
Dia langsung mengambil ponselnya, dan menelepon anak buahnya. Tidak ada yang mengangkatnya, sepertinya mereka juga telah dikalahkan oleh Kanaya.
Deva memanggil orang lain, menelepon putranya sendiri.
Sudah panggilan ke sekian, tidak ada jawaban. Lalu Deva mengirimkan pesan pada Sid, berharap pesan itu akan secepatnya dibaca.
Pria yang tadi turun dari mobil menggedor-gedor kaca mobil Deva.
"Turun kau!" Teriak Kanaya yang juga menggedor kaca mobil Deva.
Deva dan Lakshmi turun, mereka langsung menangkapnya dan membawanya entah kemana. Sedangkan ponsel Deva tertinggal di dalam mobil.
Flashback off
__ADS_1
Sid dan Kiran sudah sampai di tempat yang Sid ketahui bahwa itu milik Kanaya.
"Kiran, semoga kita bisa menemukan ayah di tempat ini!" Kiran mengangguk. "Berhati-hatilah, jangan lengah. Aku takut ada seseorang disini yang bisa kapan saja menangkap kita juga."
"Tenang saja, aku akan memegang bajumu. Jadi, jika terjadi sesuatu padaku kau akan menyadarinya." Sambil memegang baju yang di pakai Sid.
Mereka mulai mengelilingi rumah kosong milik Kanaya, satu persatu ruangan Sid dan Kira memasukinya.
Sudah hampir satu jam, mereka memeriksa seluruh ruangan di rumah itu. Tertinggal satu pintu, yang tertutup rapat. Sejak tadi Sid dan Kiran berusaha membukanya. Tapi nihil, pintu itu di kunci dengan sangat kuat.
"Sid bagaimana ini? Kuncinya sangat susah untuk dibuka!" Sid menghela napas kasar. Lalu menoleh pada Kiran.
Memperhatikan Kiran, lalu meraih kepala Kiran dan melepas jepit rambut di kepala Kiran.
"Semoga bisa." Sid memasukkan jepitan rambut itu kedalam lubang kunci, dan mencoba membukanya. Pada usaha ketiga, kunci sudah berhasil dibuka.
"Ayo masuk!" Sid menarik Kiran memasuki ruangan itu, tampak gelap. Tapi mereka tetap masuk karena sangat merasa curiga dengan ruangan itu.
Bagaimana Sid bisa memiliki kunci rumah Kanaya? Apa mereka? Tidak, kau tidak boleh berpikiran seperti itu, Kiran! Dia suamimu, dan dia sangat mencintaimu!
Kiran menepis jauh-jauh prasangka buruknya, ketika tadi melihat Sid memiliki kunci rumah kosong milik Kanaya ini.
"Sid, kenapa gelap sekali?" Kiran memeluk lengan Sid, karena dia takut dengan kegelapan.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir! Aku bersamamu disini." Sid merangkul bahu Kiran, merekapun berjalan bersama.
"Tidak ada apapun disini." Lirih Kiran.
"Tentu saja ada, ada Kanaya disini!" Kiran dan Sid menoleh bersamaan, dan terkejut melihat Kanaya sudah berada di belakang mereka.
Walaupun dalam keadaan gelap, Sid masih bisa mengenali sosok di hadapannya. Tapi Kiran hanya diam, karena baru kali ini dia melihat Kanaya dengan sangat jelas.
Lampu dihidupkan, terlihat Sid sudah memandang Kanaya dengan tatapan membunuh. Ternyata disana juga terdapat ayahnya dan Lakshmi yang sudah diikat diatas kursi..
"Ayah, Lakshmi!" Seru Kiran.
Keduanya tampak sudah pucat, mungkin karena Kanaya tidak memberi mereka makan selama tiga hari itu.
"Ayah, bangun. Lakshmi, bangun!" Sid dan Kiran mengguncang-guncang tubuh keduanya. Mereka tidak peduli, bahwa dibelakang mereka ada Kanaya yang sedang memerhatikan keduanya dengan senyuman sinis.
Deva dan Lakshmi bangun, dengan keadaan yang sangat lemah.
"Kakak..." Lirih Lakshmi lemah.
"Sid, kau disini."
"Apa yang telah dia lakukan pada kalian?" Emosi kembali memuncak di kepala Sid, dia membalikkan tubuhnya, lalu berjalan menghampiri Kanaya dengan tangan yang sudah akan meraih leher Kanaya. "Apa yang kau lakukan pada ayah dan adikku?" Tanya Sid dengan tangan yang sudah mencengkeram leher Kanaya dengan sangat kuat.
Sid melepaskan cengkeraman itu saat Kanaya sudah terlihat kesusahan bernapas.
__ADS_1
"Melakukan seperti yang anak buah ayahmu lakukan padaku dan keluargaku!" Jawab Kanaya dengan suara berani.
"Kau pantas mendapatkannya, anak pembunuh!" Sahut Deva dengan suara lantang.
Sid menoleh, dan menatap ayahnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Sid, dialah anak dari pembunuh ibumu! Dia dan keluarganya adalah pembunuh ibumu!" Seru Deva lagi dengan suara lantang.
Bagaikan tersambar petir, Sid terdiam. Lalu tangannya mulai mengepal kuat.
"Keputusanku sudah benar, dulu meninggalkanmu dan tidak menerimamu kembali! Kalian memang penjahat!" Sid mencengkeram lagi leher Kanaya dengan tangannya, membuat wanita itu tidak bisa bernapas.
"Sid, hentikan! Biarkan polisi yang memberinya hukuman!" Sahut Kiran sambil mencoba melepaskan tangan Sid dari leher Kanaya.
Setelah lepas, Kanaya mengatur napasnya.
"Polisi? Maka lihatlah ini!" Kanaya menepuk tangannya dua kali, keluarlah beberapa anak buahnya dengan pistol di tangannya.
"Kau yakin bisa melukai kami?" Ejek Sid sambil tersenyum sinis dan melihat pada anak buah Kanaya.
"Kenapa tidak?" Kanaya tak kalah sinis. "Buktinya, waktu itu aku bisa melukaimu!"
Sid mengingat kejadian pada saat Kanaya menusuknya, lalu diapun tertawa.
"Itu karena pengecualian saja, aku sedang lemah. Tapi kali ini, aku punya kekuatan besar yang akan mampu membuatmu benar-benar tidak ingin hidup, dan lebih memilih mati." Sid memberi kode pada Kiran.
Tanpa diduga, Kiran melakukan sesuatu yang diluar nalar Kanaya. Anak buah Kanaya mengacungkan pistolnya pada Kanaya sendiri. Lalu Kiran menepuk tangannya dua kali seperti yang dilakukan Kanaya.
Televisi di ruangan itu hidup, menampilkan keluarga Kanaya yang sedang dalam eksekusi hukuman mati.
"Apa? Tidak, itu tidak mungkin!" Bantah Kanaya.
"Tembak dia!" Perintah Sid pada anak buahnya.
Kanaya sudah ketakutan, tapi bukan Kanaya namanya. Jika dia tidak mampu melakukan segala cara untuk kabur dari sana. Kanaya menggigit tangan anak buahnya, lalu mengambil alih pistol di tangannya. Dan mengarahkannya pada Kiran.
Tanpa diduga lagi, pistol itu ditembakan. Namun dengan cepat, ayah Deva yang ikatannya sudah terlepas menghalangi Kiran.
Dor..
Peluru mendarat tepat di dada ayah Deva.
"Ayah!" Seru Kiran, Sid, dan Lakshmi bersamaan.
"Kiran, bawa ayah ke rumah sakit. Lakshmi, temani Kiran. Dan kau! Bantu mereka!" Menunjuk anak buah Kanaya yang sebenarnya mata-mata Sid.
"Tapi kau..."
"Kiran, aku akan menangkapnya lebih dulu. Setelah itu aku akan menyusulmu ke rumah sakit!"
__ADS_1
Bersambung...