
Bibir Kiran menyunggingkan senyum bahagia, ketika membaca surat itu.
*Dear, Kirana istriku...
Terima kasih telah hadir di hidupku membawa kebahagiaan yang besar dan tak terhingga. Aku pikir aku akan kehilanganmu saat kau dijodohkan oleh keluargamu, tapi aku salah. Justru perjodohan itu membuatku memilikimu seutuhnya. Aku harap kita bahagia selamanya, dan kau mau menemaniku dalam suka dan duka.
Aku mencintaimu sampai tak terhingga sebesar apa cintaku itu padamu.
I Love You So Much, Dear...
^^^Suamimu, Siddharth.^^^
"I love you too, dear. Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu." Kiran memeluk surat itu, lalu menyimpannya di tempat asalnya.
Ternyata semua ini dia siapkan di malam pernikahan, tapi kenapa tidak mengatakannya?
"Nona!" Sahut bi Asih tiba-tiba dari arah belakang, membuat Kiran terkejut.
"Ada apa, bi?"
"Tuan muda kecil!" Seru bi Asih dengan nada panik.
"Ada apa dengan Kal? Apa yang terjadi padanya?!" Kiran sudah ikut panik.
"Dia menghilang!"
"Apa?!" Kiran langsung berlari menuju kamar Kal di samping kamarnya, sampai disana ia benar-benar tak menemukan Kal di ranjangnya.
"Nona, tadi dia sedang tidur disini, bibi meninggalkannya sebentar untuk menyiapkan makan siang. Tapi, pada saat bibi kembali tuan muda kecil sudah tidak ada."
"Apa?! Tapi kemana, dia? Apa jangan-jangan?" Kiran menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dia tak ingin berfikir buruk tentang Kal.
"Lebih baik kita cari dia di seluruh ruangan ini, jika tidak ada kita minta bantuan paman Reihan." Bi Asih mengangguk, lalu segera mencari Kal disekeliling rumah Sid.
Kiran memeriksa kamar mandi, tidak ada dan tidak mungkin juga Kal memasuki kamar mandi.
"Kal, kau dimana? Jangan bersembunyi!" Teriak Kiran sambil berjalan keluar kamar.
Lalu bi Asih dan Kiran memeriksa kamar-kamar disana serta ruang kerja Sid. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kal disana.
"Bi, bagaimana? Apa bibi menemukan Kal?" Bi Asih menggeleng, Kiran sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Kal.
"Nona, hanya ada satu ruangan yang belum kita masuki. Gudang, coba kita periksa." Kiran mengangguk, lalu segera melangkah menuju gudang.
Sesampainya di gudang Kiran langsung memasukinya. Di dalam gudang itupun tidak ada tanda-tanda bahwa Kal berada disana.
"Tidak ada, sepertinya Kal tidak memasuki gudang ini." Ujar Kiran dengan nada suara panik.
"Lalu kemana dia? Apa kita harus memberi tahu tuan Reihan?" Kiran menggeleng.
"Jangan dulu, kita cari lagi ke seluruh ruangan di rumah ini lagi." Kemudian merekapun kembali menggeledah kamar beserta seluruh ruangan yang ada disana.
Selama tiga puluh menit mencari, Kal tak kunjung ditemukan. Kiran sudah sangat khawatir dan menangis.
Ia pun memutuskan untuk menelepon Sid dan memberitahu bahwa Kal hilang.
__ADS_1
"Ya Hallo, Kiran?" Sahut suara di seberang sana.
"Sid..." Isak Kiran.
"Iya, ada apa? Eh, tunggu! Kau menangis? Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk?"
"Kal... Sid, Kal..!"
"Kal?!" Sid mulai ikut panik. "Ada apa dengan Kal? Apa dia baik-baik saja?" Tambah panik.
"Dia menghilang, tadi bi Asih bilang Kal tidur. Tapi, setelah ditinggal sebentar dia sudah tidak ada." Ucap Kiran terisak, tentu saja membuat Sid sangat terkejut bukan main.
"Bagaimana bisa dia menghilang?!" Ucapnya dengan nada suara keras.
"Aku tidak tahu, tadi aku memeriksa kamar kita di rumahmu. Kal bersama bi Asih, dia bilang Kal tertidur. Bi Asih meninggalkannya sebentar, pada saat kembali Kal sudah tidak ada di atas ranjang." Jelas Kiran dengan isakan. "Pulanglah, aku takut Kal sedang dalam bahaya." Sambungnya dengan isakan yang semakin keras.
"Tenanglah, aku tidak mungkin pulang saat ini juga. Pesawat masih terbang, setelah mendarat aku akan langsung pulang."
"Iya, cepatlah."
"Baik, aku tutup teleponnya. Kabari aku jika ada hal lainnya mengenai Kal." Pesan Sid.
"Iya." Kiran menutup teleponnya, lalu melangkahkan kakinya kembali menuju ruang kamar yang tadi di tempati Kal.
Kiran terus memeriksa kamar itu, sampai ia tercengang saat melihat ada sesuatu yang aneh dengan keranjang baju yang terletak di pojok kamar.
Kiran mendekatinya, lebih dekat lagi. Ia menatap keranjang itu dengan mulut yang menganga, serta mata membelalak.
"Kal!"
"Kau membuat semua orang panik dan khawatir! Ayo, turun sayang!" Kiran mengambil Kal dan menurunkannya dari keranjang baju.
"Mbuu... Ayah... ana?" Tanya Kal dengan bahasa yang masih belum bisa dimengerti, hanya Kiran dan Sid yang bisa mengerti.
"Ayah? Dia sedang pergi menemui kakek, ayo kita kesana." Perasaan Kiran mulai menenang, seiring dengan senyum Kal yang menawan.
"Nona, tuan muda kecil tidak ada dimana-mana!" Bi Asih masih panik.
"Bi, maaf. Aku sudah menemukannya, itu dia." Menunjuk Kal yang sedang berjalan di atas karpet.
Bi Asih melihat arah yang ditunjuk Kiran, lalu bernapas lega setelah melihatnya.
"Tadi dia bersembunyi di dalam keranjang pakaian."
"Apa?"
"Nek... Hiii..." Kal mendekati bi Asih, lalu meronta-ronta ingin di gendong.
Bi Asih segera menggendongnya dan membawanya bermain. Kiran terkekeh geli mengingat kelakuan anaknya yang sudah pandai membuat semua orang khawatir mencarinya.
Kiran teringat ia belum mengabari Sid, iapun kembali meneleponnya.
"Ya, hallo ada apa? Maaf, aku belum mendapatkan tiketnya mungkin besok baru akan bisa pulang." Nada suara Sid tampak masih cemas.
"Tidak, jangan pulang. Tetaplah disana." Jawab Kiran dengan nada santainya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah Kal..."
"Kal sudah ditemukan." Potong Kiran sambil tersenyum geli, padahal Sid tak akan bisa melihat senyumnya itu. "Dia bersembunyi di dalam keranjang pakaian." Lalu terkikik.
"Apa?!" Seru Sid tak percaya.
"Iya, anakmu itu sudah pandai bersembunyi!" Lalu Kiran tertawa terbahak-bahak. Sid ikut tertawa, walaupun ia tak bisa melihat kenakalan anaknya itu secara langsung. Tapi, mendengarkan penjelasan dari istrinya saja cukup membuat tawanya pecah.
"Ya sudah, perhatikan dia lain kali! Agar kau tak panik saat dia menghilang."
"Iya, iya! Kau sudah sampai, kan?"
"Heem, sudah."
"Istirahat saja, besok baru kau mulai semua rencanamu. Aku tutup teleponnya, jaga dirimu baik-baik ya?"
"Ya, sayang. Kau juga, atau aku akan sangat marah saat terjadi sesuatu padamu."
"Iya, kau hati-hati disana. Sudah, aku tutup teleponnya. Daah.."
Kiran menutup teleponnya, lalu merebahkan dirinya di atas ranjang. Sedari ia menelepon Sid, ada yang terus memperhatikannya.
"Sidmu tidak akan baik-baik saja, kalian akan dipisahkan oleh maut. Ayah Devamu dan juga bunda Aishamu akan tiada bersama Sidmu, dan aku akan membuatmu menderita!" Gumamnya dengan pandangan sinis. Lalu membalikan tubuhnya, dan terkejut saat berpapasan dengan bi Asih yang ternyata sedari tadi mendengarnya bergumam.
"Asri!" Tegur bi Asih dengan suara yang lumayan lantang.
"Bibi disini?" Asri salah tingkah.
"Jangan banyak berbasa-basi, dasar kau jahat!" Bi Asih menunjuk Asri dengan telunjuknya.
"Eh, apa ma... Maksud bibi? Aku jahat apa?" Asri gelagapan.
Sial! Aku harus membungkamnya sekarang juga!
Asri merogoh saku roknya, lalu mengeluarkan pisau berukuran kecil.
"Diam! Jika kau membongkar semua padanya, maka kau akan tiada saat ini juga!" Ancam Asri sambil mengacungkan pisau itu pada bi Asih.
Namun bi Asih tak merasa takut sedikitpun.
"Bunuh saja! Aku tidak takut, aku akan melakukan apapun demi nona Kiran dan tuan Sid!"
"Oh ya? Rasakan ini!" Asri melayangkan tangannya, berusaha menusukan pisau itu ke dada bi Asih. Namun bi Asih menghindar secepat mungkin.
"Lakukan jika kau bisa!" Teriak bi Asih.
Kiran yang berada di kamar tengah tidur, karena kamar Sid kedap suara ia jadi tak bisa mendengar keributan yang terjadi di depan kamarnya.
Bi Asih terus berlari, sampai kakinya akhirnya tersandung kaki meja dan terjatuh.
Blushh...
Bersambung...
Apa yang terjadi?
__ADS_1
Tetap ikuti kisahnya, nanti malam up lagi yaa...!!!