Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ikhsan Yang Malang


__ADS_3

Kita ngakak dulu ya bentar, nanti kembali lagi ke Siddharth dan Kiran! 😂


Pagi itu, Ikhsan berangkat menggunakan mobilnya untuk ke kantor. Di tengah jalan ia berhenti ketika melihat sebuah toko bunga.


Ikhsan turun dari mobilnya, ia melangkah memasuki toko bunga. Sampai di dalam beberapa pelayan toko bunga menyambutnya.


"Selamat pagi, pak. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang pelayan dengan senyuman ramah.


"Aku ingin membeli bunga, boleh kalian menunjukkan bunga yang paling bagus?"


"Mari, pak." Ucap pelayan itu sambil membawa Ikhsan pada bunga-bunga indah yang berjejer rapi. Disana terdapat bunga mawar dengan berbagai macam warna, membuat keindahan bunga yang menjadi simbol cinta itu semakin terlihat. Bunga melati, bunga aster, bunga lili, dan bunga kamboja serta berbagai macam bunga indah lainnya.


Ikhsan menghampiri bunga mawar, dan menciumnya.


"Aku harus mencari bunga yang sangat wangi, agar Kiran menyukainya nanti!" Gumamnya sambil satu persatu mencium bunga-bunga itu.


Ketika menciuk bunga kamboja, Ikhsan tersenyum.


"Wah, wangi sekali. Kiran pasti akan menyukainya." Ikhsan memanggil pelayan toko, lalu pelayan toko itu segera menghampirinya.


"Tolong buatkan buket bunga dengan bunga ini dan yang ini, hias dengan sangat indah ya!" Ikhsan menunjuk bunga kamboja dan bunga melati.


Beberapa pelayan yang mendengarnya mengerutkan kening, bingung dan heran. Tapi akhirnya, merekapun membuatkan buket bunga yang diminta Ikhsan.


"Hei, kenapa dia membeli bunga seperti ini saja harus di buat buket?" Bisik pelayan wanita yang merasa aneh dengan Ikhsan.


"Huss. Sudahlah, kau lakukan saja! Kau merasa merinding jika dia berlama-lama disini!" Merekapun menghias buket itu sesuai permintaan Ikhsan, setelah selesai buket itu diserahkan pada Ikhsan.


"Terima kasih, kembaliannya untuk kalian saja." Ikhsan menyerahkan selembar uang seratus ribuan pada kasir toko bunga itu.


"Terima kasih kembali pak." Balas kasir itu.


Ikhsan keluar dari toko bunga, lalu memasuki mobilnya dengan buket bunga itu. Setelah itu ia melajukan mobilnya menuju kantor.


Sesampainya di kantor, semua memandang Ikhsan dengan tatapan ketakutan.


"Pagi Niki, apa Kiran belum datang?" Sapa Ikhsan pada Niki yang baru memasuki kandangnya-- Meja resepsionis.


"Pagi juga, Ikhsan." Balas Niki dengan wajah ketakutan, melihat Ikhsan membawa sebuket bunga kamboja dan melati. "Sepertinya belum."


"Ya sudah, aku duluan, ya?" Niki mengangguk.


Ikhsan pergi menaiki lift, menuju ruangan Kiran.


Ruangan itu kosong, Ikhsan pun duduk di kursi kerja Kiran. Tak lama, Kiran datang bersama Sid.


"Selamat pagi Kiran, selamat pagi pak Sid." Sapa Ikhsan ramah.


"Pagi." Sid membalas Ikhsan dengan wajah datar, langkahnya terhenti mengamati Ikhsan. Pakaian yang aneh, rambut yang dipotong seperti batok kelapa setengahnya, kacamata bulat menempel dimatanya. Lalu ia mengamati bunga yang dipegang oleh Ikhsan.


Bunga kamboja dan bunga melati? Hiih... Untuk apa dia membawanya ke kantorku? Apa ada yang meninggal?

__ADS_1


Sid merasa bulu kuduknya merinding, lalu memberi isyarat pada Kiran agar menyusulnya ke ruangannya.


"Kiran, ini untukmu." Ikhsan memberikan buket bunga itu pada Kiran, sementara Kiran terkejut bukan main.


"Hah? Apa maksudmu memberikannya padaku?!" Ketus Kiran.


"Kiran, ini bunga yang sangat istimewa!"


Istimewa? Dasar kau bedebah, bunga itu lebih baik untukmu saja! Letakkan saja di atas makammu nanti!


Sid yang sedari tadi menguping dan mengintip, merasa geli dan merasa kesal.


Bodoh, berani sekali kau memberikan bunga seperti itu pada Kiran! Kau pikir Kiran itu mayat ya? Taruh saja di tanah kuburanmu! Itu lebih baik.


"Kiran! Ke ruanganku sekarang! Dan kau, letakkan bunga itu di tempat yang semestinya! Kau pikir Kiran itu roh halus, diberikan bunga kamboja dan melati segala!" Kiran tida bergerak, malah merasa ketakutan dengan bunga itu.


"Ayo Kiran!" Sid merangkul Kiran, dan membawanya memasuki ruangannya.


Deg...


Jantung Kiran kembali berdebar kencang.


Ikhsan yang melihat pemandangan itu merasa kesal. Dan kebingungan, kenapa mereka menganggap bunga di tangannya itu buruk.


"Memangnya ada apa dengan bunga ini?" Gumamnya. Ia pun keluar dari ruangan Kiran menuju Niki, untuk mencari tahu perihal bunga tersebut.


Setelah sampai, ia langsung bertanya dan Niki langsung menjelaskannya.


"Ikhsan, Ikhsan! Bodoh sekali kau! Pantas saja bos lucknut itu menjadi kesal!" Ejek Rio.


"Ikhsan, bunga yang kau bawa itu bunga melati dan kamboja. Bunga itu lebih baik kau letakkan di makam!" Ikhsan melongo mendengar penjeladan Niki.


"Apaaa?! Ya ampun, kenapa aku selalu sial?!"


"Sudahlah, jauhi Kiran! Dia itu milik pak Sid!" Edi menimpali.


"Tidak, selama janur kuning belum melengkung, aku akan tetap berjuang!" Ikhsan kembali percaya diri.


"Kalian semua! Sedang apa berkumpul disana? Kembali bekerja, atau aku akan memecat kalian!" Keempat anggota forum rumpi itu menoleh, dan segera berhamburan memasuki ruangan kerja masing-masing, karena Sid tiba-tiba datang.


...----------------...


"Sid, ayah ingin bicara sesuatu denganmu." Deva menatap putranya dalam.


"Katakanlah, ayah." Sid membalas tatapan ayahnya.


"Menikahlah dengan Kiran, lupakanlah dendam sejenak."


"Maksud ayah?" Sid mengerutkan keningnya.


"Jangan pura-pura tidak mengerti, Sid. Ayah mengerti dengan perasaanmu!"

__ADS_1


"Ayah, aku tidak bisa berhenti. Ayah tidak ingin memberitahuku perihal keluarga yang membunuh ibuku, jadi aku akan mencari tahu sampai dapat."


"Baiklah, tapi nikahilah Kiran. Kau lihat Kanaya? Dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkanmu kembali! Ayah takut dia akan membuatmu goyah, jadi biarkan Kiran disisimu agar Kanaya menyerah."


"Ayah, justru karena itu, aku takut Kanaya mencelakai wanita yang aku cintai. Jika aku menikahinya. Kemarin aku tidak sengaja menyebutkan namanya pada saat Kanaya meneleponku." Deva membelalakkan matanya. Terkejut.


"Apa? Berhati-hatilah, kau harus waspada. Jangan Biarkan Kiran sendirian! Kanaya wanita yang sangat berbahaya, kau akan tahu suatu saat nanti seperti apa Kanaya dan keluarganya yang sebenarnya!" Sid kembali mengerutkan dahinya.


"Ayah, sepertinya ayah tahu sesuatu tentang Kanaya? Jika bisa, tolong ayah beri tahu aku!" Sid meraih tangan ayahnya, dan menatap kedua mata ayahnya.


"Sid, ayah tidak bisa. Maaf." Deva mengalihkan pandangannya keluar ruangan.


"Baiklah, jika ayah tidak bisa. Maka jangan larang aku mengetahui segalanya dan mencari tahu segalanya." Deva mengangguk.


"Jangan sampai Kanaya curiga, bahwa kau sedang memata-matai dirinya. Kau tahu bukan, bagaimana ayah berusaha melindungi keluarga ibumu dan menyembunyikan kakekmu dulu?" Sid mengangguk. "Ayah memang tidak bisa langsung turun tangan untuk membantumu, tapi ayah akan mengirim paman Ridan dan Reihan untuk menjagamu."


"Terima kasih ayah. Aku berjanji, setelah ini akan menikahi Kiran demi ayah."


"Tidak, jangan demi ayah. Tapi cintailah dia, dengan setulus hatimu. Ayah ingin kalian bahagia, dan semoga ingatanmu cepat kembali." Sid mengangguk, lalu Deva memeluk putra sulungnya itu.


...----------------...


"Kiran, bagaimana hubunganmu dengan Sid?" Dendi menatap keponakan kesayangannya itu dengan wajah jahil.


"Apa? Hubungan apa, paman? Kami hanya bersahabat, itu saja." Kiran memalingkan wajahnya dari tatapan Dendi.


"Jangan berpura-pura, paman tahu kedekatan kalian. Seharusnya, jika kalian saling menyukai terus terang saja." Goda Dendi, membuat yang digodanya bersemu merah di pipinya.


"Apa.. A... aku.. Tidak..."


"Sudah, kak! Jangan menggodanya lagi. Biarkan dia memilih pasangannya sendiri! Kiran kau istirahat saja, jangan pikirkan pamanmu yang menyebalkan itu." Rhea mencibir Dendi.


"I.. Iya, bu." Rhea segera memasuki kamarnya, dengan hati yang berbunga-bunga dan malu juga.


Ia merebahkan dirinya di kasur. Lalu meraih ponselnya. Saat membukanya, tepat sekali sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Sedang apa? Sid.


Kiran tersenyum, lalu mulai mengetikkan jarinya membalas pesan Sid. Belakangan ini, diantara keduanya mulai terjalin kedekatan.


Sedang duduk saja, membalas pesan anda, pak.


Kiran merasa geli sendiri, membalas pesan-pesan Sid.


Apa ini? Kenapa semakin hari, aku semakin membayangkanmu? Apa aku jatuh cinta padamu? Ah tidak, aku tidak boleh jatuh cinta padamu.


Kiran menepis perasaan itu jauh-jauh. Tidak ingin berharap apapun dari Sid selain persahabatan, apalagi cinta.


**Bersambung...


Jangan lupa ya dukungannya, like dan vote**...

__ADS_1


__ADS_2