
Malam ini adalah malam dimana Kiran dan Sid akan menghadiri acara reuni kampus Kiran. Akan tetapi sejak tadi Kiran sudah berjalan kesana kemari demi menunggu pria yang akan menemaninya untuk menghadiri acara reuni kampus tersebut.
"Dimana dia? Kenapa belum pulang juga?!" Gerutunya sambil terus berjalan kesana kemari.
Kiran kemudian mengambil ponselnya di dalam kamar lalu menelepon Sid.
"Kau dimana? Aku sudah menunggumu!"
Telepon terputus dengan begitu saja. Kiran menghentak-hentakan kakinya kelantai dengan sangat keras. Kal yang baru turun dari kamarnya kebingungan dengan tingkah ibunya tersebut.
"Ibu kenapa?" Tanya Kal pada Kiran.
"Diam! Jangan bertanya pada ibu, tanyakan pada ayahmu!" Bentak Kiran dengan sangat keras, membuat Kal terkejut dan takut.
Kiran menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Kal yang masih terdiam ketakutan.
Dengan tanpa melirik Kal lagi yang masih ketakutan Kiran turun lagi saat mendengar suara mobil Sid yang baru memasuki halaman rumahnya.
"Lama sekali! Ayo, berangkat sekarang!" Ketus Kiran.
Sid menghela napas kasar, wajahnya terlihat sangat kelelahan. Matanyapun terlihat hitam dengan kantung mata yang besar.
"Sid!" Teriak Kiran melihat Sid hanya tersenyum samar padanya sambil mengangguk pelan.
"Sebentar, sayang. Aku masih lelah," ucap Sid lemah.
Kiran terlihat semakin kesal, terlihat dari raut wajahnya. Namun Sid tetap berjalan menuju lantai atas dimana kamarnya berada. Di tengah-tengah tangga Sid berhenti saat melihat putranya yang berwajah sedih dan ketakutan.
"Kenapa?" Sid membelai wajah putra kesayangannya itu sambil merangkul pundaknya.
Kal menggeleng, lalu memeluk Sid.
"Menggeleng tapi kelihatan sedih, jangan sedih!" Bujuk Sid sambil merangkul lagi Kal dan membawanya menuju kamar.
Kiran tambah kesal memperhatikan suami dan anaknya masih saja bercengkrama dengan santainya.
"Sid!" Teriak Kiran.
"Iya, sebentar!" Ucap Sid dengan menghela napasnya.
Sid berlalu kekamar dengan wajah lelah dan tertekan. Ditambah lagi hatinya yang merasa sakit atas bentakan Kiran, bahkan Sid yakin jika Kiran pasti habis memarahi putranya.
Setelah selesai membersihkan diri Sid turun menuju Kiran yang berada di garasi. Wajah Kiran terlihat jutek dengan mata menatap Sid marah.
"Ayo cepat!" Ketus Kiran.
Saat Kiran berbalik untuk memasuki mobil, Sid menahannya dan mencengkeram tangannya dengan sangat kuat.
"Kenapa?" Kiran meringis menahan rasa sakitnya.
"Kau bertanya kenapa?" Sid menatap Kiran dengan wajah kesal. "Kau yang kenapa? Karena acara ini kau bahkan berani memarahi anakmu tanpa sebab!" Bentak Sid.
Sid menarik tangan Kiran dan tangan lainnya membuka pintu mobil lalu memasukannya kedalam mobil.
"Sid!" Kiran meringis lagi, sedangkan Sid sudah berada didalam puncak kekesalannya.
__ADS_1
"Ayo! Aku akan mengantarmu ke pesta reuni itu!" Bentak Sid sambil memasuki mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Kiran berteriak histeris karena Sid mengendarai mobilnya dengan sangat cepat.
"Kau ini kenapa?!" Teriak Kiran.
"Kenapa? Kau sudah terlambat bukan? Jadi, aku akan mempercepat lajunya agar tidak semakin terlambat!" Sinis Sid disertai senyuman mengerikan yang belum pernah Kiran lihat sepanjang mereka bersama.
Hingga tiba di kampus, Kiran masih ketakutan dengan Sid. Bahkan Sid menurunkan Kiran masih dengan senyum mengerikannya.
"Sid, jika aku salah maka..."
"Kau tidak salah, kau selalu benar!" Potong Sid cepat sambil menarik tangan Kiran memasuki aula kampus tempat reuni berlangsung.
Kiran memasuki ruangan itu diikuti Sid yang masih menahan amarah padanya. Terlihat dari tangannya yang mengepal keras.
Selama lebih dari sepuluh tahun baru kali ini Sid merasa sangat marah pada Kirana. Bahkan, selama itu baru kali ini Kiran memarahi Kal hanya karena reuni kampus.
Sampai didalam Kiran disambut oleh teman-temannya yang Sid kenali hanya satu, yakni Aira.
"Hai, Sid dan Kiran!" Seru Aira.
Kiran memeluk Aira, kemarahan Sid sudah ia lupakan seiring dengan berlangsungnya reuni tersebut.
Rio terheran melihat Sid yang hanya diam dengan wajah kesal.
"Pak, kenapa anda seperti sedang kesal?" Rio memberanikan diri bertanya pada Sid.
"Tidak," Jawab Sid singkat namun justru semakin membuat Rio yakin bahwa atasannya tersebut sedang kesal.
"Dimana Sid? Bukannya tadi dia disini?" Gumam Kiran bertanya pada dirinya sendiri.
Kiran terus mencari Sid ke berbagai ruangan kampus, namun tak menemukan Sid dimanapun.
Kiran mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sid. Namun tak ada jawaban dari Sid.
"Apa dia meninggalkanku?" Gumam Kiran lagi sambil berjalan ke parkiran kampus.
Tampak disana hanya ada satu mobil, bukan mobil Sid karena Kiran tak mengenalinya.
"Kenapa?" Seseorang bertanya dibelakang Kiran.
Kiran berbalik dan tersenyum melihat orang itu.
"Hmm... Sepertinya suamiku pulang lebih dulu," kiran menjawab dengan wajah sedih.
"Aku akan mengantarmu! Ayo, masuklah kedalam mobil!" Ucap orang yang tak lain adalah pria tersebut.
Kiran tampak berfikir ragu. Namun akhirnya mengangguk setuju karena tak mungkin baginya untuk mencari taksi di tengah malam begini.
"Ayo, masuklah!" Ucap pria itu dengan senyuman tulus.
Kiran mengangguk lagi lalu memasuki mobil pria itu dengan pikiran yang melayang pada Sid disertai berbagai macam pertanyaan.
Apa dia benar-benar marah padaku? Kenapa dia pergi meninggalkanku disini?
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pertanyaan itu terus muncul di benak Kiran. Ketakutan akan perubahan sikap Sid semakin menjadi-jadi didalam hatinya.
Akan tetapi, Kiran tak menyadari bahwa penyebab perubahan sikap Sid terjadi karena dirinya sendiri.
Hingga sampai di depan rumah Sid, ia masih terus melamun memikirkan Sid.
"Kiran, kita sudah sampai dirumahmu. Apa kau tidak akan turun?" Kiran sedikit terkejut saat pria disampingnya menepuk pundaknya.
"Ah iya, maaf aku sedang melamun tadi!"
Pria itu mengangguk, lalu membukakan pintu untuk Kiran.
"Kau sedang ada masalah dengan suamimu?" Tanya pria itu setelah Kiran turun.
Kiran sedikit menunduk sebelum menjawab pertanyaannya. Setelah itu Kiran menggeleng, ia tahu bahwa pertengkarannya dan Sid yang tidak tahu asal mulanya darimana sangat tidak boleh untuk diceritakan pada orang lain.
"Tidak, hanya saja aku sedikit khawatir Sid sakit."
Pria itu mengohkan saja sambil mengangguk.
"Jika ada masalah kau bisa bercerita padaku, aku akan sangat senang bila bisa mendengarkan keluh kesahmu!" Kiran mengangguk.
Keduanya tidak menyadari bahwa dari ambang pintu Sid sedang berdiri dengan tangan terlipat di dada sambil memperhatikan mereka. Tak lupa amarah yang sudah terpancar dari matanya.
"Baiklah, aku pamit pulang dulu." Ucap pria itu sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Oh iya, terima kasih sudah mengantarku pulang. Hati-hati di jalan, Rian."
Pria yang dipanggil Rian itu mengangguk, lalu melambaikan tangannya pada Kiran. Rian menoleh ke arah lain dan tersenyum ramah lalu melambaikan tangan pada arah Sid seperti pada Kiran.
Namun Sid tak membalasanya, hanya menatap datar Rian dan memasuki rumah.
Kiran menoleh ke arah Rian tersenyum. Tampak Sid yang memasuki rumah dengan langkah cepat. Tak membuang waktu, Kiran segera berlari menyusul Sid.
Iapun ingin tahu alasan mengapa Sid tiba-tiba marah dan meninggalkannya di acara reuni kampus. Hal itu cukup membuat Kiran sakit hati.
"Sid!" Panggil Kiran sedikit berteriak.
Sid berhenti berjalan namun tak menoleh. Tangannya mengepal keras, amarah berusaha ia redam agar tak terjadi keributan yang akan membangunkan ketiga anak-anaknya yang sedang tidur.
"Kenapa kau meninggalkanku? Untung saja ada Rian yang mengantarku pulang, jika tidak mungkin aku tidak akan mendapatkan taksi sampai besok!" Ujar Kiran dengan nada kesal.
Sid tak menjawab ocehan Kiran, ia hanya menoleh sebentar lalu berjalan dengan cepat menuju kamar terdekat diatas tangga yang tak lain adalah kamar tamu.
Kiran sedikit terkejut, hatinya merasa sakit diabaikan oleh Sid seperti itu.
Namun selang tak lama Sid keluar dari kamar itu menuju kamarnya. Kiran dengan cepat menyusul Sid.
Hingga di kamar, Kiran merasa sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kiran mendekati Sid dan menahan tangan Sid.
"Apa yang kau lakukan?"
Bersambung...
Kenapa nih? Sid kenapa ya? Kiran juga kenapa sih?
__ADS_1