
Sore hari tiba, Sid merasa ragu untuk pulang ke rumah. Ia takut bahwa Kiran tidak ingin melihatnya akibat ulah Sanya tadi pagi.
Akan tetapi, jika ia tidak pulang maka keadaan Kiran akan semakin memburuk dan yakin dengan hubungan Sid dan Sanya.
"Aku harus bagaimana?" Sid bergumam sendiri dan mengacak rambutnya frustasi. Hatinya sungguh dilanda rasa kebingungan.
Akan tetapi, Sid sangat ingin semuanya menjadi baik lagi seperti sebelum kehadiran Sanya dan juga bibi serta adik sepupunya itu.
"Mereka terlalu lama tinggal disini, sepertinya aku harus bertindak agar mereka tinggal di tempat lain saja." Tegas Sid.
Dengan seribu keyakinan kali ini Sid pun memutuskan untuk pulang dan segera mengusir Sanya serta keluarganya dari rumahnya.
Semoga saja setelah mereka pergi Kiran akan kembali membaik lagi.
Dengan senyuman ceria Sid menjalankan mobilnya membelah jalanan menuju rumah. Tak lupa, dalam perjalanan ia menyimpang ke sebuah toko bunga dan membelikan bunga kesukaan Kiran.
Untuk sedikit candaan, agar perasaan Kiran membaik ia juga membelikan Kiran bunga kamboja. Pikirnya mungkin Kiran akan tertawa melihat Sid yang membuat dirinya sendiri menjadi bodoh seperti Ikhsan yang dulu pernah membeli bunga kamboja untuk Kiran.
Langkah-langkah Sid terasa berat, ketika Sanya, bibi Elis serta Elina ternyata sedang berkumpul sambil bercanda di ruang utama.
Sid mencoba mundur saja, berbalik dan menaiki tangga menuju balkon kamarnya. Tapi niatnya gagal karena Elina sudah melihatnya.
"Kak Sid, bunga untuk siapa?!" Seru Elina sambil menghampiri Sid dan berusaha merebut bunga dari tangan Sid.
Sid menjauhkan bunga itu dari rebutan Elina dan langsung mendelikan matanya tajam. Hatinya kembali dipenuhi amarah pada ketiga wanita pengganggu itu.
"Cukup! Berhenti menggangguku dan rumah tanggaku!" Teriak Sid menggelegar.
Ayah Deva dan ibu Aisha langsung turun mendengar teriakan Sid.
"Ada apa, Sid?"
"Bunda, mereka membuat rumah tanggaku tidak tenang lagi!" Ucap Sid sambil menunjuk tiga wanita pengganggu itu.
"Aku minta dengan baik, minggu depan kalian harus sudah meninggalkan rumah ini dan tinggalah dirumah kalian sendiri!" Tegas Sid. "Turuti, atau kalian akan pergi dari sini dengan cara lain yang sudah aku miliki?!" Tegasnya lagi.
Tindakan tersebut membuat ketiganya menurut dan berencana akan pulang kembali ke negeri paman Sam yang sudah lama menjadi tempat mereka menetap.
__ADS_1
"Baik, maaf jika kami terlalu mengganggu." Sanya mengangguki permintaan Sid.
Sid merasa puas dengan ketegasannya yang akhirnya berhasil akan membuat ketiganya meninggalkan rumahnya.
Akan tetapi, kini Sid ragu untuk satu hal lainnya yang lebih penting.
"Bunda, apa Rana masih berada dikamarmu?" Ibu Aisha menggeleng.
"Tadi siang dia sudah kembali ke kamar kalian, coba temuilah mungkin suasana hatinya sudah membaik lagi dan kau bisa berbicara dengannya secara pelan."
Sid mengangguk dan bergegas menuju kamarnya. Tepat sekali, ketika itu Sid mendengar suara gitar sedang dimainkan beriringan dengan suara merdu yang sedang bernyanyi. Siapa lagi, jika bukan Kiran, ups sudah ganti panggilan mejadi Rana.
Sid mendekati sumber suara itu sambil tersenyum masih dengan dua buket bunga ditangannya.
Yang satunya Sid akan menjahili Kiran, meskipun ragu dan takut Kiran semakin marah.
Nyatanya tidak, saat Sid sudah berada dibelakang Kiran dengan sebuket bunga kamboja bercampur melati Kiran langsung menoleh dengan ketakutan melihat bunga itu.
Sid menyengir kuda, kemudian mengulurkan bunga itu pada Kiran yang langsung disambut dengan raut wajah tak suka dari Kiran.
Sid terkekeh, kemudian mengambil satu buket bunga lagi. Sebelum memberikannya pada Kiran, ia mulai berulah lagi dengan mencoba memeluk Kiran.
Hal itu tentu saja mendapat respon buruk dari Kiran. Kiran menepis tangan Sid, membuat Sid cemberut dan kecewa.
"Maaf, semuanya bisa aku jelaskan. Itu ulah Sanya, bukan aku. Aku pikir itu kau." Sid berjongkok ala seseorang yang sedang melamar kekasihnya.
Lalu mengulurkan bunga itu pada Kiran.
Kiran menatap Sid dengan hati yang mulai menghangat. Ia kini percaya kembali pada Sid setelah apa yang dijelaskan ibu Aisha pada Kiran untuk mencoba mencari kebenarannya dulu sebelum membuat diri sendiri dikuasai amarah.
Kiran akhirnya mengambil bunga yang diberikan Sid dan menyimpannya diatas meja. Mungkin hati Kiran tidak bisa bohong, masih ada setitik rasa kecewa dalam hatinya.
"Mereka akan pergi hari minggu, jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat air mata di wajahmu." Sid berdiri lalu merentangkan tangannya meminta Kiran memeluknya.
Dengan isakan Kiran segera memeluk Sid lalu menumpahkan tangisnya di pelukan Sid.
"Aku tidak suka Sanya, aku tidak bisa melihatmu berdekatan dengannya apalagi seperti tadi pagi saat aku..." Sid menghentikan Kiran yang berbicara sambil menangis dengan meletakan jari telunjuk dihadapan bibirnya.
__ADS_1
Kiran dan Sid semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak ada satupun alasan dan seseorang yang akan membuat kita terpisah, jiwa kita satu yang Tuhan buat menjadi dua bagian dan kini bagian itu sudah disatukan kembali." Ucap Sid sambil menghapus air mata Kiran.
"Dengar Rana sayang, aku tidak bisa meskipun hanya bercanda aku tidak bisa menyakitimu apalagi hingga kau menangis seperti ini, seharian menjauhiku. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku." Sambung Sid dengan terus menghapus air mata Kiran.
Kiran mengangguk, lalu memeluk lagi Sid masih dengan isakannya. Hati Sid terasa pilu, bagaikan disayat pedang melihat air mata istri tercintanya membanjiri pipinya.
Lima belas tahun berlalu, hidup mereka tenang. Tak disangka, akan ada sebuah masalah seperti ini yang akan menimpa mereka.
Namun, dalam hati keduanya terus berdoa agar masalah sebesar apapun yang menimpa keduanya tak sampai membuat adanya sebuah kata "Perpisahan".
Bagi Sid, kata itu adalah hal yang sangat ingin Sid hindari. Hanya akan ada perpisahan dengan maut yang Sid inginkan nanti setelah usia tua menjadi miliknya.
"Menualah bersamaku, agar cinta kita akan menjadi abadi meski hanya dikenal keluarga kita saja." Ucap Sid yang lagi-lagi Kiran jawab dengan angguka.
Sid mengecupi kening serta pipi Kiran, kemudian memasangkan kembali sesuatu yang tadi pagi dilempar Kiran.
Cincin yang waktu itu dibelikannya pada saat kecelakaan.
Masalah mungkin belum selesai sampai disini saja, sebelum Sanya, bibi Elis dan Elina benar-benar pergi dari rumah keluarga besar Rafandi.
Sid berharap, tidak ada lagi masalah yang akan membuat Kiran marah seperti itu lagi padanya. Akan tetapi, kita tidak bisa tahu bukan masalahnya datang darimana?
"Kita masuk ke rumah?" Ajak Sid yang diangguki Kiran.
"Dengar ya, Rana! Jangan marah lagi, aku tidam tahan saat kau marah dan menjauhiku."
"Diam, jangan panggil aku Rana! Itu membuatku tidak nyaman sekali!" Perdebatan sudah diawali Kiran.
"Aku akan tetap memanggilmu Rana, bahkan dimanapun itu aku akan memanggilmu Rana." Tegas Sid yang membuat Kiran langsung menepis rangkulannya dan pergi meninggalkannya begitu saja.
"Benar-benar menyebalkan!" Ketus Sid dengan mengejar Kiran.
Bersambung...
Mau Sanya pergi dari rumah? Tidak semudah itu donk, gk seru kalo biang masalahnya pergi gitu aja... Wkwkwk
__ADS_1