
"Sid, kau masih dimana?" Tanya ayah Deva di telepon pada Sid.
"Sebentar lagi kami sampai, kami sedang di jalan menuju mansion utama." Ucap Sid setengah tidak terdengar, karena tangisan baby Kal yang sangat keras.
"Baiklah, cepat ya? Kita harus mengunjungi ibumu, kau tidak lupa kan? Bahwa hari ini adalah hari peringatan kematian ibumu!" Ucap ayah Deva dengan nada sendu.
"Tentu saja, aku akan sekalu mengingatnya." Nada suara Sid pun ikut berubah menjadi sendu.
"Iya. Sid, apa itu cucuku yang menangis! Kenapa dia menangis?" Ayah Deva bertanya dengan nada heran kali ini.
"Iya, aku tidak tahu, setiap kali dia naik kendaraan selalu menangis. Apalagi jika naik kendaraan laut." Jawab Sid sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudalah, mungkin dia tidak suka. Jangan khawatir pasti nanti juga Kal akan terbiasa naik kendaraan. Ayah tutup teleponnya."
"Iya, sampai jumpa ayah." Telepon terputus, Sid beralih pada baby Kal yang masih menangis di gendongan ibunya.
"Aku bingung, kenapa dia selalu menangis seperti ini?" Sid mengambil alih baby Kal dari gendongan Kiran.
"Entah, aku juga bingung kenapa anak kita seperti tidak suka naik kendaraan?" Kiran menghela napas kasar.
Tak lama, mereka sudah sampai di mansion utama. Terlihat semua sudah menyambut dan menunggu mereka, bahkan keluarga dari ibunya Sid juga sudah berada disana.
"Akhirnya, kau pulang juga." Ayah Deva menghampiri Sid dan memeluk Sid. Wajahnya terlihat sedih, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat ceria.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Sid sambil membalas pelukan ayah Deva.
Ayah Deva mengangguk.
"Kiran, jika kau lelah tunggu saja dirumah." Sid beralih pada Kiran, baby Kal sudah tidak menangis lagi. Tapi entah, jika dia akan dibawa naik kendaraan lagi.
"Tidak, aku akan ikut saja dengan kalian semua." Balas Kiran sambil tersenyum bingung, ia tak mengerti Sid dan keluarganya akan kemana.
"Baiklah, kita gantu baju dulu. Baru kita pergi ke ibuku." Kata ibuku Sid ucapkan dengan nada sendu.
Ibuku? Bukankah bibi Aisha sudah tiada?
Tanpa banyak bertanya, karena takut menyinggung Sid, Kiran pun mengikuti Sid menuju kamarnya.
"Sid kita akan kemana sebenarnya?" Tanya Kiran setelah mengganti bajunya dan membantu Sid memasangkan kancing bajunya.
"Ke rumah terakhir ibuku." Jawab Sid sambil tersenyum getir. Jelas dari raut wajahnya terlihat banyak kesedihan, kini Kiran mengerti apa yang dimaksud Sid ke ibuku.
__ADS_1
Maaf, aku baru tahu. Hari ini adalah hari peringatan kematian ibumu, iya kan? Tanya Kiran dalam hatinya.
Kiran tak ingin bicara ataupun bertanya lagi, walau bagaimanapun Sid pasti akan bersedih jika mengingat hari ini adalah hari dimana ibunya pergi untuk selama-lamanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
"Ayo, kita turun. Semua pasti sudah menunggu kita, bawa juga Kal. Kita harus memperlihatkannya pada neneknya juga." Kiran mengangguk, lalu mengambil Kal dari box bayi dan membawanya bersama Sid.
...----------------...
Suasana tampak dipenuhi kesedihan, di samping makam bunda Aisha sudah terdapat banyak orang. Mereka sedang berdoa untuk bunda Aisha.
"Aisha, sudah lebih dari dua puluh empat tahun kau pergi meninggalkanku. Meninggalkan anak-anak kita, dan semua kenangan kita. Hari ini seperti biasa di setiap tahunnya aku datang, menemuimu. Apa kau bahagia?" Lirih ayah Deva penuh kesedihan.
"Bu, walaupun kita tak pernah bertemu tapi aku bangga pada ibu yang telah melahirkanku sampai ibu lebih memilih tiada daripada aku yang tiada. Bu, aku harap ibu datang menemuiku walau hanya dalam mimpi." Kini Lakshmi yang berbicara, dengan isakan yang keras.
Ayah Deva langsung merangkul Lakshmi, dan memeluknya. Ia tahu bagaimana rasanya ditinggal seorang ibu, saat ini pasti Lakshmi sangat menginginkan kasih sayang seorang ibu.
Giliran Sid tiba, ia merangkul Kiran yang menggendong bayinya dan membawanya mendekati pusara makam bunda Aisha.
"Bunda, sudah lama sekali ya kita terpisah? Setiap tahunnya aku akan selalu datang kesini bersama keluarga kita, setiap tahunnya juga aku akan membawa sesuatu yang sangat istimewa untukmu." Ucap Sid sambil berjongkok, lalu mencabuti rumput di makam ibunya.
"Lihat ini, aku membawa sesuatu yang sangat istimewa padamu. Istriku, wanita yang sangat mirip sepertimu. Bagian baru dari jiwaku, bahkan ada dua. Kau pasti melihatnya dari sana, iya kan?" Air mata mulai membanjiri pipi Sid.
"Terima kasih, telah melahirkan aku kedunia ini. Kau tak akan pernah tergantikan dalam hidup kami." Sid berdiri, lalu menggendong baby Kal dan berjongkok kembali.
Setelah berdoa untuk bunda Aisha, mereka semua pulang kecuali Sid, dia memilih mengajak Kiran dan anaknya jalan-jalan. Bagi baby Kal, ini adalah hari pertamanya berada di Jakarta.
Mereka tiba di taman XX, tempat yang sering dikunjungi Sid ketika dia sedang merindukan ibunya. Bahkan, setiap hari peringatan kematian ibunya sepulang dari makam ia akan langsung ke tempat tersebut.
"Tempat ini indah sekali, apa dulu ibu juga sering mengunjungi tempat ini?" Tanya Kiran sambil duduk di sebuah bangku yang menghadap ke danau.
Sid mengangguk pelan, sambil tersenyum manis pada Kiran.
"Ini adalah tempat kesukaannya, setiap hari minggu dia akan menghabiskan waktunya disini bersama ayah."
"Hmm... Sepertinya akan sangat indah, jika kita juga bisa sering menghabiskan waktu disini bersama." Ujar Kiran sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sid.
"Tentu saja, kenapa tidak kita coba?"
"Lalu Kal?"
__ADS_1
"Simpan saja dia bersama bibi dan kakeknya, kita berduaan disini sampai sore. Kita melihat matahari tenggelam sambil bermesraan." Goda Sid sambil mengecup singkat bibir Kiran.
"Tidak tahu malu, sudah beranak satu tapi masih pandai merayu." Sambil mencubit pipi Sid.
Seketika mata Sid terfokus pada jari Kiran, yang tak terdapat cincin di jari manisnya.
"Cincinmu kemana?" Tanya Sid sambil menunjuk jari manis Kiran.
Kiran melihat tangannya, lalu terkejut karena iapun baru sadar jika cincin pemberian suaminya itu tidak ada.
"Tidak! Cincinnya kemana?!" Wajahnya mulai panik.
"Sudahlah tidak apa-apa, kita beli yang baru. Kita menikah ulang saja, bagaimana?" Goda Sid lagi sambil tersenyum menggoda.
"Kau ini!" Kiran mencubit pipi Sid lagi.
"Suka sekali ya mencubit pipiku?" Kiran mengangguk antusias. "Kalau begitu aku juga suka menggigit."
"Apa?!" Pekik Kiran terkejut. "Menggigit apa?"
Sid mendekatkan bibirnya ke telinga Kiran, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Kiran membelalakkan matanya sempurna.
"Kau ini! Memang rajanya mesum ya sepertinya?!"
"Kau ingat, ya berapa bulan kita saling berjauhan? Kau tidak memikirkan aku bagaimana tidur tanpamu, tidak bisa mendaratkan pesawat tempurku setiap malam. Itu sangat menyiksaku!" Ujar Sid sambil melingkarkan lengannya lada perut Kiran, tak memikirkan ada baby Kal yang sedang di gendongan Kiran.
"Itu saja pikiranmu!" Ketus Kiran sambil berdiri, lalu membawa baby Kal meuju mobil.
"Heuh! Susah sekali, ya memiliki istri galak!" Rutuk Sid sambil mencemberutkan bibirnya.
"Aku mendengarmu, Tuan Siddharth si bos galak!" Teriak Kiran dari dalam mobil.
"Kau mau kemana? Kenapa memasuki mobil?" Sid berdiri, lalu menyusl Kiran ke dalam mobil.
"Pulang! Lagipula ini sudah sorw, jikakau ingin menginap disini tidak apa-apa." Kiran tersenyum jahil.
"Tidak, bisa-bisa wajah tampanku dipenuhi bekas ciuman nyamuk."
"Ya sudah, ayo kita pulang!" Ketus Kiran lagi.
Sid menghela napas kasar, lalu menyalakan mobilnya dan segera melajukannya menuju arah mansipn utama.
__ADS_1
Bersambung...
Kira-kira apa yang dibisikin Sid tadi ya??? Hmm... 😅🤣