Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Dipertemukan Kembali


__ADS_3

Sid bersujud di hadapan Kiran, rasanya ia tak percaya yang sedang berdiri di hadapannya adalah Kirananya.


Kiran ikut terduduk, ia meraba pipi laki-laki yang sudah sangat dirindukannya. Tak terawat, itulah kata yang tepat saat melihat wajah suaminya itu.


Wajah yang dulu mulus, kini sudah ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar dagu dan dibawah hidungnya itu.


"Sid..." Lirih Kiran sambil terisak.


Ami yang sedari tadi memperhatikan keduanya hanya diam mematung, ia bingung kenapa kedua orang dihadapannya tersebut menangis.


Sid meraih tangan Kiran yang membelainya, menggenggamnya erat. Ia takut, bahwa ini adalah mimpi saja. Mimpi yang akan membuatnya merasakan sakit kembali saat terbangun nanti dan mendapati wanita dihadapannya ini tidak ada.


"Pergilah, ini pasti hanya mimpi. Jangan masuk kemimpiku terlalu lama, atau aku akan tersiksa kembali." Sid melepaskan genggaman tangannya, dan mengibas-ngibaskannya menyuruh Kiran pergi dari hadapannya.


"Ini bukan mimpi, Sid." Kiran meraih tangan Sid kembali, lalu meletakannya di pipinya. "Ini aku, ini adalah kenyataan."


Sid mendongakan kepalanya, dan menatap wanita dihadapannya itu dalam-dalam. Kerinduan yang besar kembali terpancar dari wajah keduanya.


Tidak peduli dengan tubuh Kiran yang berbau asam akibat keringat, Sid sesegera mungkin memeluk Kiran. Ia mencoba meluapkan rasa rindunya yang selama empat bulan menyiksanya.


"Dari mana saja, kau? Hah?! Selama ini aku mencarimu, tapi kau tidak ada!" Sid mengoceh, sambil mempererat pelukannya.


"Kau yang darimana? Kenapa kau lama sekali datang, hah?" Protes Kiran sambil melepaskan pelukan Sid.


"Maaf..." Ucap keduanya bersamaan, yang langsung membuat keduanya juga terkekeh.


Sid membingkai wajah Kiran dengan tangannya, ia mengecup seluruh bagian wajah itu tanpa henti. Bermula dari keningnya, pipinya, hingga bibirnya. Tak peduli bahwa banyak yang memperhatikan mereka. Salah satunya Ami, bibirnya sedari tadi sudah menganga.


"Kiran, dimana ibu? Apa dia baik-baik saka?" Kiran mengangguk.


"Ibu baik-baik saja, ada yang menolong kami saat terdampar di pulau ini."


"Aku pikir kau sudah tiada, selama ini aku terus mencarimu mengelilingi lautan ini. Tapi, tidak ada apapun yang aku temukan mengenai keberadaanmu. Hanya ada surat yang berisi tulisanmu tentang Maya yang aku temukan." Oceh Sid kembali.


"Aku pikir kau tidak mencariku." Jawab Kiran dengan perasaan yang terharu.


"Ayo, kita pulang. Kita kembali ke rumah, semua sangat sedih dengan kejadian yang membuatmu hilang." Ajak Sid sambil berdiri, lalu membantu Kiran berdiri.


Saat mereka sudah berdiri dengan saling berhadapan, Sid kembali terkejut, rasa senang dan terharu ikut timbul kembali saat Sid baru melihat dan menyadari perut wanita yang sangat ia cintai itu.


Sid meletakan tangannya diatas perut Kiran, lalu membelainya penuh rasa sayang.


"Apa ini anak kita?" Seketika Kiran cemberut.


"Kau pikir ini anak siapa?" Rajuk Kiran.

__ADS_1


"Aku pikir, aku sudah kehilangan anakku akibat ulah Maya." Sid berjongkok, lalu mendekatkan telinganya ke perut Kiran.


"Apa kabar, anakku? Maafkan ayah, yang terlambat datang. Maaf, karena ayah kau harus hidup seperti ini." Lirih Sid dengan tangan yang mengusap lembut perut istrinya itu.


"Sid, sudah." Kiran merasa malu, ketika menyadari banyak orang yang memperhatikan mereka.


"Kiran, jadi ini suamimu?" Ami yang sedari tadi diam kini mendekati Kiran.


"Ya, dia suamiku, Ami." Jawab Kiran.


"Maaf, pak. Aku tidak tahu bahwa kau suaminya Kiran." Ucap Ami dengan perasaan bersalah karena tadi sempat membuatnya kesal. Eh, lebih tepatnya harusnya Sid yang minta maaf padanya karena dia dibuat kesal oleh Sid.


"Kenapa minta maaf, aku bahkan tidak tahu bahwa teman yang kau maksud adalah istrimu. Kiran, apa dia yang selama ini membantumu?" Sid beralih pada Kiran.


"Ya, sebenarnya yang pertama kali menolongku buka Ami, tapi kakek dan nenek yang tinggal di dekat pantai tenpat aku dan ibu terdampar." Kiran mengingat kembali, pada saat ia bangun sudah berada di rumah kakek Narja dan nenek Anjum.


"Dimana?" Tanya Sid penasaran.


"Untuk itu, kita harus pulang dulu." Ami menyahut.


"Kau mau kan, ikut denganku?" Tanya Kiran lalu Sid mengangguk.


"Tentu, aku ingin bertemu dengan orang yang sudah menyelamatkan istriku ini."


Sid, Kiran, dan Ami pulang bersamaan ke rumah kakek Narja. Sid merasa sedih, saat melihat Kiran berjalan seperti membawa beban berat.


"Sedikit lagi, sebentar lagi kita akan sampai." Jawab Kiran sambil memegangi pinggangnya. Ami yang berjalan di samping Kiran hanya diam, memperhatikan Sid yang begitu perhatian pada Kiran.


Andai suamiku seperti dia, mungkin aku tidak akan seperti ini.


Ami menggelengkan kepalanya, mencoba tidak mengingat suaminya yang sudah tega menelantarkannya dan bayinya yang masih berada dalam kandungannya itu.


Satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah kakek Narja dan nenek Anjum.


Sungguh sakit, pada saat Sid melihat keadaan rumah itu.


Ini bukan rumah, ini lebih pantas di sebut gubuk.


"Apa selama ini kau juga tinggal disini?" Kiran mengangguk.


Ya Tuhan, sungguh miris sekali nasib istriku.


"Nenek, kakek, ibu! Kami sudah pulang." Kiran menarik tangan Sid memasuki rumah dengan pintu yang hanya terbuat dari kain itu.


"Kiran kau kemana sa..." Ibu Rhea yang lebih dulu menemui Kiran, ucapannya terhenti saat melihat ternyata menantunya ada disana.

__ADS_1


"Ibu." Ucap Sid sambil meraih tangan ibu Rhea dan mencium tangan wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu.


"Kau disini?" Sid mengangguk.


"Maaf, bu. Aku terlambat datang." Sid memeluk ibu Rhea, kali ini tangisnya sudah tidak bisa ditahan.


"Tidak mengapa, semua sudah takdir. Ayo masuklah, kita istirahat." Ajak ibu Rhea. "Ami, kau juga ikut masuk."


Ami menatap ibu Rhea, lalu menggelengkan kepalanya.


"Bu, Kiran, dan pak..."


"Siddharth." Potong Sid.


"Apa?!" Pekik Ami.


"Kenapa kau terkejut, Ami?" Tanya Kiran bingung.


"Kiran, suamimu ini jadi... CEO dari perusahaan SAR-E Group yang akan membuat proyek wisata pulau ini?" Tanya Ami tak percaya.


"Ya, pada saat kau menyebut nama perusahaannya aku senang sekali. Tapi, saat kau mengatakan bahwa mungkin masih lama proyek itu aku pikir memang masih lama." Jelas Kiran.


"Sebenarnya, kami mempercepat proyek ini. Sebelumnya aku juga enggan, tapi entah kenapa hatiku menyuruhku melaksanakan proyek ini sekarang." Jelas Sid. "Mungkin, ini adalah cara Tuhan untuk mempertemukan aku kembali dengan Kiran." Sambung Sid yang membuat Kiran terharu.


"Maaf, aku tidak tahu." Ami gelagapan.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Lebih baik kita masuk ke rumah." Ajak Kiran.


"Tidak, Kiran. Aku akan pulang saja, mungkin ibuku sedang menungguku dirumah." Pamit Ami.


"Baiklah, Ami. Terima kasih ya, hati-hati di jalan." Jawab Kiran.


"Kiran, rumahku tidak jauh dari sini!" Ami cemberut.


"Tapi tetap saja hati-hati, jangan sampai kau mogok di jalan lagi." Canda Kiran yang membuat Semuanya tertawa, dan Ami cemberut.


"Baiklah, sampai jumpa." Pamit Ami lagi.


Setelah Ami pergi, Sid, Kiran, dan Ibu Rhea memasuki rumah. Sampai di dalam Sid kembali tercengang.


Dia memperhatikan gubuk yang disebut rumah oleh istrinya. Dinding yang sudah bolong-bolong begitu juga dengan atapnya. Ranjang yang sudah rusak-rusak, sudah tidak layak huni.


Ya Tuhan, jadi selama ini istriku tinggal disini? Sungguh, Maya harus dihukum atas perbuatannya.


"Bu, dimana kakek dan nenek?" Tanya Kiran pada ibu Rhea, karena sedari dia datang tidak melihat kehadiran dua orany penyelamatnya itu.

__ADS_1


"Mereka sedang keluar mencari kayu bakar." Jawab ibu Rhea.


Bersambung...


__ADS_2